Home  
 
 

Tamasya di Taman Tuhan (2)

Oleh : Suster B. Dwita, OSC

 

Berkenalan dengan keheningan

Keheningan bukan kekosongan

Pada suatu malam pertama memasuki masa retret di Sangkalputung-Klaten Jawa Tengah, para peserta retret yang terdiri dari para remaja peserta kursus katekis; mendapat tugas pertama untuk berdiam diri - hening sendiri-sendiri selama lima belas menit. Tempat boleh di mana saja yang disukai, posisi dan sikap tubuh saat berdiam diri juga tidak ditentukan. Dengan bekal pertanyaan: apa yang kau alami selama waktu itu?

Ketika semua peserta telah berkumpul kembali di ruang pertemuan, pastor pembimbing meminta masing-masing untuk mensharingkan apa yang telah dialami selama lima belas menit dalam keheningan.

Seorang teman mengungkapkan pengalamannya akan rasa damai dan teduh yang muncul dari kedalaman hatinya. Diungkapkan bahwa rasa damai itu muncul ketika dia membiarkan telinganya untuk mendengar suara teratur jatuhnya titik-titik air hujan dari atap di atas batu-batuan kecil yang tidak jauh letaknya dari tempat ia duduk (memang waktu itu hujan baru saja reda). Teman yang lain mengalami rasa bahagia mendengarkan lucunya nyanyian yang dibawakan oleh paduan suara katak-katak yang ada di tepi kolam. Sedangkan teman yang memilih berdiam diri di ruangan memiliki pengalaman lain lagi. Ada yang hanya memandang sekuntum bunga, ada yang berdoa batin, ada yang memutar film kejadian-kejadian yang baru saja lewat dalam pikirannya.

Dari pengalaman-pengalaman yang diungkapkan para peserta retret itu menyatakan bahwa dalam berdiam diri di keheningan bukanlah sesuatu yang kosong atau hampa. Dalam keheningan ada banyak hal yang dapat kita alami, ada banyak kekayaan rohani yang kita peroleh.

  • Dalam keheningan ada banyak suara yang dapat tertangkap oleh telinga kita. Suara sayup-sayup yang amat jauh, suara halus nafas kita sendiri, suara tiupan angin di antara dedaunan, suara-suara binatang kecil di dalam tanah. Betapa tajamnya Tuhan memberi telinga kepada kita! Pengalaman ini dapat menghantar kita untuk mempertajam telinga hati kita, hingga kita mampu mendengarkan suara Allah yang ada jauh di dalam lubuk hati kita yang terdalam. Dalam hal ini perlu adanya memori akan "Sabda Allah" dalam Alkitab.

  • Dalam keheningan kita dapat memusatkan pandangan kita pada satu obyek tertentu. Melalui obyek itu kita menembus lebih dalam dan menemukan Yang Ilahi di balik obyek itu. Ini melatih kepekaan mata jiwa kita. Memampukan kita memandang serta menyadari kehadiran Yang Ilahi dalam segala sesuatu dan segala peristiwa hidup sehari-hari.

  • Dalam keheningan, berbagai macam pikiran benang kusutnya kehidupan dan ingatan akan sesuatu hal dapat saja muncul dalam benak kita. Justru di dalam keheningan itu memampukan kita meletakkan semua itu di hadapan Allah.

  • Di dalam keheningan, pengalaman rasa sedih, kecewa, putus asa dan marah dapat diubah menjadi sebuah doa dan penyerahan diri kepada Allah. Ini membawa kepada damai Tuhan.

Dalam keheningan ada kepenuhan

Retret merupakan suatu bentuk aktivitas dari keheningan kehendak. Di dalam retret orang dengan sengaja mengundurkan diri dari dunia ramai. Orang, untuk sementara waktu mengambil jarak dari rutinitas hidup sehari-hari; untuk beberapa lama meninggalkan kesibukan dan tugas-tugas yang biasa dilakukan.

Dengan mengundurkan diri dari dunia ramai dan segala aktivitasnya, orang dihantar masuk ke dalam kesunyian lahiriah dan batiniah. Tugas perdana di awal retret untuk berdiam diri di dalam keheningan, yang dilakukan para peserta retret di Sangkalputung itu tepat sekali. Itu merupakan tahap awal pengenalan akan keheningan.

Memang keheningan sebagai keheningan dapat menimbulkan suatu ketakutan, kebosanan, kegelisahan dan pelanturan-pelanturan. Namun dalam mengikuti retret, di situ ada niat pilihan bebas untuk mencari keheningan. Bila kita memilih keheningan itu berarti dengan sengaja kita mau membatasi diri dari stimulus eksternal (rangsangan-rangsangan dari luar). Kita tidak menonton televisi, tidak mendengarkan radio, tidak membaca mass media; juga mengurangi frekuensi percakapan dengan sesama. Itu semua sebagai upaya untuk menciptakan keheningan.

Bila keheningan, baik keheningan lahiriah maupun batiniah telah tercapai, orang akan melangkah dan mulai berjalan masuk untuk mengelilingi ruang hatinya. Masuk ke dalam keheningan bukanlah tertidur melainkan justru berjaga, lebih meningkatkan kesadaran. Dalam kesadaran melangkah mengelilingi hatinya, orang akan menjumpai dirinya. la seperti berkeliling di sebuah ruangan yang berdinding cermin. Kearah manapun ia menatap, ia akan memandang dirinya. la menemukan dirinya dan mengenali dirinya. Aku yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Aku yang ternyata memiliki keinginan-keinginan yang tidak teratur dan dosa-dosa.

Dalam kebebasan untuk berjalan-jalan di ruang batinnya sendiri itu, ia pun akan mulai menyapu debu-debu keangkuhan, masa bodoh, iri hati dan kebencian yang melekat pada lantai ruang hatinya; menyingkirkan keinginan-keinginan tak teratur yang berserakan di meja hatinya; mengelap kaca dinding jiwanya yang suram karena kepicikan agar jernih dan memiliki kepekaan serta cinta dan pada akhirnya disana akan dilahirkan kehidupan baru - manusia baru; manusia yang mawas diri dan berusaha selalu untuk melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan yang tidak perlu.

Di dalam keheningan ada begitu banyak hal dapat dialami. Di dalam keheningan ada kepenuhan.

Berjumpa dengan YANG LAIN

Maka Tuhan lalu! Angin besar dan kuat yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului Tuhan. Tetapi tidak ada Tuhan dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada Tuhan dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada Tuhan dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia... , lalu pergi keluar ..., maka datanglah suara kepadanya ... .

Ungkapan-ungkapan di atas merupakan bagian dari kisah Nabi Elia dalam 1Raja-Raja 19:9-18. Yang menarik bagi saya, di situ diungkapkan ketidakhadiran Tuhan dalam keributan dan kedasyatan (angin besar, gempa serta api). Namun Tuhan hadir dalam kelembutan dan keheningan (angin sepoi-sepoi basa). Tetapi di satu pihak iman kita mengajarkan bahwa Allah itu selalu dalam kepenuhan. Ia ada di segala waktu dan tempat.

Ia tidak datang dan pergi, selalu sama dan tidak berubah.

Memang Allah selalu hadir, tetapi kita tidak bisa menunjuk kehadiran-Nya dengan mengatakan: la ada di dekat pohon atau di sana Ia sedang duduk. Panca indera kita tidak dapat menangkap kehadiran-Nya. Allah senantiasa hadir tetapi kehadiran-Nya tetaplah tersembunyi dan misteri. Imanlah yang mampu menangkap kehadiran Allah. Jadi, persoalannya pada kesadaran kita. Kesadaran akan kehadiran Allah dalam diri kitalah yang berubah-ubah. Manakala pikiran kita masih terus dipenuhi dengan berbagai rencana dan gagasan-gagasan, hati kita ribut dengan berbagai macam hal maka kehadiran Allah disadari secara samar-samar atau jauh bahkan kita bisa saja sama sekali tidak menyadari kehadiranNya. Mengusahakan keheningan dan menjadikan keheningan bagian dari hidup kita, mengambil waktu setiap hari beberapa menit untuk sendiri betul-betul bersama Allah, menolong kita meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidup harian kita. Keheningan merupakan jalan masuk untuk bertemu dengan Allah.

 

* * *

Home

   

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor