|
Surat Gembala Prapaskah 2007
Keuskupan Bogor
Salam dan berkat apostolik,
Saudara-saudari umat Keuskupan Bogor yang
terkasih,
1. Kita akan segera memasuki masa Prapaskah;
dibuka dengan penaburan abu di kepala. Masa Prapaskah itu
berlangsung selama 40 hari. Masa Prapaskah adalah masa yang penuh
rahmat, saat kita semua memperbaharui diri dengan berdoa,
bermatiraga, berpuasa, dan berpantang. Masa Prapaskah sering juga
kita kenal sebagai suatu "retret agung". Tujuan dari retret agung
itu bukan pertama-tama berpantang atau berpuasa tetapi yang paling
utama adalah mendekatkan diri kepada Allah secara intensif dengan
berdoa dan beramal kasih. Kristus mengingatkan kita semua : Jika
hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari hidup keagamaan para ahli
Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam
Kerajaan Surga (Mat 5:20). Kita dituntut supaya hidup keagamaan
kita lebih bermutu dan menyeluruh, artinya tidak hanya mementingkan
dari salah satu segi misalnya liturgi saja tetapi kehidupan agama
itu harus nyata dalam tingkah laku sehari-hari, lebih-lebih dalam
hubungannya dengan sesama. Dengan berpantang dan berpuasa kita
diajak untuk membangun hidup yang sejati dalam perjalanan menuju
Allah, asal dan tujuan hidup kita.
2. Tema Aksi Puasa Pembangunan (Prapaskah) tahun
ini adalah Pemberdayaan Kesejatian Hidup. Dengan tema ini
kita didorong untuk merenungkan kesejatian hidup. Kesejatian hidup
adalah kesejahteraan yang merupakan tujuan hidup manusia mengacu
pada cita-cita dan harapan, keberadaan, pekerjaan dan kepemilikan
setiap orang. Kesejahteraan hidup di sini bukan semata-mata
terpenuhinya kebutuhan akan sandang, pangan dan papan tetapi
mengandung kemampuan mengaktualisasikan diri sebagai citra Allah.
Membangun hidup yang sejati harus disadari oleh setiap orang sebagai
suatu panggilan hidup yang hakiki. Dengan mengetengahkan
pemberdayaan kesejatian hidup sebagai tema sesungguhnya Gereja
Indonesia mau mengajak seluruh umat beriman agar menyadari panggilan
hidupnya yang terarah kepada kepentingan dan kesejahteraan bersama.
Allah sebagai Bapa memelihara semua orang, menghendaki agar mereka
semua sebagai satu keluarga, dan saling menghadapi dengan sikap
persaudaraan. Sebab mereka semua diciptakan menurut gambar Allah,
yang "menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami
seluruh muka bumi (Kis 17:26). Mereka semua dipanggil untuk
tujuan yang sama, yakni Allah sendiri (Gaudium et Spes, art.
24).
3. Sidang KWI Tahun 2006 mengeluarkan Nota
Pastoral dengan judul Habitus Baru Demi Kesejahteraan Bersama;
Keadilan bagi Semua : Pendekatan Sosial Ekonomi. Nota Pastoral
tersebut berisikan 4 hal pokok yakni :
Kondisi Indonesia secara khusus dilihat dari
sudut pandang masalah sosial-ekonomi, Indonesia yang meskipun kaya
akan sumberdaya alam namun terjerat dalam kemiskinan sosial
ekonomi.
Masalah ekonomi disoroti dalam terang iman.
Bersama mencari jalan menentukan arah gerakan
sosial ekonomi.
Upaya bersama memperbaiki keadaan hidup melalui
usaha sosio-ekonomi.
Melalui Nota Pastoral itu gereja Indonesia
mengajak kita untuk memperbaharui komitmen, mewartakan harapan akan
keadilan di tengah dunia yang ditandai oleh praktek-praktek
ketidakadilan. Membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik demi
kepentingan seluruh umat manusia harus menjadi tekad kita. Harapan
tersebut dapat terpenuhi apabila ada sikap pertobatan. Gereja, dalam
arti kita semua, menghayati pertobatan itu dengan cara :
Membaharui tekad untuk bersama kaum miskin dan
lemah terus-menerus menumbuhkan sikap berani memulai dengan
kekuatan dan potensi yang dimiliki betapapun kecilnya.
Mendorong mereka yang diberkati dengan kekuatan
ekonomi besar agar lebih jujur dan seksama dalam mencari jalan
untuk memperbaiki hidup kaum miskin dan lemah.
Mendorong dan mendesak para pembuat kebijakan
publik untuk berpihak kepada kaum miskin dan mencita-citakan
kesejahteraan bersama.
Mendorong para cerdik-cendekia untuk aktif
terlibat mengkaji dan menentang gagasan-gagasan serta cara
berpikir, termasuk dalam bidang ekonomi, yang merugikan kaum
miskin dan lemah.
Dalam Nota Pastoral tersebut disampaikan pula
prinsip-prinsip dasar menuju perekonomian yang adil, yang terarah
pada peningkatan kesejahteraan bersama dan pelestarian seluruh alam
ciptaan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kesetaraan martabat manusia . Manusia
tidak boleh dikorbankan demi keuntungan tetapi harus dihargai
sebagai subyek, dasar dan tujuan dari setiap kegiatan, termasuk
kegiatan ekonomi.
b. Kesejahteraan bersama. Setiap
orang mempunyai hak tetapi juga mempunyai tanggungjawab untuk
meningkatkan kesejahteraan bersama.
c. Solidaritas. Solidaritas artinya
kesetiakawanan untuk bersama-sama melihat persoalan, mencari dan
merencanakan jalan keluarnya.
d. Subsidiaritas. Artinya, apa yang
dapat dilakukan oleh unit yang lebih kecil tidak boleh diambil
alih oleh unit yang lebih besar. Dengan prinsip ini kekuatan
ekonomi besar tidak mencaplok atau menyingkirkan kekuatan ekonomi
kecil dari kaum miskin dan lemah.
Menanggapi makin sulitnya kehidupan masyarakat
akibat himpitan kemiskinan dan kesulitan mengembangkan masa depan,
maka para uskup sepakat untuk mendorong pentingnya harga diri dan
keswadayaan dan juga menjalin kebersamaan dan kemitraan dengan
sesama.
4. Keuskupan Bogor pun ikut serta dalam arus
bersama Gereja Indonesia. Dalam upaya untuk menjawab kebutuhan umat
dan menentukan arah kehidupan menggereja masa depan kita telah
menyelenggarakan Sinode Pertama pada Tahun 2002. Tema Sinode adalah
Membangun Komunitas Basis Menuju Gereja Yang Merasul. Dengan
itu diingatkan tentang komunio kita dibangun dari satuan-satuan
komunitas lokal dengan tujuan untuk dapat menjadi gereja yang
merasul yang sanggup mewartakan Injil. Dengan Sinode itu umat
Keuskupan Bogor ingin memantapkan kehadirannya dan melihat kembali
pelayanan dan karya-karyanya selama ini. Dari Sinode nampak jelas
bahwa kita selalu harus memperbaharui diri, tekad, dan karya. Pada
tahun 2004 sesuai dengan kebijaksanaan Sinode telah dibentuk tim
untuk menindaklanjuti Sinode. Tim itu telah bekerja selama 2 tahun
dan mengadakan survey dari paroki ke paroki. Dengan survey itu kita
ingin melihat potret diri kita sendiri, keberhasilan dan kegagalan,
kekuatan serta kelemahan. Tim 11 akan menyampaikan hasil temuannya
dalam Temu Pastoral Keuskupan pada bulan Oktober 2007.
5. Dalam rangka Peringatan 5 tahun Sinode
Keuskupan Bogor atau Lustrum I, melalui Surat Gembala ini kami
mengumumkan kepada umat Keuskupan Bogor tentang akan diadakannya
Temu Pastoral pada bulan Oktober tahun 2007. Tujuan Temu Pastoral
adalah untuk mengevaluasi diri dan karya kita dan untuk
membangkitkan kembali semangat menggereja di keuskupan kita. Hasil
survey ini akan disosialisasikan oleh Tim 11 ke dekenat-dekenat.
Melalui sosialisasi itu diharapkan masukan-masukan dari
dekenat-dekenat, yang berguna untuk langkah-langkah selanjutnya.
6. Melalui Surat Gembala ini saya juga ingin
menegaskan 3 pilihan kita dari Sidang Agung Gereja Katolik 2005
yaitu :
Kita diajak untuk terus-menerus mengupayakan
pendidikan nilai melalui keluarga, sekolah-sekolah dan bentuk
pembinaan lainnya.
Agar kita menjadi lebih peka terhadap kebutuhan
sesama yang kekurangan melalui pemberdayaan bidang sosial-ekonomi.
Kita ingin mewujudkan gereja yang merasul
melalui dialog persaudaraan dengan semua orang, terlibat dalam
kegiatan masyarakat demi meningkatkan hak asasi manusia, dan ikut
serta membangun lingkungan yang aman dan serasi termasuk alam.
Umat Keuskupan Bogor yang saya kasihi,
Demikianlah Surat Gembala ini saya sampaikan
kepada Anda sebagai suatu ajakan dalam menyongsong masa Prapaskah
dan mengisi "retret agung" itu dengan bahan-bahan permenungan.
Perjalanan retret agung ini hendaknya menjadi perjalanan bersama
Kristus dan bersama sesama saudara. Kristus yang datang mewartakan
Injil keselamatan yang berkarya bagi kepentingan manusia mengajak
kita untuk berbuat yang sama. Ia menderita dan wafat bagi kita tapi
dibangkitkan kembali oleh Bapa. Seluruh proses masa Prapaskah adalah
proses menuju kebangkitan Kristus yang seyogyanya menjadi
kebangkitan kita semua. Marilah kita memulai masa pertobatan ini
dalam dan dengan berkat Tuhan.
Dikeluarkan di Bogor, 2 Februari 2007
Pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Mgr.
Michael Cosmas Angkur, OFM
Uskup
Bogor
* * * |