|
Kutemukan Dia Dalam
Kegelapan
Oleh : Fr. Ari Fefu
Sebuah Situasi
Hidup manusia selalu
diwarnai pelbagai peristiwa/pengalaman yang beranekaragam.
Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi satu sumber kekayaan
pribadi yang tidak akan pernah lekang termakan oleh waktu.
Betapa pun menyenangkan atau menyakitkan, setiap pengalaman
selalu memberikan makna bagi siapa pun yang mengalaminya.
Sejauh orang berkehendak untuk mau memaknainya. Kita pun bisa
belajar dari pengalaman sesama kita kendati tidak mengalaminya
secara langsung. Setiap pengalaman menjadi begitu berarti
tatkala terselip makna-makna religius di dalamnya. Hidup
seseorang tidak lagi terkesan menjadi hidup yang biasa-biasa
saja. Tanpa harus berasumsi macam-macam, orang bisa melihat
segala rencana atau kehendak Tuhan yang terjadi di dalam
hidupnya. Akibatnya, hidup manusia terasa begitu indah.
Manusia merasa begitu dekat dengan Allah sebagai satu-satunya
sumber kehidupan yang sejati. Suasana seperti inilah yang
menjadi impian semua orang beriman. Di dalamnya hanya ada
sukacita, kasih, dan damai yang tak berkesudahan. Kita bisa
bercermin pada situasi yang dialami Adam dan Hawa dalam Kitab
Kejadian. Relasi Allah dan manusia digambarkan dalam konteks
Taman Eden yang diciptakan begitu indah dan lengkap segala
sesuatunya. Sampai akhirnya relasi yang indah itu harus
ternoda ketika Adam dan Hawa mengetahui bahwa mereka telanjang
dan mereka pun bersembunyi dari hadapan Allah (Kejadian 3:10).
Ketika mereka bersembunyi dari hadapan Allah, jelas ada
sesuatu yang mengganggu dan membuat mereka tidak layak berdiri
di hadapan Allah. Ketidaklayakan itulah yang lantas disebut
sebagai dosa.
Adanya dosa seolah menodai
intimnya relasi manusia dengan Allah. Ketika manusia berada di
dalam keadaan berdosa, manusia kerap merasa bahwa ia telah
menutup satu ruang di dalam hatinya bagi Allah. Manusia
menutup ruang hatinya dari Allah dan membuka ruang hatinya
untuk yang lain. Sebagai contoh, demi sebuah kepuasan diri,
manusia rela melakukan apa saja untuk mencapai apa yang
menjadi keinginannya dengan menghalalkan segala cara, termasuk
berani meninggalkan jalan yang telah ditunjukkanNya. Untuk
bisa kembali lagi ke jalan Allah, manusia harus mau bertobat
dan menyadari segala kekurangan diri sepenuhnya.
Tentang Dosa
Kompendium Katekismus Gereja
Katolik membedakan bermacam-macam dosa. Dosa bisa digolongkan
menurut objek atau keutamaan atau perintah yang dilanggar.
Dosa secara langsung berkenaan dengan Allah, sesama, dan atau
kita sendiri, dapat pula dibagi menjadi dosa pikiran,
perkataan, perbuatan, atau kelalaian. Menurut bobotnya, dosa
dapat digolongkan ke dalam dua bentuk, yaitu dosa berat dan
dosa ringan. Seseorang melakukan dosa berat bilamana secara
serentak terdapat unsur-unsur : hal berat, pengetahuan penuh,
dan persetujuan bebas. Dosa ini merusak cinta kasih dalam diri
kita. Kita kehilangan rahmat dan pengudusan. Jika kita tidak
menyesal akan membawa pada kematian abadi neraka. Dosa semacam
ini dapat diampuni dengan cara biasa melalui Sakramen
Pembaptisan dan Tobat atau Rekonsiliasi.
Sedangkan dosa ringan
sebenarnya berbeda secara esensial dengan dosa berat. Di
dalamnya tidak berkenaan dengan hal yang kurang serius, atau
jika menyangkut hal-hal besar di dalamnya tidak terdapat
pengetahuan yang penuh dan persetujuan yang lengkap. Dosa
ringan tidak merusak perjanjian dengan Allah, tetapi
melemahkan cinta kasih dan memunculkan afeksi yang tidak
teratur terhadap barang-barang ciptaan. Dosa ini menghalangi
kemauan jiwa dalam melaksanakan keutamaan dan dalam
mempraktikkan kebaikan moral. Dosa ini patut mendapatkan
ganjaran hukuman sementara yang memurnikan.
Santo Agustinus pernah
berkata bahwa "dosa adalah perkataan, tindakan, atau keinginan
yang bertentangan dengan Hukum Abadi". Dosa adalah satu bentuk
penghinaan terhadap Allah dalam ketidaktaatan kepada cintaNya.
Tidak hanya berpengaruh secara pribadi, dosa pun mempunyai
pengaruh secara komunal. Karena dosa, manusia menjadi begitu
berjarak dari Allah dan sesamanya. Manusia begitu jauh dari
kasih Allah dan sesamanya. Terlalu sayang dengan dosa-dosanya,
bisa membuat suara hati manusia menjadi tumpul. Manusia tidak
lagi memedulikan keberadaan dan suara Allah yang bergema di
dalam hatinya. Bahkan, secara lebih tegas, Santo Agustinus
mengatakan segala bentuk perkataan, tindakan, atau keinginan
kita yang bertentangan dengan kehendakNya dapat menjadi satu
bentuk dosa. Dosa seolah menjadi satu sekat tipis dalam diri
manusia yang sangat mudah robek dan terkikis. Manusia dituntut
penuh kehati-hatian dalam memperlakukan hidupnya di hadapan
Allah. Sadar tidak sadar dan entah kapan, dosa selalu
membayangi kompleksitas kehidupan manusia. Suatu saat manusia
bisa begitu mudah jatuh ke dalam dosa-dosa. Hal ini menjadi
satu bukti yang sangat jelas bagaimana rapuhnya pertahanan
iman manusia yang mudah jatuh ke dalam dosa-dosa. Dosa seolah
membungkam keinginan manusia untuk bisa berkomunikasi kepada
Allah. Melalui dosa, manusia telah menciptakan satu tembok
pemisah yang begitu kokoh pada dirinya sendiri. Manusia
menjadi begitu asing dengan dirinya sendiri maupun dengan
sesamanya, terlebih lagi dengan Tuhan sendiri. Santo Paulus
pernah berkata kepada jemaat di Roma, "di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi
berlimpah-limpah" (Roma 5:20). Bukan berarti bahwa manusia
dapat berdosa sebanyak mungkin supaya lebih dikasihi oleh
Allah, supaya bisa menerima rahmat berlimpah dari Allah.
Sebaliknya, Allah tetap mengasihi manusia apa pun keadaannya,
entah manusia sedang berada dalam dosa atau pun tidak. Kalau
pun manusia berdosa, Allah tetap merangkul serta mencari
manusia yang berdosa hingga Allah dapat menemukannya kembali.
Usaha Allah untuk menemukan orang berdosa agar mau kembali
lagi kepadaNya menjadi indikasi dasar betapa seluruh tenaga
Allah dicurahkan. Allah akan mencari satu yang hilang, hingga
Allah bisa menemukannya kembali. Segala daya dan upaya
dilakukan oleh Allah demi orang yang memang dikasihiNya.
Begitu berharganya manusia, kendati pun ia berdosa, di
hadapanNya. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus
ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya,
tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang
gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas
bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil
sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga serta berkata kepada
mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku
yang hilang itu telah kutemukan" (Lukas 15:4-6). Dapat
kita bayangkan betapa bahagianya Allah ketika menemukan kita
yang berdosa telah kembali lagi kepadaNya. Pertemuan itu
begitu mengesankan hingga Allah dengan penuh sukacita
menyambut kedatangan kita kembali. Secara sederhana, dapat
digambarkan betapa bahagianya kita jika mampu menemukan
kembali sesuatu yang memang menjadi milik kita dan telah lama
hilang. Seperti itulah kebahagiaan Allah yang hendaknya
menjadi bahan permenungan bagi kita sekarang. Apakah kita pun
merasa bahagia bisa ditemukan oleh Allah kembali dalam segala
kedosaan kita?
Kegelapan
Tak berlebihan rasanya jika
kita beranggapan bahwa orang yang berdosa adalah mereka semua
yang berada di dalam "kegelapan". Gelap yang sungguh-sungguh
gelap, tidak ada seberkas cahaya pun di dalamnya. Situasi
seperti ini tidak jarang sering membuat orang merasa begitu
takut dan resah. Misalnya, jika berada di dalam sebuah ruangan
yang gelap, orang sering merasa sulit bernafas, merasa ada
yang membayang-bayanginya, dan lain sebagainya. Jika berada di
tengah hutan, orang merasa takut bila terjerembab ke
semak-semak yang bisa melukai dirinya, takut diganggu
binatang-binatang buas, takut tidak bisa menemukan jalan
pulang, takut merasa kedinginan, dan lain sebagainya. Segala
bentuk ketakutan dan keresahan tersebut biasanya hilang dengan
sendirinya bila orang telah menemukan cahaya. Tidak peduli
seberapa besar atau kecilnya cahaya tersebut. Cahaya seolah
menjadi ‘obat penenang’ atau bahkan menjadi ‘teman’ yang mampu
membuat orang merasa nyaman. Orang menjadi merasa tidak takut
lagi. Ketergantungan manusia pada cahaya begitu luar biasa.
Tidak bisa kita bayangkan bagaimana wajah dunia saat ini jika
dahulu Thomas Alva Edison tidak menemukan listrik. Malam hari
tentu akan terasa gelap dan orang tidak bisa melakukan apa
pun. Seperti halnya orang yang berdosa. Ketika orang berdosa,
tentu saja ia berada dalam situasi yang tidak menenteramkan/menyenangkan.
Misalnya, orang menjadi begitu takut dan resah jangan-jangan
dosanya diketahui oleh orang lain. Seperti halnya dalam
kegelapan, orang yang berdosa rasanya tidak dapat bernafas
lega ketika berada di dalam ketakutan yang berlebihan seperti
ini. Jika ingin bisa bernafas lega kembali, dengan bantuan
Allah, manusia sendirilah yang harus melepaskan belenggunya.
Dosa bisa menciptakan satu
kecenderungan ke arah kebiasaan untuk berdosa. Sekali orang
berbuat dosa, selanjutnya dengan mudah ia akan melakukan dosa
yang lain lagi. Lewat pengulangan tindakan yang kurang lebih
sama, dosa akan melahirkan kebiasaan buruk di dalam diri
manusia. Kebiasaan buruk inilah yang biasanya meniadakan suara
hati kita. Manusia harus sadar penuh bahwa dosa itu tak
ubahnya seperti candu yang dapat membuat manusia tidak berdaya
untuk menghalaunya. Pesona dosa itu begitu kuat hingga mampu
membuai manusia melampaui batas kesadarannya. Pada taraf
seperti ini, manusia memang seolah menjauh dari hadapan Allah
karena dosa-dosa yang disandangnya. Akan tetapi, melalui dosa
pulalah manusia masih bisa merasakan bahwa Allah tetap
memanggil kita supaya mau masuk ke dalam kerahimanNya. Ruang
hati Allah masih terasa cukup lebar bagi kita yang berdosa dan
ingin sekali bertobat. Mau bertobat berarti manusia mau
memperbaiki relasi yang telah rusak tersebut. Di situlah
manusia mencapai kesadarannya sebagai manusia yang lemah
karena tidak sanggup melaksanakan segala kehendakNya.
Menemukan Cahaya Yesus
Kristus
Ketika manusia berada di
dalam kegelapan akan dosa-dosanya, apakah manusia masih
mempunyai kesempatan untuk bisa keluar dari kegelapan tersebut?
Ya. Kegelapan itulah yang membutakan mata batin manusia
terhadap segala-galanya. Kegelapan itulah yang membuat manusia
tidak bisa melakukan apapun. Jika manusia berada di dalam
kegelapan yang sangat, hendaklah ia dapat menemukan sesuatu
yang dapat menuntunnya keluar. Bukan dengan tongkat, pedang,
atau pun perisai, tetapi dengan seberkas cahaya yang bersinar.
Hanya cahaya sendirilah yang dapat menuntun manusia keluar
dari kegelapan yang ada. Sehingga pada akhirnya, manusia dapat
menemukan kembali jalan yang benar dan sungguh berkenan di
hadapan Allah. Cahaya itu tak lain dan tak bukan adalah Yesus
Kristus sendiri. Dialah cahaya yang menerangi hati dan iman
kita. Melalui Dialah kita dapat sampai kepada Allah. "Dan
barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus
Aku" (Yohanes 12:45).
Kalau kita telah menemukan
cahaya itu, pasti kita akan dituntun keluar. Ketika kita mulai
berjalan keluar setapak demi setapak dengan bantuan cahaya
tersebut, kita tidak akan mengira bahwa kita sudah berjalan
jauh dan mulai meninggalkan kegelapan itu sendiri. Kita telah
menemukan terang yang dengan sendirinya akan menghantar kita
pada rahmat keselamatan. Terang atau cahaya itu memampukan
kita dapat melihat diri sendiri, sesama, dan pada akhirnya
kepada Allah. Kita dapat berelasi kembali dengan diri sendiri,
sesama, dan terlebih dengan Allah secara lebih baik. Relasi
yang baik inilah yang akan menghantar manusia pada relasi yang
lebih intim. Melalui pengurbanan diriNya di kayu salib,
Kristus telah mendamaikan Allah dan manusia. Secara bebas Ia
menyerahkan hidupNya sebagai kurban silih, yaitu bahwa Dia
telah memulihkan kita dari dosa-dosa dengan ketaatan penuh
cinta sampai mati. Cinta Sang Putera Allah ‘sampai kepada
kesudahannya" (Yohanes 13:1).
|