|
MARIA SEBAGAI
MODEL HIDUP
(Luk 1, 26-28; Vita Consecrata 28)
Oleh : RD. Yohanes Driyanto
Model hidup
Sebagai manusia, Maria tentu saja pernah lahir,
hidup, berkembang, dan akhirnya meninggal. Proses kehidupan di dunia
dialami dan dijalaninya seperti umumnya manusia biasa. Ia pasti
pernah menjadi anak-anak yang berpikir, bersikap, dan bertindak
seperti anak-anak. Pasti pula ia pernah belajar memilih, menilai,
dan memutuskan berbagai hal mengenai hidupnya. Akhirnya, terutama
setelah dewasa ia pasti juga mengalami perjuangan dalam menghidupi
pilihan dan keputusannya dalam hidup hingga meninggalnya. Seperti
manusia pada umumnya ia menghidupi semuanya itu dalam lingkungan
kehidupan keluarga, kalangan orang beriman, dan masyarakat umum yang
konkrit.
Secara
sepintas tidak tampak ada yang istimewa dalam kehidupan Maria. Ia
seorang perempuan. Ia bertunangan dan menikah dengan seorang
laki-laki. Ia membina hidup berkeluarga dan melahirkan anak. Ia
seorang ibu. Ia bergaul dengan saudara-saudarinya. Ia hidup
bertetangga seperti biasa. Agaknya ia tidak begitu dikenal oleh
orang-orang di sekitarnya. Ia pasti tidak populer dalam
lingkungannya. Jelas-jelas ia tidak berjabatan tinggi. Ia bukan
orang kaya walaupun ia tidak juga berkekurangan. Ia tampak tidak
menonjol dalam bakat-bakatnya. Ia bukan seorang pahlawan sepert
dibayangkan oleh umumnya orang.
Hanya satu yang
membedakan dia dari orang pada umumnya. Hal itu bukan terutama
karena ia pernah melahirkan Yesus, menyusuiNya, mengasuhNya, atau
sejenisnya (bdk. Lk 11, 27-28). Ia menjalani semua yang biasa dan
sederhana itu dengan cara yang luar biasa dan tidak sederhana. Ia
menjalani semua itu sebagai ungkapan nyata dari imannya. Sekali ia
berkata ya kepada kehendak Allah, ia memperjuangkannya untuk
tetap setia sampai akhir hidupnya. Ya yang diucapkan melalui
mulutnya diyakini sepenuhnya dalam hati dan diwujudkan dalam sikap
serta tindakan nyata sehari-hari.
Ya
terhadap Allah
Ya
yang pertama lahir atau muncul dari keadannya yang nyata. Ia seorang
gadis yang sudah bertunangan dengan laki-laki yang dicintainya.
Sebagai perempuan muda yang mendekati perkawinan, ia telah
membayangkan apa yang akan dialami tidak lama lagi. Ia akan menjadi
seorang istri. Ia akan segera menjadi ibu. Bersama Yosef ia akan
mempunyai rumah sendiri. Ia akan mengatur rumah-tangga sememntara
suaminya bekerja sebagai tukang kayu. Bersamanya ia akan tinggal di
rumah yang tenang dan damai, rukun dengan tetangga, bergaul dengan
semua saja seperti orang pada umumnya. Sebagai ibu pastilah ia ingin
membina anaknya agar kelak menjadi kebanggaan orangtua dan bangsanya.
Tidak
terduga, Malaekat datang kepadanya. Malaekat itu memberitakan bahwa
ia akan mengandung. Anak yang akan dikandungnya adalah Yesus yang
akan disebut Anak Allah Yang Maha Tingi (Lk 1, 31-32). Dengan warta
itu sontak semua bayangan dan harapan menjadi buyar. Bahkan, rencana
perkawinan itu pun tampak terancam. Yang jelas tampak di pelupuk
mata adalah bayangan bagaimana reaksi tunangannya apabila mendengar
semua itu. Lebih dari itu, ia pilu dengan kata-kata para tetangga
bila sampai perkawinan tidak jadi. Belum lagi, ia memikirkan
bagaimana mengandung, melahirkan, dan membina Putera Allah Yang Maha
Tinggi.
Dalam
kekalutan dan ketakutannya ia berkata ya terhadap kehendak
Allah. Ia berujar dengan gemetar, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lk 1, 28). Ia percaya.
Dalam hati ia seolah berkata: Tuhan menghendaki, pasti Ia memberikan
segala yang perlu agar kehendakNya terjadi. Tuhan yang berprakarsa,
pasti Ia mencurahkan kekuatan yang cukup untuk menahan segala resiko
yang munyertai. Tuhan yang memulai, Ia juga yang akan menyelesaikan.
Maria menyerahkan diri: segenap pikiran, segenap hati, segenap
kekuatannya, agar lewat dia kehendak Allah terjadi.
Ya
terhadap sesama
Ketika yakin bahwa dirinya dipercaya Allah, Maria melangkah kepada
sesama. Ia berkata ya terhadap orang lain. Baginya, menerima
sesama bukan lagi sebagai pilihan tetapi keharusan. Sesama adalah
orang lain. Karena itu, mereka pasti berbeda. Mereka tidak hanya
berbeda rupa dan wajahnya tetapi berbeda pula cara berpikirnya, cara
bersikapnya, dan cara bertindaknya. Dalam kehidupan, pastilah ia
mempunyai pengalaman yang juga tidak sama. Terlepas dari semua
perbedaan itu, orang lain tetaplah sesamanya.
Sebagai orang yang bangga atas dirinya, Maria berprakarsa, berangkat,
dan pergi menemui Elisabeth. Ia berkunjung. Ia datang untuk
membagikan pengalaman akan kegembiraan dan sekaligus mendapatkan
pengalaman kegembiraan sesamanya. Ia dan Elisabeth saling bertemu
dan saling memuji. Ia datang memberi salam dan Elisabeth
menyambutnya dengan berseru, “Diberkatilah engkau … “ (Lk 1, 40-45).
Selanjutnya Maria pun bernyanyi dengan magnificat-nya (Lk
46-55).
Kira-kira tiga bulan Maria tinggal di rumah Elisabeth. Ia tidak
kuatir atau takut bahwa ia akan menjadi beban bagi sesamanya. Ia
tidak bermaksud sama sekali untuk mencari enak di situ. Ia tahu apa
yang dibutuhkan Elisabeth. Ia mengerti apa yang diperlukan seorang
yang berusia lanjut dan mengandung tua. Ia memahami apa yang
diinginkan pasangan yang sudah berumur dalam kehidupan keluarga.
Tanpa diberitahu dan tanpa diminta Maria melakukan semua itu dengan
tulus dan suka-rela. Tanpa mencari-cari atau mengada-ada, ia
melakukan apa yang ia bisa. Ia memberikan hanya apa yang dimilikinya.
Ya
terhadap Yesus
Setelah ya terhadap Allah dan ya terhadap sesama,
tibalah Maria untuk berkata ya terhadap Yesus. Ia mengandung,
melahirkan, mengasuh kanak-kanak Yesus, dan akhirnya melepaskan
Yesus pada waktunya. Karena Yesus adalah seorang pribadi, Maria
dituntut untuk senantiasa hadir, berpikir, bersikap, dan bertindak
sesuai dengan perkembanganNya dari waktu ke waktu. Semenjak dalam
kandungan, Maria harus merawatNya dengan hati-hati dan seksama
hingga kelak dapat lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat.
Tidak
terduga, Yesus lahir di tempat dan pada waktu yang tidak biasa. Ia
tidak lahir di rumah sendiri. Ia lahir sewaktu Maria dalam
perjalanan (Lk 2, 1-6). Tidak terduga juga bahwa dalam masa
kanak-kanakNya Yesus telah dimusuhi negara. Terjadi waktu itu semua
bayi di daerah itu dicari dan dibunuh. Dalam keadaan tak menentu
Maria bersama suaminya harus pergi mengungsi ke tempat yang aman (Mt
2, 13-18). Setelah akhirnya kembali ke tempat mereka semula,
lagi-lagi Yesus melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dapat
dimengerti. Ia sengaja melepaskan diri dari orangtuaNya dan tinggal
di Yerusalem. Setelah tiga hari dicari dan ditemukan, Ia justru
mengatakan sesuatu yang asing di telinga kedua orangtuanya, “Mengapa
kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku harus …” (Lk 2, 49).
Ya
terhadap Yesus, adalah kesediaan untuk menyesuaikan diri terhadap
seorang pribadi yang berkembang; penuh kejutan, tidak terduga, tidak
masuk-akal, misteri. Disebut Putera Allah yang MahaTinggi tetapi
lahir di kandang domba (Lk 2, 6). Masih bayi telah dimusuhi oleh
para petinggi (Mt 2, 16-18). Masih kanak-kanak tetapi bertanya-jawab
dengan para penatua (Lk 2, 46). Telah membuat orangtua kuatir dan
kelelahan tetapi merasa seolah tidak bersalah (Lk 48-50). Belum
dewasa dalam usia tetapi ingin bebas melakukan segalanya sendiri.
Setelah dewasa, Ia pergi, berkata-kata, bersikap, dan bertindak
seolah-olah tidak peduli kepada orangtua yang membesarkanNya selama
ini. Akhirnya, Ia membiarkan khususnya Maria untuk menyaksikan
diriNya mati secara keji (Yoh 19, 25).
Ya
terhadap Hukum
Sebagai anggota masyarakat dan orang beriman, Maria menyatakan ya
terhadap hukum. Kalaupun ia tahu bahwa kebanyakan orang tidak
menyikapi dan menjalankan hukum dengan benar, ia tidak membiarkan
diri untuk bersikap dan berlaku sama dengan mereka. Ia tidak menolak
atau menyalahkan hukum sebagai pengatur hidup bersama. Sikap dan
praktek hukum yang tercela oleh kebanyakan orang Farisi dan Ahli
Taurat tidak membuatnya lari atau menghindarinya. Sebaliknya, ia
taat.
Bersama Yosef ia
melaksanakan perintah sipil untuk pergi medaftarkan diri di kotanya
dalam sensus penduduk (Lk 2, 1-4). Ia melakukan apa yang
diperintahkan Taurat Musa dengan menyunatkan dan mempersembahkan
Yesus di Bait Allah (Lk 2, 21-24). Ia menjalani tradisi nenek moyang
untuk setiap tahun berziarah ke Yerusalem merayakan Paskah (Lk 2,
41-42). Pada hari Sabat ia pergi ke Bait Allah untuk beribadat.
Selain ia sendiri memasuki tahapan berkeluarga lewat pertunangan
sebagaimana norma mengaturnya (Lk 1, 26-27), ia juga melakukan
kebiasaan untuk hadir dalam pesta perkawinan (Yoh 2, 1-11).
Barangkali Maria tidak
dapat menerangkan dengan tepat, tetapi rupanya ia sungguh mengerti
hakikat, fungsi, dan peran hukum dalam hidup bersama khususnya.
Sikap dan tindakannya menunjukkan bahwa ia tidak merasa perlu
membenturkan hukum dengan kebebasan pribadinya. Ia juga tidak
mempertentangkan hukum pemerintahan dengan hukum dan tradisi
keagamaannya. Baginya, hukum adalah sarana menciptakan ketertiban
dan keteraturan hingga setiap orang dapat lebih mudah berkembang
dalam pribadi dan penghayatan iman.
Ya
terhadap Penderitaan
Tiada
kehidupan tanpa penderitaan. Tidak perlu dicari, penderitaan sudah
selalu ada dan menyatu dalam manusia dan hidupnya. Itulah kenyataan
yang jelas dan pasti. Dari saat kelahiran, orang sudah harus
mengalami diri ditarik keluar dari rasa aman, damai, tenang, dan
terlindung. Saat itu ditandai dengan susah-payah, sakit, dan
mengalirnya darah (bdk. Kej 3, 16). Setelah dapat menggunakan
akal-budi, manusia itu akan mengalami perbenturan atau konflik
terus-menerus antara keinginan dan kenyataan.
Dalam diri sendiri
tidak terhindarkan terjadinya pertentangan antar-keinginan yang
kemunculannya bersifat spontan dan tak beraturan. Dalam kebersamaan
dengan orang lain, kebebasan pribadi hampir selalu beradu dengan
kebebasan sesama. Berada di tengah alam, setiap saat manusia
dikelilingi penyakit, bencana, kecelakaan yang seperti singa mengaum
mencari mangsa. Berhadapan dengan Tuhan, manusia diliputi kuasa yang
terhadapnya ia sama sekali tidak berdaya. Semakin tegas memilih yang
baik, benar, dan indah, manusia itu semakin keras bermusuhan,
bertentangan, dan menyatakan perang dengan yang buruk, salah, dan
jelek. Akhrnya, manusia itu harus melepaskan segalanya di dunia ini
alias mati.
Terhadap semua itu,
Maria berkata ya. Ia menerima dan menjalani semua itu sebagai
bagian dari hidup dan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ia
tidak pernah menganggap diri sebagai kurban dari semua itu.
Ia tidak membiarkan diri lumpuh atau hancur oleh ingatan masa silam
yang kelam, bayangan masa depan yang suram, dan kenyataan sekarang
yang tidak menyenangkan. Ia gelisah tetapi tidak menyerah. Ia takut
tetapi tidak menjadi kecut. Ia ragu dan bimbang tetapi tidak
membiarkan diri mengambang tanpa keputusan. Ia sepenuhnya menyadari
bahwa yang dijanjikan Tuhan adalah kebahagiaan kekal di surga. Ia
mengerti bahwa di dunia ini adalah kesempatan untuk menjalani misi
atau tugas sementara sebagai persiapan memasuki kehidupan Allah yang
kekal nanti.
Bogor 27 April
2007
|