|
Kasih Allah Memberdayakan
Oleh
: Fr. Condro Awan
“Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak
mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita
terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga
mengasihi saudaranya”
Sebuah
Pengalaman
Dua tahun lalu ketika mendampingi FKPK (Forum Kontak Pelajar Katolik),
yaitu organisasi pelajar dari berbagai sekolah tingkat SMA swasta
maupun negeri di Yogyakarta, saya bersama mereka pernah mengunjungi
suatu lembaga sosial yang mendidik, mengasuh dan menampung anak-anak
serta orang-orang cacat ganda. Mereka termasuk anak-anak dan
orang-orang yang “kurang beruntung”, karena tidak tumbuh kembang
sebagaimana orang-orang normal pada umumnya, akibat keterbelakangan
yang dimiliki. Cacat ganda tidak hanya meliputi fisik, tetapi juga
cara berpikir, kondisi mental (emosi) dan hidup sosial. Jika
diterjunkan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka sulit, bahkan
tidak bisa diandalkan. Setelah mengalami perjumpaan dengan
pengalaman dan pribadi-pribadi tersebut, kami bersama-sama merenung
dan berefleksi atas pengalaman itu. Ada banyak kesan, komentar,
pendapat dan permenenungan yang diperoleh, salah satunya pengakuan
bahwa mereka adalah manusia, pribadi ciptaan Allah.
Kasih Allah Hidup di Dalam Ciptaan
Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan,
terlebih diriku dikasihi Tuhan
Bunga bakung di taman diberi keindahan,
terlebih diriku dikasihi Tuhan
Burung yang besar kecil, bunga indah warnanya,
satu tak terlupa oleh penciptanya.
Lagu sederhana dari Puji Syukur nomor 680 itu mengungkap bagaimana
Tuhan Allah mengasihi, memelihara dan merawat semua ciptaan,
terlebih manusia sebagai makhluk yang dianggap lebih mulia dari
ciptaan lainnya. Di dalam semua ciptaan, terlukis dan tertanam
gambaran tentang sang pencipta. Ada kebaikan, kebesaran, keindahan,
kelebihan, kasih, dan keunikan dari sang pencipta. Intinya bahwa
segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah baik adanya (Kej
1:4a.18b.21b.25b).
Kembali lagi pada pengalaman di atas, terlepas dari pemikiran logis
dan pertanyaan ilmiah menyangkut keberadaan mereka, satu hal
mendasar perlu dicamkan ialah bahwa mereka yang mengidap cacat
mental (keterbelakangan) juga menjadi bagian dari ciptaan. Mereka
dirawat, dijaga dan dikasihi oleh Allah, meskipun mereka tidak
memiliki kesadaran demikian. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Allah
nyata, tinggal, terpancar dan hidup dalam diri mereka. Dari hasil
pengolahan dan refleksi bersama, satu poin pentingnya ialah situasi
keterbelakangan tidak melunturkan, bahkan menghilangkan karya kasih
Allah yang istimewa dalam hidup ini. Terbukti, meski mengalami
situasi yang “kurang beruntung”, mereka tetap mampu menunjukkan,
membagikan dan memancarkan kasih serta kebaikan-Nya, sesuai
kemampuan atau kapasitas mereka.
Melalui kegembiraan, semangat hidup, senyuman, sukacita, kemauan
berbagi, usaha untuk menunjukkan sisi kemanusiaan mereka dan usaha
untuk mau menyapa, mereka tunjukkan dengan cara tersendiri. Pada
dasarnya mereka ingin memperlihatkan, bahwa dalam keadaan (sangat)
terbatas aku, kamu, kita semua adalah orang-orang yang dikasihi oleh
Allah. Kasih Allah pada dasarnya tidak perlu dicari-cari, karena
sudah ada dan hidup dalam diri setiap ciptaan, terlebih dalam diri
manusia. Namun, kerapkali hal dasar ini terlupakan, sebab manusia
cenderung mencari sesuatu yang hebat di luar dirinya. Selain itu,
kasih Allah dapat dijumpai di dalam pengalaman sederhana, seperti
pengalaman berjumpa dengan mereka yang lemah dan terbelakang.
Kasih Allah Memberdayakan
Kasih Allah tidak hanya menghidupkan (tinggal dalam ciptaan), namun
juga memberdayakan setiap ciptaan untuk tumbuh berkembang serta
menggerakkan ciptaan untuk berbuat sesuatu, baik untuk dirinya
sendiri maupun untuk ciptaan lain. Binatang dan tumbuh-tumbuhan saja
memiliki kemampuan bertahan hidup dan mampu menunjukkan kelebihan
atau keistimewaan yang dimiliki, apalagi manusia. Manusia, sebagai
ciptaan yang lebih unggul dari ciptaan lain, tidak terkecuali mereka
yang mengalami situasi keterbelakangan, tentu memiliki kemampuan
untuk melakukannya lebih besar atau lebih baik lagi. Dengan kata
lain segala sesuatu yang dibuat dan dihasilkan oleh manusia sudah
semestinya selaras atau sejalan dengan kasih Allah.
Memang mereka yang terbelakang atau “kurang beruntung” lebih banyak
mendapatkan perhatian, kasih serta kebaikan dari orang lain. Tetapi,
mereka sendiri terlihat berusaha untuk dapat dan mau berkomunikasi,
bermain, dihargai dan diakui sebagai pribadi, walau cenderung untuk
pemenuhan kepentingan atau kebutuhan pribadi. Semua orang pasti akan
mengusahakannya, karena hal itu menjadi kebutuhan mendasar. Setelah
kebutuhan mendasar itu terpenuhi, manusia baik sadar atau tidak
seperti diarahkan atau ditarik pada usaha atau keinginan untuk
memperhatikan sesama. Semuanya berjalan dalam proses belajar (mengajari
dan diajari) dari pengalaman maupun orang lain.
Pengalaman para pengasuh dan pendamping di lembaga sosial itu
menggambarkan bagaimana kasih Allah memberdayakan hidup mereka.
Mereka dengan sabar, telaten, kerja keras, kemauan dan ketekunan mau
untuk mendampingi, mengajari hal-hal baik, mendidik, mengasuh dan
menemani mereka yang terbelakang atau serba terbatas. Akhirnya
mereka yang didampingi ada yang mampu melakukan hal-hal berguna bagi
orang lain. Misalnya, ada yang bisa berkebun, menanam tanaman hias,
memijit teman, mengantar ke kamar mandi dan menghibur teman dengan
caranya sendiri. Dengan kata lain, apa yang mereka kerjakan bukan
hanya untuk menarik simpati atau belaskasih dari orang lain, tetapi
mereka setelah diajari berdasarkan kemampuan yang ada, mampu juga
bersimpati dan berbagi kasih dengan sesamanya.
Dari pengalaman itu, kami disadarkan bahwa hidup yang diberikan
bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan dibagikan
kepada sesama melalui tindakan kasih yang nyata. Panggilan untuk
mengasihi sesama itu, didasarkan pada tindakan Allah yang
berinisiatif untuk mengasihi dan menanamkan kasih kepada umat-Nya.
Maka, ketika kita mampu melihat kasih Allah dalam diri sesama,
sebenarnya kita pun digerakkan untuk mengasihi sesama menurut
kemampuan yang ada, sebab mengasihi sesama sama dengan mengasihi
Allah, seperti yang ditegaskan oleh Yohanes, “Barangsiapa tidak
mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah
yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia:
Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1
Yoh 4:20b-21).
* * *
|