Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Januari - Maret 2010
 

Sembilan Wali Berpesta di Petrus dan Paulus




Ke depan altar kami melangkah seraya bermadah gembira ria….”

Alunan lagu itu selalu menggema di tembok dinding kamarku. Ada apa gerangan? Sahutku dalam hati. Ternyata beberapa umat kring St.Matius tempat seminari ini berada sedang latihan koor bersama beberapa konfrater untuk perayaan penerimaan busana rohani kepada ke sembilan frater Tahun Orientasi Rohani Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus yang selalu dirayakan setiap tanggal 2 Februari.

Dalam kalender liturgi, pada tanggal 2 Februari Gereja Katolik merayakan sebuah pesta yakni Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah. Dan setiap tanggal itu pula di Seminari Tinggi St. Petrus dan Paulus diadakan sebuah pesta penerimaan Busana Rohani (Jubah) kepada para seminaris atau para frater Tahun Orientasi Rohani (frater TOR) calon imam Keuskupan Bogor. Seperti tahun-tahun sebelumnya pesta perayaan penyematan Busana Rohani (jubah) tahun ini dilakukan secara sederhana di Kapel Seminari Santo Petrus dan Paulus. Misa yang dimulai pada pukul 17.00 wib dipimpin langsung oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM uskup Bogor selaku selebran utama yang didampingi oleh para staf Seminari Tinggi yakni Romo Ch. Tri Harsono, Pr dan Romo Fabianus Heatubun, Pr selaku konselebran. Perayaan yang tadinya diragukan karena alasan cuaca hujan yang terus mengguyur kota Bandung di waktu sore dalam sepekan terakhir sebelum perayaan, hampir menciutkan harapan panitia, tapi berkat doa dan rahmat dari Allah hujan tidak terjadi di sore itu dan acara penerimaan Busana Rohani dapat berjalan sesuai rencana.

Setelah penantian selama 6 bulan sesuai dengan ketentuan hukum Gereja para frater Tahun Orientasi Rohani yang berjumlah 9 orang itu akhirnya dikatakan layak untuk menerima busana rohani sebagai lambang pelayanan dan penyerahan total terhadap Allah. Ada sedikit yang unik dalam perayaan ini, yaitu jumlah frater yang menerima pakaian rohani berjumlah 9 orang sesuai dengan jumlah wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Dan kata wali ini terlontar dalam kata sambutan yang disampaikan oleh Rektor Seminari Tinggi St. Petrus dan Paulus, Romo Ch. Tri Harsono, Pr. Mungkin karena Romo Rektor seorang Islamolog sehingga kata itu muncul atau harapan lebih jauh, semoga saja 9 frater yang menerima Pakaian Rohani yakni Fr. Agustinus Wimbodo Purnomo (Fr. Nanang), Fr. Andreas Arie Susanto (Fr. Arie), Fr. Petrus Suryanto (Fr. Yanto atau Fr Surya), Fr. Dionnysius Manopo (Fr. Dion), Fr. Paulus Pera Arif (Fr. Pera), Fr. Stefanus Dominggus (Fr. Minggus), Fr. Yosef Irianto Segu (Fr. Segu), Fr. Stefanus Aries (Fr. Aries), dan Fr. Ignatius Dwi Himawan (Fr. Himawan) memiliki semangat pelayan seperti para wali songo tersebut. Dan lebih lanjut dalam sambutannya, rektor mengatakan bahwa ke Sembilan frater TOR ini memiliki keunikan dan kemiripan wajah dengan para romo yang berkarya di keuskupan Bogor. Pertama Fr. Nanang dikatakan mirip dengan Alm. Rm. Sudjarwo, kedua Fr. Dion diplot mirip dengan Rm. Jimmy Rampengan, Fr. Arie dipaksakan mirip dengan “Om” nya yakni Rm. Driyanto, Fr. Aries dikatakan mirip dengan rektor Seminari Tinggi sebelumnya yakni Rm. Sumardiyo, Fr. Pera dikatakan mirip dengan Rm. Monang, Fr. Yanto dikatakan mirip dengan Rm Haruno, Fr. Himawan dikatakan mirip dengan Rm. Markus Lukas karena kesederhanaannya, nah ada yang menarik ternyata dari kesembilan frater ini ada yang mirip dengan kedua romo yang berkarya di seminari ini, Fr. Minggus dikatakan mirip dengan Rm. Fabianus sedangkan Fr. Segu dikatakan mirip dengan Rm. Tri Harsono dan hal ini tentu mengundang gelak tawa dari keluarga para frater yang dijubahi dan umat yang hadir dan menyaksikan perayaan ini. Dan di akhir misa pula Mgr. Michael sempat melemparkan guyonan, “kenapa tidak ada yang mirip beliau? Apa takut kalau mirip dengan beliau akan menjadi uskup?!” dan beliau pun sempat berpesan kepada para frater yang dijubahi semoga jubah putih yang melekat itu bisa lebih mendekatkan diri pada pelayan seperti yang diteladani oleh Kristus sendiri bukan sebagai busana yang membuat kita sombong tapi mengarah pada kerendahan hati dan mau membuka hati bagi sesama. Dan misa pun diakhiri dengan puisi dan lagu persembahan dari para frater TOR sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas doa dan dukungannya terhadap mereka dan seminari khususnya terhadap panggilan. Semoga apa yang diharapkan oleh para frater dan umat agar pekerja di ladang Tuhan makin berlimpah dapat terwujud.

Akhir kata “Jadilah dewasa dan tinggalkan sifat kanak-kanak! Capailah kedewasaan yang penuh” (1 Kor 13:11 dan Efesus 4:13). Proficiat buat para Frater TOR Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus Keuskupan Bogor.

By: Fr. Bonifasius




 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor