Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Januari - Maret 2009
 


Menyelamatkan Manusia Dari Dosa

Oleh : RD. Jimmy J. Rampengan
 


Judul besar di atas menjadi misi utama Yesus datang ke dunia ini. Manusia terdampar di dunia ini akibat dosa dari luar dan dari dalam. Dosa dari luar adalah upaya setan untuk menggagalkan rencana Allah lewat ciptaan-Nya yang paling sempurna yakni manusia. Dan setan berhasil. Dosa dari dalam adalah godaan dan rayuan setan kepada manusia sehingga manusia memilih secara sadar dari keinginannya. Dan manusia jatuh dalam dosa. Inilah dosa pertama. Dosa yang kita kenal sebagai dosa leluhur atau dosa asal. Dosa inilah yang menyulut dosa sosial dan dosa lainnya. Akibatnya manusia diusir dan terdampar di dunia ini dengan segala problem
hidupnya.

Rencana Tuhan tidak berhenti dan tidak bisa digagalkan oleh apa dan siapa pun. Allah karena kasih-Nya yang besar tidak membiarkan manusia hidup dalam kedosaan. Diutuslah para utusan, para nabi untuk menyelamatkan akibat laten dari dosa yaitu kematian kekal. Allah tidak ingin ciptaan-Nya gagal. Dia ingin menyempurnakannya lewat suatu penebusan ilahi. Allah menjadi manusia. Yang ilahi menjadi yang insani. Sabda sudah menjadi daging (lih. Yoh 1:14). Tampillah Yohanes yang menunjukkan Mesias kepada manusia. Peristiwa mesianik inilah yang kita sebut penyelamatan manusia dari dosa. Orang Yahudi sangat mengharapkan Mesias yang membebaskan mereka dari penjajahan orang Romawi yang bersifat politik yaitu kemerdekaan dari penjajahan. Tetapi Yesus memproklamasikan kemerdekaan anak-anak Allah dari penjajahan dosa, sebagai anak-anak terang. Peristiwa mesianik bukanlah pembebasan manusia dari kekejaman dan kebrutalan, serta penindasan tetapi pembebasan rohani dari belenggu dosa.

Peristiwa mesianik memuncak dan bermuara pada peristiwa Paskah. Peristiwa Paskah ini menjungkirbalikkan kegelapan, simbol dosa. Bahwa Allah yang menjadi manusia tidak kalah dan berakhir dengan kematian. Peristiwa Paskah membuktikan kepada manusia dan dunia bahwa Allah berhasil hidup dan tak terkalahkan oleh dosa. Yesus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup.” (Yoh 11:25). Pewartaan ini menjadi titik awal peristiwa Paskah yang akhirnya dibuktikan lewat salib. Salib, penderitaan tidak bisa menjatuhkan dan menggagalkan rencana Allah. Peristiwa Paskah terus berjalan dan bergulir lewat cemoohan, penderitaan, malu, penghinaan. Namun akhirnya berbuah pada kebangkitan, kemenangan, pembebasan. Kata malaikat itu, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit … “ (Mat 28:6; Mrk 16:6; Luk 24:6)

Peristiwa Paskah, kebangkitan, pembebasan, kemenangan masih terus berlanjut. Diawali dengan pembebasan bani Israel dari Mesir (lih. Kel 14:15-31). Peristiwa Paskah adalah upaya Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Manusia-manusia modern perlu peristiwa Paskah yang membumi pada persoalan-persoalan dunia sekarang, yang lebih bebas dan kejam yang menyeret manusia ke dalam penderitaan yang lebih dalam. Manusia sekarang tidak tahan menderita, karena sistem ekonomi yang mencekik yang melahirkan kemiskinan dan kebodohan. Peristiwa Paskah dibutuhkan agar manusia tidak jatuh dalam dosa dan penderitaan yang menyebabkan kemiskinan. Paskah kerap mampu mengurai dan meluruskan kembali teori-teori agar manusia sejahtera. Peristiwa Paskah hendaknya mampu menyadarkan manusia akan kemandiriannya untuk terus berjuang melawan krisis global.

Krisis dunia tidak hanya menimpa kebutuhan hidup, tetapi menimpa hidup itu sendiri. Situasi sekarang tidak dapat dielakkan lagi dari peperangan. Perang menjadi agresi yang kuat dan ampuh untuk mengalahkan kekuasaan. Akibatnya banyak kematian manusia, hak hidup dilanggar, dan diabaikan. Manusia menjadi bulan-bulanan perang. Manusia merasakan perdamaian lewat perang. Banyak negara yang yang berperang untuk suatu perdamaian yang ongkosnya sangat mahal yaitu dengan pengorbanan manusia. Anak-anak banyak yang mati akibat perang. Kerusakan dan kehancuran di mana-mana karena perang. Damai di ujung senjata dan kekuasaan. Mampukah peristiwa Paskah menciptakan struktur kehidupan yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik dunia? Paskah suatu peristiwa ilahi yang mengajak manusia menciptakan damai bukan dengan perang, tetapi lewat peristiwa salib. Pengorbanan terakhir dan tertinggi akibat dosa manusia adalah Yesus. Kita berharap tidak ada korban apapun lagi di dunia ini. Yesus telah menjadi korban tunggal bagi keselamatan dan kedamaian dunia. Manusia diajak jangan sampai ada korban lagi, karena Yesus telah berkorban bagi kita. Perang hanyalah mesin yang menciptakan korban lebih banyak lagi. Stop War! Peristiwa Paskah menjadi saksi agar manusia jangan berperang, karena perang tidak menghasilkan damai. Peristiwa Paskah mengajak manusia berdamai dengan manusia, dan manusia dengan Allah.

Dunia yang semakin tua dengan segala problemnya adalah wahana setan untuk menggagalkan rencana Allah. Peperangan, krisis multi dimensi, kebejatan moral adalah rangkaian dosa yang merupakan amunisi ampuh untuk menghancurkan rencana Allah. Penyelamatan manusia sebagai ciptaan Allah harus terus kita perjuangkan dengan segala kekuatan, kasih, dan harapan. Mari kita berjuang dan bekerjasama dengan Tuhan agar manusia benar-benar merdeka dan bebas dari dosa yang membelenggu manusia. Setan harus kita kalahkan lewat Paskah Tuhan. Paskah Tuhan saat Allah menyelamatkan manusia dari dosa.
SELAMAT PASKAH.
 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor