|
SEMUA KARENA CINTA
Oleh Fr. C.
Agung P. Setyawan[]
(‘Orang Dalam’
Seminari Menengah Stella Maris)
Hari Minggu Paskah
VII, 28 Mei 2006 pukul 06.00....sehari sesudah terjadi gempa
tektonik di Yogya...
Pagi itu dengan
wajah kuyu dan lelah namun hati dipenuhi rasa sukacita, aku dan
teman-teman satu angkatan[]
menjalani pelantikan lektor-akolit oleh Mgr. Ignasius Suharyo Pr,
Uskup Keuskupan Agung Semarang di Kapel Besar Santo Paulus Seminari
Tinggi Santo Paulus (baca: Semintikentung) Kentungan –
Yogyakarta. Wajah kuyu dan lelah ini karena sejak kemarin pagi
hingga malam hari kami menjadi relawan di Rumah Sakit Panti Rapih.
Sukacita karena pelantikan lektor-akolit merupakan momen penting
dalam perjalanan hidup panggilan kami sebagai seorang calon imam.
Pukul 07.18 Waktu
Semintikentung....
Rm. F. Harto Subono
Pr, Rektor Semintikentung, sebelum berkat penutup membacakan tempat
penugasan kami menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP)[].
Namaku disebut ... menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di
Seminari Menengah Stella Maris – Keuskupan Bogor. Degh!!...Pyarr!!
isu...gosip...yang selama ini beredar di kursi ijo[]
telah menjadi kenyataan. Why me? ... Kok aku to?
Aku gelisah. Sebenarnya
ada pribadi lain yang lebih pantas dan lebih mampu menjalani karya
pastoral di Seminari Stella Maris daripada aku. Pertanyaan ‘Mengapa
aku?’ tak henti-hentinya mengusik dan menggerogoti semangat
perutusanku. Pembelaanku ... Aku merasa tidak mempunyai kemampuan
dalam banyak hal. Bagaimana mungkin ... aku yang tidak sabar,
sombong, kalau bicara nylekit dan senang keluyuran (tapi
keluyuran yang positif ... ini apologi-ku) mendapat tugas
perutusan di seminari. Maksud-Mu itu apa to Gusti? Memang
gampang-gampang sulit dan sulit-sulit gampang untuk memahami
kehendak-Mu. Apalagi untuk manusia yang ndableg seperti aku
ini.
Pertanyaan yang
misteri ini, sedikit demi sedikit diberi jawaban oleh Dia Yang Maha
Tahu. Yang jelas, melalui tugas ini, Tuhan mau membentuk diriku
demi perkembangan pribadi dan panggilanku. Ini semua karena Dia
Yang Maharahim sangat mencintaiku. “Sesungguhnya aku ini hamba
Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1: 38).
Balik maning
nang
Bogor[]
Yup ... aku balik
maning nang Bogor. Aku menggunakan kata ‘balik maning’
karena aku pernah tinggal di kota ini selama beberapa tahun.
Menurutku, Bogor telah banyak berubah. Jalanan tambah macet. Deru
dan asap kendaraan serta jumlah pohon yang semakin berkurang membuat
Bogor tidak sejuk dan nyaman lagi. Baleho-baleho produk komersial
semarak menghiasi langit-langit kota. Bangunan-bangunan mall
bertumbuhan bak jamur di musim hujan, belum lagi sarana-sarana
komersial lainnya yang menawarkan kemudahan dan kenikmatan dengan
jargon memenuhi kebutuhan hidup manusia. Ada semakin banyak tawaran
... ada semakin banyak pilihan ... kebebasan manusia untuk memilih
semakin digelitik oleh kerlingan fasilitas-fasilitas yang aduhai dan
menggoda. Itulah semarak perubahan kota Bogor. Namun di sisi lain,
ada juga yang tidak berubah. Dari dulu hingga sekarang...kehidupannya
ya begitu-begitu saja. Misalnya, Teh Aroh tukang cuci di
daerah Baranangsiang; Aa Yayat penjual asongan dari daerah
Babagan Fakultas; Deden penjual gorengan di sekitar
Tugu Kujang; Mang Engkus supir angkutan kota jalur 03 jurusan
Baranangsiang – Bubulak[]
dan lain-lain. Quo vadis, Bogor?
Seminari Stella
Maris
Nama Stella
Maris aku kenal dari para romo dan teman-teman frater projo
Purwokerto yang sekaligus alumni seminari ini[].
Sedikit banyak mereka bercerita kepadaku tentang pengalaman
kehidupan mereka di Seminari Stella Maris, para seminaris dan
stafnya. Cerita-cerita ini sedikit banyak memberi gambaran tentang
Stella Maris.
Aku tiba di
Seminari Stella Maris pada hari Minggu tanggal 9 Juli 2006. Sengaja
aku datang lebih awal satu minggu dari tanggal yang ditetapkan dalam
Surat Perutusan Bapa Uskup Purwokerto. Tujuannya untuk mengenali
Seminari Stella Maris sebelum aku mulai bertugas.
Pada
minggu-minggu awal kehadiranku, aku banyak mendapat pertanyaan
seputar keberadaanku di Seminari Stella Maris. Umumnya mereka
bertanya – Kok bisa to, Ter ... projo Purwokerto berpastoral
di Bogor?[]
Kujawab – pertama, ini sebuah kerjasama lintas keuskupan,
yaitu antara Keuskupan Bogor dan Keuskupan Purwokerto; kedua,
disadari bahwa Seminari Stella Maris telah ikut menyumbang
keberadaan imam-imam dan calon imam projo Keuskupan Purwokerto.
Dalam konteks ini, Gereja lokal Keuskupan Purwokerto terdorong
hatinya untuk turut serta menyumbangkan tenaga pastoralnya bagi
Seminari Stella Maris; ketiga, bahwa Gereja lokal Keuskupan
Purwokerto menghayati semangat misioner yang diwariskan oleh Gereja
Perdana; keempat (red. yang ini jawaban kelakarku),
mengunjungi dan menemui kekasih lama yang kutinggalkan[].
Seminari: Garda
Depan Gereja
Dalam kerangka tugas
kerasulan Gereja di dunia, seminari memiliki peran yang sangat
penting dalam kerangka perjalanan hidup menggereja. Di seminari
inilah para kaum muda yang memiliki ketertarikan untuk menjadi imam
dididik dan dibina. Bukan hanya segi rohani saja, melainkan juga
segi kepribadian, intelektual, pelayanan dan kehidupan bersama.
Karya pastoral di
Seminari Stella Maris selalu dikaitkan dengan kerangka formatio
(pembinaan). Paling tidak ada tiga peran yang aku jalankan selama
menjalani karya pastoral ini: (1) sebagai pengajar/pendidik (menyangkut
tugas mengajar); (2) sebagai pendamping (menyangkut tugas sebagai
pamong); (3) teman seperjalanan (dalam pergaulan informal dengan
para seminaris).
Pengalamanku selama
satu tahun menjalani karya pastoral di Seminari Stella Maris, ada
1001 macam persoalan yang kuhadapi. Mulai dari persoalan hidup
pribadi, hidup bersama, intelektual sampai dalam hal panggilan (rohani).
Tak jarang, aku menghadapi permasalahan seminaris yang ingin
mengundurkan diri. Entah karena merasa tidak mampu dalam soal
intelektual, tidak cocok dengan teman, kedekatan dengan perempuan
dan sebagainya.
Satu kesempatan
pastoral yang cukup menantang diriku adalah wawanhati secara pribadi
dengan para seminaris. Aku sebut ‘menantang’ karena tugas ini
sangat menyita waktu dan menuntut sikap mau ‘mendengarkan’.
Kusadari, memiliki kemauan untuk menyisihkan waktu dan mau
mendengarkan merupakan kecenderungan yang sulit dimiliki oleh
manusia jaman sekarang, termasuk aku. Namun, melalui tugas ini,
rupanya Tuhan menghendaki aku mengembangkan sikap-sikap itu.
Seakan-akan Tuhan berkata kepadaku, “Aku tahu apa yang Ku-mau bagimu”.
Dalam salah satu
kesempatan pertemuan formal mingguan[],
romo staf pendamping angkatan Semintikentung pernah berkata,
“Biasanya, yang diingat dan ditangkap oleh para seminaris, bukan apa
yang kita ajarkan atau omongkan, melainkan kesaksian hidup kita
sehari-hari”. Bertolak dari gagasan itu, disamping menjalankan
tugas sebagai pendidik dan pamong, aku juga berusaha menjalankan
peran sebagai seorang ‘sahabat/teman seperjalanan’ bagi para
seminaris. Spiritualitas ‘teman seperjalanan’ ini aku adopsi dari
teologi inkarnasi Yesus Kristus. Dalam inkarnasi, Allah hadir dan
menyapa manusia dalam Pribadi Yesus Kristus. Sebagai Putera Allah
sekaligus Putera Manusia, Yesus Kristus bukan hanya bergaul dengan
umat manusia tetapi juga mengalami nasib yang sama dengan manusia.
Kedekatan Allah, yang hadir dalam Pribadi Yesus Kristus, dengan
manusia inilah yang coba aku hidupi dalam membangun relasi dengan
para seminaris. Aku mencoba memerankan diri menjadi pribadi
pendamping yang tidak killer – plotot sana plotot
sini, melainkan mencoba menjadi pribadi yang komunikatif-dialogis,
mau menghargai dan merasakan apa yang menjadi pergulatan para
seminaris, tanpa mengurangi ketegasan sebagai seorang pendidik dan
pendamping.
Aku menyadari bahwa
tidak mudah menjalankan peran semacam ini. Bahkan, seringkali aku
harus dituntut untuk dhawa ususe (sabar), rendah hati, tabah
dan tidak mudah marah atau jengkel kalau omonganku hanya masuk
telinga kiri keluar telinga kanan atau sebaliknya. Namun terlepas
dari itu semua, satu hal yang kurasakan adalah bahwa para seminaris
merasa nyaman dan aman ketika mereka berelasi dan berkomunikasi
denganku.
Hati-hati loh,
ter...
Demikianlah pesan
yang seringkali disampaikan oleh pribadi-pribadi yang kutemui selama
aku menjalani pastoral di Seminari Stella Maris. Loh ...
memangnya ada apa dengan Seminari Stella Maris? Ada setannya? Bukan
itu lagi, ter!!! Kabarnya, frater-frater yang bertugas di
Stella Maris, pada umumnya keluar. Baik yang dari projo maupun yang
dari ordo/tarekat. Jadi ... frater hati-hati ya ....
Ups!!!
Hatiku menciut mendengar kabar itu ... ada rasa takut dan khawatir.
Bagaimana hal ini dapat terjadi? Ya, Tuhan ... tolonglah aku ...
bimbinglah aku ... aku sangat mencintai panggilan ini .... berilah
aku rahmat kesetiaan dan ketekunan dalam menggeluti panggilan-MU.
Dua kata
‘setia’ dan ‘tekun’ merupakan dua kunci yang senantiasa mengiringi
langkahku membuka pintu-pintu tantangan yang muncul sehingga
memunculkan sebuah peluang untuk crescat et floreat. Aku
menyadari bahwa, selama menjalani tugas pastoral ini, aku tidak
membuat hal-hal yang spektakuler dan monumental, melainkan hal–hal
yang sederhana, kecil dan rutin. Nelateni hal-hal tersebut,
setiap hari bertemu dengan pribadi-pribadi yang itu-itu saja, serta
menjalankan jadwal hidup harian yang sudah tertata teratur dari
menit ke menit, bukanlah hal yang mudah. Kadang aku bertanya pada
diri sendiri, “Apakah yang aku lakukan ini seperti misalnya,
membangunkan seminaris yang ngebluk, memberi tugas kepada
para seminaris untuk membuat refleksi harian dan membacanya, memberi
sanksi pada seminaris kalau ada pelanggaran, membaca laporan bacaan
rohani, ngopyak-ngopyak mereka belajar dan lain-lain, ada
manfaatnya/gunanya bagi mereka?”. Sebuah pertanyaan yang sangat
sulit untuk mencari jawabnya.
Namun, kusadari dari
hal-hal kecil inilah aku justru menemukan makna kesetiaan, komitmen,
kesabaran, kerendahan hati, ketekunan dan kesederhanaan. Ketika aku
mencoba merenungkan lebih dalam lagi, kutemukan bahwa semua makna
itu mempunyai muaranya pada cinta. Cinta kepada Yesus Kristus;
cinta kepada tugas perutusan; cinta kepada panggilan; cinta kepada
para seminaris dan cinta kepada kehidupan. Kekuatan cinta inilah
yang memberi semangat hidup kepadaku. Kekuatan cinta ini pula yang
membawa aku pada pengharapan bahwa Roh Kudus akan senantiasa
membimbing para seminaris. Aku dan staf seminari lainnya hanyalah
salah satu crew dalam proses formatio ini, sedang
sutradaranya adalah Allah. Ada satu pesan yang selalu kuingat,
sebuah pesan yang disampaikan oleh Bunda Theresa dari Calcutta,
seorang biarawati yang setia dan penuh cinta menjalankan tugas
pelayanannya, yakni: Do The Small Things with a Great Love.
Pesan inilah yang senantiasa menjiwai perjalanan pastoralku di
Seminari Stella Maris. Muara makna yang sama juga di-sharing-kan
oleh teman-teman satu angkatan ketika dalam kesempatan pertemuan
formal para TOPer setiap tiga bulan sekali. Dan ... rasaku, roh
cinta itu pula yang mendorong Yesus Kristus sehingga Dia dengan rela
dan berani menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia.
Yogya...aku
mulih[]
Akhir Juni 2007,
aku menerima surat dari Purwokerto. Rupanya dari Bapa Uskup
Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarko SJ. Isinya mengatakan bahwa
terhitung tanggal 15 Juli 2007 masa tugasku di Seminari Stella Maris
sudah selesai dan diharapkan segera kembali ke Seminari Tinggi Santo
Paulus Kentungan – Yogyakarta untuk melanjutkan studi teologi.
Harapan bertemu dengan teman-teman satu angkatan membayang dibenakku.
Ada rasa rindu yang tak tertahankan untuk segera berkumpul kembali
bersama teman-teman se-panggilan dan se-komunitas. Diskusi, belajar,
sharing, rekoleksi bulanan, pastoral, bernyanyi bersama, bermain
kartu, badminton, lari sore, futsal, tenis, berkebun, makan buah (rambutan,
alpukat, pepaya, mangga, durian) di kebun seminari tinggi,
mengunjungi para romo pendahulu yang sudah
sare[]
.... itulah sedikit banyak rutinitas
yang bakal dijalani lagi olehku. Wao...!!!
Yogyakarta
(Kla Project)
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru
dalam rindu
Masih seperti dulu,
tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan
nostalgia, saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
suasana Yogya
................................................
Kotamu hadirkan
senyummu abadi.
Izinkanlah aku
untuk selalu pulang lagi
|