Home  
 
 

SEMUA KARENA CINTA

Oleh Fr. C. Agung P. Setyawan[[1]]

(‘Orang Dalam’ Seminari Menengah Stella Maris)

 

 

Hari Minggu Paskah VII, 28 Mei 2006 pukul 06.00....sehari sesudah  terjadi gempa tektonik di Yogya...

Pagi itu dengan wajah kuyu dan lelah namun hati dipenuhi rasa sukacita, aku dan teman-teman satu angkatan[[2]] menjalani pelantikan lektor-akolit oleh Mgr. Ignasius Suharyo Pr, Uskup Keuskupan Agung Semarang di Kapel Besar Santo Paulus Seminari Tinggi Santo Paulus (baca: Semintikentung) Kentungan – Yogyakarta.  Wajah kuyu dan lelah ini karena sejak kemarin pagi hingga malam hari kami menjadi relawan di Rumah Sakit Panti Rapih.  Sukacita karena pelantikan lektor-akolit merupakan momen penting dalam perjalanan hidup panggilan kami sebagai seorang calon imam.

           

Pukul 07.18 Waktu Semintikentung....

Rm. F. Harto Subono Pr, Rektor Semintikentung, sebelum berkat penutup membacakan tempat penugasan kami menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP)[[3]].  Namaku disebut ... menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Menengah Stella Maris – Keuskupan Bogor.  Degh!!...Pyarr!! isu...gosip...yang selama ini beredar di kursi ijo[[4]] telah menjadi kenyataan.  Why me? ... Kok aku to?

Aku gelisah.  Sebenarnya ada pribadi lain yang lebih pantas dan lebih mampu menjalani karya pastoral di Seminari Stella Maris daripada aku.  Pertanyaan ‘Mengapa aku?’ tak henti-hentinya mengusik dan menggerogoti semangat perutusanku.  Pembelaanku ... Aku merasa tidak mempunyai kemampuan dalam banyak hal.  Bagaimana mungkin ... aku yang tidak sabar, sombong, kalau bicara nylekit dan senang keluyuran (tapi keluyuran yang positif ... ini apologi-ku) mendapat tugas perutusan di seminari.  Maksud-Mu itu apa to Gusti?  Memang gampang-gampang sulit dan sulit-sulit gampang untuk memahami kehendak-Mu.  Apalagi untuk manusia yang ndableg seperti aku ini.

Pertanyaan yang misteri ini, sedikit demi sedikit diberi jawaban oleh Dia Yang Maha Tahu.  Yang jelas, melalui tugas ini, Tuhan mau membentuk diriku demi perkembangan pribadi dan panggilanku.  Ini semua karena Dia Yang Maharahim sangat mencintaiku.  “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1: 38). 

 

Balik maning nang Bogor[[5]]

Yup ... aku balik maning nang Bogor.  Aku menggunakan kata ‘balik maning’ karena aku pernah tinggal di kota ini selama beberapa tahun.  Menurutku, Bogor telah banyak berubah.  Jalanan tambah macet.  Deru dan asap kendaraan serta jumlah pohon yang semakin berkurang membuat Bogor tidak sejuk dan nyaman lagi.  Baleho-baleho produk komersial semarak menghiasi langit-langit kota.  Bangunan-bangunan mall bertumbuhan bak jamur di musim hujan, belum lagi sarana-sarana komersial lainnya yang menawarkan kemudahan dan kenikmatan dengan jargon memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Ada semakin banyak tawaran ... ada semakin banyak pilihan ... kebebasan manusia untuk memilih semakin digelitik oleh kerlingan fasilitas-fasilitas yang aduhai dan menggoda.  Itulah semarak perubahan kota Bogor.  Namun di sisi lain, ada juga yang tidak berubah.  Dari dulu hingga sekarang...kehidupannya ya begitu-begitu saja.  Misalnya, Teh Aroh tukang cuci di daerah Baranangsiang; Aa Yayat penjual asongan dari daerah Babagan Fakultas; Deden penjual gorengan di sekitar Tugu Kujang; Mang Engkus supir angkutan kota jalur 03 jurusan Baranangsiang – Bubulak[[6]] dan lain-lain.  Quo vadis, Bogor?

 

Seminari Stella Maris

Nama Stella Maris aku kenal dari para romo dan teman-teman frater projo Purwokerto yang sekaligus alumni seminari ini[[7]].  Sedikit banyak mereka bercerita kepadaku tentang pengalaman kehidupan mereka di Seminari Stella Maris, para seminaris dan stafnya.  Cerita-cerita ini sedikit banyak memberi gambaran tentang Stella Maris. 

         Aku tiba di Seminari Stella Maris pada hari Minggu tanggal 9 Juli 2006.  Sengaja aku datang lebih awal satu minggu dari tanggal yang ditetapkan dalam Surat Perutusan Bapa Uskup Purwokerto.  Tujuannya untuk mengenali Seminari Stella Maris sebelum aku mulai bertugas.

         Pada minggu-minggu awal kehadiranku, aku banyak mendapat pertanyaan seputar keberadaanku di Seminari Stella Maris.  Umumnya mereka bertanya – Kok bisa to, Ter ... projo Purwokerto berpastoral di Bogor?[[8]]  Kujawab – pertama, ini sebuah kerjasama lintas keuskupan, yaitu antara Keuskupan Bogor dan Keuskupan Purwokerto; kedua, disadari bahwa Seminari Stella Maris telah ikut menyumbang keberadaan imam-imam dan calon imam projo Keuskupan Purwokerto.  Dalam konteks ini, Gereja lokal Keuskupan Purwokerto terdorong hatinya untuk turut serta menyumbangkan tenaga pastoralnya bagi Seminari Stella Maris; ketiga, bahwa Gereja lokal Keuskupan Purwokerto menghayati semangat misioner yang diwariskan oleh Gereja Perdana; keempat (red. yang ini jawaban kelakarku), mengunjungi dan menemui kekasih lama yang kutinggalkan[[9]].  

 

Seminari: Garda Depan Gereja

Dalam kerangka tugas kerasulan Gereja di dunia, seminari memiliki peran yang sangat penting dalam kerangka perjalanan hidup menggereja.  Di seminari inilah para kaum muda yang memiliki ketertarikan untuk menjadi imam dididik dan dibina.  Bukan hanya segi rohani saja, melainkan juga segi kepribadian, intelektual, pelayanan dan kehidupan bersama.

Karya pastoral di Seminari Stella Maris selalu dikaitkan dengan kerangka formatio (pembinaan).  Paling tidak ada tiga peran yang aku jalankan selama menjalani karya pastoral ini: (1) sebagai pengajar/pendidik (menyangkut tugas mengajar); (2) sebagai pendamping (menyangkut tugas sebagai pamong); (3) teman seperjalanan (dalam pergaulan informal dengan para seminaris). 

Pengalamanku selama satu tahun menjalani karya pastoral di Seminari Stella Maris, ada 1001 macam persoalan yang kuhadapi.  Mulai dari persoalan hidup pribadi, hidup bersama, intelektual sampai dalam hal panggilan (rohani).  Tak jarang, aku menghadapi permasalahan seminaris yang ingin mengundurkan diri.  Entah karena merasa tidak mampu dalam soal intelektual, tidak cocok dengan teman, kedekatan dengan perempuan dan sebagainya. 

Satu kesempatan pastoral yang cukup menantang diriku adalah wawanhati secara pribadi dengan para seminaris.  Aku sebut ‘menantang’ karena tugas ini sangat menyita waktu dan menuntut sikap mau ‘mendengarkan’.  Kusadari, memiliki kemauan untuk menyisihkan waktu dan mau mendengarkan merupakan kecenderungan yang sulit dimiliki oleh manusia jaman sekarang, termasuk aku.  Namun, melalui tugas ini, rupanya Tuhan menghendaki aku mengembangkan sikap-sikap itu.  Seakan-akan Tuhan berkata kepadaku, “Aku tahu apa yang Ku-mau bagimu”. 

Dalam salah satu kesempatan pertemuan formal mingguan[[10]], romo staf pendamping angkatan Semintikentung pernah berkata, “Biasanya, yang diingat dan ditangkap oleh para seminaris, bukan apa yang kita ajarkan atau omongkan, melainkan kesaksian hidup kita sehari-hari”.  Bertolak dari gagasan itu, disamping menjalankan tugas sebagai pendidik dan pamong, aku juga berusaha menjalankan peran sebagai seorang ‘sahabat/teman seperjalanan’ bagi para seminaris.  Spiritualitas ‘teman seperjalanan’ ini aku adopsi dari teologi inkarnasi Yesus Kristus.  Dalam inkarnasi, Allah hadir dan menyapa manusia dalam Pribadi Yesus Kristus.  Sebagai Putera Allah sekaligus Putera Manusia, Yesus Kristus bukan hanya bergaul dengan umat manusia tetapi juga mengalami nasib yang sama dengan manusia.  Kedekatan Allah, yang hadir dalam Pribadi Yesus Kristus, dengan manusia inilah yang coba aku hidupi dalam membangun relasi dengan para seminaris.  Aku mencoba memerankan diri menjadi pribadi pendamping yang tidak killer plotot sana plotot sini, melainkan mencoba menjadi pribadi yang komunikatif-dialogis, mau menghargai dan merasakan apa yang menjadi pergulatan para seminaris, tanpa mengurangi ketegasan sebagai seorang pendidik dan pendamping. 

Aku menyadari bahwa tidak mudah menjalankan peran semacam ini.  Bahkan, seringkali aku harus dituntut untuk dhawa ususe (sabar), rendah hati, tabah dan tidak mudah marah atau jengkel kalau omonganku hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan atau sebaliknya.  Namun terlepas dari itu semua, satu hal yang kurasakan adalah bahwa para seminaris merasa nyaman dan aman ketika mereka berelasi dan berkomunikasi denganku.

 

Hati-hati loh, ter...

         Demikianlah pesan yang seringkali disampaikan oleh pribadi-pribadi yang kutemui selama aku menjalani pastoral di Seminari Stella Maris.  Loh ... memangnya ada apa dengan Seminari Stella Maris? Ada setannya?  Bukan itu lagi, ter!!!  Kabarnya, frater-frater yang bertugas di Stella Maris, pada umumnya keluar.  Baik yang dari projo maupun yang dari ordo/tarekat.  Jadi ... frater hati-hati ya ....  

         Ups!!!  Hatiku menciut mendengar kabar itu ... ada rasa takut dan khawatir.  Bagaimana hal ini dapat terjadi? Ya, Tuhan ... tolonglah aku ... bimbinglah aku ... aku sangat mencintai panggilan ini .... berilah aku rahmat kesetiaan dan ketekunan dalam menggeluti panggilan-MU.

         Dua kata ‘setia’ dan ‘tekun’ merupakan dua kunci yang senantiasa mengiringi langkahku membuka pintu-pintu tantangan yang muncul sehingga memunculkan sebuah peluang untuk crescat et floreat.  Aku menyadari bahwa, selama menjalani tugas pastoral ini, aku tidak membuat hal-hal yang spektakuler dan monumental, melainkan hal–hal yang sederhana, kecil dan rutin.  Nelateni hal-hal tersebut, setiap hari bertemu dengan pribadi-pribadi yang itu-itu saja, serta menjalankan jadwal hidup harian yang sudah tertata teratur dari menit ke menit, bukanlah hal yang mudah.  Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang aku lakukan ini seperti misalnya, membangunkan seminaris yang ngebluk, memberi tugas kepada para seminaris untuk membuat refleksi harian dan membacanya, memberi sanksi pada seminaris kalau ada pelanggaran, membaca laporan bacaan rohani, ngopyak-ngopyak mereka belajar dan lain-lain, ada manfaatnya/gunanya bagi mereka?”.  Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk mencari jawabnya. 

Namun, kusadari dari hal-hal kecil inilah aku justru menemukan makna kesetiaan, komitmen, kesabaran, kerendahan hati, ketekunan dan kesederhanaan.  Ketika aku mencoba merenungkan lebih dalam lagi, kutemukan bahwa semua makna itu mempunyai muaranya pada cinta.  Cinta kepada Yesus Kristus; cinta kepada tugas perutusan; cinta kepada panggilan; cinta kepada para seminaris dan cinta kepada kehidupan.  Kekuatan cinta inilah yang memberi semangat hidup kepadaku.  Kekuatan cinta ini pula yang membawa aku pada pengharapan bahwa Roh Kudus akan senantiasa membimbing para seminaris.  Aku dan staf seminari lainnya hanyalah salah satu crew dalam proses formatio ini, sedang sutradaranya adalah Allah.  Ada satu pesan yang selalu kuingat, sebuah pesan yang disampaikan oleh Bunda Theresa dari Calcutta, seorang biarawati yang setia dan penuh cinta menjalankan tugas pelayanannya, yakni: Do The Small Things with a Great Love.  Pesan inilah yang senantiasa menjiwai perjalanan pastoralku di Seminari Stella Maris.  Muara makna yang sama juga di-sharing-kan oleh teman-teman satu angkatan ketika dalam kesempatan pertemuan formal para TOPer setiap tiga bulan sekali.  Dan ... rasaku, roh cinta itu pula yang mendorong Yesus Kristus sehingga Dia dengan rela dan berani menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia.

 

Yogya...aku mulih[[11]]

Akhir Juni 2007, aku menerima surat dari Purwokerto.  Rupanya dari Bapa Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarko SJ.  Isinya mengatakan bahwa terhitung tanggal 15 Juli 2007 masa tugasku di Seminari Stella Maris sudah selesai dan diharapkan segera kembali ke Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan – Yogyakarta untuk melanjutkan studi teologi.  Harapan bertemu dengan teman-teman satu angkatan membayang dibenakku.  Ada rasa rindu yang tak tertahankan untuk segera berkumpul kembali bersama teman-teman se-panggilan dan se-komunitas.  Diskusi, belajar, sharing, rekoleksi bulanan, pastoral, bernyanyi bersama, bermain kartu, badminton, lari sore, futsal, tenis, berkebun, makan buah (rambutan, alpukat, pepaya, mangga, durian) di kebun seminari tinggi, mengunjungi para romo pendahulu yang sudah sare[[12]] .... itulah sedikit banyak rutinitas yang bakal dijalani lagi olehku.  Wao...!!!

 

Yogyakarta

(Kla Project)

 

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat

Penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama suasana Yogya

................................................

Kotamu hadirkan senyummu abadi.

Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi


 

[1] Calon imam diosesan Keuskupan Purwokerto yang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Stella Maris periode tahun 2006-2007

[2] Kami satu angkatan ada 22 frater: 6 dari Keuskupan Purwokerto, 2 dari Keuskupan Surabaya dan 14 dari Keuskupan Agung Semarang.

[3] Enam frater menjadi misionaris domestik di Keuskupan Sorong-Manokwari, Keuskupan Tanjung Selor dan Keuskupan Ketapang; 5 frater bertugas di paroki; sisanya tersebar di karya kategorial (komisi PSE, kearsipan keuskupan, seminari, yayasan pendidikan, pastoral kemahasiswaan dan seminari)

[4] Sebutan kursi panjang, tempat kami, para frater biasa duduk-duduk, sharing, bernyanyi, main kartu, mengobrol ngalor kidul tapi bermutu dan lain-lain.

[5] Bahasa masyarakat Purwokerto – Banyumas dan sekitarnya yang artinya ‘kembali lagi ke Bogor’

[6] Dulu pada waktu aku tinggal di Bogor angkutan kota jalur 03 memiliki jurusan Barananagsiang - Merdeka

[7] Ada 6 imam projo dan 3 calon imam projo Purwokerto yang merupakan alumni Seminari Stella Maris

[8] Pertanyaan yang bernada sama juga pernah ditanyakan kepada imam/calon imam projo Purwokerto yang bertugas di Seminari Mertoyudan.  Keberadaan tenaga pastoral projo Purwokerto di Mertoyudan ini sudah dimulai kurang lebih sejak 6 tahun yang lalu hingga sekarang ini.

[9] Kekasih lamaku adalah Kota Bogor

[10] Di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan – Yogyakarta ada kebiasaan mengadakan pertemuan formal antara romo staf pendamping angkatan dan frater-frater satu angkatan, yang diadakan satu minggu sekali setiap Jumat malam.  Isi pertamuan dapat berupa pembekalan rohani/kepribadian, diskusi buku, membahas agenda kegiatan, sharing kelompok dan lain-lain.

[11] Mulih = pulang

[12] Meninggal.  Di salah satu bagian komplek Semintikentung terdapat makan romo-romo projo Keuskupan Agung Semarang.


 

Home

   

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor