Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi April  - Juni  2010
 


Peleburan Yang Membawa Pesan

 


Dunia terus memperbaharui tampilan zamannya dengan begitu cepat. Hal itu ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuaan, salah satunya ialah teknologi komunikasi. Perkembangan itu bertujuan untuk membantu manusia dalam memudahkan komunikasi. Pewartaan Gereja pun secara umum membutuhkan komunikasi. Oleh karena itu, sebagai Gereja yang dinamis, hal tersebut membantu Gereja untuk melakukan pewartaan menjadi mudah. Komunikasi yang ideal adalah komunikasi interpersonal. R. Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang.

Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu komunikasi interpersonal juga kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini. Ada seorang Uskup yang mengeluhkan keakraban dan kehangatan persaudaraan dalam berkomunkasi di kalangan para religius mulai dilupakan, padahal hal tersebut membangun karya-karya yang meningkatkan kualitas hidup bersama. Kita pun dapat melihat ekspresi wajah dan tindakan yang nyata. Pewartaan pun membutuhkan komunikasi seperti ini sebab pewartaan yang baik ialah pewartaan yang disertai
teladan nyata.

Sesungguhnya kita sendiri tidak dapat memungkiri bahwa urusan pribadi membuat kita sibuk, sehingga pewartaan tidak menyetuh lebih dalam kehidupan sehari-hari. Gereja Katolik ialah Gereja yang dinamis dan kontekstual namun tetap berada pada aturan dan norma Gereja. Dengan melihat perubahan zaman bukan berarti Gereja ikut arus tetapi menjadikan arus zaman untuk membuka cara pewartaan yang baru. Melalui dunia maya dimungkinkan kecepatan dan pembaharuan pewartaan dapat dikonsumsi dengan cepat. Dunia maya membuka peluang-peluang yang menarik bagi pewartaan Injil walaupun hubungan-hubungan melalui media elektronik tidak akan pernah bisa menggantikan kontak interpersonal yang diperlukan dalam penginjilan yang sejati. Pewartaan Injil selalu menekankan pada kesaksian personal dari orang yang diutus untuk mewartakan (bdk. Rm 10:14-15).

Bagaimana caranya Gereja menjadikan jenis komunikasi yang bukan interpersonal ke komunikasi yang lebih mendalam dan menyentuh langsung para umat? Kalau dipikir-pikir, peluang untuk menyentuh secara langsung khususnya kaum muda tidak begitu besar. Anak muda jarang mengunjungi saran-sarana dunia maya yang bersifat rohani secara langsung. Anak muda lebih suka akan hal sedang tren dan gaul. Sekarang cukup banyak para kaum religius menjadikan fasilitas dunia maya sebagai sarana untuk mengadakan pewartaan seperti situs jaringan pertemanan. Menghadirkan pewartaan dengan cara mensisipkannya dan membungkusnya dalam dunia anak muda tentu akan jauh lebih menarik dan lebih cepat menyentuh. Anak muda lebih suka dengan hal baru yang menggugah hati. Para kaum religius bisa mengajak anak muda untuk membungkusnya menjadi hal yang menarik. Hakekatnya dunia maya tersebut ialah sebagai sarana dan bukan yang utama ataupun menjadi tujuan, sehingga tidak menjadi candu akan dunia maya itu sendiri. Kita tahu bahwa jika hal tersebut menjadi candu tentu akan berbahaya karena penyimpangan dapat terjadi.

Sarana lain yang bisa dikembangkan ialah memaksimalkan kegiatan yang ada di paroki dengan kreatifitas yang kontekstual. Para umat mempunyai hobi dan kesenangannya sendiri. Ada yang naik gunung, olahraga, berorganisasi, otomotif dan lainya. Dengan membuka peluang yang luas untuk mengembangkan hal tersebut dan membungkus pewartaan yang cocok di dalamya sangat memungkinkan. Sarana yang ada bukan hanya untuk memberi kesenangan atau ketertarikan tetapi juga memberi pesan dan nilai yang mau dicapai. Sungguh menyentuh jika para religius terjun di lapangan dan melihat langsung kenyataan yang ada. Dari hal tersebut pewartaan dapat disesuaikan dengan keadaan.

Ketika Jumat Agung saya sempat mengobrol dengan salah satu mudika di sebuah paroki di kota Bandung. Mengapa dia begitu antusias dan tertarik untuk ikut salah satu kegiatan paroki. Alasannya sungguh sederhana, di sini saya menemukan jati diri saya. Hobi dan hal yang saya tidak tahu, berkembang dan memberikan saya rasa kepercayaan yang baik. Selain itu ada pesan-pesan yang menolong saya lewat kata-kata maupun tindakan-tindakan teman-teman. Hal yang paling membuat saya kagum ialah, ada para kaum religius yang mau merendahkan hatinya seperti kita, terjun bersama, melebur dalam kegiatan kami. Selain itu dalam dunia maya mereka memberi masukan yang membuat kami mempunyai pembimbing yang mengerti situasi kami.Mereka tidak merasa dirinya adalah kelompok eksklusif. Dari hal tersebut saya malah lebih kagum dan hormat kepada dia sebagai orang yang akan
menggembalakan umat.

 

Yosef Irianto Segu
Seminari Tinggi Santo Petrus & Paulus, Bandung
 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor