|
Menyelamatkan Manusia
Dari Dosa
Oleh : RD. Jimmy J. Rampengan
Judul besar di atas menjadi misi utama Yesus datang ke dunia
ini. Manusia terdampar di dunia ini akibat dosa dari luar dan
dari dalam. Dosa dari luar adalah upaya setan untuk
menggagalkan rencana Allah lewat ciptaan-Nya yang paling
sempurna yakni manusia. Dan setan berhasil. Dosa dari dalam
adalah godaan dan rayuan setan kepada manusia sehingga manusia
memilih secara sadar dari keinginannya. Dan manusia jatuh
dalam dosa. Inilah dosa pertama. Dosa yang kita kenal sebagai
dosa leluhur atau dosa asal. Dosa inilah yang menyulut dosa
sosial dan dosa lainnya. Akibatnya manusia diusir dan
terdampar di dunia ini dengan segala problem
hidupnya.
Rencana Tuhan tidak berhenti dan tidak bisa digagalkan oleh
apa dan siapa pun. Allah karena kasih-Nya yang besar tidak
membiarkan manusia hidup dalam kedosaan. Diutuslah para utusan,
para nabi untuk menyelamatkan akibat laten dari dosa yaitu
kematian kekal. Allah tidak ingin ciptaan-Nya gagal. Dia ingin
menyempurnakannya lewat suatu penebusan ilahi. Allah menjadi
manusia. Yang ilahi menjadi yang insani. Sabda sudah menjadi
daging (lih. Yoh 1:14). Tampillah Yohanes yang menunjukkan
Mesias kepada manusia. Peristiwa mesianik inilah yang kita
sebut penyelamatan manusia dari dosa. Orang Yahudi sangat
mengharapkan Mesias yang membebaskan mereka dari penjajahan
orang Romawi yang bersifat politik yaitu kemerdekaan dari
penjajahan. Tetapi Yesus memproklamasikan kemerdekaan
anak-anak Allah dari penjajahan dosa, sebagai anak-anak terang.
Peristiwa mesianik bukanlah pembebasan manusia dari kekejaman
dan kebrutalan, serta penindasan tetapi pembebasan rohani dari
belenggu dosa.
Peristiwa mesianik memuncak dan bermuara pada peristiwa Paskah.
Peristiwa Paskah ini menjungkirbalikkan kegelapan, simbol dosa.
Bahwa Allah yang menjadi manusia tidak kalah dan berakhir
dengan kematian. Peristiwa Paskah membuktikan kepada manusia
dan dunia bahwa Allah berhasil hidup dan tak terkalahkan oleh
dosa. Yesus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup.” (Yoh
11:25). Pewartaan ini menjadi titik awal peristiwa Paskah yang
akhirnya dibuktikan lewat salib. Salib, penderitaan tidak bisa
menjatuhkan dan menggagalkan rencana Allah. Peristiwa Paskah
terus berjalan dan bergulir lewat cemoohan, penderitaan, malu,
penghinaan. Namun akhirnya berbuah pada kebangkitan,
kemenangan, pembebasan. Kata malaikat itu, “Ia tidak ada di
sini, sebab Ia telah bangkit … “ (Mat 28:6; Mrk 16:6; Luk
24:6)
Peristiwa Paskah, kebangkitan, pembebasan, kemenangan masih
terus berlanjut. Diawali dengan pembebasan bani Israel dari
Mesir (lih. Kel 14:15-31). Peristiwa Paskah adalah upaya Allah
untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Manusia-manusia modern
perlu peristiwa Paskah yang membumi pada persoalan-persoalan
dunia sekarang, yang lebih bebas dan kejam yang menyeret
manusia ke dalam penderitaan yang lebih dalam. Manusia
sekarang tidak tahan menderita, karena sistem ekonomi yang
mencekik yang melahirkan kemiskinan dan kebodohan. Peristiwa
Paskah dibutuhkan agar manusia tidak jatuh dalam dosa dan
penderitaan yang menyebabkan kemiskinan. Paskah kerap mampu
mengurai dan meluruskan kembali teori-teori agar manusia
sejahtera. Peristiwa Paskah hendaknya mampu menyadarkan
manusia akan kemandiriannya untuk terus berjuang melawan
krisis global.
Krisis dunia tidak hanya menimpa kebutuhan hidup, tetapi
menimpa hidup itu sendiri. Situasi sekarang tidak dapat
dielakkan lagi dari peperangan. Perang menjadi agresi yang
kuat dan ampuh untuk mengalahkan kekuasaan. Akibatnya banyak
kematian manusia, hak hidup dilanggar, dan diabaikan. Manusia
menjadi bulan-bulanan perang. Manusia merasakan perdamaian
lewat perang. Banyak negara yang yang berperang untuk suatu
perdamaian yang ongkosnya sangat mahal yaitu dengan
pengorbanan manusia. Anak-anak banyak yang mati akibat perang.
Kerusakan dan kehancuran di mana-mana karena perang. Damai di
ujung senjata dan kekuasaan. Mampukah peristiwa Paskah
menciptakan struktur kehidupan yang lebih baik untuk
menyelesaikan konflik dunia? Paskah suatu peristiwa ilahi yang
mengajak manusia menciptakan damai bukan dengan perang, tetapi
lewat peristiwa salib. Pengorbanan terakhir dan tertinggi
akibat dosa manusia adalah Yesus. Kita berharap tidak ada
korban apapun lagi di dunia ini. Yesus telah menjadi korban
tunggal bagi keselamatan dan kedamaian dunia. Manusia diajak
jangan sampai ada korban lagi, karena Yesus telah berkorban
bagi kita. Perang hanyalah mesin yang menciptakan korban lebih
banyak lagi. Stop War! Peristiwa Paskah menjadi saksi agar
manusia jangan berperang, karena perang tidak menghasilkan
damai. Peristiwa Paskah mengajak manusia berdamai dengan
manusia, dan manusia dengan Allah.
Dunia yang semakin tua dengan segala problemnya adalah wahana
setan untuk menggagalkan rencana Allah. Peperangan, krisis
multi dimensi, kebejatan moral adalah rangkaian dosa yang
merupakan amunisi ampuh untuk menghancurkan rencana Allah.
Penyelamatan manusia sebagai ciptaan Allah harus terus kita
perjuangkan dengan segala kekuatan, kasih, dan harapan. Mari
kita berjuang dan bekerjasama dengan Tuhan agar manusia
benar-benar merdeka dan bebas dari dosa yang membelenggu
manusia. Setan harus kita kalahkan lewat Paskah Tuhan. Paskah
Tuhan saat Allah menyelamatkan manusia dari dosa.
SELAMAT PASKAH.
|