Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Juli-September 2008
 


Kasih Allah Memerdekakan

Oleh : Rm. Jimmy J. Rampengan, Pr

 

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan. Hari Kemerdekaan merupakan momentum dan pernyataan bagi bangsa Indonesia yang terlepas dari penjajahan. Oleh karena itu semua bangsa di kolong langit menyatakan hak kemerdekaan sangat berarti. Melalui perjuangan hidup dan mati, para pejuang merebut dan mempertahankan kedaulatan tanah air dari penjajah. Dengan harga yang sangat mahal yakni tetesan darah, jiwa dan raga, para pahlawan berjuang bagi tanah air. Maka setiap anak bangsa merayakan kemerdekaan dan meneruskan cita-cita kemerdekaan. Pertanyaannya: sudah 63 tahun kita merdeka, apakah kita merasakan kemerdekaan itu? Apakah kemerdekaan itu membawa kesejahteraan dan kedamaian saat ini?

Melihat atau mengartikan kata “MERDEKA” tentu banyak artinya. Kemerdekaan untuk berbicara, berpendapat, berpikir, bebas dari penjajahan, dsb. Namun makna kemerdekaan itu pada hakekatnya menyentuh hak azasi manusia. Dan sudut inilah yaitu kemanusiaan, maka kemerdekaan menjadi prioritas utama dari keberadaan hidup. Manusia perlu hidup dalam kemerdekaan sehingga dia bisa mengisi dan mengartikan hidupnya. Bila kemerdekaan ‘dipenjarakan’ dalam hidup manusia, maka hak kemerdekaan manusia itu tidak ada. Manusia terasing dari hidupnya. Banyak keputusan dari para pemimpin negara (termasuk gereja) yang membuat pribadi manusia terasing dari hidupnya karena tidak ada kebebasan dan kemerdekaan yang dijadikan kehormatan. Semua sistem perintah atau penguasaan ada pada kelompok.

Untuk itu mari kita melihat suatu aspek yang mengartikan kemerdekaan secara sejati. Dan kemerdekaan semacam inilah yang mengandung kualitas atau eksistensi dari kemerdekaan. Apapun arti dan makna kemerdekaan hendaknya bersumber dan berasal dari kasih Allah. Kasih Allah itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Penghayatan hidup yang bermakna yaitu bagaimana kasih Allah itu membebaskan manusia di dalam hidupnya. Manusia itu awalnya harmonis. Keharmonisannya digambarkan secara mitologi bagaikan samudra dan daratan yang menyatu. Daratan selalu berkomunikasi dengan lautan, sehingga damai dan permai, indah dan mempesona, cantik dan lentik. Namun daratan ego dan nakal oleh nafsu, sehingga tidak ‘guyub’ dengan lautan. Daratan mau menguasi dan memaksa. Akhirnya daratan meninggalkan lautan yang akibatnya muncul Sang Bencana. Kemerdekaan yang sejati pupus dari kehidupan manusia karena nafsu: sex, kekuasaan, keduniawian. Hal itu nampak dari para pemimpin negara dan agama.

Mari kita kembalikan kemerdekaan itu pada kasih Allah yang menjadi ‘motor’ dan ‘aktor’ , sumber dan subyek di dalam kehidupan manusia. Dan mana kasih Allah itu? Atau apa kasih Allah yang memerdekakan itu? Mari kita lihat kasih Allah yang nampak pada diri manusia. Allah menciptakan manusia secitra: menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:2b). Artinya manusia itu diciptakan dengan penuh kasih dan karena kasih Allah itu manusia menjadi ciptaan yang paling indah. Manusia adalah makhluk yang paling merdeka dan sempurna: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48), seperti Allah, Sang Pencipta. Manusia menjadi makhluk yang kudus, bukan makhluk yang penuh ‘kudis’ seperti sekarang ini. Kasih Allah yang memerdekakan membuat manusia menjadi mahluk yang merdeka, kudus, dan sempurna. Kasih Allah yang memerdekakan membawa manusia pada kepenuhan dan kesempurnaan. Seharusnya manusia hidup demikian yaitu berdasarkan pada kasih Allah yang menuntun kepada kekudusan. Kemerdekaan adalah kesempurnaan dan kekudusan. Manusia oleh karena kasih Allah dipanggil untuk menjadi kudus dan sempurna. Namun apa yang terjadi? Nafsu telah mengubah manusia menjadi karma dan dosa. Nafsu menjadi setan atas kehidupan. Lalu apa upaya manusia agar kembali kepada kasih Allah yang memerdekakan itu?

Melawan kekuasaan yang menghancurkan sangat berbahaya. Akhir-akhir ini perang nuklir dan konflik Timur Tengah bila terjadi maka akan menuai kehancuran. Konflik di negara kita yang tidak habis-habisnya (korupsi), bila diteruskan banyak yang tersangkut, dan akibatnya negara ini bisa bubar. Bila kita mau mengatasi itu semua, ada suatu kebijaksanaan klasik yang berasal dari para biarawan padang gurun Mesir abad IV yang berbunyi: “Jangan melawan setan secara langsung”. Para biarawan padang gurun merasakan bahwa perlawanan langsung terhadap kekuatan jahat membutuhkan kematangan spiritual yang tinggi dan sedikit kesucian, supaya siap menghadapinya. Para biarawan padang gurun menyatakan kepada para muridnya supaya memusatkan perhatian kepada Allah Terang atau kasih Allah untuk melenyapkan kekuatan setan. Para biarawan padang gurun berpikir bahwa perlawanan langsung kepada setan justru akan memberi perhatian kepada setan terhadap apa yang dia cari. Sekali mendapat perhatian dari kita, dia (setan) langsung menyergap dan menggoda kita. Itulah cerita mengapa manusia jatuh dalam dosa. (The Road to Peace, Henri Nouwen)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan.jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30). Kata-kata ini dapat diungkapkan dengan sebuah senyum, sekuntum bunga, suatu tarian, atau pelukan, atau sentuhan lembut. Sabda Tuhan ini mengajarkan kekuatan pembebasan yang telah ditawarkan Tuhan yang bangkit kepada kita bahwa penderitaan, kejahatan sekarang merupakan jalan menuju kemuliaan. Penderitaan dan persoalan besar yang dihadapi dunia hanya mampu memecah belah kita, kecuali kalau kita benar-benar berakar pada kasih Allah yang sejati yaitu persaudaraan sejati. Yesus adalah saudara kita yang selalu memperhatikan kita agar terbebas dari penderitaan dunia. Kita harus belajar pada-Nya: “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan meradapat ketenangan.” (Mat 11:29). Rasul Paulus juga menyatakan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, ... “ (Flp 2:5-7). Kejahatan dunia, kekerasan dunia harus dihadapi dengan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Itulah kasih Allah yang dapat membebaskan kita dan mengantar kita pada kesempurnaan.
Kasih Allah yang memerdekakan mengajak kita mengenal diri kita dan membuka diri kita kepada Allah. Maka hidup kita akan diubah karena kasih-Nya. Orang yang mengalami demikian, kesalehan akan menjiwai hidupnya. Semangat kemiskinan Fransiskus Asisi, kesunyian Antonius, keheningan Benediktus, semangat apostolik Ignatius, dan kepekaan Ibu Theresa dari Calcuta menampakkan bagaimana kasih Allah itu memerdekakan diri dan pribadi seseorang sehingga orang lain mengalami kasih Allah. Mereka (para kudus itu) mencintai Allah dalam kebebasan dan kehendaknya. Inilah spiritualitas yang mumpuni yang mempertaruhkan kesempurnaan Allah sebagai cita-cita yang luhur dan suci. Maka kehidupan mereka membawa aroma dan aura bagi orang yang ingin mengalami kasih Allah seperti itu. Kasih Allah yang memerdekakan.

Sebagai orang beriman kita yakin dan percaya betapa kasih Allah itu sungguh memerdekakan manusia dari perbudakan, penindasan dosa, penderitaan, dan keragu-­raguan akan masa depan. Kasih Allah adalah pangkal keselamatan manusia. Kasih Allah yang konkrit nampak pada diri manusia yang kita sebut Tuhan Yesus. Kasih Allah yang dalam Yesus berupaya menyatakan kepada manusia: “...Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; ...” (Yoh 14:9). Kasih Allah yang nampak dalam pribadi manusia mengangkat kelemahan manusia dan menunjukkan jalan harapan ke masa depan. Maka kasih Allah itu nampak dalam perbuatannya. Yesus menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus membebaskan manusia dari beban hukum: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:1-5). Yesus meredakan gelombang, Yesus membangkitkan orang mati, Yesus mengusir setan, Yesus mengajak bertobat, Yesus memilih para rasul, Yesus wafat. Kristus Yesus menjadi tanda dan perbuatan konkrit Allah menolong manusia karena kasih-Nya. Kasih Allah tidak mematikan, melainkan menghidupkan manusia. Maka muncul devosi pada Hati Kudus Yesus, devosi pada Kerahiman Ilahi, devosi pada Luka-luka Yesus, devosi Jalan Salib. Hal ini mau menunjukkan betapa manusia merasakan kasih Allah ini melalui pribadi Yesus yang menampakkan kasih Allah dalam dunia ini.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah suatu pembebasan diri manusia dari dunianya yang sempit. Manusia merasa terjepit oleh dirinya yang membuat Tuan atas dirinya. Padahal manusia itu terbatas. Kasih Allah itu tidak terbatas dan mengajak manusia untuk keluar dari ketidakberdayaan. Kasih Allah mengajak manusia untuk terbuka dan menyelami kasih Allah yang membebaskan. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”(Yoh 16:33). Di sini manusia dibebaskan untuk terpanggil hidup di tengah-tengah berbagai macam pendapat, keyakinan, dan penilaian politik dan sosial. Sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk mengakui bahwa peristiwa-peristiwa konkrit dalam hidup kita sehari-hari (multidimensi krisis) berkaitan erat dengan wafat dan kebangkitan Kristus, tetapi juga dengan kedatangan-Nya kembali. Pembebasan yang sesungguhnya akan datang yaitu keadilan Allah pada akhir zaman. Maka akan ada pertanyaan yang sering membayangi kita dari tahta pengadilan, “Apa yang telah kamu lakukan untuk salah seorang saudara­Ku yang paling hina ini?”(Mat 25:40). Oleh karena itu sambil menantikan Sang Adil, marilah kita membuka diri pada kasih Allah yang mengajak kita untuk saling mengasihi, saling mengampuni, saling menolong. Hal-hal semacam ini mengajak manusia untuk keluar dari dirinya. Pembebasan atau kemerdekaan manakala manusia berani keluar dari dirinya untuk hidup bagi sesama. Kasih Allah yang membebaskan membuka manusia untuk melihat dunia dengan kasihnya.

Kasih Allah yang memerdekakan bukanlah slogan semata, melainkan keselamatan eksistensial manusia yang hidup di dunia panggung sandiwara. Allah mengutus Putra­Nya sebagai bentuk kasih agar manusia dibebaskan dari penderitaan kekal menuju kesempurnaan dan kekudusan. Yesus telah menjadi Guru, Nabi, dan Tuhan yang menampakkan kasih Allah Bapa kepada kita umat manusia. Kasih Allah yang membebaskan terus berjalan dan masih berlanjut. Di tengah dunia yang krisis, Allah menawarkan perbaikan lewat kasih-Nya. Karena itu sebagai orang kristiani, mari kita perdalam iman sebagai senjata kasih untuk melawan kekejaman dunia. Mari mengikuti jalan Yesus dengan semangat para kudus untuk mengedepankan kasih sebagai pengamalan hidup kita. Kasih adalah perjuangan di jalan Allah menuju kesempurnaan abadi. Allah tidak membiarkan kita berjalan di tengah-tengah penderitaan dan pencobaan, namun Allah selalu mengulurkan tangan kasih-Nya. Pertanyaannya, maukah kita bergandengan tangan dengan kasih Allah untuk menyelamatkan dunia? Mari kita melihat kembali jalan hidup kita. Apakah kasih Allah itu mengarahkan dan mengajarkan sesuatu bagi kita? Jangan bimbang dan jangan ragu. Berpeganglah pada kasih Allah, maka kamu akan terbebaskan dan terselamatkan. Mari kita berjuang bersama kasih Allah bagi keselamatan manusia. Selamat berjuang dalam kasih Allah yang membebaskan.... Sampai kita berjumpa di surga.


 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor