Pada suatu malam pertama memasuki masa retret di
Sangkalputung-Klaten Jawa Tengah, para peserta retret yang terdiri
dari para remaja peserta kursus katekis; mendapat tugas pertama
untuk berdiam diri - hening sendiri-sendiri selama lima belas menit.
Tempat boleh di mana saja yang disukai, posisi dan sikap tubuh saat
berdiam diri juga tidak ditentukan. Dengan bekal pertanyaan: apa
yang kau alami selama waktu itu?
Ketika semua peserta telah berkumpul kembali di
ruang pertemuan, pastor pembimbing meminta masing-masing untuk
mensharingkan apa yang telah dialami selama lima belas menit dalam
keheningan.
Seorang teman mengungkapkan pengalamannya akan
rasa damai dan teduh yang muncul dari kedalaman hatinya. Diungkapkan
bahwa rasa damai itu muncul ketika dia membiarkan telinganya untuk
mendengar suara teratur jatuhnya titik-titik air hujan dari atap di
atas batu-batuan kecil yang tidak jauh letaknya dari tempat ia duduk
(memang waktu itu hujan baru saja reda). Teman yang lain mengalami
rasa bahagia mendengarkan lucunya nyanyian yang dibawakan oleh
paduan suara katak-katak yang ada di tepi kolam. Sedangkan teman
yang memilih berdiam diri di ruangan memiliki pengalaman lain lagi.
Ada yang hanya memandang sekuntum bunga, ada yang berdoa batin, ada
yang memutar film kejadian-kejadian yang baru saja lewat dalam
pikirannya.
Dari pengalaman-pengalaman yang diungkapkan para
peserta retret itu menyatakan bahwa dalam berdiam diri di keheningan
bukanlah sesuatu yang kosong atau hampa. Dalam keheningan ada banyak
hal yang dapat kita alami, ada banyak kekayaan rohani yang kita
peroleh.
Retret merupakan suatu bentuk aktivitas dari
keheningan kehendak. Di dalam retret orang dengan sengaja
mengundurkan diri dari dunia ramai. Orang, untuk sementara waktu
mengambil jarak dari rutinitas hidup sehari-hari; untuk beberapa
lama meninggalkan kesibukan dan tugas-tugas yang biasa dilakukan.
Dengan mengundurkan diri dari dunia ramai dan
segala aktivitasnya, orang dihantar masuk ke dalam kesunyian
lahiriah dan batiniah. Tugas perdana di awal retret untuk berdiam
diri di dalam keheningan, yang dilakukan para peserta retret di
Sangkalputung itu tepat sekali. Itu merupakan tahap awal pengenalan
akan keheningan.
Memang keheningan sebagai keheningan dapat
menimbulkan suatu ketakutan, kebosanan, kegelisahan dan
pelanturan-pelanturan. Namun dalam mengikuti retret, di situ ada
niat pilihan bebas untuk mencari keheningan. Bila kita memilih
keheningan itu berarti dengan sengaja kita mau membatasi diri dari
stimulus eksternal (rangsangan-rangsangan dari luar). Kita tidak
menonton televisi, tidak mendengarkan radio, tidak membaca mass
media; juga mengurangi frekuensi percakapan dengan sesama. Itu semua
sebagai upaya untuk menciptakan keheningan.
Bila keheningan, baik keheningan lahiriah maupun
batiniah telah tercapai, orang akan melangkah dan mulai berjalan
masuk untuk mengelilingi ruang hatinya. Masuk ke dalam keheningan
bukanlah tertidur melainkan justru berjaga, lebih meningkatkan
kesadaran. Dalam kesadaran melangkah mengelilingi hatinya, orang
akan menjumpai dirinya. la seperti berkeliling di sebuah ruangan
yang berdinding cermin. Kearah manapun ia menatap, ia akan memandang
dirinya. la menemukan dirinya dan mengenali dirinya. Aku yang
memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Aku yang ternyata memiliki
keinginan-keinginan yang tidak teratur dan dosa-dosa.
Dalam kebebasan untuk berjalan-jalan di ruang
batinnya sendiri itu, ia pun akan mulai menyapu debu-debu keangkuhan,
masa bodoh, iri hati dan kebencian yang melekat pada lantai ruang
hatinya; menyingkirkan keinginan-keinginan tak teratur yang
berserakan di meja hatinya; mengelap kaca dinding jiwanya yang suram
karena kepicikan agar jernih dan memiliki kepekaan serta cinta dan
pada akhirnya disana akan dilahirkan kehidupan baru - manusia baru;
manusia yang mawas diri dan berusaha selalu untuk melepaskan diri
dari keterikatan-keterikatan yang tidak perlu.
Di dalam keheningan ada begitu banyak hal dapat
dialami. Di dalam keheningan ada kepenuhan.
Berjumpa dengan YANG LAIN
Maka Tuhan lalu! Angin besar dan kuat yang
membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului
Tuhan. Tetapi tidak ada Tuhan dalam angin itu. Dan sesudah angin itu
datanglah gempa. Tetapi tidak ada Tuhan dalam gempa itu. Dan sesudah
gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada Tuhan dalam api itu. Dan
sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera
sesudah Elia mendengarnya, ia... , lalu pergi keluar ..., maka
datanglah suara kepadanya ... .
Ungkapan-ungkapan di atas merupakan bagian dari
kisah Nabi Elia dalam 1Raja-Raja 19:9-18. Yang menarik bagi saya, di
situ diungkapkan ketidakhadiran Tuhan dalam keributan dan kedasyatan
(angin besar, gempa serta api). Namun Tuhan hadir dalam kelembutan
dan keheningan (angin sepoi-sepoi basa). Tetapi di satu pihak iman
kita mengajarkan bahwa Allah itu selalu dalam kepenuhan. Ia ada di
segala waktu dan tempat.
Ia tidak datang dan pergi, selalu sama dan tidak
berubah.
Memang Allah selalu hadir, tetapi kita tidak bisa
menunjuk kehadiran-Nya dengan mengatakan: la ada di dekat pohon atau
di sana Ia sedang duduk. Panca indera kita tidak dapat menangkap
kehadiran-Nya. Allah senantiasa hadir tetapi kehadiran-Nya tetaplah
tersembunyi dan misteri. Imanlah yang mampu menangkap kehadiran
Allah. Jadi, persoalannya pada kesadaran kita. Kesadaran akan
kehadiran Allah dalam diri kitalah yang berubah-ubah. Manakala
pikiran kita masih terus dipenuhi dengan berbagai rencana dan
gagasan-gagasan, hati kita ribut dengan berbagai macam hal maka
kehadiran Allah disadari secara samar-samar atau jauh bahkan kita
bisa saja sama sekali tidak menyadari kehadiranNya. Mengusahakan
keheningan dan menjadikan keheningan bagian dari hidup kita,
mengambil waktu setiap hari beberapa menit untuk sendiri betul-betul
bersama Allah, menolong kita meningkatkan kesadaran akan kehadiran
Allah dalam hidup harian kita. Keheningan merupakan jalan masuk
untuk bertemu dengan Allah.