kembali ke Tarekat index

TAREKAT SUSTER GEMBALA BAIK

DI KEUSKUPAN BOGOR

Oleh: Sr. M. Gertrudis RGS & Sr. M. Yohanita RGS

 

PRAKATA

Karya kerasulan para Suster Gembala Baik di Bogor berawal pada tanggal 7 Juli 1956 di Jalan Bondongan. Kegembiraan besar dengan adanya dukungan perumahan untuk para Suster dari Pastor de Ridder OFM Conv., sebagai Pastor Paroki Bondongan merupakan awal untuk memulai suatu tugas kerasulan. Komunitas Bogor yang diberi nama Bunda Maria Fatima dirintis oleh Sr. M. Sylvera, Sr. M. Rosary, Sr. M. Chrisostoma dan Sr. M. Luperta. 

Mulai dengan SD di Bondongan

Kompleks Susteran Gembala Baik di Bondongan sangat luas, meliputi : gedung sekolah dan kebun. Kehadiran dan perhatian terhadap hidup religius merupakan suatu dorongan yang dapat memberi semangat kepada para anggota, yang menghayati cara hidup yang sama. Pada tanggal 25 Juli 1996 Mgr. Djayaseputra SJ mengunjungi para Suster Gembala Baik. Para Suster memandang kunjungan ini sebagai kunjungan seorang gambala yang memperhatikan domba-dombanya, yang tersebar di daerah-daerah dalam tugas pengembangan karya.

Mewujudkan tugas kerasulan dan pelayanan, merupakan tanggungjawab besar yang harus dilakukan dengan hati dan iman. Hal itu mulai dilaksanakan oleh para suster di Bogor dengan mengajar di SD yang dimulai pada tanggal 1 Agustus 1956. 
Pada tanggal 14 November 1956 Suster pemimpin Provinsi mengunjungi Komunitas Bogor. Dalam kunjungan tersebut Suster Chrisostoma diangkat sebagai pemimpin Biara Bunda Maria Fatima. Sebagai pemimpin, mempunyai tanggung jawab besar terhadap seluruh anggota komunitas dan karya, maka untuk membantu Suster Chrisostoma dalam tugasnya, Suster Sylvera diangkat sebagai asisten tahun 1957.

Mengingat daerah pelayanan untuk umat cukup luas, maka pada bulan Januari 1958, Paroki Bogor yang merupakan bagian Keuskupan Jakarta disatukan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi.

Dalam meneruskan hidup religius yang sejati, tidak cukup dengan adanya kemampuan untuk berkhotbah dan melayani, tetapi harus didasari oleh iman dan hubungan yang akrab dengan Tuhan, sehingga relasi dalam kebersamaan dan keyakinan akan penyelenggaraan Tuhan, dapat menjadi sumber kekuatan dan pancaran kasih kepada setiap orang yang dilayani. Relasi dengan Tuhan hanya dapat terjalin dengan hidup bersemadi. Tempat yang sunyi dan hening adalah Kapel yang telah didirikan dan diberkati pada tanggal 13 Oktober 1958. Pelayanan di Sekolah sangat membutuhkan tenaga pendidik, maka disediakan rumah untuk para guru yang mulai ditempati pada bulan Januari 1959.

Pengalaman dan kepribadian seseorang untuk memimpin merupakan guru dalam perjalanan hiudp selanjutnya. Mengingat kebutuhan di Biara pusat dan kepribadian yang dimiliki Suster Chrisostoma, maka pada tanggal 8 November 1961, pindah ke Jakarta dan diangkat sebagai kepala Biara di Jatinegara. Untuk menggantikan tugas yang diemban Suster Chrisostoma, maka Suster Immaculata diangkat sebagai pemimpin Biara Bunda Maria Fatima.

Perkembangan dan pertumbuhan umat di Bogor memerlukan Gembala yang mempunyai hati untuk dombanya. Kerinduan umat akan Gembala itu terwujud dengan pengangkatan Mgr. Geise OFM sebagai Uskup Bogor pada tahun 1961. Kapel Gembala Baik - Bondongan yang dipakai sebagai Gereja Paroki, pada bulan Oktober 1962 dipindahkan ke Jalan Siliwangi.

Yesus bersabda kepada para murid-Nya "Aku mengutus kamu ke tengah-tengah serigala, tetapi Aku tidak membiarkan kamu sendirian, Aku tetap menyertai kamu setiap saat". Makna sabda Yesus tersebut dilanjutkan oleh Pemimpin Umum dan Provinsial Gembala Baik, dengan mengunjungi dan menyemangati para anggotanya dalam tugas kerasulan. Kehadiran itu merupakan ungkapan akan penyertaan dan keterpaduan dalam suatu tujuan dan tugas panggilan.

"Jangan takut apa yang akan kamu makan dan kamu pakai, pandanglah bunga bakung dan burung di udara yang tidak menanam, tetapi Tuhan memberi makan, kamu lebih berharga di hadapan Tuhan, melebihi segalanya di bumi". Sabda Yesus itu mengajak kita untuk mengutamakan kerajaan surga daripada harta dunia. Sebagai tanda akan rahmat Tuhan itu, pada tanggal 21 November 1963 seorang polisi memberi sebidang tanah kepada Biara Gembala Baik untuk membangun gedung SMP.

Pada tanggal 29 Agustus 1964 Suster Maria Petrus Claver diangkat sebagai pemimpin Biara di Bogor. Untuk pembinaan persaudaraan dalam komunitas religius dibutuhkan sarana rumah, sehingga para anggotanya mempunyai tempat untuk bersemadi bersama Tuhan yang memanggilnya. Mengingat kebutuhan akan hal itu, maka pada bulan Februari 1965 mulai dibangun Biara Gembala Baik. Dalam hidup religius, yang diutamakan bukan hanya soal sarana yang lengkap untuk kegiatan pelayanan, tetapi semangat pengabdian dan persaudaraan yang penuh cinta untuk mendorong para anggotanya dalam tugas pelayanan di tengah-tengah masyarakat. Hal itu diwujudkan oleh Suster Mary Maurice yang mengadakan visitasi ke Bogor. Kedatangan beliau merupakan tanda kebersamaan dalam menyemangati para anggotanya.

Orang yang bijaksana sering mengungkap-kan sebuah kata bijak, "Bekerjalah untuk hidup, dan bermenung untuk keabadian". Kata kebi-jaksanaan itu mempunyai arti yang dalam, bahwa membangun Biara adalah merupakan dasar bagi para anggotanya dalam membangun nilai-nilai hidup religius untuk mencapai suatu tujuan hidup bersama Penciptanya. Mengenang hal itu, para Suster komunitas Bogor mengung-kapkan rasa syukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam pembangunan Biara Gembala Baik dalam upacara pemberkatan pada tanggal 24 April 1966 yang dipimpin oleh Mgr. Geise OFM.

 

Presiden Soekarno dan Ibu Hartini

Kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat merupakan nilai berharga yang akan dikenang sepanjang masa. Cara hidup para Suster Gembala Baik di Bogor merupakan sesuatu yang menarik perhatian bagi almarhum Presiden Soekarno dan istrinya. Sebagai ungkapan rasa gembira, Presiden pertama RI itu mengundang para Suster ke Istana Bogor. Upacara resepsi tersebut dihadiri oleh menteri Frans Seda, wakil perdana menteri Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan beberapa menteri lainnya. Upacara resepsi yang menggembirakan itu mengukir kenangan indah bersama para Suster dengan tanda mata dari almarhum Presiden Soekarno, yaitu ukiran kayu Santa Maria dari Mexico. Di samping itu juga, dalam acara resepsi tersebut, dimanfaatkan untuk menyampaikan keinginan para Suster membeli sebidang tanah guna memperluas lingkungan SMP, tetapi harganya sangat mahal. Maka Ibu Hartini Soekarno memberi sebidang tanah di seberang Biara Bondongan. Kepedulian akan lingkungan itulah yang mengukir kenangan dalam menghayati suatu panggilan hidup bahwa Tuhan menyelenggarakan segala-galanya. Perhatian pimpinan negara terhadap keberadaan pelayanan para Suster, tetap terukir dalam hidup mereka, maka sebagai tanda bahwa kesan yang baik selalu dikenang, Presiden Soekarno bersama Ibu Hartini mengunjungi Biara Gembala Baik untuk memberi ucapan selamat Natal kepada para Suster.

Hidup merupakan misteri yang tidak dapat dipastikan dan diteliti secara ilmiah belaka. Hidup manusia hanya Tuhan yang mendalami dan mengetahuinya. Dalam misteri ilahi itu, Suster Maria dan du Carmel dipanggil oleh Tuhan pada tanggal 4 Maret 1967. Suster Maria du Carmel yang setia mengabdi diri kepada Tuhan sebagai religius telah mewujudkan cinta kepada Tuhan dalam segala karya darma bakti dalam hidupnya. Permulaan Yayasan Gembala Baik di Indonesia merupakan awal tugas karya kerasulan Suster Maria du Carmel. 

 

Ide Membangun SMKK

Ketika Pater Wap, pimpinan misi dari Den Haag-Belanda, pada bulan Juni 1968 berkunjung ke Bogor, para Suster menyampaikan rencana untuk membangun SMKK Baranangsiang. Menanggapi hal tersebut, Pater Wap mengatakan bahwa membangun sesuatu membutuhkan waktu dan perencanaan matang, untuk itu kita jangan tergesa-gesa membangun SMKK. Dalam tugas pelayanan para Suster, bukan hanya penyembuhan jiwa yang diberikan, tetapi juga penyembuhan fisik bagi yang menderita sakit. Menjawab tuntutan tugas pelayanan itu, maka para Suster Gembala Baik membuka klinik untuk melayani masyarakat dan umat paroki yang membutuhkan pengobatan.

Tuhan bersabda "mintalah maka kamu akan diberi, dan ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu". Bila menemukan jawaban dari suatu doa permohonan dan harapan, kegembiraan yang besar akan tetap mewarnai suasana hidup. Sabda Tuhan tetap merupakan sesuatu yang hidup dalam hidup manusia, maka bila hal itu diimani sungguh-sungguh, merupakan sesuatu yang paling indah dan berarti dalam hidup manusia. Pada tanggal 24 Oktober 1968, para Suster menerima surat kepastian bahwa pembangunan SMKK Baranangsiang dapat dimulai. Sehubungan dengan itu juga, untuk melengkapi sarana lain dalam pembangunan pendidikan, maka Suster Rosary diutus ke Magelang untuk mempelajari mengenai SMKK.

Pada tanggal 11 Januari 1971 SKKA, yang sekarang disebut SMKK, memulai kegiatan belajar-mengajar dengan jumlah murid 90 orang. Sebulan setelah itu, Suster Mirriam dan Suster Euphrasia meninggalkan rumah biara di Bondongan dan bergabung di Biara Maria Fatima di Baranangsiang. Mengingat kebutuhan tenaga para Suster yang masih kurang, dan misi utama dalam tugas pelayanan terhadap kaum wanita dan terutama bagi kaum wanita yang membutuhkan perlindungan dan pertolongan dari Gembala yang baik, maka para Suster memusatkan pelayanannya kepada kaum wanita melalui pendidikan SMKK.

Menumbuhkan kerinduan akan Tuhan merupakan suatu hal yang sangat bernilai dan berarti bagi para religius dan kaum beriman. Untuk menumbuhkan kerinduan itu, dibutuhkan sarana sebagai tempat memupuk rasa kerinduan dan keakraban bersama Tuhan. Pada tang-gal 14 Maret 1971, Mgr. Geise OFM dan Pater Schellart SMM memberkati Kapel komunitas Bogor, yang dihadiri oleh para Suster dari komunitas Jakarta, para guru-guru dari Bondongan dan Baranangsiang. Upacara pemberkatan Kapel tersebut dilanjutkan dengan Misa Kudus pertama di kompleks Baranangsiang. Dengan adanya Kapel, maka Sakramen Mahakudus hadir di tengah-tengah para Suster dan umat di Baranangsiang.

Pada tanggal 23 Mei 1971 diadakan retret pertama di Baranangsiang bagi guru-guru dari Sekolah yang dikelola para Suster Gembala Baik, yaitu dari Jakarta, Baranangsiang, dan Bondongan yang dipimpin oleh Romo Gundhart SJ. Acara retret tersebut dihadiri oleh 37 orang guru.

Suster M. Maurice sebagai Provinsial mengadakan visitasi pada tanggal 16 Juni 1971, dan juga untuk menghadiri kaul kekal Suster Maria Paula Marianti di Jakarta pada tanggal 18 Juni 1971 yang dipimpin oleh Mgr. Leo Sukoto sebagai Uskup Agung Jakarta. Anggota seksi sosial Keuskupan Bogor mengadakan lokakarya di Baranangsiang pada tanggal 23 sampai dengan 26 Agustus 1971, yang diikuti oleh 30 orang. Tujuan Asrama dan Sekolah dibangun adalah untuk memberi manfaat yang besar dan ikut serta membangun Gereja, dengan memberi tempat bagi orang-orang beriman yang membutuhkan. Semua hal itu didukung oleh Mgr. Geise sebagai Uskup Bogor.
Memulai atau membangun suatu karya merupa kan tanggungjawab besar yang membutuhkan berbagai fasiltias untuk melengkapi sarana yang dibutuhkan. Pengalaman tahun pertama mengelola SMKK merupakan pengalaman yang paling sulit, sebab mesin tik, mesin jahit, oven gas, alat-alat rumah tangga dan peralatan dapur untuk peralatan praktik sumbangan dari Jerman masih ditahan di pelabuhan. Mengalami suasana dalam kesulitan itu, kami banyak belajar untuk memahami situasi yang menyulitkan, sehingga dapat berpikir lebih jauh menge-nai perkembangan karya kerasulan untuk selanjutnya.

Untuk mengatasi situasi yang sulit itu, kami membeli 15 buah mesin tik, 5 buah mesin jahit dan 10 buah kompor kecil dan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan saat itu.
Tuhan tidak pernah membiarkan orang mengalami kesulitan melebihi dari kemampuannya, sebab Tuhan sendiri pernah berkata kepada para Nabi bahwa pada waktu yang tepat Aku akan mendengarkan doamu. Pengalaman iman para Nabi itulah yang tetap menjadi harapan kami, bahwa Tuhan akan mendampingi dan menyelesaikan pekerjaan yang telah kami mulai melalui Sekolah yang kami bangun. Perhatian para Suster dari Negeri Belanda yang mengirim dana untuk membeli segala peralatan yang masih diperlukan dalam memperlancar kegiatan proses belajar mengajar di Sekolah merupakan kegembiraan besar yang sangat dalam bagi kami.

 

"Dari RGS ke SFS"

Mengingat tenaga para Suster yang masih kurang, maka sebelum akhir tahun 1971, direncanakan bahwa Sekolah di Bondongan akan diambil-alih oleh para Suster Fransiskanes Sukabumi. Sekolah dan semua yang diperlu-kan, berkaitan dengan dimulainya tahun ajaran baru 1972, diberikan kepada para Suster Fransiskanes Sukabumi secara cuma-cuma. Sebagai modal bagi para Suster Sukabumi untuk memulai tugas baru di Sekolah tersebut, maka sebagian uang masuk pendaftaran murid baru diberikan kepada para Suster Fransiskanes Sukabumi. Di samping itu, Kapel yang merupakan paroki kecil diserahkan kepada Bapak Uskup Bogor.

Sesuai dengan keputusan dan ditanda tanganinya dalam kontrak, bahwa Biara di Bondongan dikontrak selama dua tahun oleh Suster Fransiskanes Sukabumi dengan perhitungan pembayaran sebesar 30 NF sebulan. Pada tahun kedua akan diputuskan secara pasti apabila biara itu akan dibeli atau tidak. Bila Biara Bondongan dibeli oleh Suster Fransiskanes Sukabumi, maka pembayaran kontrak yang telah lalu setiap bulan terhitung sebagai bagian dari total pembelian biara itu (decucted), dan bila Biara tersebut tidak dibeli oleh Suster Fransiskanes Sukabumi, maka Suster RGS akan menjualnya kepada orang yang berminat membelinya. Pada tanggal 30 November 1971 Suster Maria Euphrasia RGS menyerahkan secara resmi Biara dan Sekolah Bondongan kepada Suster Maria Ancilla SFS.

Gua Maria Fatima Baranangsiang

Memupuk semangat umat terhadap devosi para Kudus, merupakan sesuatu yang lebih bernilai untuk lebih mengenal karya Allah dalam hidup umat manusia. Teladan kesetiaan, kesucian, dan kesederhanaan, serta kerendahan hati Bunda Maria merupakan cermin dan pedoman bagi umat Katolik yang percaya akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup Bunda Maria. Untuk membina dan menggali kembali nilai-nilai hidup melalui teladan hidup Bunda Maria dan keikutsertaannya dalam karya keselamatan, perlu ada sarana yang membantu. Sarana tersebut adalah gua Maria yang dibangun, sebagai tanda/simbol yang konkrit. Pada tanggal 8 Desember 1981, Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa noda, Gua Maria Fatima di Baranangsiang - Bogor diberkati oleh Mgr. Ignatius Harsono Pr.

 

Penutup

Untuk menjawab kebutuhan Gereja lokal, sekarang para Suster RGS juga membantu pelayanan pastoral di Paroki Katedral dan Keuskupan Bogor. Misalnya, membagi dan mengantar Komuni, mendampingi kelompok Persekutuan Doa, mendampingi keluarga dengan anak bermasalah, dll. Bahkan, rumah para Suster Gembala Baik senantiasa terbuka untuk dipakai keperluan-keperluan pendalaman iman, rekoleksi, lokakarya/seminar, kursus-kursus, dll. oleh kelompok-kelompok kategorial yang membutuhkannya.