|
SR. YOSEPHA, SFS
Oleh : Willy Adams
"Saya hanya pasrah pada kehendak Tuhan, kalau memang
dikehendakiNya, maka semua akan terjadi. Saya yakin akan kebesaran
dan kehendakTuhan pada diri saya"
Demikian keyakinan
hati Sr. Yosepha SFS disela-sela cerita tentang perjalanan hidupnya
sejak kecil hingga beliau menjadi seorang suster SFS. " Saya ingin
menjadi seorang suster sejak masih duduk di kelas 6 SD. Tapi hanya
sebatas senang saja. Apalagi kalau tante saya yang sudah menjadi
suster SFS dan juga om saya yang sudah menjadi pastur SVD pulang
kampung. Kelihatannya om dan tante saya itu hidupnya tenang dan
senang. Akh... saya ingin seperti mereka", kata hati Ela yang
merupakan nama kecil Sr. Yosepha. "Apalagi ketika duduk di SMP
Katolik yang dikelola oleh Suster-Suster CIY, rasa ingin tahu akan
kehidupan seorang suster semakin kuat, lalu saya ungkapkan keinginan
saya itu pada guru agama saya, seorang suster CIY. Beliau menanggapi
keinginan saya itu dengan baik, kemudian beliau memberi penjelasan
tentang panggilan hidup membiara khususnya menjadi suster. Wah
mendengar penjelasan itu keinginan saya untuk jadi suster semakin
terasa. Ketika saya pulang sekolah dan sampai di rumah, saya
ceritakan keinginan saya itu pada orangtua saya. Namun sayang respon
yang diberikan mengejutkan saya. Orang tua saya tidak mengijinkan
saya menjadi seorang suster. Hati saya sedih. Apalagi ketika orang
tua mengatakan "kalau kamu ingin jadi seorang suster, lebih baik
tidak usah sekolah lagi". Wah sayang rasanya kalau tidak melanjutkan
sekolah. Keinginan jadi susterpun saya urungkan, daripada tidak
diperbolehkan sekolah, kan sayang..." kata Ela yang lahir di Bajawa,
Flores, 26 Juli 1966. "Selesai SMP saya melanjutkan ke SMEA. Selama
mengikuti pendidikan di SMEA keinginan jadi suster sudah berkurang.
Lalu setelah tamat SMEA saya melanjutkan ke Sekolah Kateketik di IPI
Malang. Saya memilih sekolah yang jauh di Malang dengan harapan saya
dapat mewujudkan keinginan saya untuk menjadi suster. Kebetulan saat
saya di IPI Malang seragamnya mirip suster biara, lalu saya berfoto.
Setelah foto jadi saya kirim ke orang tua untuk menunjukkan
keinginan saya itu. Reaksi keras yang saya dapat, keluarga tetap tak
mengijinkan saya untuk jadi suster" kenang Ela yang merupakan anak
ke-2 dari 4 bersaudara ini. "Selesai pendidikan di IPI Malang, saya
sempat bekerja di Paroki Maumere. Keinginan menjadi seorang suster
tetap kuat. Saya harus berani ambil keputusan. Apalagi selama hampir
2 tahun saya sudah surat menyurat dengan suster Gerarda, SFS yang
saat itu menjadi pimpinan umum suster-suster SFS. Akhirnya keputusan
saya semakin bulat dan dengan diantar oleh seorang om saya yang
menjadi seorang pastur, tahun 1992 saya berangkat ke Sukabumi.
Mulailah saya mengikuti pendidikan untuk menjadi suster. Setelah
mengikuti masa postulant hampir selama 1 tahun, ayah saya meninggal.
Saya sedih saat membaca surat yang menjelaskan bahwa ayah saya sudah
meninggal. Tapi berkat semangat dan kekuatan batin yang diberikan
oleh Sr. Zita, SFS dan Sr. Marietta, SFS serta dukungan para suster,
saya dapat mengatasi rasa sedih itu", kenang Ela saat ingat
peristiwa kepergiaan ayahnya, alm. Yoseph Ule. Setelah masa
postulant saya memasuki masa novis. Sudah menjadi kebiasaan bila
memasuki masa novis, nama harus diganti dengan nama kudus. Saya
sudah bernazar, jika saya masuk menjadi novis, maka saya akan
memakai nama ayah saya. Itu sebagai tanda rasa hormat dan untuk
menebus rasa bersalah karena saat ayah meninggal saya tidak hadir.
Selain itu saya juga ingin meneladani Santo Yoseph terutama sikap
hidupnya yang sederhana, setia, tekun, rendah hati, pekerja keras,
tukang kayu seperti latar belakang keluarga saya yang sederhana dan
bertani. Maka akhirnya saya memilih Sr. Yosepha sebagai nama biara
saya" kata Maria Gabriella Siu yang berganti nama biara menjadi Sr.
Yosepha SFS. "Mulailah saya berkarya. Saya mengajar di SD Sukabumi
selama 1 tahun, lalu saya mengajar dan menjadi Kepala TK di Cibinong
selama kurang lebih 5 tahun. Dan sejak tahun 2006 hingga saat ini
saya berkarya di Asrama bagian Putri khusus anak SNIP di Panti
Asuhan Santo Yusup", ungkap Sr. Yosepha yang tanggal 8 Desember 2003
menerima profesi Kekalnya. "Anak-anak di Panti ini kami didik untuk
belajar mandiri dan disiplin. Tak ketinggalan rasa kebersamaan dan
kepeduliaan terhadap sesama teman tetap kami pupuk. Hal ini kami
lakukan agar kelak mereka menjadi anak yang berguna bagi keluarga,
Gereja dan masyarakat", jelas Sr. Yosepha tentang anak-anak di Panti
Asuhan. "Saat ini ada sekitar 215 orang anak di Panti Asuhan ini. 56
di antaranya adalah anak SNIP yang saya tangani bersama tim. Syukur
pada Allah kami dapat bekerja sama dengan baik. Suka duka selalu ada.
Tapi saya percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Bersama kasih Tuhan
kami berjalan membimbing anak-anak Panti Asuhan ini", ungkap Sr.
Yosepha bersemangat sambil tersenyum. "Rasa jenuh selalu ada. Tapi
suara hati selalu menegur saya. Kalau saat jenuh atau kesal, suara
hati selalu mengatakan "Ayo semangat. Jangan mundur! Ingat
perjuangan panggilanmu yang penuh onak dan duri!" Kalau sudah dengar
suara hati seperti itu saya pun bersemangat lagi", kata Sr. Yosepha
semakin bersemangat. "Keluarga saya pun sekarang sudah menerima saya
dengan baik. Bahkan ketika saya kaul Kekal, di Kampung saya diadakan
Misa Syukuran. Keluarga saya yang tidak hadir saat kaul kekal
berkumpul untuk syukuran bersama ibu saya di kampung", kenang Sr.
Yosepha mengenang ibunya, Maria Nge.
Perjalanan hidup
panggilan Sr. Yosepha masih panjang. Semoga semakin hari semakin
tekun dan terasah panggilan hidup Sr. Yosepha yang ingin tetap
menekuni hidup panggilannya sebagai anggota Suster-Suster SFS
Sukabumi. Seperti yang dikatakan oleh Sr. Yosepha, SFS sendiri : "Saya
berkarya membawa nama Yesus dan Tarekat saya. Oleh karena itu saya
harus bekerja sebaik mungkin. Kalau saya bekerja dengan baik, nama
tarekat sayapun akan baik juga".
***
|