|
Pelayanan dan Berbagi Kebenaran Melalui Media
Oleh : RD. Jimmy J. Rampengan
Perkembangan dunia sangat cepat terutama dalam bidang media. Hampir
setiap hari kita temukan perubahan dan penemuan dalam media entah
itu media cetak, elektronik dan telekomunikasi. Banyak pengaruh yang
ditumbuhkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak
negatif maupun positif yang telah dirasakan dalam hidup masyarakat
modern. Namun di atas itu semua perlu dibanggakan bahwa pengetahuan
manusia berkembang sangat cepat sehingga sesuatu yang di luar
jangkauan manusia menjadi mungkin dengan diketemukan alat-alat
mutakhir. Perkembangan ilmu pengetahuan membuka peluang bagi manusia
untuk terus dituntun dan tidak puas akan sesuatu penyelidikan dan
penelitian. Alhasil ditemukan dan di luar dugaan manusia alat-alat
dan teknologi menjadi awal pembudayaan modernisasi saat ini.
Salah satu yang meledak dan menggilas semua kebutuhan adalah
perkembangan media yang membuat kemudahan dan keuntungan manusia,
misalnya penggunaan media telekomunikasi yang kita sebut HP (handphone).
Hampir setiap orang mempunyai media ini dengan berbagai merek dan
vendor. Dan media ini membuat manusia dapat dengan mudah
berkomunikasi kapan saja, ke mana saja, dan kepada siapa saja yang
banyak mengandung resiko dan konsekuensi. Dengan harga yang
terjangkau dan pilihan yang modis setiap orang bisa menggantinya.
Sayangnya kita hanya bisa mengkonsumsinya saja dan menjadi sasaran
empuk bagi para kapitalis media ini. Namun sekali lagi media ini
membuat perubahan besar bagi manusia baik terhadap gaya maupun cara
hidup. Orang modern sekarang ini selalu didampingi oleh media ini.
Hari-hari tanpa HP rasanya dunia ini sepi. Sehingga bisa dikatakan
hidup kedua dari manusia ditentukan dan tergantung dari HP. Semua
segi dijembatani dan dimotori oleh media HP sebagai sektor pelayanan
kepada dunia.
Apabila kita membiarkan pengaruh media HP terus masuk dan menguasai
hidup kita, maka akan menumbuhkan suatu persoalan yang besar bagi
segmen hidup manusia. Manusia menjadi bulan-bulanan perkembangan
media.
Paus Benediktus XVI mencermati hal ini. Pada Hari Komunikasi Sosial
Sedunia ke-42 (tanggal 4 Mei 2008) beliau menyampaikan pesan: “...
betapa penting peranan media dalam kehidupan perorangan dan
masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak
ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos
dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam
hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi,
politik dan religius. Seperti yang telah saya tandaskan dalam
pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008)
bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk
mendidik, ia memiliki tanggung jawab istimewa untuk memajukan rasa
hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan
dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5)”.
Melihat dan mencermati pesan Paus Benediktus XVI kita harus
meluruskan secara bertanggung jawab perkembangan teknologi yang
melanda hidup manusia. Jangan sampai perkembangan media menyeret
manusia pada suatu penguasaan dan membawa manusia menjadi obyek
materiil dan efek yang memaksakan model kehidupan yang menyimpang.
Menghadapi perkembangan media yang begitu cepat dan begitu canggih,
perlu sekali penguasaan iptek media dan informatika. Apabila kita
dapat menguasainya dengan baik, maka alat media ini membantu kita
dalam karya dan tugas kerasulan di bidang pewartaan. Dengan kata
lain, kerasulan media saat ini menjadi wahana yang paling canggih
dalam membantu gereja membawa keselamatan kepada manusia. Berbagai
macam media seperti pers, film, radio, televisi, komputer, dan
alat-alat lain sejenisnya merupakan penemuan teknologi yang
menakjubkan dewasa ini. Multi media itu mentransfer dan
mengkomunikasikan tanpa batas berita, gagasan, informasi dengan
kecepatan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Maka karya
kerasulan komunikasi sosial dalam Gereja sangat dibutuhkan bagi
perkembangan Gereja di zaman ini. Gereja hendaknya akrab dengan
budaya informatika seperti faximile, internet, sms, chatting, yang
tumbuh dan berkembang di masyarakat luas.
Namun Gereja juga harus bisa membentengi diri dan menyaring media
canggih ini. Sebab sisi keuntungannya adalah membantu Gereja, tapi
sisi kerugiannya membuat moral, etika, estetika dalam kehidupan
terancam hancur. Gereja mengeluarkan dokumen resmi mengenai
kerasulan di bidang komunikasi sosial: Dekrit Vatikan II Inter
Mirifica (4 Desember 1963) yang menetapkan landasan-landasan ideal
dan hukumnya, sedangkan Konstitusi Pastoral Communicatio et
Progressio (23 Mei 1971) berisi petunjuk pelaksanannya. Kedua
dokumen ini bisa menjadi landasan pemikiran dalam mengatur
penggunaan media yang canggih. Masalahnya apakah kedua dokumen ini
cukup disosialisasikan atau dimengerti di kalangan umat dalam Gereja.
Ekspansi dalam teknologi memang sedang terus berlangsung, terutama
dalam teknologi komunikasi nirkabel generasi ke-4 setelah teknologi
Wimax (World Interoperability for Microwave Access) kemudian disusul
LTE (Long Term Evolution) yang merupakan kelanjutan teknologi GSM,
selain masih ada UMB (Ultra Mobile Broadband). Melihat konvergensi
dalam cara berkomunikasi yang mendorong berbagai pihak untuk
meluaskan penguasaan dalam bidang iptek informatika, sangat
diperlukan kearifan dalam menilai suatu kemajuan yang terus menolong
dunia kepada era globalisasi. Di satu pihak kita tidak bisa
menghentikan itu, tetapi di lain pihak kita harus bekerja keras
mendorong kemajuan dalam bidang transformasi pengetahuan informatika.
Para pakar komunikasi seperti Moore melihat power competition
meningkat dua kali cepat setiap 18 bulan. Sedangkan Matcalfe
memandang pertambahan komunikasi akan melipatgandakan lalu lintas
komunikasi yang terjadi hingga jasanya menjadi sangat bernilai. Dan
Coase berbicara soal biaya produksi yang dihasilkan dari penggunaan
itu. Abad ini menjadi abad TIK (teknologi informasi dan komunikasi)
yang terus berkembang tanpa batas dengan segala konsekuensi dan
persaingan (KOMPAS, 17 April 2008). Maka, perlu suatu patokan dan
kebijaksanaan untuk memandang sektor komunikasi sosial agar
matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenarannya, berkaitan
dengan pribadi manusia.
Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari
diri dari pengawasan masyarakat maka dia tidak lagi menghiraukan
sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan
memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap
pilihan putusan manusia dan cara definitif menentukan kebebasan dan
hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, merupakan suatu yang hakiki
bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan
menghormati martabat manusia secara utuh. (Pesan Paus Benediktus
XVI)
Bila tidak hati-hati akan menimbulkan polemik dan ekses dalam
kehidupan seperti tayangan film “The Da Vinci Code”, Fitna, dan
berbagai CD dan VCD sampai pada hal yang vulgar: situs porno. Baik
pemerintah, masyarakat, dan agama harus mempunyai kiat-kiat untuk
memantau kemajuan teknologi informatika dan komunikasi kepada
kebenaran dan tidak dipancing dengan jasa situs-situs. Akhirnya
menutup semua situs yang merupakan lalu lintas aktivitas situs
positif lainnya. Bahkan lebih buruk lagi “konten porno di dalam
dunia maya akan berakibat sangat buruk pada generasi muda kita.
Begitu bebas dan permisifnya masyarakat kita, hingga banyak pelajar
termasuk anak-anak di bawah umur dapat mengakses situs porno di
sebuah warnet. Perlu disadari juga bahwa dengan usaha meningkatkan
penetrasi internet di seluruh Indonesia, tidak harus ditebus dengan
meloloskan pornografi kepada generasi muda. Dalam konvensi
cyber-crime, nama Indonesia sudah cukup tercemar di mata dunia
internasional” (Ponsel, 14-27 April 2008). Di luar dugaan manusia,
kejahatan di bidang media terus berkembang kepada setiap pengguna
media terutama telekomunikasi dengan telepon yang cukup merepotkan
tatanan hidup dan ketertiban suatu upacara. Kekuasaan media yang
satu ini yaitu HP dapat meningkatkan kriminalitas, anarkis, dan
penyimpangan lain dalam bidang kesehatan. Untuk hal itu, Paus
Benediktus XVI dalam pesannya di Hari Komunikasi sedunia ini
mengatakan: “perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah
diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pemimpin Gereja. Justru
kita sedang berurusan dengan kegiatan-kegiatan yang berdampak luas
pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius,
relasional, afektif, kultural) di mana nilai manusia dipertaruhkan,
maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan
secara teknis juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu
pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan
berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan yang menuntut pilihan
dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.”
Jadi bila disimpulkan kehadiran media perlu digunakan dengan arif
dan bijaksana. “Adalah tugas para gembala kudus untuk mengajar dan
membimbing umat sekalian, hingga berkat bantuan alat-alat ini,
mereka memperoleh keselamatan dan kesempurnaan dirinya dan sekalian
umat manusia. Selain itu, adalah tugas para awam untuk mengilhami
alat-alat ini dengan sangat manusiawi dan semangat kristen, sehingga
seluruhnya dengan harapan yang tinggi masyarakat manusia dan dengan
rencana ilahi.” (Inter Mirifica Bab 1, 3). Perkembangan media
komunikasi yang begitu cepat dan hebat itu perlu filter atau
saringan berupa himbauan, masukan, ataupun peraturan tertulis. “Oleh
karena itu, semua orang yang berkemauan baik supaya menyaring
alat-alat komunikasi itu benar-benar membantu tercapainya kebenaran
dan mempercepat kemajuan” (Communicatio et Progressio, No. 13). Maka
tujuan utama dari alat-alat komunikasi sosial hendaknya membawa
manusia pada komunikasi yang utuh dan bebas yang menyuarakan
kedamaian dan keadilan sehingga membentuk manusia mempunyai kemauan
baik dan cinta kasih yang aktif. Dengan kata lain alat media
komunikasi tidak menyebabkan dekomunikasi melainkan komunikasi. Maka
pencarian kebenaran bagi orang lain dapat dikomunikasikan dan
ditransformasikan lewat media yang diciptakan oleh manusia dengan
kreatif sebagai penemuan inovatif yang membawa manusia kepada
kemanusiaan yang dicitrakan oleh Allah. Marilah kita mencontoh
komunikator utama yaitu Yesus yang memberikan keselamatan bagi
manusia (Markus 7:31-37).
|