|
PESTA INTAN 75 TAHUN
GEREJA KATOLIK DI LEBAK, BANTEN
Kebanyakan orang masih asing bila mendengar nama Kabupaten
Lebak, apalagi bagi orang-orang Katolik, rasanya mereka tidak
akan langsung percaya bahwa ternyata di Lebak, Banten Gereja
Katolik sudah berkarya selama 75 tahun.
Sejarah Singkat
Sebelum tahun 1929 daerah Banten hanya dikunjungi oleh
Pastor-pastor Yesuit dari Jakarta. Tak lama kemudian Vikaris
Jendral Jakarta mempercayakan lahan Banten kepada para Pastor
Fransiskan. Berkat kerja keras para “Pendekar Gereja” yang
berjubah coklat itulah, warta keselamatan mulai bergaung di
daerah yang terkenal keras dan agak tertutup ini. Dimulai dari
kerjasama yang baik antara para Pastor Fransiskan (HH. Luther,
OFM) dengan suster-suster Fransiskan Missionaris Maria (FMM)
dan Persatuan Pengusaha Perkebunan Lebak yang di pimpin oleh
Tuan Van Leeuwen, maka berdirilah sebuah Rumah Sakit mungil
dan sederhana yang sekarang telah menjelma menjadi sebuah
Rumah Sakit, yang dikenal dengan nama “Rumah Sakit MISI Lebak”
di Kota Rangkasbitung.
Berawal dari rumah sakit ini yang dikelola oleh para suster,
maka timbul suatu kebutuhan akan sebuah tempat untuk berdoa
bagi para suster tersebut. Pada tanggal 19 Desember 1933,
berdirilah sebuah kapel yang menjadi cikal bakal “Gereja St.
Maria Tak Bernoda.”
Setelah Rumah Sakit MISI dan Gereja berdiri, kemudian
dibukalah pelayanan di bidang pendidikan yaitu TK, SD dan SMP
Mardi Yuana serta AKPER Yatna Yuana. Mulai tahun 1980-an
Paroki St. Maria Tak Bernoda pengelolaannya dipercayakan
kepada para Pastor Diosesan dari Keuskupan Bogor. Hingga saat
ini perkembangan umat Katolik pada tahun 2008 jumlah umatnya
1.190 jiwa yang tersebar di 3 (tiga) Stasi dan 7 (tujuh)
Lingkungan.
Misa Syukur
Persiapan perayaan Pesta Intan 75 tahun Paroki St. Maria Tak
Bernoda telah dilakukan sejak 1 (satu) tahun sebelumnya.
Pengurus Dewan Paroki St. Maria Tak Bernoda Rangkasbitung
telah membentuk susunan kepanitian dan sebagai Ketua Panitia
adalah Bapak Agustinus Sumarwanto, S.Pd.
“Satu Hati Dalam Persaudaraan Sejati” adalah tema yang diusung
dalam Perayaan Pesta Intan ini. Hal ini dirasakan sangat cocok
dengan situasi, kondisi dan tantangan Gereja Katolik Lebak
pada masa kini dan masa datang. Dengan dijiwai tema tersebut
maka disusunlah serangkaian acara mulai dari: Aksi Sosial
berupa pemberian sembako kepada sebuah Pesantren di Pandeglang;
Seminar sehari “Pengelolaan Lingkungan Hidup”; Jalan Santai
keliling Kota Rangkasbitung; hingga berbagai pertandingan olah
raga serta berbagai macam permainan yang melibatkan seluruh
unsur umat baik Lingkungan dan Stasi serta Gereja Kristen
maupun masyarakat sekitarnya.
Sebagai puncak acara adalah Misa Syukur pada tanggal 11
Desember 2008, pukul 17.00 WIB yang dipimpin langsung oleh
Bapak Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM didampingi
Pastor Paroki RD Yustinus Dwi Karyanto, RD Marselinus Wahyu
Dwi Harjanto serta dua Pastor yang berasal dari Paroki
Rangkasbitung yaitu RD Antonius Dwi Haryanto dan RD Robertus
Eeng Gunawan. Gedung gereja terasa sesak dipenuhi oleh umat
dari Lingkungan dan Stasi, disamping itu rupanya panitia pun
mengundang para pastor yang berkarya di Keuskupan Bogor. Dalam
kotbahnya Bapak Uskup berpesan agar umat Paroki St. Maria Tak
Bernoda Rangkasbitung senantiasa dapat belajar dari para
pendahulunya yang telah merintis karya Gereja di wilayah Lebak,
dan beliau pun mengingatkan agar karya-karya Gereja, Rumah
Sakit dan Pendidikan harus dapat dirasakan oleh masyarakat
Lebak terutama kaum yang lemah.
Perayaan Yang Menyatukan Umat
Usai Perayaan Ekaristi yang cukup meriah, acara diteruskan
dengan pesta dan ramah tamah yang dilangsungkan di Aula St.
Yosefin yang ada di area pastoran paroki St. Maria Tak Bernoda
Rangkasbitung. Acara dimeriahkan oleh DrumBand dari SD Mardi
Yuana Rangkasbitung, band Mudika dan sajian kesenian lainnya
yang cukup menghibur, serta tidak lupa doorprize dan pembagian
hadiah bagi para pemenang perlombaan. Pesta terasa istimewa
karena dihadiri oleh Bapak Bupati Lebak H. Mulyadi Jayabaya
beserta rombongan MUSPIDA Kabupaten Lebak, juga para undangan
dari gereja-gereja Kristen, tokoh-tokoh agama Budha dan Islam
serta tokoh-tokoh masyarakat Lebak. Suasana akrab dan kompak
sangat terasa terpancar dari kebersamaan para tamu yang hadir
pada acara tersebut. Tidak ketinggalan hadir pula Bapak
KAKANWIL Departemen Agama Provinsi Banten Bapak Stanislaus
Lewotoby.
Di dalam sambutannya Bapak Bupati menghimbau warga Katolik
untuk tidak ragu-ragu ambil bagian dalam proses pembangunan di
Kabupaten Lebak. Sebagai salah satu unsur masyarakat yang
cukup penting, umat Katolik diharapkan dapat bahu membahu
bersama umat beragama lainnya dalam percepatan pembangunan
Kabupaten Lebak. Ajakan ini tentunya harus direspon secara
posistif oleh seluruh umat Katolik dengan cara menyatu dan
membaur dengan masyarakat Lebak. pada akhir sambutannya Bapak
Bupati atas nama PEMDA kabupaten Lebak memberikan sejumlah
bantuan kepada Gereja Katolik. Setelah ± 2 jam, pesta ditutup
dengan ramah tamah dalam suasana yang akrab dan ceria. Semoga
saja setelah 75 tahun berdiri, Gereja Katolik dapat semakin
berkarya nyata di tengah masyarakat Kabupaten Lebak.
“Ya Bapa, kami serahkan perjalanan Paroki kami di hari-hari
yang akan datang dalam lindungan Bunda Maria yang Terkandung
Tanpa Noda yang selalu taat dan setia menjalankan kehendak-Mu.
Biarlah semangat Bunda Maria itu meresapi lubuk hati kami
untuk dapat terus berkarya bagi kehidupan masyarakat d
isekitar kita. Amin.”
|