|
Roma Adalah
Rumahku
Di dalam bukunya “ROME SWEET HOME”, Kimberly dan Scott Han secara
bergantian sharing tentang pengalaman iman mereka masing-masing
sebelum akhirnya mereka menyatakan bahwa “Roma adalah Rumahku”.
“Ceramah ini bukanlah untuk membedah buku “Rome Sweet Home”, namun
mengambil tema-tema penting yang ada di dalam buku tersebut dari
segi dasar-dasar Kitab Suci. Dan apakah umat Katolik cukup menyadari
dari Gereja-Gereja lain yang menarik?” Demikian R.P. Robert Wowor,
OFM saat memulai Ceramah Umumnya tentang “ROME SWEET HOME” di Gereja
Santo Herkulanus Depok Jaya (11/05), pukul 09:00 s.d 12:40 WIB. Kata
sambutan disampaikan oleh Pastor Paroki St. Herkulanus R.D. Simbol
Gaib Pratolo.
Ada enam tema mutiara yang diangkat oleh Pater Wowor dari buku
tersebut, yaitu Sola Fides, Sola Scriptura, Maria, Prolife, Gereja,
dan Ekaristi.
Sola Fides merupakan doktrin yang menyatakan bahwa hanya imanlah
satu-satunya kebenaran dan yang menyelamatkan (Rm 3:28; bandingkan
dengan Yak 2:24). Benarkah? Bukan berarti beriman saja sudah cukup,
namun harus diungkapkan dengan perbuatan-perbuatan. Perbuatan tanpa
iman pun layaknya seperti pekerja sosial. Maka perbuatan dengan iman,
itulah Iman Kristiani sesungguhnya.
Sola Scriptura merupakan doktrin yang menyatakan bahwa hanya melalui
Kitab Suci satu-satunya Kebenaran dan yang menyelamatkan (lih. 2 Tes
2:15; 2 Tes 3:6; 2Ptr 1:20-21; 2Tim 3:16-17; 1 Tim 3:15; Mat 5:17; 1
Ptr 1:25). Kitab Suci merupakan dasar iman hakiki dari iman Katolik,
namun Kitab Suci tidak berdiri sendiri. Kitab Suci didampingi
Tradisi (=ajaran Para Rasul) Jadi Kitab Suci dan Tradisi adalah yang
menopang iman kristiani umat Kristen, khususnya umat Katolik.
Tema ketiga adalah tentang Maria, ibu Yesus Kristus. Tokoh wanita
ini adalah yang paling banyak dibicarakan oleh penulis-penulis Injil,
kecuali Injil Markus yang lebih menekankan pada patrineal. Di dalam
Kitab Suci ada dua tokoh wanita yang menonjol, di antaranya Rut,
tokoh wanita di dalam Kitab Perjanjian Lama dan Maria, tokoh wanita
di dalam Kitab Perjanjian Baru.
Keempat, Prolife (lih. Mat 19:14; Kej 1:26-28; Kej 9:1; 1 Kor
6:19-20; Rm 12;1-2; 1 Kor 7:4-5). Prolife awalnya hanya mengenai
masalah kandungan (kehamilan) dan KB (alat kontrasepsi), namun
semakin berkembang menjadi masalah-masalah seperti euthanasia dan
lingkungan hidup. Kelima adalah Gereja (lih. Mat 16:17-19; Yes
22:20-22; Mat 18:17; 1 Tim 3:15).
Dan yang terakhir adalah Ekaristi (lih. Yoh 6:52-68; Kej 15; Kel 3;
Bil 9; 1 Raj 8; Yoh 6; Ibr 12:29). Dalam perayaan Ekaristi, Gereja
mengungkapkan imannya, mengungkapkan kesatuannya dengan Kristus. Itu
berarti, bahwa kehadiran Kristus yang sudah senantiasa ada dalam
Gereja ditampakkan dan dihayati, dan dengan demikian iman Gereja
dikembangkan. Jadi Ekaristi tidak membuat Kristus yang belum hadir
menjadi hadir, melainkan menampakkan dan menghayati kehadiran
Kristus yang sudah ada dalam Gereja. Ekaristi merupakan ucapan
syukur yang ditujukan kepada Bapa, sumber dan asal usul segala
ciptaan dan seluruh sejarah keselamatan. Yang paling menonjol dalam
Ekaristi adalah kesatuan Gereja dengan Kristus dalam penyerahan-NYA
kepada Bapa, bersama dengan seluruh umat manusia. Kesatuan dengan
Kristus ini berarti suatu persekutuan dalam Kristus, yang merupakan
pusat kehidupan Gereja (communio).
Ceramah umum ini merupakan program kerja perdana dari Seksi
Kerasulan Kitab Suci Paroki (SKKS DPP) St. Herkulanus Depok Jaya,
dihadiri sekitar 100 umat dari beberapa paroki di Keuskupan Bogor,
di antaranya dari Paroki St. Markus Depok II Timur, Paroki St.
Paulus Depok Lama, Paroki St. Matias Cinere, Paroki St. Yohanes
Baptista Parung, dan juga Bpk. Frans S. Tjakradjaja dari Komisi
Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Bogor, serta partisipan lainnya.
Untuk selanjutnya, SKKS DPP St. Herkulanus rencananya di bulan
Oktober tahun ini akan menghadirkan kembali Pater RP. Robert Wowor,
OFM untuk menyampaikan ceramah umumnya tentang “The Lamb Supper”. (Y.DHANI.P.)
|