Home  
 

MINGGU PANGGILAN DI GEREJA KATEDRAL BOGOR

 

"Gereja Katolik membutuhkan banyak kaum muda yang terpanggil untuk menjalani panggilan hidupnya untuk hidup membiara baik untuk menjadi Imam, Bruder maupun menjadi Suster. Karena kehadiran mereka banyak membantu penyebaran Kabar Gembira. Mari dalam Perayaan Ekaristi ini kita berdoa agar Tuhan mengirim rahmat panggilanNya kepada kita terutama kepada kaum muda, sehingga pelayanan kasih dan pewartaan kabar gembira dapat terlaksana seperti yang diharapkan. ".

Demikian kata-kata pembukaan yang disampaikan oleh Romo Benyamin Sudarto, Pr dalam Perayaan Ekaristi Minggu Panggilan yang tahun ini berlangsung pada hari Minggu Paskah ke IV tanggal 28 April 2007.

Memang sungguh berbeda dari hari Minggu biasanya. Beberapa keistimewaan nampak dalam Perayaan Ekaristi tersebut. Diantaranya, Perayaan Ekaristi dimulai dengan perarakan anak-anak yang memakai aneka pakaian biara. Ada yang berpakaian seperti pakaian Uskup, pakaian Bruder maupun pakaian Suster. Pakaian-pakaian biarawan/biarawati yang mereka kenakan secara tidak langsung ingin menyampaikan kepada umat yang hadir, bahwa di Keuskupan Bogor ini ada banyak Konggregasi/Ordo para biarawan/biarawati seperti pakaian yang mereka kenakan.

Umat yang hadir nampak tertegun melihat perarakan anak-anak ini yang berjalan dalam perarakan dengan khidmat bagai Rohaniwan, Biarawan dan Biarawati sungguhan.

Sedangkan keistimewaan lain adalah Koor. Jika selama ini umat Katedral jarang atau tak pernah melihat koor Biarawan dan Biarawati, maka pada minggu panggilan tersebut, para biarawan/biarawati yang ada di Paroki menggabungkan diri dengan bernyanyi bersama dalam Koor Gabungan Biarawan ( Frater, Bruder ) dan Biarawati (Suster).

Aneka lagu yang dinyanyikan dalam Perayaan Ekaristi yang dinyanyikan oleh Koor gabungan Biarawan dan Biarawati yang ada di Paroki Katedral ini begitu indah , syahdu dan bersemangat panggilan. Sehingga umatpun terpesona dan terbantu dalam penghayatan akan pentingnya panggilan hidup membiara.

Dalam Khotbahnya, Romo Ben (panggilan akrab dari Romo Benyamin Sudarto, Pr), mengatakan kehadiran koor Gabungan Biarawan dan Biarawati ini, merupakan suatu kesaksian hidup panggilan, terutama bagi kaum muda. "Wah, koor ini mengingat kan kita pada Sister Act ", canda Romo Ben dalam Khotbahnya.

Menurut Romo Benyamin Sudarto, Pr, sudah selama 44 tahun Gereja katolik mengadakan Minggu Panggilan. Hal ini dilakukan karena kesadaran akan panggilan hidup membiara semakin berkurang. Berdasarkan pengamatan banyak kaum muda kurang mengerti tentang Hidup Membiara. Hal ini menjadi salah satu sebab mulai berkurangnya minat kaum muda untuk hidup membiara. Gereja Katolik selalu berupaya untuk menggalak kan semangat hidup membiara dengan diadakannya Minggu panggilan.
Tentu saja panggilan hidup seseorang tidak datang dengan sendirinya. Tapi
panggilan hidup membiara selalu terjadi karena adanya campur tangan dan rahmat Allah.

Romo Benyamin Sudarto Pr, mengajak umat yang hadir untuk selalu berdoa agar benih-benih panggilan hidup membiara banyak tumbuh dalam diri putra/putri Katolik. Romo Benyamin, Pr pun menghimbau agar para orang tua tidak menghalangi putra/putri jika ingin menjawab panggilan hidupnya untuk menjadi Romo, Bruder maupun Suster.

Benih-benih panggilan harus dipupuk didalam keluarga sejak dini. Peranan orangtua amat penting dalam perkembangan iman anak. Dengan demikian kelak jika mereka dewasa, dapat mengambil bagian dalam pewartaan Kabar Gembira melalui hidup membiara baik sebagai Romo, Bruder maupun Suster.

Perayaan Ekaristi yang berlangsung dengan khidmat ini membawa banyak kesan indah dan mendalam bagi umat yang hadir, setidaknya bagi umat yang belum banyak mengerti akan panggilan hidup membiara.
Semoga Minggu Panggilan di tanggal 28 April 2007 yang lalu ini, membawa hasil
yang baik bagi panggilan hidup membiara di Keuskupan Bogor. (Willy Adams)

* * *

Home

   

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor