Home  
 
 

Bersahabat Dengan Kitab Suci

Oleh : RD. Jimmy Rampengan

          

Sahabat adalah seorang yang dekat dalam hidup. Setiap orang punya sahabat. Sahabat yang baik dapat membuat hidup ini indah dan berarti. Bersahabat tidak hanya dengan teman tapi juga dengan Kitab Suci. Apa artinya bersahabat dengan Kitab Suci? Pada zaman sebelum Konsili Vatikan II, umat beriman tidak dekat dengan Kitab Suci. Kitab Suci hanya dibaca oleh imam atau orang tertentu. Alhasil Kitab Suci menjauh dari umat. Kitab Suci hanya dimengerti oleh orang tertentu dan kaum imam. Sekarang zaman sudah berubah, teknologi berkembang pesat sehingga keingintahuan akan Kitab Suci lebih luas dan besar. Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk mewartakan Injil secara baru. Kitab Suci berisikan Sabda Tuhan tetap tidak berubah sepanjang masa namun menyajikannya sesuai dengan zaman dan konteksnya. Bersahabat dengan Kitab Suci merupakan suatu pilihan agar umat semakin mencintai Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Kitab Suci tidak hanya menjadi monopoli orang tertentu atau kaum berjubah. Kitab Suci tidak hanya menjadi hiasan buku di rak atau disimpan di perpustakaan.

1. Kitab Suci adalah Sabda Allah

Bersahabat dengan Kitab Suci berarti secara pribadi kita terbuka dan mau dibimbing oleh Sabda Tuhan. Kitab Suci tidak hanya sekedar pengetahuan atau sejarah tetapi Sabda Tuhan yang menyelamatkan. Ada beberapa langkah agar Sabda Tuhan tadi sungguh menjadi sahabat yaitu

  • Langkah 1 : Berdoalah lebih dahulu. Mohon bantuan dan terang Roh Kudus agar dapat memahami Sabda Tuhan.

  • Langkah 2 : Bacalah ayat Kitab Suci dengan sepenuh hati

  • Langkah 3 : Pahami dan renungkan Sabda Tuhan. Tuhan berkata apa padaku pada hari ini.

  • Langkah 4 : Berdoalah dengan doa yang disediakan atau doa pribadi untuk menutup renungan.

  • Langkah 5 : Kerjakan aktivitas pada hari itu dan yang paling penting lakukanlah perutusan untuk hari itu dengan penuh suka cita.

  • Semakin rutin kita mencoba merenungkan Kitab Suci dalam langkah-langkah tadi secara sederhana kita maka kita dibimbing untuk berkenalan dengan Kitab Suci secara pribadi. Kitab Suci menjadi sahabat yang selalu mengajak untuk terus terbuka dan mau dibimbing-Nya. Kita akan menemukan Tuhan dalam Kitab Suci yang memanggil untuk bekerjasama di dalam hidup ini membangun Kerajaan-Nya.

    2. Kitab Suci adalah Buku Cinta

    Bersahabat berarti juga membangun relasi dengan yang lain. Maka bersahabat dengan Kitab Suci berarti juga membangun relasi dengan siapa saja. Kitab Suci menawarkan suatu relasi yang sangat indah yaitu cinta kasih. Dalam Injil Matius 12:28-34 dituliskan: "Hukum yang utama adalah cinta kasih pada Allah dan sesama". Bila kita membangun relasi dengan kental dalam Kitab Suci maka hidup kita dipenuhi dengan cinta. Cinta menjadi titik awal dalam perjumpaan kita dengan dunia. Melalui cinta kita kenal kehidupan. Semakin kita akrab dengan Kitab Suci semakin mendesak cinta itu dirasakan sebagai yang utama. Maka Kitab Suci sering disebut buku cinta kasih. Allah mencintai manusia dan manusia mencintai sesama.

    3. Kitab Suci adalah Buku Pribadiku

    Kita kenal buku harian. Setiap hari dengan penuh suka duka hidup seseorang. Tertulis rapih dan diberi garis merah untuk melihat pengalaman yang penuh arti. Bersahabat dengan Kitab Suci bisa berarti melihat dan mencatat pengalaman hidupku bersama Allah dan sesama dalam terang iman. Sebagai buku pribadi, Kitab Suci menjadi pendorong dan penyemangat manakala pribadi kita lesu. Kitab Suci menjadi penyuluh agar hidup kita bahagia dan penuh damai. Semakin bersahabat dengan Kitab Suci hidup kita semakin diterangi. Bagaikan secercah sinar di dalam kegelapan Kitab Suci menuntun kita pada terang. Persahabatan yang sehat selalu menghendaki teman sukses dan bersukaria.

    Kita harus hati-hati dan menjaga Kitab Suci dari pengartian yang sempit. Sebab tidak demikian Kitab Suci itu dibuat. Kitab Suci adalah firman Tuhan yang harus kita terjemahkan dalam hidup ini, bukan sebaliknya. Sekarang banyak orang menjual pewartaan Kitab Suci untuk kepentingan bisnis. Tentu persahabatan menjadi tidak sehat kalau persahabatan itu menjadi "komoditi sales". Jangan kita menjadi Yudas yang "menjual" Yesus.

    4. Kitab Suci Dasar Hidupku

    Persahabatan yang sejati senantiasa didasari oleh komitmen bersama. Sesama bukan menjadi ancaman, pembantu, atau sesuatu yang diperas; melainkan untuk saling bertumbuh. Maka bersahabat itu perlu dasar dan pijakan yang satu dan yang sama. Bersahabat dengan Kitab Suci artinya Kitab Suci menjadi dasar untuk tumbuh bersama sebagai sahabat. Injil Matius 7:24-27 menunjukkan tentang: Dasar hidup yang kuat. Hidup ini perlu dibangun atas dasar atau pondasi Sabda Tuhan (Kitab Suci). Teman atau sahabat selalu ingin persahabatannya itu langgeng atau abadi. Maka bersahabat dengan Kitab Suci menghendaki hidup itu harus didasari dengan Kitab Suci. Sebagaimana dasar atau pondasi itu menopang bangunan demikian juga Kitab Suci akan menopang kehidupan kita. Pondasi (dasar) rumah itu di bawah dan tak kelihatan. Demikian Kitab Suci juga berperan sebagai kekuatan batin kita. Kitab Suci menopang dari dalam agar hidup kita semakin bijaksana. Namun jarang kita sombong; karena dengan demikian rahasia Kerajaan Allah tidak ditampakkan. Jangan kita jadi seperti orang Farisi dan ahli Taurat agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi pewartaan Kitab Suci. Jadilah seperti orang Samaria yang menolong orang yang terkapar di jalan; orang Samaria itu yang melaksanakan kehendak Tuhan. Jangan juga jadi Pilatus yang cuci tangan; tetapi kita semua harus bertanggung jawab sebagaimana para murid harus memberi makan lima ribu orang. Masih banyak dasar hidup kita yang harus kita bangun dan timba dari Kitab Suci. Hidup kita akan langgeng dan abadi

     

    5. Kitab Suci adalah Buku Masa Depanku

    Bagaikan air mengalir dari pegunungan dan berakhir pada samudera, demikian kehidupan diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kelahiran baru: yaitu hidup bersama Allah. Bersahabat berarti mencintai tanpa batas. Sahabat sejati kita adalah Yesus. Yesus memperjuangkan hidup-Nya bagi sahabat-Nya, dengan rela mengorbankan hidup-Nya. Ia tidak ingin masa depan manusia buruk (gelap). Masa depan harus selalu lebih baik dari hari ini. Kitab Suci bukan buku "ramalan" tetapi Kitab Suci adalah teman yang selalu baru, dilihat dari sisi manapun. Bapa Paus Yohanes Paulus II selalu mengajak kita mewartakan Kitab Suci secara baru. Pesan ini menunjukkan Kitab Suci menjadi masa depan yang harus mampu memberi jawaban atas hidup yang menantang dan mendatang. Kitab Suci seperti sahabat lama yang kita kontektualisasi pada era kini. Dan Kitab Suci bisa berbicara banyak tentang kekinian. Menggali Kitab Suci yang terkubur dengan kejenuhan dan menyederhanakan dalam aktivitas yang kreatif mengantar Kitab Suci pada penyajian yang memikat. Seperti pada beberapa jenis makanan yang sebenarnya sama tetapi disajikan menarik (kisah wisata kuliner). "Telling The Story of Jesus in Asia". Tema kongres misi yang kami ikuti di Chiang May 2006 menekankan pula bahwa Kristus yang lahir di Nazaret di masa lampau diceritakan kembali melalui suatu kisah yang sederhana (bercerita atau mendongeng).

    Bisa juga menggunakan sarana seperti panggung cerita, audio-visual, penggunaan alat komunikasi modern. Mengaktualkan kisah keselamatan secara sederhana dan modern.

     

    Kitab Suci menopang dari dalam agar hidup kita semakin bijaksana.

    Bersahabat dengan Kitab Suci menjadikan hidup kita bahagia dan harmonis di dunia ini. Harmonis dengan Allah, sesama dan lingkungan hidup kita. Persahabatan dengan Kitab Suci terutama menekankan kecintaan kita pada Sabda Tuhan. Sabda Tuhan dasar pedoman hidup untuk sekarang dan masa mendatang. Kecintaan terhadap Kitab Suci dimulai dari diri sendiri untuk terbuka pada sapaan kasih Allah yang menyelamatkan. Dengan bersahabat dengan Kitab Suci kita bisa melihat apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita. Kitab Suci menjadi bangunan yang mau disusun dan dibentuk oleh Allah. Semakin bersahabat dengan Kitab Suci semakin hidup kita ada dalam genggaman Allah. Maka orang yang bersahabat dengan Kitab Suci meleburkan dirinya pada firman Tuhan. Buah dari bersahabat dengan Kitab Suci menunjukkan perasaan dalam pribadi satu kesamaan dan kesatuan. Apa yang dirasakan, dipikirkan, dikecap, dilihat, dibicarakan, dihirup, berorientasi pada Kitab Suci dalam hidupnya sehari-hari. Pribadi kita menjadi Kitab Suci yang hidup.

    Sejauh mana Kitab Suci menjadi pribadi bagiku atau sejauh mana kita bersahabat dengan Kitab Suci, ada beberapa tolok ukur dalam menentukan hal tersebut.

    1. Identifikasi : suatu proses pencarian identitas. Apakah yang saya ketahui tentang Kitab Suci? Apakah Kitab Suci itu?

    2. Internalisasi : suatu proses pembatinan. Apakah Kitab Suci yang sudah menjadi "way of life" hidupku? Atau hanya hafal ayat saja?

    3. Implementasi : suatu proses pelaksanaan. Apakah Kitab Suci hanya perbuatan munafik? Sungguhkah dilaksanakan dalam hidup? Jujur dan sungguh-sungguh?

    Mengakhiri tulisan ini saya menyampaikan pengalaman persahabatan Kitab Suci yang lucu. Ada 2 orang suster yang rajin mengikuti misa pagi di gereja. Pagi-pagi benar mereka selalu datang ke gereja supaya dapat berdoa sebelum misa. Suatu hari ternyata pastor (imam) terlambat memulai misa. Kedua suster ini lalu berbisik-bisik:"Di altar itu ada Kitab Suci, piala, hosti, anggur, dan ada pastor yang ganteng.Menurut kamu manakah yang kamu pilih?Lalu suster yang ditanya menjawab, "Aku pilih jadi hosti; karena nanti jadi Tubuh Kristus. Kalau suster mau pilih yang mana?""Saya pilih jadi Kitab Suci; karena setelah dibaca … pasti terus dicium pastor."

    * * *

    Home

       

    Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
    Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor