Home  
 
 

"Pacarku Nggak Katolik, Ma ..."

Oleh : L.M. Elmi W.

 

Demikian judul sarasehan yang diadakan oleh WKRI St. Joannes Babtista, Parung. Ide muncul dari obrolan ibu-ibu WKRI yang menjadi galau ketika anaknya curhat tentang pacarnya. Dari diskusi informal itu tercetuslah ide untuk membuat acara bincang-bincang santai tapi serius yang bisa diikuti oleh seluruh kalangan.

Acara yang diadakan setelah Perayaan Ekaristi di salah satu ruangan yang biasa dipakai sebagai Sakristi di Lebak Wangi, Parung, pada hari Minggu, 21 Januari 2007 ini berlangsung selama 3 jam dan dihadiri sekitar 60 orang. Mereka adalah Mudika setingkat SLTA dan mahasiswa, Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), ibu-ibu, juga bapak-bapak umat Paroki St. Joannes Babtista, Parung.

Romo Alfonsus Sutarno, Pr, Koordinator Bidang Pendampingan Hidup Keuskupan Bogor dan sekaligus sebagai Pastor Paroki St. Joannes Babtista, Parung, yang memandu sarasehan ini membuka dengan memancing peserta untuk berbagi pengalaman ketika pacaran dahulu.

Seorang ibu menceritakan pengalaman masa mudanya, mulai dari pacaran sampai kemudian menikah dengan pacarnya itu. Yang menarik, mereka adalah pasangan beda agama (Katolik – Muslim) yang "sukses" mempertahankan perbedaannya masing-masing dengan manis tanpa guncangan sampai sekarang (18 tahun usia perkawinannya). Ketika pacaran pun mereka ditentang oleh orang tua. Tetapi mereka punya komitmen yang sampai sekarang tetap dipatuhi. Resepnya, tidak boleh saling memaksa dan harus sama-sama menghargai.

Sarasehan yang dikemas sambil santai duduk lesehan ini menjadi segar ketika kaum muda juga tak mau ketinggalan untuk berbagi cerita. Mereka mengaku anggota "Ijo Lumut" yaitu Ikatan Jomblo Lucu dan Imut (tapi kalau di depan cewek cantik).

Akhirnya peserta lainnya berebut untuk mensharingkan pengalamannya. Ternyata yang tampak manis setelah menjadi pasangan suami-istri, dulunya menyimpan cerita-cerita yang "mendebarkan". Tak terelakkan memang bahwa berbicara soal pacar bermuara pada soal kawin campur.

Pesan Romo Tarno dari sarasehan ini adalah kalau ingin mendapat pacar Katolik bergaullah di lingkungan yang Katolik. Kalaupun akhirnya mendapat pacar yang bukan Katolik, pastikan bahwa dia bukan dari kalangan yang fanatik. Minimal dia mengetahui juga seluk beluk kehidupan Katolik; dan yang perlu diwaspadai adalah bahwa saudara-saudara kita yang Muslim mengenal perceraian dan poligami, yang tidak diajarkan oleh agama Katolik.

 

* * *

Home

   

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor