Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Januari-Maret 2008
 

Kasih Allah Memberdayakan

           Oleh : Fr. Condro Awan
 


“Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”
 

Sebuah Pengalaman
Dua tahun lalu ketika mendampingi FKPK (Forum Kontak Pelajar Katolik), yaitu organisasi pelajar dari berbagai sekolah tingkat SMA swasta maupun negeri di Yogyakarta, saya bersama mereka pernah mengunjungi suatu lembaga sosial yang mendidik, mengasuh dan menampung anak-anak serta orang-orang cacat ganda. Mereka termasuk anak-anak dan orang-orang yang “kurang beruntung”, karena tidak tumbuh kembang sebagaimana orang-orang normal pada umumnya, akibat keterbelakangan yang dimiliki. Cacat ganda tidak hanya meliputi fisik, tetapi juga cara berpikir, kondisi mental (emosi) dan hidup sosial. Jika diterjunkan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka sulit, bahkan tidak bisa diandalkan. Setelah mengalami perjumpaan dengan pengalaman dan pribadi-pribadi tersebut, kami bersama-sama merenung dan berefleksi atas pengalaman itu. Ada banyak kesan, komentar, pendapat dan permenenungan yang diperoleh, salah satunya pengakuan bahwa mereka adalah manusia, pribadi ciptaan Allah.

Kasih Allah Hidup di Dalam Ciptaan
Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan,
terlebih diriku dikasihi Tuhan
Bunga bakung di taman diberi keindahan,
terlebih diriku dikasihi Tuhan
Burung yang besar kecil, bunga indah warnanya,
satu tak terlupa oleh penciptanya.

Lagu sederhana dari Puji Syukur nomor 680 itu mengungkap bagaimana Tuhan Allah mengasihi, memelihara dan merawat semua ciptaan, terlebih manusia sebagai makhluk yang dianggap lebih mulia dari ciptaan lainnya. Di dalam semua ciptaan, terlukis dan tertanam gambaran tentang sang pencipta. Ada kebaikan, kebesaran, keindahan, kelebihan, kasih, dan keunikan dari sang pencipta. Intinya bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah baik adanya (Kej 1:4a.18b.21b.25b).
Kembali lagi pada pengalaman di atas, terlepas dari pemikiran logis dan pertanyaan ilmiah menyangkut keberadaan mereka, satu hal mendasar perlu dicamkan ialah bahwa mereka yang mengidap cacat mental (keterbelakangan) juga menjadi bagian dari ciptaan. Mereka dirawat, dijaga dan dikasihi oleh Allah, meskipun mereka tidak memiliki kesadaran demikian. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Allah nyata, tinggal, terpancar dan hidup dalam diri mereka. Dari hasil pengolahan dan refleksi bersama, satu poin pentingnya ialah situasi keterbelakangan tidak melunturkan, bahkan menghilangkan karya kasih Allah yang istimewa dalam hidup ini. Terbukti, meski mengalami situasi yang “kurang beruntung”, mereka tetap mampu menunjukkan, membagikan dan memancarkan kasih serta kebaikan-Nya, sesuai kemampuan atau kapasitas mereka.
Melalui kegembiraan, semangat hidup, senyuman, sukacita, kemauan berbagi, usaha untuk menunjukkan sisi kemanusiaan mereka dan usaha untuk mau menyapa, mereka tunjukkan dengan cara tersendiri. Pada dasarnya mereka ingin memperlihatkan, bahwa dalam keadaan (sangat) terbatas aku, kamu, kita semua adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah. Kasih Allah pada dasarnya tidak perlu dicari-cari, karena sudah ada dan hidup dalam diri setiap ciptaan, terlebih dalam diri manusia. Namun, kerapkali hal dasar ini terlupakan, sebab manusia cenderung mencari sesuatu yang hebat di luar dirinya. Selain itu, kasih Allah dapat dijumpai di dalam pengalaman sederhana, seperti pengalaman berjumpa dengan mereka yang lemah dan terbelakang.

Kasih Allah Memberdayakan
Kasih Allah tidak hanya menghidupkan (tinggal dalam ciptaan), namun juga memberdayakan setiap ciptaan untuk tumbuh berkembang serta menggerakkan ciptaan untuk berbuat sesuatu, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ciptaan lain. Binatang dan tumbuh-tumbuhan saja memiliki kemampuan bertahan hidup dan mampu menunjukkan kelebihan atau keistimewaan yang dimiliki, apalagi manusia. Manusia, sebagai ciptaan yang lebih unggul dari ciptaan lain, tidak terkecuali mereka yang mengalami situasi keterbelakangan, tentu memiliki kemampuan untuk melakukannya lebih besar atau lebih baik lagi. Dengan kata lain segala sesuatu yang dibuat dan dihasilkan oleh manusia sudah semestinya selaras atau sejalan dengan kasih Allah.
Memang mereka yang terbelakang atau “kurang beruntung” lebih banyak mendapatkan perhatian, kasih serta kebaikan dari orang lain. Tetapi, mereka sendiri terlihat berusaha untuk dapat dan mau berkomunikasi, bermain, dihargai dan diakui sebagai pribadi, walau cenderung untuk pemenuhan kepentingan atau kebutuhan pribadi. Semua orang pasti akan mengusahakannya, karena hal itu menjadi kebutuhan mendasar. Setelah kebutuhan mendasar itu terpenuhi, manusia baik sadar atau tidak seperti diarahkan atau ditarik pada usaha atau keinginan untuk memperhatikan sesama. Semuanya berjalan dalam proses belajar (mengajari dan diajari) dari pengalaman maupun orang lain.
Pengalaman para pengasuh dan pendamping di lembaga sosial itu menggambarkan bagaimana kasih Allah memberdayakan hidup mereka. Mereka dengan sabar, telaten, kerja keras, kemauan dan ketekunan mau untuk mendampingi, mengajari hal-hal baik, mendidik, mengasuh dan menemani mereka yang terbelakang atau serba terbatas. Akhirnya mereka yang didampingi ada yang mampu melakukan hal-hal berguna bagi orang lain. Misalnya, ada yang bisa berkebun, menanam tanaman hias, memijit teman, mengantar ke kamar mandi dan menghibur teman dengan caranya sendiri. Dengan kata lain, apa yang mereka kerjakan bukan hanya untuk menarik simpati atau belaskasih dari orang lain, tetapi mereka setelah diajari berdasarkan kemampuan yang ada, mampu juga bersimpati dan berbagi kasih dengan sesamanya.
Dari pengalaman itu, kami disadarkan bahwa hidup yang diberikan bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan dibagikan kepada sesama melalui tindakan kasih yang nyata. Panggilan untuk mengasihi sesama itu, didasarkan pada tindakan Allah yang berinisiatif untuk mengasihi dan menanamkan kasih kepada umat-Nya. Maka, ketika kita mampu melihat kasih Allah dalam diri sesama, sebenarnya kita pun digerakkan untuk mengasihi sesama menurut kemampuan yang ada, sebab mengasihi sesama sama dengan mengasihi Allah, seperti yang ditegaskan oleh Yohanes, “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yoh 4:20b-21).


* * *

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor