|
Sembilan
Wali Berpesta di Petrus dan Paulus
Ke depan altar kami melangkah seraya bermadah gembira ria….”
Alunan lagu itu selalu menggema di tembok dinding kamarku. Ada
apa gerangan? Sahutku dalam hati. Ternyata beberapa umat kring
St.Matius tempat seminari ini berada sedang latihan koor
bersama beberapa konfrater untuk perayaan penerimaan busana
rohani kepada ke sembilan frater Tahun Orientasi Rohani
Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus yang selalu dirayakan
setiap tanggal 2 Februari.
Dalam kalender liturgi, pada tanggal 2 Februari Gereja Katolik
merayakan sebuah pesta yakni Yesus dipersembahkan dalam Bait
Allah. Dan setiap tanggal itu pula di Seminari Tinggi St.
Petrus dan Paulus diadakan sebuah pesta penerimaan Busana
Rohani (Jubah) kepada para seminaris atau para frater Tahun
Orientasi Rohani (frater TOR) calon imam Keuskupan Bogor.
Seperti tahun-tahun sebelumnya pesta perayaan penyematan
Busana Rohani (jubah) tahun ini dilakukan secara sederhana di
Kapel Seminari Santo Petrus dan Paulus. Misa yang dimulai pada
pukul 17.00 wib dipimpin langsung oleh Mgr. Michael Cosmas
Angkur, OFM uskup Bogor selaku selebran utama yang didampingi
oleh para staf Seminari Tinggi yakni Romo Ch. Tri Harsono, Pr
dan Romo Fabianus Heatubun, Pr selaku konselebran. Perayaan
yang tadinya diragukan karena alasan cuaca hujan yang terus
mengguyur kota Bandung di waktu sore dalam sepekan terakhir
sebelum perayaan, hampir menciutkan harapan panitia, tapi
berkat doa dan rahmat dari Allah hujan tidak terjadi di sore
itu dan acara penerimaan Busana Rohani dapat berjalan sesuai
rencana.
Setelah penantian selama 6 bulan sesuai dengan ketentuan hukum
Gereja para frater Tahun Orientasi Rohani yang berjumlah 9
orang itu akhirnya dikatakan layak untuk menerima busana
rohani sebagai lambang pelayanan dan penyerahan total terhadap
Allah. Ada sedikit yang unik dalam perayaan ini, yaitu jumlah
frater yang menerima pakaian rohani berjumlah 9 orang sesuai
dengan jumlah wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Dan kata wali ini terlontar dalam kata sambutan yang
disampaikan oleh Rektor Seminari Tinggi St. Petrus dan Paulus,
Romo Ch. Tri Harsono, Pr. Mungkin karena Romo Rektor seorang
Islamolog sehingga kata itu muncul atau harapan lebih jauh,
semoga saja 9 frater yang menerima Pakaian Rohani yakni Fr.
Agustinus Wimbodo Purnomo (Fr. Nanang), Fr. Andreas Arie
Susanto (Fr. Arie), Fr. Petrus Suryanto (Fr. Yanto atau Fr
Surya), Fr. Dionnysius Manopo (Fr. Dion), Fr. Paulus Pera Arif
(Fr. Pera), Fr. Stefanus Dominggus (Fr. Minggus), Fr. Yosef
Irianto Segu (Fr. Segu), Fr. Stefanus Aries (Fr. Aries), dan
Fr. Ignatius Dwi Himawan (Fr. Himawan) memiliki semangat
pelayan seperti para wali songo tersebut. Dan lebih lanjut
dalam sambutannya, rektor mengatakan bahwa ke Sembilan frater
TOR ini memiliki keunikan dan kemiripan wajah dengan para romo
yang berkarya di keuskupan Bogor. Pertama Fr. Nanang dikatakan
mirip dengan Alm. Rm. Sudjarwo, kedua Fr. Dion diplot mirip
dengan Rm. Jimmy Rampengan, Fr. Arie dipaksakan mirip dengan
“Om” nya yakni Rm. Driyanto, Fr. Aries dikatakan mirip dengan
rektor Seminari Tinggi sebelumnya yakni Rm. Sumardiyo, Fr.
Pera dikatakan mirip dengan Rm. Monang, Fr. Yanto dikatakan
mirip dengan Rm Haruno, Fr. Himawan dikatakan mirip dengan Rm.
Markus Lukas karena kesederhanaannya, nah ada yang menarik
ternyata dari kesembilan frater ini ada yang mirip dengan
kedua romo yang berkarya di seminari ini, Fr. Minggus
dikatakan mirip dengan Rm. Fabianus sedangkan Fr. Segu
dikatakan mirip dengan Rm. Tri Harsono dan hal ini tentu
mengundang gelak tawa dari keluarga para frater yang dijubahi
dan umat yang hadir dan menyaksikan perayaan ini. Dan di akhir
misa pula Mgr. Michael sempat melemparkan guyonan, “kenapa
tidak ada yang mirip beliau? Apa takut kalau mirip dengan
beliau akan menjadi uskup?!” dan beliau pun sempat berpesan
kepada para frater yang dijubahi semoga jubah putih yang
melekat itu bisa lebih mendekatkan diri pada pelayan seperti
yang diteladani oleh Kristus sendiri bukan sebagai busana yang
membuat kita sombong tapi mengarah pada kerendahan hati dan
mau membuka hati bagi sesama. Dan misa pun diakhiri dengan
puisi dan lagu persembahan dari para frater TOR sebagai
ungkapan syukur dan terima kasih atas doa dan dukungannya
terhadap mereka dan seminari khususnya terhadap panggilan.
Semoga apa yang diharapkan oleh para frater dan umat agar
pekerja di ladang Tuhan makin berlimpah dapat terwujud.
Akhir kata “Jadilah dewasa dan tinggalkan sifat kanak-kanak!
Capailah kedewasaan yang penuh” (1 Kor 13:11 dan Efesus 4:13).
Proficiat buat para Frater TOR Seminari Tinggi Santo Petrus
dan Paulus Keuskupan Bogor.
By: Fr. Bonifasius
|