|
TAMASYA DI TAMAN TUHAN (4)
Saat-Saat Hening
Oleh :
Sr. B. Dwita, OSC
Mengarahkan diri kepada Tuhan
Manusia dari dirinya sendiri
memiliki keterarahan kepada kebaikan. Manusia
memiliki keinginan untuk
selalu mencari yang lebih baik. Keinginan akan yang baik dan
yang lebih baik itu tidak mengenal batas. Kenyataan seperti
itu tidak dapat disangkal.
Orang akan selalu mencari
lapangan kerja yang lebih baik dan pendapatan yang
lebih tinggi. Pemilik
perusahaan akan mencari cara-cara untuk mendapat keuntungan lebih
besar. Orang
yang belum berkecukupan akan
mencari kekayaan; yang
kaya ingin memiliki
kekayaan yang lebih besar lagi.
Kemajuan teknologi modern yang
telah dicapai umat manusia, pada dasarnya untuk
menjadikan kehidupan agar lebih baik. Teknologi di bidang
kedokteran untuk menolong orang
agar hidup lebih sehat dan mencapai usia tinggi. Teknologi di bidang
kecantikan untuk menolong agar kita bisa tampil lebih menarik.
Teknologi transportasi memudahkan kita
untuk bepergian jarak jauh dengan
lebih mudah dan lebih cepat. Belum lagi kemajuan di bidang
teknologi komunikasi. Semua kemajuan yang telah dicapai itu akan
terus berlanjut.
Tetapi bersamaan dengan itu,
muncul pula banyak kebutuhan baru yang
diciptakan oleh perusahaan periklanan. Melalui publikasi yang amat
menarik dan tangkas membentuk
suatu masyarakat komsumeris. Misalnya: dengan hadirnya tablet-tablet
kecantikan untuk
menghilangkan kerut
dan noda
hitam, orang ditarik
untuk mengkonsumsi guna
mendapatkan penampilan lebih baik; dengan diciptakan handphone
baru yang tampil semakin canggih dan multiguna, orang
didorong terus untuk memiliki
yang lebih dan lebih, meskipun sebenarnya tidak atau tidak terlalu
dibutuhkan.Dengan
demikian manusia dibawa kepada sikap hidup yang tak mudah dipuaskan.
Mengapa umat manusia tak pernah
berhenti mencari dan mengusahakan yang lebih
baik? Mengapa umat manusia tak
mudah untuk berkata cukup? Apa sebabnya?
Kalau keinginan akan kekayaan tak
pernah dirasakan cukup! Kalau barang semewah
apapun tak bisa dialami sebagai
kepuasan! Kalau segala kesenangan jasmani tak pernah bisa
mencukupi! Lalu apa?
Marilah kita berhenti sejenak.
Marilah kita memberi kesempatan untuk berdiam diri
sebentar bagi jiwa yang mungkin
lelah. Marilah kita masuk dikeheningan, memberi
kesempatan istirahat kepada
jiwa yang terengah-engah mengikuti keinginan-keinginan kita.
Dikeheningan yang dalam dan berdiam diri, orang diajak
untuk berbalik haluan. Dari
berlari ke luar menjadi berjalan menuju masuk ke dalam. Suatu
gerakan untuk berpaling dari dunia ini ke arah dunia yang lain.
Inilah buah pertama yang boleh kita petik dari
keheningan! Berbalik!
Pertama-tama, di dalam
keheningan dan berdiam diri orang akan menyadari bahwa:
memang kekayaan, kepopuleran
serta kenikmatan merupakan kebaikan yang tak sempurna. Semua
yang ada di dunia ini, serta hal-hal yang dapat dialami manusia di
sini tidak ada sesuatupun yang
merupakan total dan tertinggi. Tiada satupun di dunia ini yang
merupakan kebaikan mutlak yang dapat memenuhi keinginan sedemikian
rupa, sehingga kalau
dimiliki orang tidak lagi menginginkan sesuatu yang lain.
Maka manusia dalam
perjalanan hidupnya selalu dihadapkan pada tangga baru yang tidak
pernah merupakan tangga terakhir.
Kedua, di dalam keheningan seseorang
dapat bersikap lebih rileks, akan mampu
mengambil jarak dari dunia ini
dan berpaling kepada dunia batin.
Muncul kesadaran
bahwa rasa keinginan yang ada
dalam hatinya untuk terus mencari dan rasa haus yang tak
terpuaskan
akan yang lebih baik itu berasal
dari Allah sendiri. Allah menaruh itu dalam
hati kita agar kita berusaha
untuk dapat menemukan kebaikan tertinggi. Allah menarik dan
menggerakkan kita dari dalam untuk berpaling menuju kepada Allah
- kebaikan tertinggi-;
maka tidak ada sesuatupun di dunia ini dapat memuaskan
kehendak manusia kecuali
tentulah Allah sendiri.
Kalau demikian, yang ke tiga,
kita menyadari bahwa tidaklah baik untuk berpegang
teguh pada dunia dan berusaha
keras untuk memperoleh kesempurnaan atau kebaikan
tertinggi atau kebahagiaan
atau kepuasan dari padanya.
Selama peziarahan kita di
dunia ini, setiap kali kita lengah, mengejar nilai
sementara dan menjadikan itu
sebagai tujuan, kita harus berani berhenti dan berpaling,
kembali kepada Allah. Dengan
demikian kita dapat hidup bersama Allah di dunia ini (
mengikutsertakan Allah dalam
hidup sehari-hari kita ),
dan kelak Allah akan
menyempumakan di dunia yang akan datang.
Mengenal suara Allah
Sebelum mengenal apa dan
bagaimana suara Allah itu, perkenankan saya menceritakan
pengalaman seseorang. Diusianya
yang ke 22, ia telah begitu dipenuhi sukacita dalam
pekerjaannya. Pada suatu hari,
ketika suasana kelas tempat ia mengajar sedang sunyi;
anak-anak didiknya sedang asyik
mengerjakan tugas-tugas; ia sangat dipenuhi oleh
sukacita. Suasana sunyi dan
sukacita di dalam hati menghantarkannya kepada doa tulus.
Disaat
ia sedang
berdoa mengungkapkan rasa
syukur serta keyakinannya bahwa ini
panggilan hidupnya; muncul
suara dari lubuk hatinya yang paling dalam: tidak!
Ada yang
lebih mulia yang Kuperuntukkan
bagimu. Sebuah suara tak diundang! Muncul begitu tibatiba
- sangat spontan! Terjadi
hanya dalam hitungan detik. Jauh -
sayub-sayub, tetapi tegas
dan jelas. Suara yang mampu
membuyarkan doanya dan segala pertimbangan logis.
Mengapa hams melepas burung
digenggaman untuk meraih burung di udara? Tetapi justru
suara kecil inilah yang
mengingatkan dia akan janji yang pernah diucapkannya kepada
Tuhan ketika ia masih berumur 13
tahun ( kira-kira tiga
bulan sesudah ia dibaptis ). Suara
inilah yang memberanikan dia
melangkah memasuki kehidupan baru sebagai seorang rubiah.
Atau, mungkin anda pernah
mengalami peristiwa kecil seperti ini. Anda sedang
berdoa dalam hati bagi keluarga
dekat anda yang sedang mengalami suatu kesulitan.
Tindakan doa anda merupakan
kemauan baik dan paling tidak merupakan hal yang sudah
direncanakan. Di tengah-tengah
saat anda berdoa, secara tiba-tiba terlintas wajah
seseorang, mungkin teman, mungkin
kenalan, mungkin orang yang pernah anda kenal, di
dalam pikiran anda dan anda
langsung terdorong untuk mendoakan juga orang itu. Jelas,
anda tidak sedang memikirkan
orang itu!
Suatu pikiran yang muncul tak
disangkasangka;
datang begitu saja. Itu diterima sebagai dorongan dari Allah.
Pengalaman rohani di atas,
semacam sebuah gagasan yang muncul secara spontantak
disangka-sangka, yang memotong proses pertimbangan dan permenungan
kita; atau
suara yang muncul begitu saja
- spontan dari kedalaman
hati dan kita yakin benar dari
Allah. Melalaui kaca mata IMAN,
kita dapat menarik kesimpulan bahwa ini sebagai suara
Allah. Dari pengalaman itu, kita
menyadari pula memang ada suara Allah yang dapat di
dengar. Meskipun suara itu tidak
perlu terdengar secara jasmani.
Alkitab sendiri banyak
mengajarkan kepada kita, bahwa Allah kita adalah Allah
yang selalu ingin menyapa,
berbicara dan menyatakan diriNya. Allah yang menyatakan
pikiran dan kehendakNya kepada
kita agar kita kenal. Dari kitab suci pula kita banyak
mengetahui
bagaimana
Allah menyapa umatNya.
Allah menyapa
lewat mimpi, penglihatan atau
lewat para nabiNya.
Sekarang- pun Allah berbicara
kepada kita melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi
di sekitar kita atau melalui
nasihat teman atau lewat kitab suci yang dibacakan atau lewat
homili.
Untuk mengenal suara Allah
yang datang dari luar dibutuhkan suatu kepekaan hati. Untuk mengenal
suara Allah yang muncul dari dalam diri dibutuhkan pemusatan
perhatian yang sungguh hati-hati. Karena tidak setiap gagasan atau
suara yang muncul itu berasal dari Allah. Orang harus memilah-milah
dan terus-menerus diperlukan latihan rohani. Kembali kita kepada
keheningan.
Inilah buah ke dua yang dapat kita ambil dari pohon
keheningan. Mengenal suara
Allah.
Memang ada orang yang mudah bertumbuh dalam pengalaman akan
pengenalan suara Allah. Seperti
pada orang-orang yang diberi anugerah memiliki tipe intuitif
dengan score, tinggi.
Tetapi Tuhan pernah bersabda dalam Injil: "
Domba-dombaKu mendengar
suaraKu. ( Yoh,
10:27 ).
Berarti kita semua -sebagai
anak-anak Allah- diberi anugerah kemampuan untuk mengenali
suaraNya. Sebagai kuncinya, kita berani belajar menerima
spontanitas yang muncul dalam
diri kita yang baik dan belajar untuk tidak gampang
menendang spontanitas yang
muncul dengan analisa dan logika kita.
Tentu saja kita
menganalisa tetapi apa yang
muncul spontan kita tangkap lebih dahulu. (to
be continued)
* * * |