|
AKU DAN MATIRAGA
Oleh :
Frater Gabriel, CSE
Dalam masa-masa tertentu, khususnya
Prapaskah, Gereja mengajak umatnya untuk mengadakan matiraga berupa
pantang dan puasa. Melalui anjuran tersebut, Gereja mengharapkan
agar matiraga dilaksanakan tidak hanya pada masa-masa khusus saja,
tetapi dapat menjadi bagian hidup dari seluruh umatnya. Karena itu,
melalui artikel berjudul "Aku dan Matiraga", penulis mencoba
merefleksikan hubungan yang erat antara matiraga dan kemanusiawian
kita. Maksudnya, manusia yang manusiawi adalah manusia yang
bermatiraga. Jika matiraga merupakan salah satu unsur kemanusiawian
kita, apa arti matiraga Kristiani kita? Untuk itu, kami mencoba
membagi tulisan ini dalam tiga bagian, yaitu: (1) Matiraga sebagai
bagian dari hidup manusia, (2) Matiraga sebagai unsur penting dalam
spiritualitas Asia, dan bagi orang Kristen, (3) Matiraga adalah
suatu rahmat dan tugas.
1. Matiraga sebagai bagian dari hidup manusia
Matiraga pada dasarnya adalah suatu bentuk
penyangkalan diri terhadap kesenangan atau kegemaran tertentu. Dalam
hal-hal yang sederhana, misalnya: berpantang coklat, daging, susu,
alkohol, dll. Dalam hal-hal yang lain dapat berupa pola hidup
sederhana yang dijalankan oleh para biarawan-biarawati melalui kaul
kemiskinan mereka. Bahkan, dapat berupa penyiksaan diri seperti
mencambuk diri, tidur di atas paku, dll. Matiraga, oleh sebagian
besar orang Asia, dipandang sebagai sarana menuju pada yang ilahi.
Pada suku-suku pedalaman yang masih primitif di beberapa tempat di
Asia, Afrika, dan Amerika, kemampuan untuk menahan rasa sakit yang
diperoleh dari matiraga dipandang sebagai tanda kedewasaan seseorang.
Karena itu, matiraga seringkali dianggap hanya
sebagai bagian dari para biarawan, pertapa, orang-orang tertentu
yang mencari "kesaktian", atau bagian hidup dari orang-orang
pedalaman yang "primitif". Padahal tanpa disadari, matiraga
merupakan salah satu bagian hidup manusia.
Dunia modern, yang menawarkan kenyamanan dan
kenikmatan, juga menawarkan suatu bentuk matiraga. Kita mengenal
pepatah "no pain no gain", atau dalam peribahasa Indonesia, "berakit-rakit
ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian". Kedua pepatah tersebut dengan jelas
menunjukkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang nilainya tinggi,
manusia perlu mengurbankan sesuatu dari dirinya. Dengan kata lain,
manusia perlu bermatiraga untuk mencapai sesuatu. Banyak orang yang
bersedia menyangkal diri atau mendera diri hanya untuk memperoleh
kepuasan secara materi. Misalnya, untuk dapat memiliki barang yang
diinginkan ia harus membelinya. Dengan membeli, ia mengurbankan uang
yang telah dikumpulkannya, bahkan barangkali juga mengurbankan
kegemarannya. Selain itu, desakan untuk tampil menarik, "memaksa"
sebagian besar kaum hawa, dan juga kaum adam, untuk melakukan
diet yang amat ketat untuk menjaga penampilannya.
Matiraga merupakan bagian dari hidup manusia dari
segala zaman. Konsekuensinya, manusia hanya dapat berkembang dengan
bermatiraga. Sebagai contoh, seorang bayi untuk dapat belajar, ia
harus menanggalkan kenyamanannya, bahkan mungkin harus menderita
sakit karena jatuh. Namun, jika ia tidak mau menanggalkan
kenyamanannya dan tidak mau menerima rasa sakit karena jatuh, ia
tidak akan pernah dapat berjalan. Matiraga mendesak orang untuk
tidak berputus asa. Karena itu, tidak mengherankan jika beberapa
suku pedalaman memakai matiraga sebagai tanda kedewasaan seseorang.
Bahkan, dewasa ini, dalam beberapa program empowering, orang
diajak untuk mengalami dan mengatasi rasa sakit dan penderitaan.
Contohnya, program-program outbound yang sempat digemari oleh
beberapa perusahaan dan instansi sebagai salah satu sarana untuk
mengoptimalkan kemampuan diri dan kerja sama tim. Singkat kata, jika
orang ingin sukses, ia harus berani bermatiraga.
2. Matiraga sebagai unsur penting dari
spiritualitas Asia
Dalam tradisi kebudayaan dan agama, khususnya
Asia, matiraga merupakan salah satu aspek yang penting untuk
mencapai kesempurnaan, seperti Hindu, Budha, Konfusianisme, Taoisme,
Islam aliran Sufi dan Shi’a, dan masih banyak lagi kepercayaan
tradisional yang menekankan pentingnya matiraga. Sebagai contoh,
kegiatan nglakoni yang dilakukan oleh orang Jawa. Matiraga,
oleh orang Asia, dipandang sebagai sarana menuju pada yang ilahi.
Dalam Hinduisme terdapat empat sasaran
hidup manusia (purusharta), yaitu Dharma (hidup
menghayati keutamaan), Artha (hidup menghayati sarana-sarana
hidup, yakni segala sesuatu yang menopang hidup, antara lain: harta),
Kama (hidup menghayati citarasa), dan Moksha (pembebasan
diri). Manusia harus menempatkan dharma, artha, dan kama
dalam harmoni agar mencapai moksha, melalui tiga jalan besar
menuju keselamatan, yaitu Jnana, Bhakti, Karma.
Pada jalan Jnana, pembebasan adalah
pengenalan paling dalam akan partisipasi manusia dalam Realitas
Mutlak, yaitu Brahman. Oleh karena itu, jalan menuju keselamatan
tercapai melalui pengetahuan yang paling dalam, di mana manusia
melebur ke dalam realitas mutlak. Pada jalan Bhakti,
pembebasan berarti melepaskan diri dari ikatan-ikatan kelahiran
kembali dan halangan yang mengitarinya untuk berkunjung hadir dalam
bhakti dengan Sang Guru. Proses keselamatan menjadi jalan yang
menghantar manusia menuju ke pengilahian, di mana manusia menjadi
sama dengan Yang Ilahi. Pada jalan Karma, pembebasan berarti
memenuhi kewajiban manusia.
Budhisme memandang kenyataan dunia ini
sebagai dukkha (sengsara), yang nampak dalam fenomena
penyakit, tua dan mati; anatta, yang berarti tidak ada
substansi yang tetap untuk "aku" manusia, karena ia selalu berubah;
dan anicca, yang ditandai dengan tidak adanya substansi yang
tetap dari benda-benda yang ada di dunia ini. Untuk dapat dibebaskan
dari Dhukka, Gautama mengajarkan "Empat Kebenaran Luhur"
untuk mencapai nirvana.
Desakan untuk bermatiraga dalam Konfusianisme
bertolak dari kodrat manusia yang baik. Kebaikan kodrat manusia
nampak juga dalam Kitab Untaian Tiga Huruf (San Zi Jing),
yang berbunyi:
"Manusia pada mulanya; Watak sejatinya baik;
Watak Sejati itu saling mendekatkan; Kebiasaan dan lingkungan itu
saling menjauhkan; Bila tidak terdidik, tanpa mengikuti agama, Watak
sejati dapat berantakan; Jalan Suci dari agama itu memberi kemampuan
dalam perkara yang luhur mulia" (San Zi Jing)
Pengertian mengenai Watak Sejati dapat dijumpai
dalam Kitab Meng Zi VII A, 21: 4, yang berbunyi: "Watak sejati ialah:
cinta kasih (jin / ren), kebenaran (gi / yi),
kesusilaan (lee / li), dan kebijaksanaan (ti / zhi).
Inilah yang berakar dalam hati nurani". Kemudian Kitab Meng Zi juga
menuliskan bahwa "orang yang mempunyai keempat benih ini, ialah
seperti mempunyai keempat anggota badan" (Meng Zi IV A:6). Keempat
benih tersebut harus dirawat baik-baik supaya dapat berkembang (Bdk.
Meng Zi VI A:8).
Pernyataan tersebut, selain menunjukkan bahwa
kodrat manusia itu baik, juga menunjukkan peran lingkungan dalam
perkembangan Watak Sejati. Konfusius percaya bahwa lingkungan atau
kebiasaan dapat merusak Watak Sejati manusia. Selain itu, sebagai
makhluk jasmani manusia memiliki sifat naluriah yang disebut gembira
(hi / xi), marah (no / nu), sedih (ay / ai),
senang (lok / le). Keempat sifat naluriah ini jika tidak
dikendalikan juga akan mengaburkan Watak Sejati di dalam diri
manusia. Oleh karena itu, manusia perlu dididik untuk dapat
mengaktualkan kembali Watak Sejatinya.
Taoisme menekankan perlunya mencari sumber
kedamaian dan kebahagiaan, dengan menyatakan : "Jalan diperoleh
melalui kehilangan setiap hari, kehilangan demi kehilangan, hingga
akhirnya tibalah istirahat. Dengan membiarkan semuanya terjadi,
semuanya pun terlaksana … Tetapi bila engkau mencoba dan mencoba
terus, maka dunia tidak dapat dimenangkan" (Tao Te Ching,
bab 48)
Taoisme mengajarkan bahwa pentingnya kehidupan
sederhana dan harmonis, di mana motif untuk mencari untung harus
dilepaskan, kepandaian diambil jarak, egoisme dilenyapkan, dan nafsu
disurutkan dan diatur.
Agama-agama tradisional, misalnya Kejawen.
Dalam alam pikiran orang Jawa, yang menjadi pusat perhatian bukanlah
Allah melainkan manusia. Oleh karena itu, dalam hubungannya dengan
keselamatan, pemahaman tentang manusia amat menentukan. Manusia
adalah pusat pemahaman yang ada, maka segala derita, bencana, dan
ketidakharmonisan kosmos harus diatasi dan diusahakan oleh manusia,
serta dimulai dari manusia melalui olah batin yang terwujud
dalam budi luhur. Salah satu praktik yang penting dalam oleh
batin adalah praktik nglakoni. Dalam nglakoni tersebut
orang diajak untuk belajar mati (sinau mati), yang pada
akhirnya akan membawa orang pada pengalaman manunggaling rasa
jati.
3. Matiraga sebagai Rahmat dan Tugas
Selama berabad-abad, orang Kristen telah
mempraktikkan matiraga. Orang-orang Kristen awali bermatiraga
melalui kemartiran berdarah. Mereka menerima penganiayaan dan
penderitaan dengan penuh sukacita. Bentuk lain dari matiraga yang
segera muncul setelah masa penganiayaan adalah hidup selibat. Cara
hidup selibat ini mendorong berkembangnya para pertapa di padang
gurun. Para kudus, para pendiri ordo dan kongregasi, serta orang
saleh lainnya menyadari bahwa matiraga merupakan unsur penting untuk
menjadi pengikut Kristus yang sejati. Mereka sadar, seperti yang
dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, bahwa "Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku" (Mat 16: 24). Karena itu, dengan disebut sebagai orang
Kristen (bdk. Kis 11:26), kita semua yang telah dibaptis dipanggil
untuk bermatiraga.
Matiraga orang Kristen berbeda dengan matiraga
yang dipraktikkan oleh tradisi keagamaan lain atau yang dipraktikkan
oleh orang-orang modern. Bagi tradisi keagamaan lain, matiraga
merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu pengalaman rohani yang
mendalam, seperti Moksha bagi orang Hindu, Nirvana
bagi orang Budha, Watak Sejati bagi pengikut Konfusius. Matiraga
orang modern menekankan kemampuan pribadi untuk meraih kesuksesan.
Sedangkan bagi kita, orang Kristen, matiraga adalah rahmat sekaligus
tugas. Pada umumnya, kita lebih mudah mengerti matiraga sebagai
suatu tugas dibandingkan sebagai suatu rahmat. Di manakah letak
matiraga sebagai rahmat dan tugas?
3.1. Matiraga sebagai rahmat
Rahmat adalah keikutsertaan pada kehidupan Allah
(Katekismus Gereja Katolik #1997). Dengan memperoleh rahmat, kita
ikut "dikuburkan bersama Kristus melalui baptisan dalam kematian-Nya,
supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang
mati dalam kemuliaan Bapa, demikian juga kita dimungkinkan hidup
dalam hidup yang baru" (Rm 6:4). Dengan dikuburkan bersama Kristus
berarti oleh kuasa Roh Kudus, kita mematikan perbuatan-perbuatan
daging (bdk. Rm 8:13). Melalui rahmat tersebut, kita dihantar untuk
mengambil bagian dalam persekutuan dengan Allah, yang membebaskan
kita dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia (bdk. 2Ptr
1:4). Dengan demikian, matiraga kita bukan semata-mata perbuatan
manusiawi kita, melainkan karya Roh Kudus, karena Allah-lah yang
mengerjakan dalam diri kita, baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya (bdk. Flp 2:13). Dalam arti inilah matiraga adalah
suatu rahmat. Suatu hal yang amat disadari oleh St. Therese Lisieux.
St. Therese Lisieux tidak menjadi kudus karena ia
melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan menonjol atau matiraga
yang amat keras. Ia menjadi kudus dengan bermatiraga melalui hal-hal
yang kecil dan sederhana. Ia, seperti yang yang ditulisnya sendiri,
mempunyai kerinduan yang amat besar untuk menjadi martir, menjadi
misionaris, dan ingin seperti para kudus besar. Namun demikian, ia
sadar akan kekecilan dan ketidakberdayaannya. Kesadaran itu tidak
membuatnya putus asa, tetapi membuatnya untuk lebih bersandar pada
Tangan Allah yang akan mengangkatnya seperti lift. Untuk itu, ia
harus tetap tinggal kecil, supaya Allah yang baik dapat
menggendongnya. Dalam suratnya kepada Marie, kakaknya, ia
membayangkan dirinya sebagai seekor burung kecil yang hanya ditutupi
oleh bulu yang tipis, namun dengan mata dan hati seekor elang ia
berani untuk menatap matahari cinta. Walau ia tidak mampu untuk
merentangkan sayap-sayapnya, ia tidak sedih. Dengan keberanian yang
mantap, ia tetap memandang pada matahari. Apabila pada saat-saat
tertentu awan menutupi matahari, ia tidak goyah, karena ia tahu
bahwa matahari tetap bersinar. Bahkan bila burung itu diterpa oleh
badai godaan, bahkan tampaknya sudah kehilangan pegangan akan apa
yang terjadi, ia tetap tinggal di tempatnya yang kecil dan pandangan
matanya tetap terarah kepada matahari.
Berbeda bagi sebagian besar orang modern yang
menekankan kemampuan diri untuk mencapai kesempurnaan, St. Therese
mencapai kesempurnaan dengan kepercaya-annya yang tidak terbatas
kepada Allah. Itulah matiraganya. Karena ia memandang Allah adalah
Bapa yang mahabaik, Therese tidak pernah berputus asa. Ia senantiasa
berharap pada-Nya, bahkan ketika ayahnya yang sangat dikasihinya
mengalami sakit yang amat memalukan, ia tetap percaya bahwa Allah
menyelenggarakan segala sesuatu seturut dengan rencana-Nya yang
indah, sehingga ketika ia diolok-olok oleh rekan susternya dalam
biara ia dapat tetap tersenyum dan tidak terluka.
Karena begitu mengasihi kita, Allah membantu kita
untuk berkembang menjadi sempurna dengan memberi
kesempatan-kesempatan kecil dalam hidup sehari-hari untuk
bermatiraga. Sebagai contoh, pengalaman Daud ketika ia dikutuki dan
dilempari dengan batu oleh Simei bin Gera. Pada saat itu Daud
menerimanya dan melihatnya sebagai rahmat (2 Sam 16:5-12).
Dalam arti ini, matiraga Kristen berbeda dari
matiraga yang dilakukan tradisi keagamaan lain dan orang-orang
modern. Daya upaya matiraga dalam tradisi keagamaan lain dan
orang-orang modern mengandalkan kemampuan diri. Sedangkan bagi kita,
kemauan dan hasil matiraga merupakan semata-mata karya Roh Kudus.
Roh Kuduslah yang mendorong kita untuk "mematikan" perbuatan daging
kita yang membawa pada dosa, dengan menginsafkan kita akan dosa (bdk.
Yoh 16:8-9). Selain itu, mengusahakan pertobatan dengan bermatiraga
bukan perbuatan manusia, karena "ia adalah usaha dari hati yang
patah dan remuk, yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan untuk
menjawab cinta Allah" (Katekismus Gereja Katolik # 1428).
3.2. Matiraga sebagai Tugas
3.2.1. Kewajiban pertobatan kedua
Mengawali pelayanan-Nya, Yesus berseru: "Waktunya
telah genap, bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1:15).
Bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus, seruan ini merupakan
ajakan untuk menerima Kristus dan untuk memperoleh pengampunan dari
segala dosa serta memperoleh suatu hidup yang baru, yang diwujudkan
melalui pemberian diri untuk dibaptis. Sedangkan bagi kita,
orang-orang Kristen, seruan tersebut adalah ajakan untuk melakukan
’pertobatan kedua’. Pertobatan kedua tidak lain adalah tugas terus
menerus dari seluruh umat beriman (bdk. Katekismus Gereja Katolik
#1427-1428), karena selama kita hidup di dunia kita harus berjuang
melawan "hukum lain" yang melawan hukum akal budi kita, yang membuat
kita menjadi tawanan hukum dosa (bdk. Rm 7: 22-23).
Karena itu, dalam ensiklik Paenitentiam Agere
/ PA (1 Juli 1962), Paus Yohanes XXIII (25 November 1881 – 3 Juni
1963) menulis bahwa orang beriman wajib melakukan matiraga untuk
menjaga tubuh mereka agar tetap di bawah kendali akal budi dan iman,
dan sebagai silih atas dosa pribadi dan dosa dunia (PA 29). Setiap
orang Kristen tidak dapat lepas dari tugas matiraga yang demikian,
karena "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah
menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Gal
5:24). Hal ini juga membedakan matiraga kristiani dengan matiraga
pada umumnya. Matiraga kita diarahkan pada suatu pertobatan batin.
Pertobatan batin adalah "suatu penataan baru, satu langkah balik,
pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa,
berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan
terhadap perbuatan jahat" (Katekismus Gereja Katolik #1431). Jadi,
matiraga yang tidak membawa pada pertobatan batin tidak ada artinya
(bdk. Katekismus Gereja Katolik #1430).
3.2.2. Panggilan menjadi orang kudus
"Semua orang Kristen, dari status atau jajaran
apa pun dipanggil kepada kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan
cinta kasih" (Lumen Gentium 40). Selain itu, singkat kata,
setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi kudus, karena "haruslah
kamu sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Mat
5:48). Karena itu, Gereja mengajak semua umat beriman untuk
mengusahakan kemajuan rohani yang berpuncak pada persatuan yang
semakin erat dengan Kristus. Persatuan ini dinamakan mistik (bdk.
Katekismus Gereja Katolik #2014). Karl Rahner, seorang teolog pada
zaman modern, pernah berkata bahwa seorang Kristen adalah seorang
yang mempunyai pengalaman mistik.
Mistik yang dimaksud di sini tidak sama dengan
mistik dalam pengertian populer. Dalam pandangan populer, pengalaman
mistik seringkali hanya disempitkan pada cara hidup yang aneh,
eksentrik, bentuk kehidupan rohani yang penuh perasaan, atau
pengalaman-pengalaman trans ekstase, yang dikaitkan dengan magis,
hipnose, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman yang seringkali
ditayangkan dalam saluran-saluran televisi lokal. Pengalaman mistik
yang kami maksud dalam tulisan ini adalah suatu gejala yang tetap
dan sama dari kerinduan jiwa manusia untuk persekutuan pribadi
dengan "Yang Transenden", yang membuat orang dapat mencintai segala
makhluk dan materi dari sudut-Nya. Pengalaman mistik juga merupakan
suatu pengalaman yang membebaskan manusia dari keterikatannya pada
hal-hal yang lahiriah, yang nampak dan yang berubah.
Bagi kita, persatuan mistik merupakan partisipasi
dalam misteri Tritunggal. Persatuan tersebut pertama-tama melalui
partisipasi dalam sakramen-sakramen, yang merupakan bagian dari
sakramen Yesus Kristus. Rahmat-rahmat khusus dan
pengalaman-pengalaman adikodrati yang menyertai pengalaman mistik
ini diberikan kepada orang-orang tertentu untuk menyatakan rahmat
yang dianugerahkan Allah kepada kita semua (bdk. Katekismus Gereja
Katolik #2014).
Berkaitan dengan hal ini, St. Yohanes Salib
pernah berkata bahwa satu orang yang mencapai persatuan cinta kasih
dengan Allah, jauh lebih berharga bagi Allah dan dunia, daripada
banyak orang yang melakukan perbuatan baik tetapi tidak mencapai
persatuan cinta kasih ini. Sama seperti Yesus yang merupakan wujud
sempurna dari persatuan ini dapat menyelamatkan semua manusia sejak
awal hingga akhir dunia. Oleh karena itu, kita semua, sebagai orang
Kristen, dipanggil untuk mencapai persatuan ini.
Namun, untuk mencapai persatuan cinta kasih
dengan Allah atau pengalaman mistik Kristiani, kita harus melewati
salib. "Kemajuan rohani menuntut matiraga dan penyangkalan diri yang
tahap demi tahap mengantar kita untuk hidup dalam damai dan dalam
kegembiraan Sabda Bahagia" (Katekismus Gereja Katolik #2015). Tidak
ada kekudusan tanpa pengurbanan diri dan perjuangan rohani. Untuk
mencapainya, kita harus seperti seorang yang menemukan harta
terpendam, yang kemudian menjual seluruh hartanya untuk memperoleh
harta yang terpendam itu (Mat 13:44-46). Dengan demikian tugas kedua
dari matiraga kita adalah untuk mencapai persatuan cinta kasih
dengan Allah, dengan "mati" terhadap segala sesuatu yang bukan
Allah.
Dengan demikian, jelas bahwa matiraga tidak dapat
dilepaskan dari kemanusiawian kita, karena tanpa bermatiraga, kita
tidak dapat berkembang. Bahkan, orang-orang modern pun, untuk meraih
kesuksesan, mereka mempraktikkan matiraga. Menyadari akan hal ini,
banyak tradisi keagamaan dan kebudayaan lokal yang melaksanakan
matiraga untuk mencapai pengalaman dan kedewasaan spiritual.
Demikian juga dengan iman Kristiani kita. Matiraga tidak dapat lepas
dari iman Kristiani kita untuk mengikuti jejak Yesus, dengan
menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari.
Matiraga Kristiani kita berbeda dengan matiraga
yang lain. Matiraga kita, adalah rahmat dan tugas. Sebagai rahmat,
kemauan dan kemampuan untuk bermatiraga merupakan karya Roh Kudus
semata-mata. Sebagai tugas, matiraga kita, pertama-tama, merupakan
suatu usaha untuk bertobat terus menerus, dan usaha untuk mencapai
persatuan cinta kasih dengan Allah, yang membuat orang untuk ikut
ambil bagian dalam kodrat ilahi Allah. Orang yang demikian, seperti
kata St. Yohanes Salib, menjadi seperti Allah karena partisipasi. Ia
dapat berkata: "Hidupku bukannya aku lagi, tapi Kristus yang hidup
di dalamku" (Gal 2:20).
* * * |