Home  
 

Jadilah Manusia Konsisten

Oleh : Segu Irianto

 

            Bunda Maria sebagai sosok teladan kita, mempunyai tugas yang berat dan selalu kosisten walau penderitaan harus ikut tertelan dalam hidupnya. Tindakan Bunda Maria yang begitu berkenan bagi Allah, membuahkan keteladanan yang menjadi kunci untuk kosisten pada perintah Allah. Banyak tindakan Bunda Maria yang dapat kita contoh seperti :

1.   “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Hal ini menunjukkan sebuah kepasrahan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan yang telah menjadi kehendak-Nya tanpa mengeluh.

2.   “Nak mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapak dan ibumu dengan cemas mencari Engkau, jawab Yesus mengapa kamu mencari aku tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada dalam rumah BapaKu?” (Luk 2:48-49). Hal ini menunjukkan cinta seorang ibu (Maria) membentuk kesabaran walau harus menerima  perkataan dan perbuatan kasar dari anaknya (Yesus)  yang menyakitkan tetapi ia tetap konsisten.

3.   “Apa yang dikatakan kepadaMu buatlah itu” (Yoh 2:5). Hal ini menunjukkan kepercayaan akan segala yang diperbuat oleh Allah, dan Bunda Maria tidak takut sebab ia yakin bahwa ia tidak berjalan sendirian.

4.   “Ibu inilah anakmu” (Yoh 19:26). Di saat Yesus disalibkan, Maria menunjukkan kesetiaanya dalam suka maupun duka.

            Penghormatan kepada Bunda Maria begitu tinggi oleh semua orang karena tindakannya dan perantaraanya kepada Bapa di surga telah menjadi momen penting untuk selalu dijadikan teladan,  bahkan meminta pertolongan kepada Allah melalui Devosinya. Namun kenyataannya manusia tetaplah manusia yang dalam hitungan detikpun hatinya bisa saja berubah. Sebuah kekonsistenan akan tugas, cinta, kepercayaan, dan kesetiaan dijual dengan murah tanpa muncul perasaan bersalah. Hidup dapat dibangun melalui keteladanan Maria begitu juga dengan gereja baik untuk kaum awam maupun kaum rohaniwan atau biarawan/ti.

            Bila kita melihat pada zaman ini, awam seakan-akan terbagi menjadi dua, yaitu awam yang aktif dan awam yang pasif. Awam yang aktif mencoba konsisten pada perintah gereja untuk membantu rohaniwan dan biarawan/ti. Namun yang disayangkan  adalah sikap umat yang terlalu konsisten terkadang berlebihan dimana banyak dari mereka (rohaniwan dan biarawan/ti ) dimanjakan sehingga mereka lupa akan tugasnya. Selain itu, awam yang pasif dapat terbagi dua yaitu awam yang pasif namun sering ke gereja dan awam yang pasif namun ke gerejanya pada saat tertentu saja. Kita sebagai manusia yang telah memilih sebuah pilihan hendaknya kita bertanggungjawab  dengan apa yang telah kita pilih sebagi bentuk kekonsistenan kita. Walau sering ke gereja, setidaknya kita mempunyai partisipasi demi kemajuan Gereja itu sendiri dan mereka yang ke gereja pada saat tertentu saja kepada siapakah hati anda berikan? Dan dimana? Sebab masih perlu dipertanyakan ketika seorang Kristen (Katolik) ke gereja yang terkadang sebatas ritual atau pemenuhan kewajiban akan KTP.

            Dilain pihak, kekonsistenan seorang rohaniwan atau biarawan/ti perlu diperhatikan karena sering dimanjakan bahkan digembalakan oleh umat yang berdampak dengan pelayanannya yang suka memilih-milih. Sebagai seorang rohaniwan atau biarawan/ti  sebaiknya lebih konsisten dengan tugas yang ada, perbaharuilah diri dengan perkembangan zaman, jangan berpikir untuk hal yang hanya menguntungkan diri sendiri. Saya terkesan dengan perkataan direktur pendidikan saya (RD. Driyanto) yaitu kerjakanlah yang terbaik akan tugas anda perkara akan hal lainnya yang tidak ada kaitannya dengan hal tersebut buang dan itu hanya nomor sekian sebab Allah tidak akan membiarkan gembala-Nya berjalan sendirian.

            Awam dan rohaniwan atau biarawan/ti merupakan pondasi dasar untuk pembangunan gereja baik moril atau fisik. Dimana semua itu dapat dilakukan dengan  kooperasi yang konsisten yang saling memberi pengkoreksian antara umat dan rohaniwan atau biarawan/ti. Selain itu perlu adanya consensus antara mereka mengenai  batas-batas dalam memainkan peran agar kekonsistenan itu dapat dilakukan sehingga tidak berlebihan atau munculnya  penyimpangan. Hal ini untuk menciptakan tujuan  Gereja yang menjadi dasar pengabdian kepada Allah.

 

Sesuatu yang menjadi tanggung jawab sebagai bentuk kekonsistenan hidup adalah sebuah peluang besar bagaimana tanggung jawab itu menjadi keberhasilan sebuah kepercayaan orang lain kepada kita.

* * *

 

Home

   

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor