KALENDER LITURGI PEBRUARI 2004
1. Minggu Biasa IV.
Yer 1:4-5.17-19; 1Kor 12:31 – 13:13 (13:4-13); Luk 4:21-30.
“Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Menjadi nabi bukan pekerjaan yang menarik. Tidak ada yang akan
memilihnya untuk diri sendiri. Malah sering orang yang dipilih
mengajukan keberatan seperti Yeremia. Nabi bukan tukang ramal. Nabi
itu orang yang bicara atas nama Tuhan, menyampaikan firman Tuhan.
Tuhan menghendaki semua orang bahagia di bumi ini (bukan hanya di
akhirat!) Sering di saat genting Tuhan memanggil nabi untuk menegur
orang-orang supaya bertobat, merubah tingkah laku yang jahat dan
membaharui diri. Tapi yang namanya manusia di mana saja dan kapan
saja tidak suka digugat atau ditegur. Ia menuntut orang lain
berubah, tapi dirinya jangan. Maka nabi sering disingkirkan,
dibungkam, bahkan dibunuh. Begitulah nasib nabi Yeremia dan
nabi-nabi lain. Begitulah juga nasib Kristus. Kita hidup di zaman
yang genting. Bumi makin rusak dan hidup kita makin terancam hancur.
Persaudaraan, kasih, solidaritas, damai, kejujuran, keadilan,
semangat membangun merupakan impian yang sulit diwujudkan. Tapi
zaman yang kacau ini pun tidak kekurangan nabi: Nabi yang menyerukan
pelestarian alam, anti korupsi, politik bersih, damai, toleransi,
rekonsiliasi, keadilan, hak azasi manusia, hak wanita dan anak.
Apakah kita mendengar dan mendengarkan suara nabi-nabi zaman ini?
2. Senin. Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah.
Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Luk 2:22-40.
“Hana mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu.”
Di waktu itu ada banyak orang di Bait Allah. Dalam kerumunan orang
banyak itu siapakah yang melihat Sang Bayi dan mengenali Dia sebagai
Mesias? Hanya Simeon dan Hana. Mereka melihat tidak hanya dengan dua
mata, tapi juga dengan mata ketiga, yaitu mata hati atau mata batin.
Mata itu dibuka oleh iman serta latihan dalam doa dan puasa. Di
zaman ini mata kita dibiasakan untuk mencari untung dan kesempatan
dalam kesempitan. Mata hati kita jadi rabun, bahkan buta. Kita
menggapai dalam gelap: “Di mana Engkau, Tuhan? Bukalah mataku untuk
melihat dan mensyukuri kehadiran-Mu.”
3. Selasa.
2 Sam 18:9-10.14b.24-25a.30 – 19:3; Mrk 5:21-43.
“Jangan takut, percaya saja!”
Orang Yahudi zaman dahulu menganggap hidup ada di dalam darah. Maka
sangat diharamkan untuk makan darah. Wanita yang diceritakan dalam
bacaan Injil sudah 12 tahun sakit pendarahan. ‘Hidup’nya mengalir
dari tubuhnya dan ia makin kehabisan tenaga. Yesus menyembuhkan dia,
memberi dia daya hidup baru. Sekarang di banyak tempat Gereja kurang
bersemangat, kurang bergairah. Panggilan imam banyak berkurang.
Penambahan tidak seimbang dengan pengurangan karena meninggal dunia
atau meninggalkan imamat. Apakah kita pasrah saja? Tentu tidak.
Perempuan itu pantas menjadi teladan kita. Imannya yang besar
mendorong dia mengupayakan apa saja. Ia memberanikan diri datang
kepada Yesus dan diam-diam menyentuh jubah-Nya. Tindakannya tepat.
Hanya dari Yesus kita menggali semangat hidup. Mengapa menunggu
orang lain bersemangat, baru ikut? Barangkali Tuhan mau memakai saya
untuk memulai gerakan baru penuh semangat. “Inilah aku Tuhan,
pakailah diriku.”
4. Rabu.
2 Sam 24:2.9-17; Mrk 6:1-6.
“Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana.”
Dari mana-mana orang datang berbondong-bondong kepada Yesus untuk
disembuhkan. Setiap kali Ia berkata, “Imanmu menyembuhkan engkau.”
Ternyata Yesus pun tidak berdaya membuat mukjizat kalau orang tidak
percaya. Konon ada seorang pengemis buta yang sangat saleh. Suatu
hari seorang kudus singgah di kota itu. Teman-teman pengemis itu
mendorong supaya ia menemui orang kudus itu untuk disembuhkan.
Sebenarnya ia enggan pergi, sebab walaupun matanya buta, mata
hatinya sangat awas. Tapi karena kawan-kawannya terus mendorong, ia
pergi juga. Sungguh, ia disembuhkan dan bisa melihat. Semua orang
senang. Tapi orang buta yang sekarang sudah melek itu menjadi sedih.
Ia melihat banyak kejahatan di sekelilingnya sehingga sulit
menemukan Tuhan. “Ah Tuhan, aku tidak tahan. Jadikanlah aku buta
kembali.” Jadilah demikian. Orang-orang menganggap kebutaan yang
kedua itu sebagai mukjizat. Memang, dalam keadaan buta, ia bisa
lebih “melihat”.
5. Kamis. Pw S. Agata.
1 Raj 2:1-4.10-12; Mrk 6:7-13.
“Kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ.”
Sebelum meninggal, Daud memberi pesan-pesan terakhir kepada Salomo.
Ia tidak memaksa. Kalau Salomo mau dengar, ia akan bahagia dan
rakyat damai sejahtera. Sebelum melepas murid-murid-Nya pergi untuk
mewartakan kabar baik, Yesus memberi mereka nasihat praktis: Apa
yang boleh dibawa, apa yang harus mereka lakukan kalau diterima atau
ditolak di suatu tempat. Kabar baik keselamatan ditawarkan, tidak
dipaksakan. Ada kalanya orang mau dengar, ada kalanya tidak. Allah
yang berkuasa di langit dan di bumi memberi kebebasan kepada
ciptaan-Nya. Pemaksaan dan sikap fanatik bukan dari Roh Kudus.
Lagipula yang dilakukan karena terpaksa atau takut tak ada
pahalanya. Sebuah teladan indah diberi oleh Ibu Teresa dari Kalkuta
dan banyak misionaris kita. Mereka berbuat baik tanpa pamrih, tanpa
pandang bulu atau agama. Sebab Yesus juga tidak pernah memaksa.
6. Jumat. Pw S. Paulus Miki.
Sir 47:2-11; Mrk 6:14-29.
“Hatinya selalu terombang-ambing.”
Yohanes Pembaptis adalah nabi yang mewartakan pertobatan dan
mengecam kejahatan. Herodes suka mendengarkan dia. Tapi apa yang ia
dengar tidak ia lakukan. Itulah sebabnya ia terbawa oleh Herodias,
dengan suaranya yang manis penuh bujuk rayu. Dalam cerita Jaka
Tingkir, ia dirayu oleh perempuan sihir. Tapi perempuan itu tidak
berhasil. Jaka Tingkir juga dirayu oleh perempuan lain yang masih
polos. Percuma saja. Jaka Tingkir tetap teguh karena punya tujuan
dalam hidup. Ia tidak bisa dibelokkan ke kiri atau ke kanan. Herodes
masih hidup di zaman kita: orang-orang yang hatinya mudah
terombang-ambing karena tidak punya prinsip atau pendirian. Sekali
dirayu, tumbang. Zaman kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang teguh
hati
7. Sabtu.
1 Raj 3:4-13; Mrk 6:30-34.
“Mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”.
Seorang pemimpin Israel diharapkan menjadi gembala bagi rakyatnya.
Tepatlah kalau Salomo mohon kebijaksanaan untuk dapat memimpin
rakyat dengan adil dan benar. Yesus bertindak sebagai gembala yang
sejati. Gembala yang memberi makanan rohani dan jasmani kepada
kawanannya. Bahkan Ia mengorbankan nyawa-Nya sendiri demi kehidupan
mereka. Figur pemimpin-gembala menurut model Yesus masih langka.
Sedangkan figur gembala upahan kita jumpai di mana-mana. Pertobatan
mulai dari dalam. Mengubah cara memandang. Tidak lagi melihat orang
banyak sebagai lahan untuk mendapat keuntungan, misalnya untuk
menjual produkku. Melainkan bertanya: Apa yang paling mereka
butuhkan? Apa yang bisa saya bantu?
8. Minggu Biasa V.
Yes 6:1-2a.3-8; 1 Kor 15:1-11 (15:3-8.11); Luk 5:1-11.
“Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Yesaya terpesona oleh kemuliaan Allah yang ia lihat dalam Bait
Allah. Ia menyatakan kerelaannya untuk diutus. Simon Petrus
terpesona oleh kuasa firman yang diwartakan Yesus. Jadi ia taat
ketika Yesus menyuruh sesuatu yang aneh menurut logikanya sebagai
nelayan. Simon memberi respons dan bertindak sebagai orang beriman.
Dan lihatlah hasilnya. Apakah hati kita masih cukup peka untuk
merasa terpesona oleh kebesaran Allah? Beranikah kita
mengesampingkan logika kita sebagai guru, ilmuwan, usahawan,
politikus untuk membiarkan Allah berperan melalui diri kita?
9. Senin.
1 Raj 8:1-7.9-13; Mrk 6:53-56.
“Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.”
Mungkin kita termasuk orang kebanyakan yang belum pernah mengalami
mukjizat. Kita heran bercampur iri mendengar orang yang doanya
selalu terkabul, yang selalu mengalami mukjizat besar kecil dalam
hidupnya. Lalu kita bertanya, “Mengapa saya tidak? Apakah Tuhan
tidak suka pada saya? Bagaimana caranya supaya doaku terkabul?”
Salomo membuat rumah untuk Tuhan. Tapi kehadiran-Nya tak bisa
dibatasi pada rumah atau gereja atau tempat ziarah tertentu. Tuhan
maha hadir. Juga maha kasih. Tak ada yang dikecualikan dari
kasih-Nya. Kita bisa mohon untuk dapat melihat Dia, mengalami kuat
kuasa-Nya, menjamah Dia dalam orang miskin seperti dilakukan Ibu
Teresa.
10. Selasa. Pw S. Skolastika.
1 Raj 8:22-23.27-30; Mrk 7:1-13.
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh
daripada-Ku.”
Ibu Sisi adalah solis dari kor Sesilia. Suaranya membuat orang lebih
khusuk berdoa. Sedikit saja yang tahu apa yang berkecamuk di hati
Ibu Sisi. Ia sangat benci pada suami yang pernah menyeleweng. Selain
pada suami, kebenciannya meluas pada mertua, semua sanak saudara
suami, bahkan anak-anaknya sendiri karena mereka mirip suaminya.
Kebencian itu menjauhkan hatinya dari Tuhan. Betul, ada jurang
menganga antara bibir yang mengeluarkan suara emas dan hatinya yang
pahit getir. Malam Natal yang lalu Ibu Sisi menyadarinya lalu
mencari bantuan untuk menjembatani jurang itu. Sering ibadah kita
terbatas pada tembok gereja, belum mewarnai hidup kita di rumah dan
di pasar.
11. Rabu.
1 Raj 10:1-10; Mzm 37:5-6.30-31.39-40; Mrk 7:14-23.
“Dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan,
pencurian.”
Orang yang suka nonton acara “Derap Hukum” di TV bisa
terheran-heran. ‘Koq bisa orang melakukan kejahatan seperti itu...’
Rasanya perbuatan seperti itu aneh dan asing. Coba kita renungkan
dan bertanya mengapa itu sampai terjadi. Kalau saya mengamati
peristiwa itu bukan dari luar, tapi dari dalam, mungkin jadi lain.
Kubayangkan diriku menjadi orang itu dengan seluruh situasi
hidupnya, tertekan oleh kemiskinan, kemelaratan. Dalam situasi dia,
mungkin saya melakukan kejahatan lebih besar. Kejahatan ada di hati
setiap orang. Kita tidak mau membenarkannya, tapi mau berusaha
sekuat tenaga untuk memberantas kemiskinan yang menjadi biang kerok
banyak kejahatan.
12. Kamis.
1 Raj 11:4-13; Mrk 7:24-30.
“Anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan
anak-anak.”
Tiap kali kita membaca cerita tentang ibu itu, kita jadi heran dan
kagum. Yesus pun dibuatnya kagum. Memang begitulah hati seorang ibu
sejati. Tak ada penderitaan lahir dan batin yang terlalu berat
baginya asal demi kebaikan anak. Seorang ibu yang terperangkap dalam
gedung yang ambruk karena gempa bumi berhasil memelihara bayinya
selama beberapa hari dengan memberinya minum darah dari jari yang ia
lobangi satu demi satu. Regu penyelamat menemukan keduanya dalam
keadaan hampir mati, tapi masih bisa diselamatkan. Sebesar apakah
cintaku kepada orang lain, khususnya kepada keluargaku?
13. Jumat.
1 Raj 11:29-32; 12:19; Mrk 7:31-37.
“Ia menjadikan segala-galanya baik.”
Paus Yohanes Paulus II telah menobatkan banyak sekali orang kudus.
Seperti apa orang kudus itu? Apakah mereka yang paling lama dan
paling banyak berdoa disertai puasa dan matiraga? Kalau kita
meneliti kehidupan orang-orang kudus itu, ternyata tidak. Mereka
orang biasa seperti kita, hidup dalam dunia penuh dosa. Mereka juga
mengalami kelemahan, godaan, tantangan, penderitaan. Hanya, mereka
tidak ikut arus dunia, tapi dengan kuasa Roh melawan arus dengan
berbuat baik. Iman, harapan dan kasih mereka bersinar. Di mana
mereka berada dan ke mana mereka pergi, orang bisa berkata, “Tuhan
ada di sini.” Seperti Yesus, mereka meninggalkan jejak-jejak
kebaikan.
14. Sabtu. Pw S. Sirilus dan Metodius.
1 Raj 12:26-32; 13:33-34; Mrk 8:1-10.
“Jika mereka Kusuruh pulang dengan lapar, mereka akan rebah di
jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”
Saat mau berangkat kuliah, ibu pesan, “Di, makan dulu. Jangan sampai
tidak. Kalau lapar tidak bisa belajar. Ini bekalnya dibawa. Didi kan
tidak sempat pulang nanti siang.” Didi mendesah. “Aaah, Ibu. Didi
kan bukan anak SD lagi. Malu kan bawa bekal segala....” Didi
sekarang sudah berkeluarga. Saat membaca Injil ini ia teringat
ibunya. Selalu ingat dan penuh perhatian untuk orang lain. Biarpun
kasihnya tidak ditanggapi, ia tetap mengasihi. Heran, betapa Yesus
berhati ibu. Tidak masa bodoh, tapi sungguh peduli apa yang mungkin
terjadi kalau mereka pulang dengan perut kosong. Kalau Tuhan begitu
baik, mengapa kita takut mempercayakan diri kepada-Nya?
15. Minggu. Biasa VI.
Yer 17:5-8; Luk 6:17.20-26.
“Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya
Kerajaan Allah.”
Di zaman dahulu raja-raja Timur Tengah termasuk Israel, memberi
perlindungan khusus kepada orang miskin. Bukan karena orang miskin
begitu istimewa, tetapi karena raja yang memberi perhatian kepada
orang miskin dianggap raja yang ideal. Tuhan Allah Israel adalah
pelindung dan pembela kaum miskin. Di situ ada keadilan: Allah
menjamin hak orang-orang yang tidak punya jaminan dan tidak punya
siapa-siapa untuk membela hak mereka. Mereka disebut bahagia, bukan
karena mereka miskin, tapi karena nasib mereka akan berubah berkat
keadilan Allah dan teristimewa berkat datangnya kerajaan Allah.
16. Senin.
Yak 1:1-11; Mrk 8:11-13.
“Untuk mencobai Dia, mereka minta suatu tanda dari surga.”
Dalam Perjanjian Lama ada banyak cerita tentang orang-orang yang
dipanggil dan diutus Allah. Mereka minta dan diberi tanda untuk
menunjukkan kesungguhan panggilan itu. Contohnya Gideon dan Musa.
Bahkan Yesaya menyuruh Raja Ahas meminta tanda. Orang Farisi dalam
kutipan Injil ini minta tanda. Maksud mereka untuk mencobai Yesus.
Seandainya Yesus memberi tanda, mereka juga tak akan percaya. Hati
mereka tertutup oleh prasangka-prasangka buruk. Jadi tidak salah
kalau kita dengan rendah hati minta tanda dari Tuhan. Dan semakin
jeli mata hati kita, makin kita mampu membaca tanda-tanda kehadiran
dan kehendak Tuhan dalam hidup kita.
17. Selasa.
Yak 1:12-18; Mrk 8:14-21.
“Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi
Herodes.”
Ragi sedikit sudah cukup untuk membuat seluruh adonan naik. Kerajaan
Allah dibandingkan dengan ragi (Mat 13:33). Mulainya kecil dan
sedikit, tapi pengaruhnya besar. Ada juga ragi orang Farisi dan
Herodes. Yang dimaksud adalah ajaran mereka (Mat 16:12) atau sikap
munafik (Luk 12:1). Agama yang mementingkan upacara dan peraturan
tanpa hati, yang berbuat supaya dilihat dan dipuji orang. Karena
dilakukan oleh para pemimpin, maka ditiru saja oleh orang banyak.
Yesus tahu benar murid-murid-Nya tinggal di tengah kenyataan dunia
yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Ia tidak memisahkan mereka dari
dunia. Mereka diberi Roh Kudus untuk dapat membedakan, memilih dan
melakukan yang baik.
18. Rabu.
Yak 1:19-27; Mrk 8:22-26.
“Yesus membawa dia ke luar kampung.”
Aneh bahwa Yesus membawa si buta keluar kampung dan sesudah sembuh
melarang dia masuk kembali ke kampung. Apa salahnya menyembuhkan
orang buta? Yesus tidak memakai penyembuhan untuk propaganda,
melainkan sebagai tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Tapi
suasana di seputar Yesus semakin panas. Kubu yang mendukung Dia mau
memproklamirkan-Nya sebagai Raja. Kubu lawan mau menyingkirkan-Nya.
Dalam suasana itu Yesus menyendiri bersama si buta. Dia memang
Mesias, pembaharu yang revolusioner. Orang yang menerima Yesus akan
mengalami pembaharuan batin. Pembaharuan yang juga akan mewarnai
segala bidang kehidupannya: Ia akan membangun tatanan sosial,
ekonomi dan politik yang baru berdasarkan kasih, solidaritas dan
keadilan. Apakah saya siap untuk mengalami pembaharuan itu?
19. Kamis.
Yak 2:1-9; Mrk 8:27-33.
“Apa katamu, siapakah aku ini?”
Sejak menjadi katekumin kita biasa menerima pengajaran tentang
Yesus. Banyak orang, termasuk pastor-pastor yang berkhotbah,
menceritakan siapa Yesus. Kita tidak pernah selesai belajar mengenal
orang, suami atau istri, bahkan diri sendiri, apalagi Yesus. Dia
misteri yang besar. Orang yang mempunyai relasi yang hidup dan
dinamis dengan Yesus suatu waktu akan mendapat pertanyaan di atas,
Tidak cukup lagi ‘apa yang dikatakan orang’, tapi “Menurut kamu
pribadi, siapakah Aku ini?” Siapa Yesus bagiku pribadi? Menjawab
pertanyaan itu sangat menentukan bagi kehidupan imanku dan
perkembangannya.
20. Jumat.
Yak 2:14-24.26; Mrk 8:34 – 9:1.
“Barangsiapa malu karena Aku... Anak Manusia pun akan malu karena
orang itu.”
Dalam ‘peristiwa bulan Mei’ ketika orang-orang keturunan Cina
diserang, Abeng sedang naik motor di Glodok. Ia memboncengi Mamat,
sahabatnya. Tiba-tiba Abeng diserang, dipukuli, motor-nya dirampas.
Syukur ia masih bisa selamat. Yang paling menyakitkan Abeng bukan
bahwa ia kehilangan motornya dan dipukuli sampai babak belur, tapi
bahwa Mamat menghilang begitu saja. Mamat berlagak tidak
mengenalnya. Ia takut dan malu mengaku dan membela Abeng sebagai
sahabat. Begitu juga menjadi pengikut Kristus tidak selalu
menguntungkan bahkan sering merugikan. Apakah saya malu mengaku diri
sebagai pengikut-Nya?
21. Sabtu.
Yak 3:1-10; Mrk 9:2-13.
“Inilah Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia.”
Seorang duta atau utusan dibekali surat-surat kepercayaan dari orang
yang mengutusnya. Allah mengutus Yesus. Ia memberi ‘surat
kepercayaan’ berupa pernyataan yang singkat dan padat. Yang pertama
mengenai identitas-Nya: Yesus itu Anak Kekasih Bapa. Kedua tentang
tugasnya. Menyampaikan sabda kehidupan. Maka orang yang ingin
memperoleh hidup sejati perlu mendengarkan Dia. Ajaran Yesus tidak
susah. Orang tidak harus pandai atau sangat serius untuk bisa
menangkapnya. Yesus mengajar kita cara hidup yang menjadikan kita
anak-anak kesayangan Bapa. Maka ajaran Yesus menyenangkan, melegakan
dan membebaskan. Kita punya contoh konkret, yaitu Yesus sendiri.
Lebih lagi, Ia tidak di luar, tapi sangat dekat, di dalam diri kita.
22. Minggu Biasa VII.
1 Sam 26:2.7-9.12-13.22-23; 1 Kor 15:45-49; Luk 6:27-38.
“Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu?”
Membalas kebaikan dengan kebaikan itu lumrah. Membalas kejahatan
dengan kejahatan juga dianggap lumrah di dunia kita. Uskup Nguyen
Van Thuan dari Vietnam mengalami banyak penderitaan selama
dipenjarakan 12 tahun. Komandan polisi bertanya kepadanya, “Kalau
anda dibebaskan, apakah anda akan membalas dendam kepada kami?
Apakah anda akan mengerahkan umat anda untuk membakar rumah-rumah
kami?” “Tentu tidak,” jawab Van Thuan. Kepala penjara itu heran.
“Mengapa tidak?” Van Thuan menjelaskan, “Yesus mengajar kami untuk
mengasihi musuh kami, untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.”
Itulah yang menjadi ciri khas orang kristiani pengikut Kristus. Itu
hanya mungkin bila kita mengizinkan Yesus mengasihi di dalam diri
kita.
23. Senin. Pw S. Polikarpus.
Yak 3:13-18; Mrk 9:14-29.
“Hai kamu angkatan yang tidak percaya ... Berapa lama lagi Aku harus
sabar terhadap kamu?”
Sudah sekian bulan para murid ikut Yesus siang dan malam. Mereka
mengambil bagian dalam hidup-Nya, doa-Nya dan karya-Nya. Tetapi
mereka belum memiliki semangat Yesus. Iman mereka masih dangkal.
Begitu ada tantangan atau kesulitan, mereka bimbang. Yesus mengeluh
bukan karena mereka kurang pandai atau kurang trampil, melainkan
karena kurang percaya. Percaya membuat kita tidak mengandalkan diri
sendiri, melainkan mengandalkan Dia yang bekerja dalam diri kita
dengan kuat kuasa-Nya. Yesus tidak menuntut hal-hal yang mustahil
dari kita. Ia hanya minta supaya kita percaya.
24. Selasa.
Yak 4:1-10; Mrk 9:30-37.
“Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu ... hendaklah ia menjadi
pelayan dari semua.”
Seorang kakek berdiri di pinggir sungai yang hampir beku di musim
dingin. Ia menunggu orang yang mau menyeberangkan dia. Banyak
penunggang kuda sudah lewat. Ketika hari hampir gelap ia
menghentikan seorang penunggang kuda yang menolong dia tidak hanya
ke seberang, melainkan sampai ke rumahnya. “Mengapa anda minta saya?
Padahal ada banyak orang sebelum saya.” Jawab si kakek, “Percuma
minta mereka. Saya lihat ada belas kasih di mata anda.” “Semoga saya
tak pernah melewatkan kesempatan untuk menolong orang kalau saya
bisa,” kata penunggang kuda itu. Dialah Thomas Jefferson, presiden
Amerika. Apa yang menghambat saya untuk melayani orang lain?
25. Rabu Abu.
Yl 2:12-18; 2 Kor 5:20 – 6:2; Mat 6:1-6.16-18.
“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang
munafik.”
Banyak orang katolik mengeluh mengapa peraturan puasa kita begitu
ringan. Bagi kita puasa bukan tujuan, melainkan sarana. Gereja
memberi yang minimal, supaya kita tambah sendiri sesuai kebutuhan.
Kalau mau berpuasa total selama 40 hari dengan hanya minum air,
tidak dilarang. Tapi jangan lalu bermuka muram, marah-marah dan
gembar gembor bahwa anda sedang puasa total. Itu mencari nama. Puasa
kita adalah sarana untuk bisa lebih mengasihi, memperhatikan orang
miskin dan tertindas, mewujudkan solidaritas, damai dan keadilan.
26. Kamis.
Ul 30:15-20; Luk 9:22-25.
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi merugikan
dirinya sendiri?”
Ada seorang saudagar yang gemar sekali mengumpulkan harta. Untuk
menyimpan emas, permata dan uangnya yang banyak dibangunnya sebuah
kamar besi. Kamar itu tersembunyi dalam tembok tebal di rumahnya
sehingga tidak seorang pun tahu. Ia senang melewatkan berjam-jam di
sana. Suatu kali ia mendapat untung setumpuk uang. Ia masuk ke dalam
ruang besi itu untuk menyusunnya. Kunci ada di bagian luar, dan
pintunya dapat menutup secara otomatis. Sesudah puas, saudagar itu
mau keluar. Celaka. Pintu tertutup dan kuncinya di luar. Ia
berteriak dan menggedor-gedor pintu, tapi tak seorang pun mendengar.
Keluarga dan polisi mencari berhari-hari. Akhirnya ditemukan pintu
rahasia itu. Ketika didobrak, saudagar itu sudah mati di tengah
harta yang tak dapat menyelamatkan dia.
27. Jumat.
Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15.
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama
mempelai itu bersama mereka?”
Orang kristiani adalah orang yang penuh sukacita. Ia telah menerima
kabar gembira bahwa Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga
mengutus Putra-Nya untuk tinggal bersama kita. Ia datang bukan
sebagai hakim yang mengadili, melainkan sebagai sahabat. Di mana Ia
ada, suasana bukan kaku dan menakutkan seperti dalam pengadilan,
melainkan santai dan gembira seperti dalam pesta pernikahan. Dia
hadir sebagai mempelai dan kita sebagai sahabat-sahabat-Nya. Surga
sudah mulai di sini dan dilanjutkan dalam keabadian. Itulah sebabnya
kita bersukacita.
28. Sabtu.
Yes 58:9b-14; Luk 5:27-32.
“Aku datang untuk memanggil orang berdosa supaya mereka bertobat.”
‘Orang berdosa’ di mata orang Farisi dan ahli taurat adalah orang
yang tidak mengenal hukum Allah. Karena tidak kenal, maka
melanggarnya seenak perut. Mereka itu misalnya para pelacur dan
pemungut cukai. Orang berdosa seperti itu harus dijauhi seperti
orang berpenyakit menular yang belum ada obatnya. Di mata Allah
semua orang adalah orang berdosa yang perlu ditolong untuk bertobat
dan selamat. Jadi kalau Yesus berkata bahwa Ia datang untuk
memanggil orang berdosa, itu berarti Ia datang untuk memanggil semua
orang. Tergantung dari kita apakah mau mengaku diri sebagai orang
berdosa, apakah mau bertobat dan diselamatkan.
29. Minggu Prapaskah I.
Ul 26:4-10; Rm 10:8-13; Luk 4:1-13.
“Manusia hidup bukan dari roti saja.”
Ibu-ibu lingkungan Melati mengadakan piknik dengan dua kendaraan.
Regu A berangkat lebih dulu. Regu B setengah jam kemudian karena
menunggu Ibu Rice yang selalu terlambat. Perjalanan regu A lancar.
Mereka bersenang-senang di Ciater dan menghabiskan semua makanan.
Lain halnya dengan regu B. Baru jalan satu jam, mereka tiba di
tempat di mana 10 menit sebelumnya bis menabrak angkot. Ibu-ibu
tidak tinggal diam. Mereka segera menolong para korban sampai
tuntas. Jam 3 siang baru beres semua. Bekal makanan sudah habis
mereka bagikan. Mereka lelah, tapi juga senang bisa membantu. Dan
anehnya, tidak lapar walaupun tidak makan sedikit pun .... Pernahkah
saya mengalami seperti itu?
sumber: Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari Pebruari 2004 dari Angela Merici Biblical Center