1. Kamis. HR SP Maria Bunda Allah.
Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21.
“Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”
Pada hari pertama tahun baru kita saling mengucap selamat dan saling memberkati. Apa yang akan terjadi dalam 365 hari mendatang tak seorang pun tahu. Tapi yang paling kita harapkan adalah keselamatan bagi diri sendiri dan sesama. Semoga yang baik-baik saja yang terjadi, dan segala mala petaka serta kejahatan dijauhkan. Dalam harapan ada kekuatan, sekaligus kita mengalami kelemahan dan ketidak berdayaan. Siapa yang menjamin bahwa apa yang kita harapkan itu sungguh terjadi? Yesus! Namanya berarti “Tuhan menyelamatkan”. Dialah janji dan sekaligus pemenuhan keselamatan kita. Dialah dasar harapan kita.
2. Jumat. Pw S. Basilius Agung dan Gregorius dr. Nazianze.
1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34.
“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Kita selalu berbicara tentang “membangun”: membangun keluarga, membangun masyarakat, membangun dunia. Proyek yang tidak ada habisnya. Mengapa perlu terus membangun? Karena selalu ada yang merusak, menghancurkan. Dan perusak nomor satu hidup manusia adalah dosa. Yesus menjadi dasar harapan kita karena Ia datang untuk menghapus dosa. Bukan cuma dosa kita pribadi, tapi dosa dunia. Maka Ia juga harapan dunia.
3. Sabtu.
1 Yoh 3:7-10; Yoh 1:35-42.
“Kami telah menemukan Mesias.”
Bangsa Israel hidup dalam harapan akan kedatangan Mesias. Sekarang Andreas sudah menemukan Dia. Tak mungkin ia tinggal diam. Ia harus mewartakan penemuannya itu. Pertama kepada orang yang paling dekat, yaitu Simon saudaranya. Nanti ia akan diutus sampai ke ujung-ujung bumi untuk menyampaikan berita Injil. Kalau kita berjumpa dengan penagih langganan koran, mungkin itu tidak menjadi bahan cerita. Tapi kalau kita disapa oleh pemimpin umum harian terkenal, kita akan menceritakannya di mana-mana. Sudahkah kita berjumpa dengan Yesus dan mendengar sapaan-Nya? Kalau begitu, mengapa kita tinggal diam?
4. Minggu. HR Penampakan Tuhan.
Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12.
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di timur, dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Ada banyak alasan orang mencari Yesus: Supaya terjamin hidupnya di dunia ini bahkan di akhirat; supaya disembuhkan dari penyakit badan; supaya hatinya damai dan tenteram. Orang bertanya: Kalau saya ke Gereja, saya mendapat apa? Kita suka bermental bisnis, bahkan terhadap Tuhan. Para majus tidak memikirkan keuntungan bagi diri sendiri. Dari jauh mereka datang mencari raja yang baru lahir. Mereka datang tanpa pamrih. Tujuan mereka hanya untuk menyembah Dia dan membawa persembahan. Hari ini kesempatan baik untuk meninjau kembali alasan dan tujuan kita beribadah kepada Tuhan.
5. Senin.
1 Yoh 3:22 – 4:6; Mat 4:12-17.23-25.
“Yesus berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.”
Kedatangan Ibu Teresa dari Kalkuta selalu disambut dengan gembira dan syukur. Di mana pun ia berada, orang merasa teduh dan damai. Jejaknya meninggalkan berkat bagi miskin dan kaya, tua dan muda, sakit dan sehat. Orang-orang non kristen pun melihat pesona Yesus di dalam dirinya. Yesus berjanji akan tetap hadir di dalam Gereja. Adalah tugas dan kehormatan kita masing-masing untuk menampakkan pesona Yesus kepada dunia. Caranya dengan kehadiran penuh kasih. Kasih yang membuat langkah pertama untuk bersahabat, mengampuni, melayani, mengusahakan kebaikan bagi semua tanpa membedakan, termasuk yang memusuhi kita.
6. Selasa.
1 Yoh 4:7-10; Mrk 6:34-44.
“Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
Ada banyak cara memandang orang banyak yang miskin. Ada yang melihat mereka sebagai ladang tenaga kerja yang murah. Ada yang menganggap mereka sebagai ancaman bagi stabilitas negara, mengganggu tatanan sosial, ketertiban masyarakat, keamanan dan kesehatan. Yesus melihat mereka sebagai domba-domba tanpa gembala. Hati-Nya menjadi trenyuh. Segala urusan lain menjadi tidak penting. Orang banyak itu membutuhkan pengajaran; Yesus mengajar mereka. Mereka membutuhkan makanan, Yesus memberi mereka makan. Apakah saya punya hati untuk orang pinggiran yang tersisih?
7. Rabu.
1 Yoh 4:11-18; Mrk 6:45-52.
“Tenanglah, Aku ini, jangan takut.”
Kelompok pencinta alam yang sedang mendaki Gunung Gede terjebak cuaca buruk. Angin kencang dan hujan deras menerpa tubuh para pendaki yang kedinginan. Di saat itulah Toni terpisah dari yang lain. Bum! Ia jatuh terjerembab, terguling-guling dan terbentur sesuatu yang keras. Lalu ia tidak ingatkan diri. Saat terbangun ia merasa seperti di ambang neraka. Gelap gulita. Ia tak bisa bergerak karena sekujur tubuhnya terasa sakit. Tiba-tiba tampak cahaya senter. Toni berteriak. “Ini aku, jangan takut.” Itu suara Bimbo, kawannya. Toni menjadi tenang. Semuanya akan beres. Seperti itulah yang dirasakan para murid Yesus. Mereka pikir akan mati ditelah ombak. Jika Yesus bersama kita, mengapa takut?
8. Kamis.
1 Yoh 4:19 – 5:4; Luk 4:14-22a.
“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
Nas yang dibaca Yesus ditulis beberapa ratus tahun sebelumnya. Namun, kata Yesus, nas itu digenapi saat mereka mendengarnya. Sabda Tuhan hidup dan penuh daya. Bila dibaca atau didengarkan dengan iman, ia menjadi darah daging dan menghasilkan buah. Contohnya Emil yang hidup tak keruan. Pagi itu ia iseng masuk gedung gereja. Dari bacaan Injil ditangkapnya kalimat ini: “Pergilah juga engkau ke kebun anggurku.” Kata-kata itu terus terngiang di telinga dan dalam hati Emil. Pasti Tuhan punya maksud dengan hidupnya. Maka ia meninggalkan pola hidup yang seenaknya sendiri dan mengabdikan diri untuk membantu orang cacat di pusat rehabilitasi.
9. Jumat.
1 Yoh 5:5-13; Luk 5:12-16.
“Orang banyak datang untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Tapi Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”
Yuli kecewa berat. Sejak kecelakaan, kakinya lumpuh. Ia sudah berobat ke mana-mana, tapi sia-sia. Segala macam cara tradisional pun tidak membawa hasil. Lalu ia memburu para pengkhotbah dan para pendoa minta disembuhkan. Dalam setiap Misa Penyembuhan ia tak pernah absen. Tapi percuma.... Lalu ia marah dan memutuskan hubungan dengan Gereja -- Yesus tidak menjadikan penyembuhan karya pertama dan utama. Juga tidak bagi Gereja yang melanjutkan karya-Nya. Hidup memang misteri yang sulit difahami: Mengapa begini, mengapa begitu? Perlu mencari makna hidup dalam doa di tempat sunyi, seperti dilakukan Yesus sendiri.
10. Sabtu.
1 Yoh 5:14-21; Yoh 3:22-30.
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Bapak Otto fasih berbicara dan menjadi pembawa firman yang handal. Ia pandai membumbui pembicaraannya dengan humor segar sehingga makin disukai. Ia telah menjelajahi seluruh penjuru tanah air, dan berambisi bisa membawa firman ke luar negeri. Ia merasa dirinya sangat hebat karena mampu membuat pendengarnya terpukau. Tapi kadang ia mendengar beberapa nada sumbang. “Pak Otto sombong”. Benarkah? Ketika bertemu kutipan di atas ia terkejut. Benar, sampai sekarang ia mencari kebesarannya sendiri, bukan kebesaran Tuhan. Maka ia mohon ampun dan kerendahan hati dan selanjutnya ia lebih mewartakan Tuhan lewat tangan dan kaki, lewat pelayanan sederhana.
11. Minggu. Pesta Pembaptisan Tuhan.
Yes 40:1-5.9-11; Tit 2:11-14; 3:4-7; Luk 3:15-16.21-22.
“Engkau Anak yang Kukasihi; kepada-Mulah Aku berkenan.”
Dalam cerita-cerita kriminal sering dipaparkan latar belakang keluarga si penjahat. Pelaku kejahatan hampir selalu dari keluarga berantakan, tidak mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua di masa kecil. Si anak menyimpan sakit hati atau luka batin yang tidak diolah dan kemudian itu muncul dalam perilaku yang menyimpang. Seorang yang sungguh bahagia biasanya tidak melakukan kejahatan. Orang merasa happy kalau diterima dan diteguhkan. Yesus, walau-pun tidak mengenal dosa, diteguhkan oleh Bapa-Nya. Bisakah kita sering-sering berkata kepada anak-anak kita: “Kamu anak kesayangan Bapak dan Ibu. Kami senang denganmu.”
12. Senin.
1 Sam 1:1-8; Mrk 1:14-20.
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
Pasti ada lebih banyak yang dikatakan Yesus. Markus hanya memberi intinya, singkat dan gamblang. Yang menjadi pokok adalah Kerajaan Allah, keadaan di mana Allah memerintah. Allah mengarahkan segalanya demi kebaikan dan kebahagiaan semua orang dan seluruh ciptaan. Supaya Kerajaan itu terwujud, kita perlu bertobat, melepaskan egoisme untuk melayani Allah dan melakukan kehendak-Nya. Percaya pada Injil, yaitu kabar baik bahwa Allah telah mengutus Almasih, Yesus, Putra-Nya. Menerima Yesus berarti mendengarkan Dia dan taat kepada-Nya, sebab kata-kata-Nya membawa kepada keselamatan, kehidupan sejati tanpa akhir.
13. Selasa.
1 Sam 1:9-20; Mrk 1:21b-28.
“Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.”
Tersiar kabar bahwa mbok Pariyem kesurupan roh jahat. Sejak malam tadi ia berteriak-teriak dan bicara tidak keruan. Tidak ada orang yang berani mendekatinya. Akhirnya dipanggil mbah dukun. Ia berjanji akan datang sesudah sembahyang dan puasa. Umumnya roh jahat amat sangat ditakuti. Pertama karena unsur jahatnya. Ia bukan saja jahat, tapi ia kejahatan itu sendiri. Kedua, karena ia dari alam lain, alam gaib yang tidak nampak wujudnya. Bayangkan betapa orang-orang heran dan gembira melihat Yesus bertindak dengan penuh kuasa terhadap roh jahat. Kalau kita di pihak Yesus, musuh yang paling kita takuti pun, tak dapat berkutik.
14. Rabu.
1 Sam 3:1-10.19-20; Mrk 1:29-39.
“Marilah kita pergi ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
Selama hidup-Nya di depan umum, Yesus tak pernah lama-lama di satu tempat. Ada dorongan untuk terus jalan dari kota ke kota, dari desa ke desa untuk mewartakan Injil. Kelak Ia mengutus murid-murid-Nya pergi sampai ke ujung bumi untuk mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang. Gereja bersifat misioner. Roh Kudus sampai hari ini menggerakkan laki-laki dan perempuan untuk mengarungi daratan dan lautan dan udara untuk menyampaikan kabar baik itu. Apakah Injil sudah bersinar dalam hidup saya? Apakah hidup saya menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk mencari Tuhan, percaya dan berharap kepada-Nya?
15. Kamis.
1 Sam 4:1-11; Mrk 1: 40-45.
“Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu.”
Suster Ani mengunjungi sebuah rumah sakit kusta yang terkenal bersih. Memang lantai berkilau seperti cermin. Juga tidak ada bau-bau. Nampak pasien-pasien, laki perempuan, tua, muda. Ada yang sedang jalan-jalan, duduk atau berbaring. Mereka nampak gembira karena ada kunjungan. Mata mereka memancarkan harapan. Tapi Suster Ani tidak berani menyentuh mereka. Takut ketularan. Ia memberi salam dengan cara Cina, sebab dengan cara itu ia tak perlu menyentuh mereka. Ketika membaca Injil ini, Suster Ani malu sekali. Yesus tidak enggan menyentuh orang kusta itu. Yesus bisa saja menyembuhkan dia tanpa harus menyentuhnya, tapi yang ia butuhkan justru sentuhan manusiawi, sentuhan ilahi, dan Yesus memberikannya.
16. Jumat.
1 Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12.
“Di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.”
Menurut banyak orang, dosa itu nikmat. Nikmatnya waktu dilakukan. Sesudahnya meninggalkan rasa bersalah yang mengganggu batin dan membebani pikiran. Bapak Ansel telah berbuat serong. Istrinya yang sakit hati meninggalkan rumah. Bapak Ansel sangat menyesal; sekarang ia terbaring lumpuh. Terdorong oleh kasihan, istrinya pulang. Sebelum masuk kamar, anak mereka menyapa ibunya, “Ma, Mama mesti mengampuni Papa.” Jawab ibunya, “Sudah, Nak, Mama sudah mengampuni Papa.” Mendengar kata-kata itu, Pak Ansel merasa darah mengalir deras di kakinya. Ia bisa menggerakkannya! Ia sembuh! “Mujizat!” teriak orang-orang yang hadir. Yesus berkuasa mengampuni dosa. Ia juga memampukan kita mengampuni. Maka mujizat akan terjadi.
17. Sabtu. Pw S. Antonius Abas.
1 Sam 9:1-4.17-19; 10:1a; Mrk 2:13-17.
“Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Makan bersama menandakan hubungan persahabatan dan persaudaraan. Orang Farisi dan ahli Taurat tidak mau bergaul, apalagi makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Kelompok itu dianggap di bawah standar dan hanya akan mencemarkan kesucian mereka. Sebaliknya Yesus membuka diri bagi mereka, bahkan makan bersama mereka. Orang Farisi tidak bisa membiarkan itu; itu sungguh menjadi batu sandungan. Betapa jauh pikiran mereka (dan sering juga pikiaran kita) dari pikiran Yesus. Yesus justru datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
18. Minggu Biasa II.
Yes 62:1-5; 1 Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11.
“Mereka kehabisan anggur.”
Kita biasa merayakan perkawinan dengan pesta. Status orang diukur dari banyaknya undangan. Kebanyakan tamu datang untuk meramaikan suasana pesta. Itulah kesempatan bertemu sanak saudara dan handai taulan. Juga untuk menikmati hidangan yang enak-enak. Sering apa yang dihidangkan menjadi bahan pembicaraan sesudahnya. Demikian juga terjadi dalam pesta perkawinan di Kana. Maria Ibu Yesus hadir. Ia hadir dengan hati yang peka terhadap setiap kebutuhan. Ia segera tahu bahwa anggurnya habis. Ia tidak kusak-kusuk menyebarkan hal memalukan itu. Maria tahu kepada siapa ia harus minta tolong dan apa yang harus ia lakukan. Ia menjadi pengantara yang sangat efektif. Yesus telah memberikan Ibu-Nya kepada kita. Bodoh bila kita menolaknya.
19. Senin.
1 Sam 15:16-23; Mrk 2:18-22.
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?”
Kita dapat mengenal Yesus dari Injil. Yesus ditampilkan sebagai mempelai laki-laki, dan kehadiran-Nya seperti sebuah pesta perkawinan. Itu gambaran zaman Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi. Dalam pesta perkawinan ada suasana gembira. Yang terdengar gelak tertawa, bukan tangisan. Pengantin laki-laki wajahnya berseri-seri. Kalau kita lihat gambar-gambar Yesus, hampir semua serius, jarang ada yang ramah, hangat. Padahal anak-anak pun tidak takut pada Yesus dan senang berada dekat Dia. Syukur sekarang muncul juga gambar-gambar Yesus yang sedang tertawa. Dapatkah saya menghayati iman dengan gembira?
20. Selasa.
1 Sam 16:1-13; Mrk 2:23-28.
“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.”
Orang timur suka melihat Yesus sebagai guru kebijaksanaan. Kutipan ini merupakan sebuah ucapan terkenal yang tak dapat disanggah. Peraturan tentang hari Sabat penting. Manusia juga penting. Mana yang harus didahulukan? Mana yang harus diberi prioritas? Yesus mementingkan manusia. Sabat adalah hari yang dikhususkan untuk memuliakan Tuhan dan beristirahat dalam Dia. Dalam istirahat itu manusia diingatkan bahwa kerja adalah sarana untuk hidup. Jadi orang kerja untuk hidup, dan bukan hidup untuk kerja. Sabat adalah hari yang kudus untuk mencari kontak dengan Allah dan membina relasi dengan sesama. Di mana ada orang sakit, juga di hari Sabat, ia boleh mengalami kuasa penyembuhan Tuhan.
21. Rabu. Pw S. Agnes.
1 Sam 17:32-33.37.40-51; Mrk 3:1-6.
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat?”
Jelas sekali bahwa tidak ada satu hari pun di mana orang mendapat dispensasi untuk berbuat jahat. Apalagi pada hari Sabat, hari Tuhan. Tetapi orang Farisi tidak bisa menjawab. Mereka yang tadinya mau menjebak Yesus, sekarang terjebak. Kalau menjawab “berbuat baik”, mereka harus mendukung tindakan Yesus menyembuhkan orang itu. Sebagai orang ‘saleh’ mereka tak mungkin menyetujui perbuatan jahat. Namun justru itulah yang mereka lakukan, sebab dari semula mereka menolak Yesus dan tetap menolak Dia. Kekudusan hari Sabat mereka cemarkan dengan membuat rencana membunuh Yesus. Tak mungkin berpaut pada Yesus dan sekaligus berbuat jahat.
22. Kamis.
1 Sam 18:6-9; 19:1-7; Mrk 3:7-12.
“Roh-roh jahat tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak, ‘Engkaulah Anak Allah’ ”
Roh-roh jahat mengakui Yesus sebagai Anak Allah dan tersungkur di depan-Nya. Namun mereka di luar keselamatan. Orang bisa mengakui dan sujud karena terpaksa atau takut. Sikap seperti itu bisa ditunjukkan terhadap kekuasaan yang bukan Allah, entah benda, manusia atau roh. Itu bukan iman. Hanya iman yang menyelamatkan. Iman didasarkan pada hubungan pribadi dengan Tuhan dan diwarnai oleh kasih, penyerahan, ketaatan. Iman berbuah dalam perbuatan-perbuatan baik. Iman macam apakah yang saya miliki? Sudahkah iman itu berbuah?
23. Jumat.
1 Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19.
“Yesus memanggil mereka untuk menyertai Dia dan untuk diutus memberitakan Injil. Mereka diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.”
Di zaman dulu, kalau orang mau belajar pada seorang bijak, ia tinggal pada guru itu untuk waktu yang cukup lama. Murid belajar dengan mendengarkan, melihat, mengalami cara hidup sang guru. Kalau sudah mahir, ia diutus untuk mengajar orang lain. Yesus memakai cara yang sama. Bedanya, Yesus yang memilih murid-Nya. Mereka ikut dengan Dia ke mana Ia pergi. Ikut mengalami cara hidup-Nya siang dan malam. Mereka belajar mengenal Dia luar dan dalam. Mereka belajar mencintai seperti Dia mencintai. Lalu mereka diutus. Bedanya lagi dengan guru biasa: Yesus memberi mereka kuasa. Sekarang pun, bila kita diutus Yesus, kita bertindak dengan kuasa Yesus.
24. Sabtu. Pw S. Fransiskus dr Sales.
2 Sam 1:1-4.11-12.19.23-27; Mrk 3:20-21.
“Orang banyak datang berkerumun sehingga makan pun mereka tidak dapat.”
Warto merasa terpanggil untuk ikut tim relawan menangani korban gempa. Ia meninggalkan studinya, padahal setengah tahun lagi ia harus ujian S-1. Banyak sekali korban yang mati, yang hilang, yang harus mengungsi dan kehilangan segalanya. Tim relawan kerja siang dan malam. Jangan bicara soal makan, minum atau istirahat. Mereka begitu sibuk sampai semua itu tak terpikir. Warto dicari ayah ibu dan kaum keluarganya. “War, sudah cukuplah kamu bantu mereka. Sekarang ingat dirimu. Kamu seperti orang tidak waras saja. Kalau begini terus kamu sakit!” Seperti itulah terjadi dengan Yesus. Pernahkah saya begitu terlibat dengan kesusahan orang lain sampai melupakan diri sendiri?
25. Minggu Biasa III.
Neh 8:3-5a.6-7.9-11; 1 Kor 12:12-30 (12:12-14.27); Luk 1:1-4; 4:14-21.
“Mata semua orang tertuju kepada-Nya.”
Mata seribu penonton tertuju kepada seorang pesulap kondang. Selama satu setengah jam ia akan menghibur mereka dengan trik-trik yang membuat mereka kagum dan terpesona. Sebuah kipas dimasukkan ke dalam sebuah topi; bagaimana mungkin yang keluar seekor kelinci? Habis pertunjukan semua berhamburan pulang. Penonton sibuk dengan urusan masing-masing dan melupakan si pesulap. Di rumah ibadat itu, Yesus berdiri untuk membacakan firman dan memberi homili. Mata seluruh jemaat tertuju kepada-Nya. Apa yang mereka harapkan? Apa yang mereka dapat? Sabda Yesus adalah sabda hidup yang kekal. Itukah yang dicari umat kita sekarang? Itukah yang disampaikan para pengkhotbah kita?
26. Senin. Pw. S. Timotius dan Titus.
2 Sam 5:1-7.10; Mrk 3:22-30.
“Apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya.”
Di salah satu bagian rumah sakit, air tidak mengalir. Seorang tukang dipanggil untuk memeriksa di mana ada penyumbatan. Setelah diatasi, air mengalir normal. Suatu waktu terjadi lagi bahwa tidak ada air. Semua keran di seluruh kompleks rumah sakit tidak keluar airnya. Ketika diperiksa, ternyata mata airnya kering. Apa daya? Roh Kudus seperti mata air pengampunan. Diana baru menikah sebulan ketika suaminya direnggut maut dalam sebuah kecelakaan. Diana marah dan mengutuk Tuhan. Hidupnya jadi merana, bahkan ia hampir gila. Diana bisa selamat kalau membuka diri bagi karya Roh yang mengampuni dan menyembuhkan
27. Selasa.
2 Sam 6:12b-15.17-19; Mrk 3:31-35.
“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Kring Cempaka sudah terbentuk menjadi komunitas basis kristiani yang hidup, kompak dan subur. Seminggu sekali mereka kumpul untuk mendalami firman dan berdoa bersama. Relasi kasih di antara keluarga-keluarga kring itu meliputi segala bidang kehidupan. Mereka sehati sejiwa menanggung suka duka bersama. Mereka merasa hubungan di antara mereka seperti dalam satu keluarga besar, bahkan lebih dari ibu bapak sendiri dan saudara sendiri. Itulah perwujudan dari apa yang disebut Yesus di atas.
28. Rabu. Pw S. Thomas Aquino.
2 Sam 7:4-17; Mrk 4:1-20.
“Supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”
Seluruh kitab suci merupakan imbauan supaya manusia bertobat. Maka kalimat di atas terasa janggal. Sampai hatikah Allah menghalangi manusia mendapat ampun? Selama kuliah, Tono tinggal bersama pamannya, seorang dosen. Tono lebih suka pesiar daripada belajar. Ia suka main sampai larut malam dan sering bolos kuliah. Pamannya boleh terus menasihati dia, Tono acuh saja. Suatu hari pamannya berkata, “Sudahlah Ton, kamu main saja terus, tak usah kuliah lagi, tak perlu tinggal sama paman.” Dalam hatinya, paman menjerit: “Toni, seandainya kamu rajin kuliah, masakan paman tega tidak menampung kamu?” Sekarang kita mengerti mengapa Tuhan berkata begitu kepada orang Israel yang tegar tengkuk dan tak mau bertobat.
29. Kamis.
2 Sam 7:18-19.24-29; Mrk 4:21-25.
“Siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi.”
Dalam masyarakat nampak gejala yang aneh. Sering orang yang sudah kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah melarat. Tapi dalam hidup rohani ada gejala yang sama. Orang yang kaya rohaninya, kuat imannya, besar kasih dan kemurahan hatinya, makin bertambah kaya rohani. Sedangkan orang yang miskin rohaninya, lemah imannya, tidak punya kasih, tidak berbelas kasihan, ia akan kehilangan yang sedikit yang ada padanya itu. Orang yang kikir terhadap Allah dan terhadap sesama, terlebih yang miskin, akan kehilangan semuanya. Harus mulai di mana? Mulai dengan memberi, maka semakin banyak yang bisa kita berikan dan makin banyak pula yang akan kita terima.
30. Jumat.
2 Sam 11:1-4a.5-10a.13-17; Mrk 4:26-34.
“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah.”
Seberapa besarkah biji sesawi? Kecil sekali. Apa rahasia pertumbuhannya? Kuasa Tuhan. Tapi ia perlu ditanam, dipupuk, disiram, dipelihara. Tak jadi soal kita sekolah apa, apa status sosial atau fungsi kita dalam Gereja. Kita semua kaya bila kasih Kristus ada dalam hati kita. Bila kekayaan itu disimpan sendiri, tidak terjadi apa-apa. Bila ditabur, akan tumbuh. Menabur kasih tak perlu biaya. Bisa dengan pandangan penuh simpati, senyum ramah, kata-kata manis menghibur dan meneguhkan, uluran tangan. Bisa sampai ikut memikul beban dan berjuang mati-matian. Dengan penuh syukur kita akan melihat Kerajaan itu tumbuh, keadilan dan damai bersemi.
31. Sabtu. Pw S. Yohanes Bosco.
2 Sam 12:1-7a.11-17; Mrk 4:35-41.
“Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Ketika usahanya mulai jalan, Bp. Purba kena musibah. Ditambah masalah bertubi-tubi di bidang usaha maupun keluarga. Pengusaha muda ini berdoa dan makin khusuk berdoa. “Tuhan, Engkau tahu usaha ini dibangun dengan keringat dan air mata, dengan jujur dan benar. Kami tak pernah menipu atau merugikan siapa pun. Engkau tahu berapa orang miskin dan malang sudah kami bantu. Mengapa begini Tuhan? Tolonglah. Tiada penolong selain Dikau.” Tapi Tuhan seperti tidak menjawab. Sampai akhirnya ia berteriak, “Tuhan, Engkau tidak peduli kalau saya hancur?” Dari kegelapan yang paling gelap Tuhan menjawab, “Mengapa takut? Mengapa kurang percaya?”
sumber: Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari Januari 2004 Angela Merici Biblical Center