|
HIDUP SEJATI DALAM
PERSAUDARAAN
Oleh : Fr.
Gabriel, CSE
Melalui Nota Pastoral
2006, yang berjudul ”HABITUS BARU: EKONOMI YANG BERKEADILAN –
Keadilan Bagi Semua: Pendekatan Sosio-Ekonomi”, Konferensi
Waligereja Indonesia (KWI) bersama-sama memperbaharui komitmen untuk
(1) menumbuhkan sikap berani memulai dengan kekuatan dan potensi
yang ada, bersama saudara-saudara yang miskin dan lemah, (2)
mendorong mereka yang diberkati dengan kekuatan ekonomi besar untuk
terlibat dalam mendorong kemadirian kaum miskin dan lemah, (3)
Mendesak para pembuat dan pelaksana kebijakan publik untuk berubah
dari kecenderungan memperdagangkan jabatan dan mandat rakyat, (4)
mendorong para cerdik pandai untuk terlibat aktif dalam mengkaji
kembali dan mengubah gagasan serta cara berpikir yang merugikan kaum
miskin dan lemah (Nota Pastoral 2006, art. 27). Karena itu, salah
satu prinsip yang dicanangkan Gereja untuk mencapai perekonomian
yang adil adalah solidaritas.
Solidaritas, menurut
Nota Pastoral 2006, adalah ”kesetiakawanan untuk bersama-sama
melihat persoalan, mencari dan merancang jalan keluarnya,
melaksanakan dan mengevaluasi tolak ukur kesejahteraan bersama.
Prinsip solidaritas adalah kekuatan warga untuk mengorganisir diri
menjadi gerak sosial, ekonomi, dan politik” (Nota Pastoral 2006,
art. 28).
Sebagai wujud kongkrit
dari Nota Pastoral 2006, Uskup Bogor, Mgr. Michael Comas Angkur OFM,
berinisiatif untuk mengadakan perayaan Ekaristi sekaligus merayakan
Paskah bersama para pekerja pabrik atau buruh yang berada di wilayah
Paroki Kristus Raja, Serang. Perayaan Ekaristi tersebut diadakan
pada hari Minggu Paskah III tanggal 22 April 2007. Tema yang
dikedepankan dalam Perayaan Ekaristi dan Paskah bersama adalah ”HIDUP
SEJATI DALAM PERSAUDARAAN”.
Hidup yang sejati
adalah hidup yang sesuai dengan citra Allah. Hidup sejati tersebut
terwujud dalam perdamaian dengan Allah, diri sendiri, sesama dan
alam. Perayaan Ekaristi adalah perwujudan konkrit solidaritas Allah
dengan manusia melalui kehadiran-Nya dalam Sakramen Mahakudus.
Melalui perayaan
Ekaristi, para pekerja pabrik di wilayah Paroki Kristus Raja, yang
terbentang dari Cikande hingga Merak dan Anyer, diajak untuk
membangun solidaritas dan kerja sama di antara mereka. Seperti
halnya Kristus yang wafat dan bangkit untuk membebaskan semua
manusia dari dosa, diharapkan melalui perayaan Ekaristi dan Paskah
ini para pekerja pabrik tersebut dapat dibebaskan dari ”kotak-kotak”
wilayah geografis dan pabrik-pabrik tempat mereka bekerja.
Sebagai tujuan akhir
dari kegiatan ini adalah para buruh yang beriman, yang dapat menjadi
saksi kehadiran Allah dalam lingkungan kerja mereka. Buruh yang
mempunyai kepribadian yang mantap dan tidak mudah berputus asa.
Buruh yang dapat membina persaudaraan sejati dengan semua orang,
baik dengan sesama buruh, dengan perusahaan dan dengan masyarakat
sekitar.
Perayaan Ekaristi,
yang dihadiri oleh sekitar 300 pekerja pabrik yang bekerja di
pabrik-pabrik yang berbeda, antara lain PT. Nikomas Gemilang,
Krakatau Steel, PT. Lapi, Buditexindo, Asahi Mas, Chandra Asri,
Siemens, Polypet, Tripolita, Indah Kiat, dll, dipimpin oleh Uskup
Bogor Mgr. Michael Angkur OFM didampingi oleh Pastor Paroki Kristus
Raja R.D. Jimmy Rampengan, R.D. Ignatius Besembun, Fr. Diakon
Gabriel dari Salib CSE. Perayaan Ekaristi tersebut dimeriahkan oleh
beberapa tari daerah. Melalui tarian tersebut, mereka mau
menunjukkan tempat asal mereka yang berbeda-beda, namun disatukan
paguyuban para pekerja pabrik.
Dalam homilinya, Bapa
Uskup kembali menekankan pentingnya persaudaraan dalam hidup mereka.
Pentingnya persaudaraan semakin dirasakan manakala mereka berhadapan
dengan berbagai tantangan, terutama tantangan dalam beriman. Karena
itu, Bapa Uskup menghimbau para pekerja tersebut untuk berkumpul
secara rutin agar dapat saling meneguhkan dalam iman, pengharapan
dan kasih, yang pada akhirnya mewujudkan kesejahteraan bersama baik
secara jasmani maupun rohani.
Perayaan Ekaristi
dilanjutkan dengan santap siang dan perayaan Paskah bersama yang
dimotori oleh rekan-rekan pekerja yang tergabung dalam komunitas
Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor). Mereka mengajak umat yang
hadir untuk menari berbagai tarian daerah, antara lain: tari
Tor-tor, Poco-poco, Rokatenda, Jai. Acara berlangsung meriah dan
banyak umat yang terkesan dengan kegiatan ini. Walaupun jumlah umat
yang hadir jauh dari perkiraan, namun persaudaraan di antara para
pekerja pabrik yang berada di daerah timur (Serang-Cikande) dan
barat (Cilegon-Merak-Anyer) mulai bertumbuh.
* * *
|