Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Januari-Maret 2008
 

Pelayanan dan Berbagi Kebenaran Melalui Media


Oleh : RD. Jimmy J. Rampengan



Perkembangan dunia sangat cepat terutama dalam bidang media. Hampir setiap hari kita temukan perubahan dan penemuan dalam media entah itu media cetak, elektronik dan telekomunikasi. Banyak pengaruh yang ditumbuhkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak negatif maupun positif yang telah dirasakan dalam hidup masyarakat modern. Namun di atas itu semua perlu dibanggakan bahwa pengetahuan manusia berkembang sangat cepat sehingga sesuatu yang di luar jangkauan manusia menjadi mungkin dengan diketemukan alat-alat mutakhir. Perkembangan ilmu pengetahuan membuka peluang bagi manusia untuk terus dituntun dan tidak puas akan sesuatu penyelidikan dan penelitian. Alhasil ditemukan dan di luar dugaan manusia alat-alat dan teknologi menjadi awal pembudayaan modernisasi saat ini.

Salah satu yang meledak dan menggilas semua kebutuhan adalah perkembangan media yang membuat kemudahan dan keuntungan manusia, misalnya penggunaan media telekomunikasi yang kita sebut HP (handphone). Hampir setiap orang mempunyai media ini dengan berbagai merek dan vendor. Dan media ini membuat manusia dapat dengan mudah berkomunikasi kapan saja, ke mana saja, dan kepada siapa saja yang banyak mengandung resiko dan konsekuensi. Dengan harga yang terjangkau dan pilihan yang modis setiap orang bisa menggantinya. Sayangnya kita hanya bisa mengkonsumsinya saja dan menjadi sasaran empuk bagi para kapitalis media ini. Namun sekali lagi media ini membuat perubahan besar bagi manusia baik terhadap gaya maupun cara hidup. Orang modern sekarang ini selalu didampingi oleh media ini. Hari-hari tanpa HP rasanya dunia ini sepi. Sehingga bisa dikatakan hidup kedua dari manusia ditentukan dan tergantung dari HP. Semua segi dijembatani dan dimotori oleh media HP sebagai sektor pelayanan kepada dunia.
Apabila kita membiarkan pengaruh media HP terus masuk dan menguasai hidup kita, maka akan menumbuhkan suatu persoalan yang besar bagi segmen hidup manusia. Manusia menjadi bulan-bulanan perkembangan media.
Paus Benediktus XVI mencermati hal ini. Pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-42 (tanggal 4 Mei 2008) beliau menyampaikan pesan: “... betapa penting peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah saya tandaskan dalam pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggung jawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5)”.
Melihat dan mencermati pesan Paus Benediktus XVI kita harus meluruskan secara bertanggung jawab perkembangan teknologi yang melanda hidup manusia. Jangan sampai perkembangan media menyeret manusia pada suatu penguasaan dan membawa manusia menjadi obyek materiil dan efek yang memaksakan model kehidupan yang menyimpang.

Menghadapi perkembangan media yang begitu cepat dan begitu canggih, perlu sekali penguasaan iptek media dan informatika. Apabila kita dapat menguasainya dengan baik, maka alat media ini membantu kita dalam karya dan tugas kerasulan di bidang pewartaan. Dengan kata lain, kerasulan media saat ini menjadi wahana yang paling canggih dalam membantu gereja membawa keselamatan kepada manusia. Berbagai macam media seperti pers, film, radio, televisi, komputer, dan alat-alat lain sejenisnya merupakan penemuan teknologi yang menakjubkan dewasa ini. Multi media itu mentransfer dan mengkomunikasikan tanpa batas berita, gagasan, informasi dengan kecepatan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Maka karya kerasulan komunikasi sosial dalam Gereja sangat dibutuhkan bagi perkembangan Gereja di zaman ini. Gereja hendaknya akrab dengan budaya informatika seperti faximile, internet, sms, chatting, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat luas.
Namun Gereja juga harus bisa membentengi diri dan menyaring media canggih ini. Sebab sisi keuntungannya adalah membantu Gereja, tapi sisi kerugiannya membuat moral, etika, estetika dalam kehidupan terancam hancur. Gereja mengeluarkan dokumen resmi mengenai kerasulan di bidang komunikasi sosial: Dekrit Vatikan II Inter Mirifica (4 Desember 1963) yang menetapkan landasan-landasan ideal dan hukumnya, sedangkan Konstitusi Pastoral Communicatio et Progressio (23 Mei 1971) berisi petunjuk pelaksanannya. Kedua dokumen ini bisa menjadi landasan pemikiran dalam mengatur penggunaan media yang canggih. Masalahnya apakah kedua dokumen ini cukup disosialisasikan atau dimengerti di kalangan umat dalam Gereja.

Ekspansi dalam teknologi memang sedang terus berlangsung, terutama dalam teknologi komunikasi nirkabel generasi ke-4 setelah teknologi Wimax (World Interoperability for Microwave Access) kemudian disusul LTE (Long Term Evolution) yang merupakan kelanjutan teknologi GSM, selain masih ada UMB (Ultra Mobile Broadband). Melihat konvergensi dalam cara berkomunikasi yang mendorong berbagai pihak untuk meluaskan penguasaan dalam bidang iptek informatika, sangat diperlukan kearifan dalam menilai suatu kemajuan yang terus menolong dunia kepada era globalisasi. Di satu pihak kita tidak bisa menghentikan itu, tetapi di lain pihak kita harus bekerja keras mendorong kemajuan dalam bidang transformasi pengetahuan informatika. Para pakar komunikasi seperti Moore melihat power competition meningkat dua kali cepat setiap 18 bulan. Sedangkan Matcalfe memandang pertambahan komunikasi akan melipatgandakan lalu lintas komunikasi yang terjadi hingga jasanya menjadi sangat bernilai. Dan Coase berbicara soal biaya produksi yang dihasilkan dari penggunaan itu. Abad ini menjadi abad TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang terus berkembang tanpa batas dengan segala konsekuensi dan persaingan (KOMPAS, 17 April 2008). Maka, perlu suatu patokan dan kebijaksanaan untuk memandang sektor komunikasi sosial agar matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenarannya, berkaitan dengan pribadi manusia.
Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari diri dari pengawasan masyarakat maka dia tidak lagi menghiraukan sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap pilihan putusan manusia dan cara definitif menentukan kebebasan dan hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, merupakan suatu yang hakiki bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan menghormati martabat manusia secara utuh. (Pesan Paus Benediktus XVI)
Bila tidak hati-hati akan menimbulkan polemik dan ekses dalam kehidupan seperti tayangan film “The Da Vinci Code”, Fitna, dan berbagai CD dan VCD sampai pada hal yang vulgar: situs porno. Baik pemerintah, masyarakat, dan agama harus mempunyai kiat-kiat untuk memantau kemajuan teknologi informatika dan komunikasi kepada kebenaran dan tidak dipancing dengan jasa situs-situs. Akhirnya menutup semua situs yang merupakan lalu lintas aktivitas situs positif lainnya. Bahkan lebih buruk lagi “konten porno di dalam dunia maya akan berakibat sangat buruk pada generasi muda kita. Begitu bebas dan permisifnya masyarakat kita, hingga banyak pelajar termasuk anak-anak di bawah umur dapat mengakses situs porno di sebuah warnet. Perlu disadari juga bahwa dengan usaha meningkatkan penetrasi internet di seluruh Indonesia, tidak harus ditebus dengan meloloskan pornografi kepada generasi muda. Dalam konvensi cyber-crime, nama Indonesia sudah cukup tercemar di mata dunia internasional” (Ponsel, 14-27 April 2008). Di luar dugaan manusia, kejahatan di bidang media terus berkembang kepada setiap pengguna media terutama telekomunikasi dengan telepon yang cukup merepotkan tatanan hidup dan ketertiban suatu upacara. Kekuasaan media yang satu ini yaitu HP dapat meningkatkan kriminalitas, anarkis, dan penyimpangan lain dalam bidang kesehatan. Untuk hal itu, Paus Benediktus XVI dalam pesannya di Hari Komunikasi sedunia ini mengatakan: “perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pemimpin Gereja. Justru kita sedang berurusan dengan kegiatan-kegiatan yang berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) di mana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.”
Jadi bila disimpulkan kehadiran media perlu digunakan dengan arif dan bijaksana. “Adalah tugas para gembala kudus untuk mengajar dan membimbing umat sekalian, hingga berkat bantuan alat-alat ini, mereka memperoleh keselamatan dan kesempurnaan dirinya dan sekalian umat manusia. Selain itu, adalah tugas para awam untuk mengilhami alat-alat ini dengan sangat manusiawi dan semangat kristen, sehingga seluruhnya dengan harapan yang tinggi masyarakat manusia dan dengan rencana ilahi.” (Inter Mirifica Bab 1, 3). Perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan hebat itu perlu filter atau saringan berupa himbauan, masukan, ataupun peraturan tertulis. “Oleh karena itu, semua orang yang berkemauan baik supaya menyaring alat-alat komunikasi itu benar-benar membantu tercapainya kebenaran dan mempercepat kemajuan” (Communicatio et Progressio, No. 13). Maka tujuan utama dari alat-alat komunikasi sosial hendaknya membawa manusia pada komunikasi yang utuh dan bebas yang menyuarakan kedamaian dan keadilan sehingga membentuk manusia mempunyai kemauan baik dan cinta kasih yang aktif. Dengan kata lain alat media komunikasi tidak menyebabkan dekomunikasi melainkan komunikasi. Maka pencarian kebenaran bagi orang lain dapat dikomunikasikan dan ditransformasikan lewat media yang diciptakan oleh manusia dengan kreatif sebagai penemuan inovatif yang membawa manusia kepada kemanusiaan yang dicitrakan oleh Allah. Marilah kita mencontoh komunikator utama yaitu Yesus yang memberikan keselamatan bagi manusia (Markus 7:31-37).


 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor