|
Peleburan Yang Membawa
Pesan
Dunia terus
memperbaharui tampilan zamannya dengan begitu cepat. Hal itu
ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuaan, salah satunya
ialah teknologi komunikasi. Perkembangan itu bertujuan untuk
membantu manusia dalam memudahkan komunikasi. Pewartaan Gereja
pun secara umum membutuhkan komunikasi. Oleh karena itu,
sebagai Gereja yang dinamis, hal tersebut membantu Gereja
untuk melakukan pewartaan menjadi mudah. Komunikasi yang ideal
adalah komunikasi interpersonal. R. Wayne Pace mengatakan
bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang
berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. Jadi
dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah
komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari
satu orang.
Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang
lain. Selain itu komunikasi interpersonal juga kontekstual
bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks
psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan
tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini. Ada seorang Uskup yang
mengeluhkan keakraban dan kehangatan persaudaraan dalam
berkomunkasi di kalangan para religius mulai dilupakan,
padahal hal tersebut membangun karya-karya yang meningkatkan
kualitas hidup bersama. Kita pun dapat melihat ekspresi wajah
dan tindakan yang nyata. Pewartaan pun membutuhkan komunikasi
seperti ini sebab pewartaan yang baik ialah pewartaan yang
disertai
teladan nyata.
Sesungguhnya kita sendiri tidak dapat memungkiri bahwa urusan
pribadi membuat kita sibuk, sehingga pewartaan tidak menyetuh
lebih dalam kehidupan sehari-hari. Gereja Katolik ialah Gereja
yang dinamis dan kontekstual namun tetap berada pada aturan
dan norma Gereja. Dengan melihat perubahan zaman bukan berarti
Gereja ikut arus tetapi menjadikan arus zaman untuk membuka
cara pewartaan yang baru. Melalui dunia maya dimungkinkan
kecepatan dan pembaharuan pewartaan dapat dikonsumsi dengan
cepat. Dunia maya membuka peluang-peluang yang menarik bagi
pewartaan Injil walaupun hubungan-hubungan melalui media
elektronik tidak akan pernah bisa menggantikan kontak
interpersonal yang diperlukan dalam penginjilan yang sejati.
Pewartaan Injil selalu menekankan pada kesaksian personal dari
orang yang diutus untuk mewartakan (bdk. Rm 10:14-15).
Bagaimana caranya Gereja menjadikan jenis komunikasi yang
bukan interpersonal ke komunikasi yang lebih mendalam dan
menyentuh langsung para umat? Kalau dipikir-pikir, peluang
untuk menyentuh secara langsung khususnya kaum muda tidak
begitu besar. Anak muda jarang mengunjungi saran-sarana dunia
maya yang bersifat rohani secara langsung. Anak muda lebih
suka akan hal sedang tren dan gaul. Sekarang cukup banyak para
kaum religius menjadikan fasilitas dunia maya sebagai sarana
untuk mengadakan pewartaan seperti situs jaringan pertemanan.
Menghadirkan pewartaan dengan cara mensisipkannya dan
membungkusnya dalam dunia anak muda tentu akan jauh lebih
menarik dan lebih cepat menyentuh. Anak muda lebih suka dengan
hal baru yang menggugah hati. Para kaum religius bisa mengajak
anak muda untuk membungkusnya menjadi hal yang menarik.
Hakekatnya dunia maya tersebut ialah sebagai sarana dan bukan
yang utama ataupun menjadi tujuan, sehingga tidak menjadi
candu akan dunia maya itu sendiri. Kita tahu bahwa jika hal
tersebut menjadi candu tentu akan berbahaya karena
penyimpangan dapat terjadi.
Sarana lain yang bisa dikembangkan ialah memaksimalkan
kegiatan yang ada di paroki dengan kreatifitas yang
kontekstual. Para umat mempunyai hobi dan kesenangannya
sendiri. Ada yang naik gunung, olahraga, berorganisasi,
otomotif dan lainya. Dengan membuka peluang yang luas untuk
mengembangkan hal tersebut dan membungkus pewartaan yang cocok
di dalamya sangat memungkinkan. Sarana yang ada bukan hanya
untuk memberi kesenangan atau ketertarikan tetapi juga memberi
pesan dan nilai yang mau dicapai. Sungguh menyentuh jika para
religius terjun di lapangan dan melihat langsung kenyataan
yang ada. Dari hal tersebut pewartaan dapat disesuaikan dengan
keadaan.
Ketika Jumat Agung saya sempat mengobrol dengan salah satu
mudika di sebuah paroki di kota Bandung. Mengapa dia begitu
antusias dan tertarik untuk ikut salah satu kegiatan paroki.
Alasannya sungguh sederhana, di sini saya menemukan jati diri
saya. Hobi dan hal yang saya tidak tahu, berkembang dan
memberikan saya rasa kepercayaan yang baik. Selain itu ada
pesan-pesan yang menolong saya lewat kata-kata maupun
tindakan-tindakan teman-teman. Hal yang paling membuat saya
kagum ialah, ada para kaum religius yang mau merendahkan
hatinya seperti kita, terjun bersama, melebur dalam kegiatan
kami. Selain itu dalam dunia maya mereka memberi masukan yang
membuat kami mempunyai pembimbing yang mengerti situasi
kami.Mereka tidak merasa dirinya adalah kelompok eksklusif.
Dari hal tersebut saya malah lebih kagum dan hormat kepada dia
sebagai orang yang akan
menggembalakan umat.
Yosef
Irianto Segu
Seminari Tinggi Santo Petrus & Paulus, Bandung
|