|
TAMASYA DI TAMAN TUHAN
(3)
KEHENINGAN DAN KEHIDUPAN
Oleh : B. Dwita,
OSC
Apakah
keheningan dan berdiam diri unnatural ?
Untuk segala sesuatu ada masanya,
Untuk apapun dibawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal,
....
Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam,
....
Ada waktu untuk diam, ada waktu untuk berbicara.
Ungkapan-ungkapan di atas merupakan sebagian kutipan
dari kitab Pengkhotbah bab 3:115.
Rangkaian kata berpasang-pasangan yang sederhana menjadi suatu
ungkapan yang
cantik. Masing-masing ada pasangannya. Seperti wanita
dan pria, terang dan gelap. Menarik
di sini bahwa bicara dan diam menjadi suatu pasangan
(lihat
ayat 7). Diam tidak dipertentangkan
dengan bicara. Diam dalam arti hening tidak bicara dan tidak
melakukan aktivitas merupakan hal yang bersifat natural -
bagian
dari kehidupan - .
Memang keheningan itu bila dihadapkan pada
kecenderungan masyarakat modern saat ini
yang hingar-bingar akan tampak asing, aneh dan
menakutkan. Demikian juga berdiam diri;
tentunya menjadi sesuatu yang berada jauh diluar
dunia masyarakat yang lebih mengedepankan sesuatu yang bersifat
menghasilkan, menguntungkan dan berguna. Tetapi apa yang
tampak tidak biasa dan sia-sia, bukan berarti itu
tidak wajar.
Kalau ternyata keheningan
dan berdiam diri merupakan bagian dari kehidupan dan
perlu bagi hidup rohani kita; maka
hal keheningan dan diam diri yang belum biasa bagi
kita, mesti kita usahakan dan perlu
dilatih terus-menerus. Keduanya bukanlah tujuan,
melainkan sarana yang perlu bagi jiwa
untuk pertama dan utama bertemu dengan Allah.
Memang ada keheningan dan berdiam diri dalam bentuk
negatif. Misalnya: dua orang tinggal dalam satu rumah namun tidak
bertegur sapa karena perseteruan. Ada keheningan
dan diam diri bernilai positif namun tidak bermuatkan
sesuatu yang rohani. Misalnya: seseorang
yang membaca novel yang baik tentunya, seseorang yang sedang
menikmati alam
atau dua orang yang sedang bermain catur. Ada pula
keheningan dan diam diri dalam
bentuk meditasi namun bukan sebagai sarana untuk
semata-mata mengalami perjumpaan
dengan Allah; yakni suatu bentuk meditasi bagi
penyembuhan diri. Dari jurnal-jurnal
kesehatan kita bisa mendapat laporan tentang
bukti-bukti adanya daya penyembuhan secara lahir maupun batin
melalui meditasi
(dalam keheningan
dan diam diri). Metode AMR - Awareness Meditation Relaxation
- yang pernah kami (para suster
Claris) praktekkan bersama-sama dibawah bimbingan P. Alfon
Suhardi, OFM membuktikan
bahwa dalam keheningan, diam diri dan kesadaran penuh
disana terjadi daya-daya penyembuhan serta menghantar orang kepada
keutuhan.
Hening bagi
Allah
Memang seakan-akan Allah memerlukan keheningan dan
diam diri dari pihak manusia dalam menyapa;
seakan
Allah membutuhkan ruang kosong dalam diri kita untuk dapat mengisi
jiwa-roh kita dengan sesuatu yang berasal dari padaNya. Mengapa?
Karena:
1. Allah
bukanlah pribadi yang suka memaksakan sesuatu pada kita, Allah tidak
mau menyerobot masuk ke dalam diri kita, Allah memberi kebebasan
kepada kita.
2. Allah
pada hakikatnya adalah Roh; maka kehadiranNya, sentuhan kasihNya
juga sapaan kasihNya sesuai dengan hakikatNya yang adalah Roh. Kalau
Allah adalah Roh tentulah kehadiranNya, sentuhaan dan sapaanNya
hanya dapat dialami secara rohani-batiniah. Jalan
menuju kepada pengalaman akan kehadiran Allah, sentuhan dan
sapaanNya pertama-tama
melalui keheningan.
Maka perlulah kita mengusahakan serta memelihara
adanya keheningan dalam diri kita.
Perlulah kita tetap memberi tempat adanya ruang
kosong bagi Allah. Keheningan dan ruang
kosong jiwa kita yang tersedia bagi Allah merupakan hadiah yang
berharga bagi Allah. Jikalau kita telah mengkondisikan dalam diri
kita adanya kesunyian lahir-batin dan ruang
kosong bagi Allah, tentu akan dapat lebih siap untuk
menerima kehadiran Allah, lebih peka mendengarkan suara Allah
ditengah-tengah kesibukan kita. Kalau kita membawa keheningan
kemanapun kita pergi, kita akan lebih peka akan kehadiran Allah
setiap saat di sekitar
kita, hingga kita juga dapat memberi makna pada kehidupan. Menurut
bahasa Ilmu Pengetahuan sekarang, ini merupakan salah satu ciri dari
Spiritual Intelligent
(SI). Dari catatan
jurnal kesehatan oleh pakar neurologi dikatakan SI ada dalam bagian
kemampuan otak kita. Jadi Tuhan
pada dasarnya telah mengaruniakan kemampuan SI dalam
diri kita. Ini
dimulai dengan keheningan.
Hening dan diam diri Tuhan Yesus
Dari para pengarang Injil, kita mengetahui bahwa
Tuhan Yesus Kristus sewaktu berada di dunia ini, juga
berdoa. la pergi seorang diri ke
tempat sunyi untuk berdoa, menjalin relasi
kasih yang akrab
dengan BapaNya di Surga. Baca : Mateus 14:22-23; Markus 1:35 dan
6:46; Lukas 5:16 dan 6:12.
Sikap hening Tuhan sewaktu menjalin relasi kasih
dengan BapaNya, dibawa ke dalam
hidup dan karya pelayananNya.
Sikap hening yang nampak dalam ketenangan dan
kelemahlembutan, terpancar terus-menerus di tengah-tengah kesibukan
karyaNya. Sikap
hening tampak dalam pribadi Yesus yang menguasai
keadaan dan sungguh sadar akan situasi dan masalah yang ada
dihadapanNya. Tuhan tahu dengan tepat kapan saat harus diam
diri, kapan harus berbicara bahkan kapan harus menegur dengan keras.
Ambilah contoh peristiwa yang hanya dilukiskan dalam
Injil Yoh, 8:2-11 tentang perempuan
yang kedapatan berdosa zinah. Ini memberi gambaran kepada kita sikap
hening-diam-tenang-menguasai
keadaan dan sungguh sadar yang ada dalam pribadi Tuhan.
Dalam ayat 4-6 diceritakan: Tuhan
diam dihadapan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menuduh
perempuan itu. Tuhan membungkuk lalu menulis dengan jariNya di tanah.
Sebuah tindakkan yang menimbulkan pertanyaan. Tuhan tidak segera
melayani pertanyaan para penanya; mengapa? la sudah tahu maksud
mereka untuk mencobai Dia? Tentu!
Dosa zinah tentu dilakukan dua orang! Mana pasangannya?
Pertanyaannyapun
mengandung dua pilihan, jawaban Boleh atau Tidak! Keduanya akan
memasukkan Yesus dalam perangkap mereka. Bila boleh berarti
melawan ajaran cinta kasihNya; bila tidak, melanggar
hukum Musa. la menulis; apa yang ditulis? Tidak adakah seorangpun
berani mendekat,
setidaknya untuk membaca yang ditulis? Berapa lama waktu yang
dihabiskan Tuhan saat diam hening itu? Lima menit? Sepuluh
menit?
Dalam keributan
desakan banyak orang, Tuhan mengundurkan diri sejenak secara rohani
dalam kesunyian! Mungkin ia
memberi waktu bagi para penuduh untuk merenung, berefleksi dan
menilai diri mereka sendiri. Setelah sunyi sesaat la berdiri.
DitatapNya dengan pancaran mata lembut namun tajam, satu persatu.
DipecahkanNya kesunyian dengan perintah singkat: "Barang
siapa diantara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melemparkan
batu". Kesunyian kembali hadir. Tuhan semula didesak banyak orang
dengan pertanyaan dalam keributan; kini menuntut dan mendesak
mereka untuk sekali lagi berefleksi
dalam keheningan. Hasilnya
... luar biasa!
Tuhan berbicara ke
dalam hati mereka. Suatu kata-sabda yang keluar dari Tuhan, keluar
dari pribadi yang hening dan sungguh menguasai diri. Bagi Tuhan
Yesus diam dan bicara hal yang
tak terpisahkan. Diam berarti mendengarkan suara BapaNya. "Aku
berbicara tentang hal-hal sebagaimana diajarkan Bapa
kepadaKu" (Yoh 8:28). "Dialah yang
memerintahkan Aku untuk
mengatakan apa yang harus Aku katakan " (Yoh
12:49).
Ketika Tuhan Yesus hidup dalam sejarah manusia, la
melaksanakan keseimbangan antara berdiam diri dengan berbicara
secara sempurna. Tuhan Yesus dapat mengisi setiap perkataan
dengan kebenaran dan kebijaksanaan; itu terlahir dari kesunyian.
Kita dapat belajar dari Tuhan Yesus dalam hal ini.
Tentu ini menuntut usaha terus-menerus.
Suatu perjuangan disepanjang perjalanan hidup kita, seraya memohon
bimbinganNya. Jelas, diam bukan
hanya suatu keutamaan monastik, tetapi merupakan sikap orang
Kristen.
Pertanyaan
untuk direnungkan.
1.
Sejauh mana saya dalam
kenyataan
menghayati nilai keheningan?
2.
Apakah saya sungguh mencintai keheningan?
3.
Pengalaman apa yang dapat saya petik dari keheningan?
* * *
|