KALENDER LITURGI PEBRUARI 2004  kembali


1. Minggu Biasa IV

Yer 1:4-5.17-19; 1Kor 12:31 – 13:13 (13:4-13); Luk 4:21-30. 

“Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” 

Menjadi nabi bukan pekerjaan yang menarik. Tidak ada yang akan 
memilihnya untuk diri sendiri. Malah sering orang yang dipilih 
mengajukan keberatan seperti Yeremia. Nabi bukan tukang ramal. Nabi 
itu orang yang bicara atas nama Tuhan, menyampaikan firman Tuhan. 
Tuhan menghendaki semua orang bahagia di bumi ini (bukan hanya di 
akhirat!) Sering di saat genting Tuhan memanggil nabi untuk menegur 
orang-orang supaya bertobat, merubah tingkah laku yang jahat dan 
membaharui diri. Tapi yang namanya manusia di mana saja dan kapan 
saja tidak suka digugat atau ditegur. Ia menuntut orang lain 
berubah, tapi dirinya jangan. Maka nabi sering disingkirkan, 
dibungkam, bahkan dibunuh. Begitulah nasib nabi Yeremia dan 
nabi-nabi lain. Begitulah juga nasib Kristus. Kita hidup di zaman 
yang genting. Bumi makin rusak dan hidup kita makin terancam hancur. 
Persaudaraan, kasih, solidaritas, damai, kejujuran, keadilan, 
semangat membangun merupakan impian yang sulit diwujudkan. Tapi 
zaman yang kacau ini pun tidak kekurangan nabi: Nabi yang menyerukan 
pelestarian alam, anti korupsi, politik bersih, damai, toleransi, 
rekonsiliasi, keadilan, hak azasi manusia, hak wanita dan anak. 
Apakah kita mendengar dan mendengarkan suara nabi-nabi zaman ini? 


2. Senin. Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah. 

Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Luk 2:22-40. 

“Hana mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu.” 

Di waktu itu ada banyak orang di Bait Allah. Dalam kerumunan orang 
banyak itu siapakah yang melihat Sang Bayi dan mengenali Dia sebagai 
Mesias? Hanya Simeon dan Hana. Mereka melihat tidak hanya dengan dua 
mata, tapi juga dengan mata ketiga, yaitu mata hati atau mata batin. 
Mata itu dibuka oleh iman serta latihan dalam doa dan puasa. Di 
zaman ini mata kita dibiasakan untuk mencari untung dan kesempatan 
dalam kesempitan. Mata hati kita jadi rabun, bahkan buta. Kita 
menggapai dalam gelap: “Di mana Engkau, Tuhan? Bukalah mataku untuk 
melihat dan mensyukuri kehadiran-Mu.” 


3. Selasa. 

2 Sam 18:9-10.14b.24-25a.30 – 19:3; Mrk 5:21-43. 

“Jangan takut, percaya saja!” 

Orang Yahudi zaman dahulu menganggap hidup ada di dalam darah. Maka 
sangat diharamkan untuk makan darah. Wanita yang diceritakan dalam 
bacaan Injil sudah 12 tahun sakit pendarahan. ‘Hidup’nya mengalir 
dari tubuhnya dan ia makin kehabisan tenaga. Yesus menyembuhkan dia, 
memberi dia daya hidup baru. Sekarang di banyak tempat Gereja kurang 
bersemangat, kurang bergairah. Panggilan imam banyak berkurang. 
Penambahan tidak seimbang dengan pengurangan karena meninggal dunia 
atau meninggalkan imamat. Apakah kita pasrah saja? Tentu tidak. 
Perempuan itu pantas menjadi teladan kita. Imannya yang besar 
mendorong dia mengupayakan apa saja. Ia memberanikan diri datang 
kepada Yesus dan diam-diam menyentuh jubah-Nya. Tindakannya tepat. 
Hanya dari Yesus kita menggali semangat hidup. Mengapa menunggu 
orang lain bersemangat, baru ikut? Barangkali Tuhan mau memakai saya 
untuk memulai gerakan baru penuh semangat. “Inilah aku Tuhan, 
pakailah diriku.”


4. Rabu. 

2 Sam 24:2.9-17; Mrk 6:1-6. 

“Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana.” 

Dari mana-mana orang datang berbondong-bondong kepada Yesus untuk 
disembuhkan. Setiap kali Ia berkata, “Imanmu menyembuhkan engkau.” 
Ternyata Yesus pun tidak berdaya membuat mukjizat kalau orang tidak 
percaya. Konon ada seorang pengemis buta yang sangat saleh. Suatu 
hari seorang kudus singgah di kota itu. Teman-teman pengemis itu 
mendorong supaya ia menemui orang kudus itu untuk disembuhkan. 
Sebenarnya ia enggan pergi, sebab walaupun matanya buta, mata 
hatinya sangat awas. Tapi karena kawan-kawannya terus mendorong, ia 
pergi juga. Sungguh, ia disembuhkan dan bisa melihat. Semua orang 
senang. Tapi orang buta yang sekarang sudah melek itu menjadi sedih. 
Ia melihat banyak kejahatan di sekelilingnya sehingga sulit 
menemukan Tuhan. “Ah Tuhan, aku tidak tahan. Jadikanlah aku buta 
kembali.” Jadilah demikian. Orang-orang menganggap kebutaan yang 
kedua itu sebagai mukjizat. Memang, dalam keadaan buta, ia bisa 
lebih “melihat”. 


5. Kamis. Pw S. Agata

1 Raj 2:1-4.10-12; Mrk 6:7-13. 

“Kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ.” 

Sebelum meninggal, Daud memberi pesan-pesan terakhir kepada Salomo. 
Ia tidak memaksa. Kalau Salomo mau dengar, ia akan bahagia dan 
rakyat damai sejahtera. Sebelum melepas murid-murid-Nya pergi untuk 
mewartakan kabar baik, Yesus memberi mereka nasihat praktis: Apa 
yang boleh dibawa, apa yang harus mereka lakukan kalau diterima atau 
ditolak di suatu tempat. Kabar baik keselamatan ditawarkan, tidak 
dipaksakan. Ada kalanya orang mau dengar, ada kalanya tidak. Allah 
yang berkuasa di langit dan di bumi memberi kebebasan kepada 
ciptaan-Nya. Pemaksaan dan sikap fanatik bukan dari Roh Kudus. 
Lagipula yang dilakukan karena terpaksa atau takut tak ada 
pahalanya. Sebuah teladan indah diberi oleh Ibu Teresa dari Kalkuta 
dan banyak misionaris kita. Mereka berbuat baik tanpa pamrih, tanpa 
pandang bulu atau agama. Sebab Yesus juga tidak pernah memaksa. 


6. Jumat. Pw S. Paulus Miki

Sir 47:2-11; Mrk 6:14-29. 

“Hatinya selalu terombang-ambing.” 

Yohanes Pembaptis adalah nabi yang mewartakan pertobatan dan 
mengecam kejahatan. Herodes suka mendengarkan dia. Tapi apa yang ia 
dengar tidak ia lakukan. Itulah sebabnya ia terbawa oleh Herodias, 
dengan suaranya yang manis penuh bujuk rayu. Dalam cerita Jaka 
Tingkir, ia dirayu oleh perempuan sihir. Tapi perempuan itu tidak 
berhasil. Jaka Tingkir juga dirayu oleh perempuan lain yang masih 
polos. Percuma saja. Jaka Tingkir tetap teguh karena punya tujuan 
dalam hidup. Ia tidak bisa dibelokkan ke kiri atau ke kanan. Herodes 
masih hidup di zaman kita: orang-orang yang hatinya mudah 
terombang-ambing karena tidak punya prinsip atau pendirian. Sekali 
dirayu, tumbang. Zaman kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang teguh 
hati 


7. Sabtu. 

1 Raj 3:4-13; Mrk 6:30-34. 

“Mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”. 

Seorang pemimpin Israel diharapkan menjadi gembala bagi rakyatnya. 
Tepatlah kalau Salomo mohon kebijaksanaan untuk dapat memimpin 
rakyat dengan adil dan benar. Yesus bertindak sebagai gembala yang 
sejati. Gembala yang memberi makanan rohani dan jasmani kepada 
kawanannya. Bahkan Ia mengorbankan nyawa-Nya sendiri demi kehidupan 
mereka. Figur pemimpin-gembala menurut model Yesus masih langka. 
Sedangkan figur gembala upahan kita jumpai di mana-mana. Pertobatan 
mulai dari dalam. Mengubah cara memandang. Tidak lagi melihat orang 
banyak sebagai lahan untuk mendapat keuntungan, misalnya untuk 
menjual produkku. Melainkan bertanya: Apa yang paling mereka 
butuhkan? Apa yang bisa saya bantu?


8. Minggu Biasa V

Yes 6:1-2a.3-8; 1 Kor 15:1-11 (15:3-8.11); Luk 5:1-11. 

“Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 

Yesaya terpesona oleh kemuliaan Allah yang ia lihat dalam Bait 
Allah. Ia menyatakan kerelaannya untuk diutus. Simon Petrus 
terpesona oleh kuasa firman yang diwartakan Yesus. Jadi ia taat 
ketika Yesus menyuruh sesuatu yang aneh menurut logikanya sebagai 
nelayan. Simon memberi respons dan bertindak sebagai orang beriman. 
Dan lihatlah hasilnya. Apakah hati kita masih cukup peka untuk 
merasa terpesona oleh kebesaran Allah? Beranikah kita 
mengesampingkan logika kita sebagai guru, ilmuwan, usahawan, 
politikus untuk membiarkan Allah berperan melalui diri kita?


9. Senin. 

1 Raj 8:1-7.9-13; Mrk 6:53-56. 

“Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.” 

Mungkin kita termasuk orang kebanyakan yang belum pernah mengalami 
mukjizat. Kita heran bercampur iri mendengar orang yang doanya 
selalu terkabul, yang selalu mengalami mukjizat besar kecil dalam 
hidupnya. Lalu kita bertanya, “Mengapa saya tidak? Apakah Tuhan 
tidak suka pada saya? Bagaimana caranya supaya doaku terkabul?” 
Salomo membuat rumah untuk Tuhan. Tapi kehadiran-Nya tak bisa 
dibatasi pada rumah atau gereja atau tempat ziarah tertentu. Tuhan 
maha hadir. Juga maha kasih. Tak ada yang dikecualikan dari 
kasih-Nya. Kita bisa mohon untuk dapat melihat Dia, mengalami kuat 
kuasa-Nya, menjamah Dia dalam orang miskin seperti dilakukan Ibu 
Teresa. 


10. Selasa. Pw S. Skolastika

1 Raj 8:22-23.27-30; Mrk 7:1-13. 

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh 
daripada-Ku.” 

Ibu Sisi adalah solis dari kor Sesilia. Suaranya membuat orang lebih 
khusuk berdoa. Sedikit saja yang tahu apa yang berkecamuk di hati 
Ibu Sisi. Ia sangat benci pada suami yang pernah menyeleweng. Selain 
pada suami, kebenciannya meluas pada mertua, semua sanak saudara 
suami, bahkan anak-anaknya sendiri karena mereka mirip suaminya. 
Kebencian itu menjauhkan hatinya dari Tuhan. Betul, ada jurang 
menganga antara bibir yang mengeluarkan suara emas dan hatinya yang 
pahit getir. Malam Natal yang lalu Ibu Sisi menyadarinya lalu 
mencari bantuan untuk menjembatani jurang itu. Sering ibadah kita 
terbatas pada tembok gereja, belum mewarnai hidup kita di rumah dan 
di pasar. 


11. Rabu. 

1 Raj 10:1-10; Mzm 37:5-6.30-31.39-40; Mrk 7:14-23. 

“Dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, 
pencurian.” 

Orang yang suka nonton acara “Derap Hukum” di TV bisa 
terheran-heran. ‘Koq bisa orang melakukan kejahatan seperti itu...’ 
Rasanya perbuatan seperti itu aneh dan asing. Coba kita renungkan 
dan bertanya mengapa itu sampai terjadi. Kalau saya mengamati 
peristiwa itu bukan dari luar, tapi dari dalam, mungkin jadi lain. 
Kubayangkan diriku menjadi orang itu dengan seluruh situasi 
hidupnya, tertekan oleh kemiskinan, kemelaratan. Dalam situasi dia, 
mungkin saya melakukan kejahatan lebih besar. Kejahatan ada di hati 
setiap orang. Kita tidak mau membenarkannya, tapi mau berusaha 
sekuat tenaga untuk memberantas kemiskinan yang menjadi biang kerok 
banyak kejahatan.


12. Kamis. 

1 Raj 11:4-13; Mrk 7:24-30. 

“Anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan 
anak-anak.” 

Tiap kali kita membaca cerita tentang ibu itu, kita jadi heran dan 
kagum. Yesus pun dibuatnya kagum. Memang begitulah hati seorang ibu 
sejati. Tak ada penderitaan lahir dan batin yang terlalu berat 
baginya asal demi kebaikan anak. Seorang ibu yang terperangkap dalam 
gedung yang ambruk karena gempa bumi berhasil memelihara bayinya 
selama beberapa hari dengan memberinya minum darah dari jari yang ia 
lobangi satu demi satu. Regu penyelamat menemukan keduanya dalam 
keadaan hampir mati, tapi masih bisa diselamatkan. Sebesar apakah 
cintaku kepada orang lain, khususnya kepada keluargaku? 


13. Jumat. 

1 Raj 11:29-32; 12:19; Mrk 7:31-37. 

“Ia menjadikan segala-galanya baik.” 

Paus Yohanes Paulus II telah menobatkan banyak sekali orang kudus. 
Seperti apa orang kudus itu? Apakah mereka yang paling lama dan 
paling banyak berdoa disertai puasa dan matiraga? Kalau kita 
meneliti kehidupan orang-orang kudus itu, ternyata tidak. Mereka 
orang biasa seperti kita, hidup dalam dunia penuh dosa. Mereka juga 
mengalami kelemahan, godaan, tantangan, penderitaan. Hanya, mereka 
tidak ikut arus dunia, tapi dengan kuasa Roh melawan arus dengan 
berbuat baik. Iman, harapan dan kasih mereka bersinar. Di mana 
mereka berada dan ke mana mereka pergi, orang bisa berkata, “Tuhan 
ada di sini.” Seperti Yesus, mereka meninggalkan jejak-jejak 
kebaikan.


14. Sabtu. Pw S. Sirilus dan Metodius

1 Raj 12:26-32; 13:33-34; Mrk 8:1-10. 

“Jika mereka Kusuruh pulang dengan lapar, mereka akan rebah di 
jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” 

Saat mau berangkat kuliah, ibu pesan, “Di, makan dulu. Jangan sampai 
tidak. Kalau lapar tidak bisa belajar. Ini bekalnya dibawa. Didi kan 
tidak sempat pulang nanti siang.” Didi mendesah. “Aaah, Ibu. Didi 
kan bukan anak SD lagi. Malu kan bawa bekal segala....” Didi 
sekarang sudah berkeluarga. Saat membaca Injil ini ia teringat 
ibunya. Selalu ingat dan penuh perhatian untuk orang lain. Biarpun 
kasihnya tidak ditanggapi, ia tetap mengasihi. Heran, betapa Yesus 
berhati ibu. Tidak masa bodoh, tapi sungguh peduli apa yang mungkin 
terjadi kalau mereka pulang dengan perut kosong. Kalau Tuhan begitu 
baik, mengapa kita takut mempercayakan diri kepada-Nya? 


15. Minggu. Biasa VI

Yer 17:5-8; Luk 6:17.20-26. 

“Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya 
Kerajaan Allah.” 

Di zaman dahulu raja-raja Timur Tengah termasuk Israel, memberi 
perlindungan khusus kepada orang miskin. Bukan karena orang miskin 
begitu istimewa, tetapi karena raja yang memberi perhatian kepada 
orang miskin dianggap raja yang ideal. Tuhan Allah Israel adalah 
pelindung dan pembela kaum miskin. Di situ ada keadilan: Allah 
menjamin hak orang-orang yang tidak punya jaminan dan tidak punya 
siapa-siapa untuk membela hak mereka. Mereka disebut bahagia, bukan 
karena mereka miskin, tapi karena nasib mereka akan berubah berkat 
keadilan Allah dan teristimewa berkat datangnya kerajaan Allah. 


16. Senin. 

Yak 1:1-11; Mrk 8:11-13. 

“Untuk mencobai Dia, mereka minta suatu tanda dari surga.” 

Dalam Perjanjian Lama ada banyak cerita tentang orang-orang yang 
dipanggil dan diutus Allah. Mereka minta dan diberi tanda untuk 
menunjukkan kesungguhan panggilan itu. Contohnya Gideon dan Musa. 
Bahkan Yesaya menyuruh Raja Ahas meminta tanda. Orang Farisi dalam 
kutipan Injil ini minta tanda. Maksud mereka untuk mencobai Yesus. 
Seandainya Yesus memberi tanda, mereka juga tak akan percaya. Hati 
mereka tertutup oleh prasangka-prasangka buruk. Jadi tidak salah 
kalau kita dengan rendah hati minta tanda dari Tuhan. Dan semakin 
jeli mata hati kita, makin kita mampu membaca tanda-tanda kehadiran 
dan kehendak Tuhan dalam hidup kita. 


17. Selasa. 

Yak 1:12-18; Mrk 8:14-21. 

“Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi 
Herodes.” 

Ragi sedikit sudah cukup untuk membuat seluruh adonan naik. Kerajaan 
Allah dibandingkan dengan ragi (Mat 13:33). Mulainya kecil dan 
sedikit, tapi pengaruhnya besar. Ada juga ragi orang Farisi dan 
Herodes. Yang dimaksud adalah ajaran mereka (Mat 16:12) atau sikap 
munafik (Luk 12:1). Agama yang mementingkan upacara dan peraturan 
tanpa hati, yang berbuat supaya dilihat dan dipuji orang. Karena 
dilakukan oleh para pemimpin, maka ditiru saja oleh orang banyak. 
Yesus tahu benar murid-murid-Nya tinggal di tengah kenyataan dunia 
yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Ia tidak memisahkan mereka dari 
dunia. Mereka diberi Roh Kudus untuk dapat membedakan, memilih dan 
melakukan yang baik. 


18. Rabu. 

Yak 1:19-27; Mrk 8:22-26. 

“Yesus membawa dia ke luar kampung.” 

Aneh bahwa Yesus membawa si buta keluar kampung dan sesudah sembuh 
melarang dia masuk kembali ke kampung. Apa salahnya menyembuhkan 
orang buta? Yesus tidak memakai penyembuhan untuk propaganda, 
melainkan sebagai tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Tapi 
suasana di seputar Yesus semakin panas. Kubu yang mendukung Dia mau 
memproklamirkan-Nya sebagai Raja. Kubu lawan mau menyingkirkan-Nya. 
Dalam suasana itu Yesus menyendiri bersama si buta. Dia memang 
Mesias, pembaharu yang revolusioner. Orang yang menerima Yesus akan 
mengalami pembaharuan batin. Pembaharuan yang juga akan mewarnai 
segala bidang kehidupannya: Ia akan membangun tatanan sosial, 
ekonomi dan politik yang baru berdasarkan kasih, solidaritas dan 
keadilan. Apakah saya siap untuk mengalami pembaharuan itu?


19. Kamis. 

Yak 2:1-9; Mrk 8:27-33. 

“Apa katamu, siapakah aku ini?” 

Sejak menjadi katekumin kita biasa menerima pengajaran tentang 
Yesus. Banyak orang, termasuk pastor-pastor yang berkhotbah, 
menceritakan siapa Yesus. Kita tidak pernah selesai belajar mengenal 
orang, suami atau istri, bahkan diri sendiri, apalagi Yesus. Dia 
misteri yang besar. Orang yang mempunyai relasi yang hidup dan 
dinamis dengan Yesus suatu waktu akan mendapat pertanyaan di atas, 
Tidak cukup lagi ‘apa yang dikatakan orang’, tapi “Menurut kamu 
pribadi, siapakah Aku ini?” Siapa Yesus bagiku pribadi? Menjawab 
pertanyaan itu sangat menentukan bagi kehidupan imanku dan 
perkembangannya. 


20. Jumat. 

Yak 2:14-24.26; Mrk 8:34 – 9:1. 

“Barangsiapa malu karena Aku... Anak Manusia pun akan malu karena 
orang itu.” 

Dalam ‘peristiwa bulan Mei’ ketika orang-orang keturunan Cina 
diserang, Abeng sedang naik motor di Glodok. Ia memboncengi Mamat, 
sahabatnya. Tiba-tiba Abeng diserang, dipukuli, motor-nya dirampas. 
Syukur ia masih bisa selamat. Yang paling menyakitkan Abeng bukan 
bahwa ia kehilangan motornya dan dipukuli sampai babak belur, tapi 
bahwa Mamat menghilang begitu saja. Mamat berlagak tidak 
mengenalnya. Ia takut dan malu mengaku dan membela Abeng sebagai 
sahabat. Begitu juga menjadi pengikut Kristus tidak selalu 
menguntungkan bahkan sering merugikan. Apakah saya malu mengaku diri 
sebagai pengikut-Nya? 


21. Sabtu. 

Yak 3:1-10; Mrk 9:2-13. 

“Inilah Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia.” 

Seorang duta atau utusan dibekali surat-surat kepercayaan dari orang 
yang mengutusnya. Allah mengutus Yesus. Ia memberi ‘surat 
kepercayaan’ berupa pernyataan yang singkat dan padat. Yang pertama 
mengenai identitas-Nya: Yesus itu Anak Kekasih Bapa. Kedua tentang 
tugasnya. Menyampaikan sabda kehidupan. Maka orang yang ingin 
memperoleh hidup sejati perlu mendengarkan Dia. Ajaran Yesus tidak 
susah. Orang tidak harus pandai atau sangat serius untuk bisa 
menangkapnya. Yesus mengajar kita cara hidup yang menjadikan kita 
anak-anak kesayangan Bapa. Maka ajaran Yesus menyenangkan, melegakan 
dan membebaskan. Kita punya contoh konkret, yaitu Yesus sendiri. 
Lebih lagi, Ia tidak di luar, tapi sangat dekat, di dalam diri kita. 


22. Minggu Biasa VII

1 Sam 26:2.7-9.12-13.22-23; 1 Kor 15:45-49; Luk 6:27-38. 

“Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu?” 

Membalas kebaikan dengan kebaikan itu lumrah. Membalas kejahatan 
dengan kejahatan juga dianggap lumrah di dunia kita. Uskup Nguyen 
Van Thuan dari Vietnam mengalami banyak penderitaan selama 
dipenjarakan 12 tahun. Komandan polisi bertanya kepadanya, “Kalau 
anda dibebaskan, apakah anda akan membalas dendam kepada kami? 
Apakah anda akan mengerahkan umat anda untuk membakar rumah-rumah 
kami?” “Tentu tidak,” jawab Van Thuan. Kepala penjara itu heran. 
“Mengapa tidak?” Van Thuan menjelaskan, “Yesus mengajar kami untuk 
mengasihi musuh kami, untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.” 
Itulah yang menjadi ciri khas orang kristiani pengikut Kristus. Itu 
hanya mungkin bila kita mengizinkan Yesus mengasihi di dalam diri 
kita. 


23. Senin. Pw S. Polikarpus

Yak 3:13-18; Mrk 9:14-29. 

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya ... Berapa lama lagi Aku harus 
sabar terhadap kamu?” 

Sudah sekian bulan para murid ikut Yesus siang dan malam. Mereka 
mengambil bagian dalam hidup-Nya, doa-Nya dan karya-Nya. Tetapi 
mereka belum memiliki semangat Yesus. Iman mereka masih dangkal. 
Begitu ada tantangan atau kesulitan, mereka bimbang. Yesus mengeluh 
bukan karena mereka kurang pandai atau kurang trampil, melainkan 
karena kurang percaya. Percaya membuat kita tidak mengandalkan diri 
sendiri, melainkan mengandalkan Dia yang bekerja dalam diri kita 
dengan kuat kuasa-Nya. Yesus tidak menuntut hal-hal yang mustahil 
dari kita. Ia hanya minta supaya kita percaya. 


24. Selasa. 

Yak 4:1-10; Mrk 9:30-37. 

“Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu ... hendaklah ia menjadi 
pelayan dari semua.” 

Seorang kakek berdiri di pinggir sungai yang hampir beku di musim 
dingin. Ia menunggu orang yang mau menyeberangkan dia. Banyak 
penunggang kuda sudah lewat. Ketika hari hampir gelap ia 
menghentikan seorang penunggang kuda yang menolong dia tidak hanya 
ke seberang, melainkan sampai ke rumahnya. “Mengapa anda minta saya? 
Padahal ada banyak orang sebelum saya.” Jawab si kakek, “Percuma 
minta mereka. Saya lihat ada belas kasih di mata anda.” “Semoga saya 
tak pernah melewatkan kesempatan untuk menolong orang kalau saya 
bisa,” kata penunggang kuda itu. Dialah Thomas Jefferson, presiden 
Amerika. Apa yang menghambat saya untuk melayani orang lain? 


25. Rabu Abu

Yl 2:12-18; 2 Kor 5:20 – 6:2; Mat 6:1-6.16-18. 

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang 
munafik.” 

Banyak orang katolik mengeluh mengapa peraturan puasa kita begitu 
ringan. Bagi kita puasa bukan tujuan, melainkan sarana. Gereja 
memberi yang minimal, supaya kita tambah sendiri sesuai kebutuhan. 
Kalau mau berpuasa total selama 40 hari dengan hanya minum air, 
tidak dilarang. Tapi jangan lalu bermuka muram, marah-marah dan 
gembar gembor bahwa anda sedang puasa total. Itu mencari nama. Puasa 
kita adalah sarana untuk bisa lebih mengasihi, memperhatikan orang 
miskin dan tertindas, mewujudkan solidaritas, damai dan keadilan. 


26. Kamis. 

Ul 30:15-20; Luk 9:22-25. 

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi merugikan 
dirinya sendiri?” 

Ada seorang saudagar yang gemar sekali mengumpulkan harta. Untuk 
menyimpan emas, permata dan uangnya yang banyak dibangunnya sebuah 
kamar besi. Kamar itu tersembunyi dalam tembok tebal di rumahnya 
sehingga tidak seorang pun tahu. Ia senang melewatkan berjam-jam di 
sana. Suatu kali ia mendapat untung setumpuk uang. Ia masuk ke dalam 
ruang besi itu untuk menyusunnya. Kunci ada di bagian luar, dan 
pintunya dapat menutup secara otomatis. Sesudah puas, saudagar itu 
mau keluar. Celaka. Pintu tertutup dan kuncinya di luar. Ia 
berteriak dan menggedor-gedor pintu, tapi tak seorang pun mendengar. 
Keluarga dan polisi mencari berhari-hari. Akhirnya ditemukan pintu 
rahasia itu. Ketika didobrak, saudagar itu sudah mati di tengah 
harta yang tak dapat menyelamatkan dia. 


27. Jumat. 

Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15. 

“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama 
mempelai itu bersama mereka?” 

Orang kristiani adalah orang yang penuh sukacita. Ia telah menerima 
kabar gembira bahwa Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga 
mengutus Putra-Nya untuk tinggal bersama kita. Ia datang bukan 
sebagai hakim yang mengadili, melainkan sebagai sahabat. Di mana Ia 
ada, suasana bukan kaku dan menakutkan seperti dalam pengadilan, 
melainkan santai dan gembira seperti dalam pesta pernikahan. Dia 
hadir sebagai mempelai dan kita sebagai sahabat-sahabat-Nya. Surga 
sudah mulai di sini dan dilanjutkan dalam keabadian. Itulah sebabnya 
kita bersukacita. 


28. Sabtu. 

Yes 58:9b-14; Luk 5:27-32. 

“Aku datang untuk memanggil orang berdosa supaya mereka bertobat.” 

‘Orang berdosa’ di mata orang Farisi dan ahli taurat adalah orang 
yang tidak mengenal hukum Allah. Karena tidak kenal, maka 
melanggarnya seenak perut. Mereka itu misalnya para pelacur dan 
pemungut cukai. Orang berdosa seperti itu harus dijauhi seperti 
orang berpenyakit menular yang belum ada obatnya. Di mata Allah 
semua orang adalah orang berdosa yang perlu ditolong untuk bertobat 
dan selamat. Jadi kalau Yesus berkata bahwa Ia datang untuk 
memanggil orang berdosa, itu berarti Ia datang untuk memanggil semua 
orang. Tergantung dari kita apakah mau mengaku diri sebagai orang 
berdosa, apakah mau bertobat dan diselamatkan. 


29. Minggu Prapaskah I

Ul 26:4-10; Rm 10:8-13; Luk 4:1-13. 

“Manusia hidup bukan dari roti saja.” 

Ibu-ibu lingkungan Melati mengadakan piknik dengan dua kendaraan. 
Regu A berangkat lebih dulu. Regu B setengah jam kemudian karena 
menunggu Ibu Rice yang selalu terlambat. Perjalanan regu A lancar. 
Mereka bersenang-senang di Ciater dan menghabiskan semua makanan. 
Lain halnya dengan regu B. Baru jalan satu jam, mereka tiba di 
tempat di mana 10 menit sebelumnya bis menabrak angkot. Ibu-ibu 
tidak tinggal diam. Mereka segera menolong para korban sampai 
tuntas. Jam 3 siang baru beres semua. Bekal makanan sudah habis 
mereka bagikan. Mereka lelah, tapi juga senang bisa membantu. Dan 
anehnya, tidak lapar walaupun tidak makan sedikit pun .... Pernahkah 
saya mengalami seperti itu?

sumber: Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari Pebruari 2004 dari Angela Merici Biblical Center