Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Januari - Maret 2010
 


Kutemukan Dia Dalam Kegelapan

Oleh : Fr. Ari Fefu


 


 

Sebuah Situasi

Hidup manusia selalu diwarnai pelbagai peristiwa/pengalaman yang beranekaragam. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi satu sumber kekayaan pribadi yang tidak akan pernah lekang termakan oleh waktu. Betapa pun menyenangkan atau menyakitkan, setiap pengalaman selalu memberikan makna bagi siapa pun yang mengalaminya. Sejauh orang berkehendak untuk mau memaknainya. Kita pun bisa belajar dari pengalaman sesama kita kendati tidak mengalaminya secara langsung. Setiap pengalaman menjadi begitu berarti tatkala terselip makna-makna religius di dalamnya. Hidup seseorang tidak lagi terkesan menjadi hidup yang biasa-biasa saja. Tanpa harus berasumsi macam-macam, orang bisa melihat segala rencana atau kehendak Tuhan yang terjadi di dalam hidupnya. Akibatnya, hidup manusia terasa begitu indah. Manusia merasa begitu dekat dengan Allah sebagai satu-satunya sumber kehidupan yang sejati. Suasana seperti inilah yang menjadi impian semua orang beriman. Di dalamnya hanya ada sukacita, kasih, dan damai yang tak berkesudahan. Kita bisa bercermin pada situasi yang dialami Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian. Relasi Allah dan manusia digambarkan dalam konteks Taman Eden yang diciptakan begitu indah dan lengkap segala sesuatunya. Sampai akhirnya relasi yang indah itu harus ternoda ketika Adam dan Hawa mengetahui bahwa mereka telanjang dan mereka pun bersembunyi dari hadapan Allah (Kejadian 3:10). Ketika mereka bersembunyi dari hadapan Allah, jelas ada sesuatu yang mengganggu dan membuat mereka tidak layak berdiri di hadapan Allah. Ketidaklayakan itulah yang lantas disebut sebagai dosa.

Adanya dosa seolah menodai intimnya relasi manusia dengan Allah. Ketika manusia berada di dalam keadaan berdosa, manusia kerap merasa bahwa ia telah menutup satu ruang di dalam hatinya bagi Allah. Manusia menutup ruang hatinya dari Allah dan membuka ruang hatinya untuk yang lain. Sebagai contoh, demi sebuah kepuasan diri, manusia rela melakukan apa saja untuk mencapai apa yang menjadi keinginannya dengan menghalalkan segala cara, termasuk berani meninggalkan jalan yang telah ditunjukkanNya. Untuk bisa kembali lagi ke jalan Allah, manusia harus mau bertobat dan menyadari segala kekurangan diri sepenuhnya.

Tentang Dosa

Kompendium Katekismus Gereja Katolik membedakan bermacam-macam dosa. Dosa bisa digolongkan menurut objek atau keutamaan atau perintah yang dilanggar. Dosa secara langsung berkenaan dengan Allah, sesama, dan atau kita sendiri, dapat pula dibagi menjadi dosa pikiran, perkataan, perbuatan, atau kelalaian. Menurut bobotnya, dosa dapat digolongkan ke dalam dua bentuk, yaitu dosa berat dan dosa ringan. Seseorang melakukan dosa berat bilamana secara serentak terdapat unsur-unsur : hal berat, pengetahuan penuh, dan persetujuan bebas. Dosa ini merusak cinta kasih dalam diri kita. Kita kehilangan rahmat dan pengudusan. Jika kita tidak menyesal akan membawa pada kematian abadi neraka. Dosa semacam ini dapat diampuni dengan cara biasa melalui Sakramen Pembaptisan dan Tobat atau Rekonsiliasi.

Sedangkan dosa ringan sebenarnya berbeda secara esensial dengan dosa berat. Di dalamnya tidak berkenaan dengan hal yang kurang serius, atau jika menyangkut hal-hal besar di dalamnya tidak terdapat pengetahuan yang penuh dan persetujuan yang lengkap. Dosa ringan tidak merusak perjanjian dengan Allah, tetapi melemahkan cinta kasih dan memunculkan afeksi yang tidak teratur terhadap barang-barang ciptaan. Dosa ini menghalangi kemauan jiwa dalam melaksanakan keutamaan dan dalam mempraktikkan kebaikan moral. Dosa ini patut mendapatkan ganjaran hukuman sementara yang memurnikan.

Santo Agustinus pernah berkata bahwa "dosa adalah perkataan, tindakan, atau keinginan yang bertentangan dengan Hukum Abadi". Dosa adalah satu bentuk penghinaan terhadap Allah dalam ketidaktaatan kepada cintaNya. Tidak hanya berpengaruh secara pribadi, dosa pun mempunyai pengaruh secara komunal. Karena dosa, manusia menjadi begitu berjarak dari Allah dan sesamanya. Manusia begitu jauh dari kasih Allah dan sesamanya. Terlalu sayang dengan dosa-dosanya, bisa membuat suara hati manusia menjadi tumpul. Manusia tidak lagi memedulikan keberadaan dan suara Allah yang bergema di dalam hatinya. Bahkan, secara lebih tegas, Santo Agustinus mengatakan segala bentuk perkataan, tindakan, atau keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya dapat menjadi satu bentuk dosa. Dosa seolah menjadi satu sekat tipis dalam diri manusia yang sangat mudah robek dan terkikis. Manusia dituntut penuh kehati-hatian dalam memperlakukan hidupnya di hadapan Allah. Sadar tidak sadar dan entah kapan, dosa selalu membayangi kompleksitas kehidupan manusia. Suatu saat manusia bisa begitu mudah jatuh ke dalam dosa-dosa. Hal ini menjadi satu bukti yang sangat jelas bagaimana rapuhnya pertahanan iman manusia yang mudah jatuh ke dalam dosa-dosa. Dosa seolah membungkam keinginan manusia untuk bisa berkomunikasi kepada Allah. Melalui dosa, manusia telah menciptakan satu tembok pemisah yang begitu kokoh pada dirinya sendiri. Manusia menjadi begitu asing dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya, terlebih lagi dengan Tuhan sendiri. Santo Paulus pernah berkata kepada jemaat di Roma, "di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20). Bukan berarti bahwa manusia dapat berdosa sebanyak mungkin supaya lebih dikasihi oleh Allah, supaya bisa menerima rahmat berlimpah dari Allah. Sebaliknya, Allah tetap mengasihi manusia apa pun keadaannya, entah manusia sedang berada dalam dosa atau pun tidak. Kalau pun manusia berdosa, Allah tetap merangkul serta mencari manusia yang berdosa hingga Allah dapat menemukannya kembali. Usaha Allah untuk menemukan orang berdosa agar mau kembali lagi kepadaNya menjadi indikasi dasar betapa seluruh tenaga Allah dicurahkan. Allah akan mencari satu yang hilang, hingga Allah bisa menemukannya kembali. Segala daya dan upaya dilakukan oleh Allah demi orang yang memang dikasihiNya. Begitu berharganya manusia, kendati pun ia berdosa, di hadapanNya. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan" (Lukas 15:4-6). Dapat kita bayangkan betapa bahagianya Allah ketika menemukan kita yang berdosa telah kembali lagi kepadaNya. Pertemuan itu begitu mengesankan hingga Allah dengan penuh sukacita menyambut kedatangan kita kembali. Secara sederhana, dapat digambarkan betapa bahagianya kita jika mampu menemukan kembali sesuatu yang memang menjadi milik kita dan telah lama hilang. Seperti itulah kebahagiaan Allah yang hendaknya menjadi bahan permenungan bagi kita sekarang. Apakah kita pun merasa bahagia bisa ditemukan oleh Allah kembali dalam segala kedosaan kita?

Kegelapan

Tak berlebihan rasanya jika kita beranggapan bahwa orang yang berdosa adalah mereka semua yang berada di dalam "kegelapan". Gelap yang sungguh-sungguh gelap, tidak ada seberkas cahaya pun di dalamnya. Situasi seperti ini tidak jarang sering membuat orang merasa begitu takut dan resah. Misalnya, jika berada di dalam sebuah ruangan yang gelap, orang sering merasa sulit bernafas, merasa ada yang membayang-bayanginya, dan lain sebagainya. Jika berada di tengah hutan, orang merasa takut bila terjerembab ke semak-semak yang bisa melukai dirinya, takut diganggu binatang-binatang buas, takut tidak bisa menemukan jalan pulang, takut merasa kedinginan, dan lain sebagainya. Segala bentuk ketakutan dan keresahan tersebut biasanya hilang dengan sendirinya bila orang telah menemukan cahaya. Tidak peduli seberapa besar atau kecilnya cahaya tersebut. Cahaya seolah menjadi ‘obat penenang’ atau bahkan menjadi ‘teman’ yang mampu membuat orang merasa nyaman. Orang menjadi merasa tidak takut lagi. Ketergantungan manusia pada cahaya begitu luar biasa. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana wajah dunia saat ini jika dahulu Thomas Alva Edison tidak menemukan listrik. Malam hari tentu akan terasa gelap dan orang tidak bisa melakukan apa pun. Seperti halnya orang yang berdosa. Ketika orang berdosa, tentu saja ia berada dalam situasi yang tidak menenteramkan/menyenangkan. Misalnya, orang menjadi begitu takut dan resah jangan-jangan dosanya diketahui oleh orang lain. Seperti halnya dalam kegelapan, orang yang berdosa rasanya tidak dapat bernafas lega ketika berada di dalam ketakutan yang berlebihan seperti ini. Jika ingin bisa bernafas lega kembali, dengan bantuan Allah, manusia sendirilah yang harus melepaskan belenggunya.

Dosa bisa menciptakan satu kecenderungan ke arah kebiasaan untuk berdosa. Sekali orang berbuat dosa, selanjutnya dengan mudah ia akan melakukan dosa yang lain lagi. Lewat pengulangan tindakan yang kurang lebih sama, dosa akan melahirkan kebiasaan buruk di dalam diri manusia. Kebiasaan buruk inilah yang biasanya meniadakan suara hati kita. Manusia harus sadar penuh bahwa dosa itu tak ubahnya seperti candu yang dapat membuat manusia tidak berdaya untuk menghalaunya. Pesona dosa itu begitu kuat hingga mampu membuai manusia melampaui batas kesadarannya. Pada taraf seperti ini, manusia memang seolah menjauh dari hadapan Allah karena dosa-dosa yang disandangnya. Akan tetapi, melalui dosa pulalah manusia masih bisa merasakan bahwa Allah tetap memanggil kita supaya mau masuk ke dalam kerahimanNya. Ruang hati Allah masih terasa cukup lebar bagi kita yang berdosa dan ingin sekali bertobat. Mau bertobat berarti manusia mau memperbaiki relasi yang telah rusak tersebut. Di situlah manusia mencapai kesadarannya sebagai manusia yang lemah karena tidak sanggup melaksanakan segala kehendakNya.

Menemukan Cahaya Yesus Kristus

Ketika manusia berada di dalam kegelapan akan dosa-dosanya, apakah manusia masih mempunyai kesempatan untuk bisa keluar dari kegelapan tersebut? Ya. Kegelapan itulah yang membutakan mata batin manusia terhadap segala-galanya. Kegelapan itulah yang membuat manusia tidak bisa melakukan apapun. Jika manusia berada di dalam kegelapan yang sangat, hendaklah ia dapat menemukan sesuatu yang dapat menuntunnya keluar. Bukan dengan tongkat, pedang, atau pun perisai, tetapi dengan seberkas cahaya yang bersinar. Hanya cahaya sendirilah yang dapat menuntun manusia keluar dari kegelapan yang ada. Sehingga pada akhirnya, manusia dapat menemukan kembali jalan yang benar dan sungguh berkenan di hadapan Allah. Cahaya itu tak lain dan tak bukan adalah Yesus Kristus sendiri. Dialah cahaya yang menerangi hati dan iman kita. Melalui Dialah kita dapat sampai kepada Allah. "Dan barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku" (Yohanes 12:45).

Kalau kita telah menemukan cahaya itu, pasti kita akan dituntun keluar. Ketika kita mulai berjalan keluar setapak demi setapak dengan bantuan cahaya tersebut, kita tidak akan mengira bahwa kita sudah berjalan jauh dan mulai meninggalkan kegelapan itu sendiri. Kita telah menemukan terang yang dengan sendirinya akan menghantar kita pada rahmat keselamatan. Terang atau cahaya itu memampukan kita dapat melihat diri sendiri, sesama, dan pada akhirnya kepada Allah. Kita dapat berelasi kembali dengan diri sendiri, sesama, dan terlebih dengan Allah secara lebih baik. Relasi yang baik inilah yang akan menghantar manusia pada relasi yang lebih intim. Melalui pengurbanan diriNya di kayu salib, Kristus telah mendamaikan Allah dan manusia. Secara bebas Ia menyerahkan hidupNya sebagai kurban silih, yaitu bahwa Dia telah memulihkan kita dari dosa-dosa dengan ketaatan penuh cinta sampai mati. Cinta Sang Putera Allah ‘sampai kepada kesudahannya" (Yohanes 13:1).

 

 



 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor