Tiap sudut Roma
menampilkan sebuah arsitektur yang sangat menawan, demikian juga
gereja sangat indah dan menakjubkan. Gambaran yang ada di dalam
gereja selalu menggambarkan sebuah lukisan tentang kehidupan manusia
dan Tuhan. Ini mengisyaratkan bahwa relasi antara manusia dan Allah
tiada akhir dan selalu terurai dalam kehidupan manusia di bumi.
Sikap religiositas umat di
Roma sangat tinggi. Ketika di luar gereja mereka bisa mengenakan
pakaian apapun, namun ketika mereka masuk gereja mereka menggantikan
pakaian yang rapi dan tertutup. Hal ini mungkin berlainan dengan
Indonesia. Di luar rapi, dalam gereja malah memamerkan sebuah
penampilan.
Terlepas dari itu semua,
Roma memberikan sebuah inspirasi perjalanan rohani yang sangat
panjang dan memberikan sebuah ruang bagi kita untuk merefleksikan
hidup ini. Tidaklah gampang namun itulah sebuah perjalanan rohani.
Oleh karenanya tiap hari umat di seluruh dunia selalu datang ke San
Pietro untuk melihat keagungan itu. Terlepas apakah hanya datang
melihat, berdoa atau apapun, namun tempat itu memberikan sebuah daya
tarik yang luar biasa.
Dalam deretan orang
di San Pietro, banyak orang mengaku dosa sekalipun bukan menjelang
Natal dan Paskah. Ini menandakan bahwa orang masih mempunyai ruang
hati untuk membangun kembali relasi dengan Allah yang mungkin telah
retak. Di sinilah rasa religiositasnya masih kentara. Sekalipun
mereka telah terauskan dengan dunia sekularisme, namun masih ada
sebuah harapan membangun hidup di hadapan Tuhan.
***