|
Kasih Allah Memerdekakan
Oleh : Rm. Jimmy J. Rampengan, Pr
Setiap
tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan Hari
Kemerdekaan. Hari Kemerdekaan merupakan momentum dan
pernyataan bagi bangsa Indonesia yang terlepas dari penjajahan.
Oleh karena itu semua bangsa di kolong langit menyatakan hak
kemerdekaan sangat berarti. Melalui perjuangan hidup dan mati,
para pejuang merebut dan mempertahankan kedaulatan tanah air
dari penjajah. Dengan harga yang sangat mahal yakni tetesan
darah, jiwa dan raga, para pahlawan berjuang bagi tanah air.
Maka setiap anak bangsa merayakan kemerdekaan dan meneruskan
cita-cita kemerdekaan. Pertanyaannya: sudah 63 tahun kita
merdeka, apakah kita merasakan kemerdekaan itu? Apakah
kemerdekaan itu membawa kesejahteraan dan kedamaian saat ini?
Melihat atau mengartikan kata “MERDEKA” tentu banyak artinya.
Kemerdekaan untuk berbicara, berpendapat, berpikir, bebas dari
penjajahan, dsb. Namun makna kemerdekaan itu pada hakekatnya
menyentuh hak azasi manusia. Dan sudut inilah yaitu
kemanusiaan, maka kemerdekaan menjadi prioritas utama dari
keberadaan hidup. Manusia perlu hidup dalam kemerdekaan
sehingga dia bisa mengisi dan mengartikan hidupnya. Bila
kemerdekaan ‘dipenjarakan’ dalam hidup manusia, maka hak
kemerdekaan manusia itu tidak ada. Manusia terasing dari
hidupnya. Banyak keputusan dari para pemimpin negara (termasuk
gereja) yang membuat pribadi manusia terasing dari hidupnya
karena tidak ada kebebasan dan kemerdekaan yang dijadikan
kehormatan. Semua sistem perintah atau penguasaan ada pada
kelompok.
Untuk itu mari kita melihat suatu aspek yang mengartikan
kemerdekaan secara sejati. Dan kemerdekaan semacam inilah yang
mengandung kualitas atau eksistensi dari kemerdekaan. Apapun
arti dan makna kemerdekaan hendaknya bersumber dan berasal
dari kasih Allah. Kasih Allah itulah kemerdekaan yang
sesungguhnya. Penghayatan hidup yang bermakna yaitu bagaimana
kasih Allah itu membebaskan manusia di dalam hidupnya. Manusia
itu awalnya harmonis. Keharmonisannya digambarkan secara
mitologi bagaikan samudra dan daratan yang menyatu. Daratan
selalu berkomunikasi dengan lautan, sehingga damai dan permai,
indah dan mempesona, cantik dan lentik. Namun daratan ego dan
nakal oleh nafsu, sehingga tidak ‘guyub’ dengan lautan.
Daratan mau menguasi dan memaksa. Akhirnya daratan
meninggalkan lautan yang akibatnya muncul Sang Bencana.
Kemerdekaan yang sejati pupus dari kehidupan manusia karena
nafsu: sex, kekuasaan, keduniawian. Hal itu nampak dari para
pemimpin negara dan agama.
Mari kita kembalikan kemerdekaan itu pada kasih Allah yang
menjadi ‘motor’ dan ‘aktor’ , sumber dan subyek di dalam
kehidupan manusia. Dan mana kasih Allah itu? Atau apa kasih
Allah yang memerdekakan itu? Mari kita lihat kasih Allah yang
nampak pada diri manusia. Allah menciptakan manusia secitra:
menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:2b). Artinya manusia itu
diciptakan dengan penuh kasih dan karena kasih Allah itu
manusia menjadi ciptaan yang paling indah. Manusia adalah
makhluk yang paling merdeka dan sempurna: “Karena itu haruslah
kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah
sempurna.” (Mat 5:48), seperti Allah, Sang Pencipta. Manusia
menjadi makhluk yang kudus, bukan makhluk yang penuh ‘kudis’
seperti sekarang ini. Kasih Allah yang memerdekakan membuat
manusia menjadi mahluk yang merdeka, kudus, dan sempurna.
Kasih Allah yang memerdekakan membawa manusia pada kepenuhan
dan kesempurnaan. Seharusnya manusia hidup demikian yaitu
berdasarkan pada kasih Allah yang menuntun kepada kekudusan.
Kemerdekaan adalah kesempurnaan dan kekudusan. Manusia oleh
karena kasih Allah dipanggil untuk menjadi kudus dan sempurna.
Namun apa yang terjadi? Nafsu telah mengubah manusia menjadi
karma dan dosa. Nafsu menjadi setan atas kehidupan. Lalu apa
upaya manusia agar kembali kepada kasih Allah yang
memerdekakan itu?
Melawan kekuasaan yang menghancurkan sangat berbahaya.
Akhir-akhir ini perang nuklir dan konflik Timur Tengah bila
terjadi maka akan menuai kehancuran. Konflik di negara kita
yang tidak habis-habisnya (korupsi), bila diteruskan banyak
yang tersangkut, dan akibatnya negara ini bisa bubar. Bila
kita mau mengatasi itu semua, ada suatu kebijaksanaan klasik
yang berasal dari para biarawan padang gurun Mesir abad IV
yang berbunyi: “Jangan melawan setan secara langsung”. Para
biarawan padang gurun merasakan bahwa perlawanan langsung
terhadap kekuatan jahat membutuhkan kematangan spiritual yang
tinggi dan sedikit kesucian, supaya siap menghadapinya. Para
biarawan padang gurun menyatakan kepada para muridnya supaya
memusatkan perhatian kepada Allah Terang atau kasih Allah
untuk melenyapkan kekuatan setan. Para biarawan padang gurun
berpikir bahwa perlawanan langsung kepada setan justru akan
memberi perhatian kepada setan terhadap apa yang dia cari.
Sekali mendapat perhatian dari kita, dia (setan) langsung
menyergap dan menggoda kita. Itulah cerita mengapa manusia
jatuh dalam dosa. (The Road to Peace, Henri Nouwen)
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang
dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah
hati dan.jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang
Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30).
Kata-kata ini dapat diungkapkan dengan sebuah senyum, sekuntum
bunga, suatu tarian, atau pelukan, atau sentuhan lembut. Sabda
Tuhan ini mengajarkan kekuatan pembebasan yang telah
ditawarkan Tuhan yang bangkit kepada kita bahwa penderitaan,
kejahatan sekarang merupakan jalan menuju kemuliaan.
Penderitaan dan persoalan besar yang dihadapi dunia hanya
mampu memecah belah kita, kecuali kalau kita benar-benar
berakar pada kasih Allah yang sejati yaitu persaudaraan sejati.
Yesus adalah saudara kita yang selalu memperhatikan kita agar
terbebas dari penderitaan dunia. Kita harus belajar pada-Nya:
“belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan meradapat ketenangan.” (Mat 11:29). Rasul
Paulus juga menyatakan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama,
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus
Yesus, ... “ (Flp 2:5-7). Kejahatan dunia, kekerasan dunia
harus dihadapi dengan kelemahlembutan dan kerendahan hati.
Itulah kasih Allah yang dapat membebaskan kita dan mengantar
kita pada kesempurnaan.
Kasih Allah yang memerdekakan mengajak kita mengenal diri kita
dan membuka diri kita kepada Allah. Maka hidup kita akan
diubah karena kasih-Nya. Orang yang mengalami demikian,
kesalehan akan menjiwai hidupnya. Semangat kemiskinan
Fransiskus Asisi, kesunyian Antonius, keheningan Benediktus,
semangat apostolik Ignatius, dan kepekaan Ibu Theresa dari
Calcuta menampakkan bagaimana kasih Allah itu memerdekakan
diri dan pribadi seseorang sehingga orang lain mengalami kasih
Allah. Mereka (para kudus itu) mencintai Allah dalam kebebasan
dan kehendaknya. Inilah spiritualitas yang mumpuni yang
mempertaruhkan kesempurnaan Allah sebagai cita-cita yang luhur
dan suci. Maka kehidupan mereka membawa aroma dan aura bagi
orang yang ingin mengalami kasih Allah seperti itu. Kasih
Allah yang memerdekakan.
Sebagai orang beriman kita yakin dan percaya betapa kasih
Allah itu sungguh memerdekakan manusia dari perbudakan,
penindasan dosa, penderitaan, dan keragu-raguan akan masa
depan. Kasih Allah adalah pangkal keselamatan manusia. Kasih
Allah yang konkrit nampak pada diri manusia yang kita sebut
Tuhan Yesus. Kasih Allah yang dalam Yesus berupaya menyatakan
kepada manusia: “...Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah
melihat Bapa; ...” (Yoh 14:9). Kasih Allah yang nampak dalam
pribadi manusia mengangkat kelemahan manusia dan menunjukkan
jalan harapan ke masa depan. Maka kasih Allah itu nampak dalam
perbuatannya. Yesus menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus
membebaskan manusia dari beban hukum: “Manakah yang
diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat,
menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:1-5).
Yesus meredakan gelombang, Yesus membangkitkan orang mati,
Yesus mengusir setan, Yesus mengajak bertobat, Yesus memilih
para rasul, Yesus wafat. Kristus Yesus menjadi tanda dan
perbuatan konkrit Allah menolong manusia karena kasih-Nya.
Kasih Allah tidak mematikan, melainkan menghidupkan manusia.
Maka muncul devosi pada Hati Kudus Yesus, devosi pada
Kerahiman Ilahi, devosi pada Luka-luka Yesus, devosi Jalan
Salib. Hal ini mau menunjukkan betapa manusia merasakan kasih
Allah ini melalui pribadi Yesus yang menampakkan kasih Allah
dalam dunia ini.
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah suatu pembebasan diri
manusia dari dunianya yang sempit. Manusia merasa terjepit
oleh dirinya yang membuat Tuan atas dirinya. Padahal manusia
itu terbatas. Kasih Allah itu tidak terbatas dan mengajak
manusia untuk keluar dari ketidakberdayaan. Kasih Allah
mengajak manusia untuk terbuka dan menyelami kasih Allah yang
membebaskan. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi
kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”(Yoh 16:33).
Di sini manusia dibebaskan untuk terpanggil hidup di
tengah-tengah berbagai macam pendapat, keyakinan, dan
penilaian politik dan sosial. Sebagai umat Kristen kita
dipanggil untuk mengakui bahwa peristiwa-peristiwa konkrit
dalam hidup kita sehari-hari (multidimensi krisis) berkaitan
erat dengan wafat dan kebangkitan Kristus, tetapi juga dengan
kedatangan-Nya kembali. Pembebasan yang sesungguhnya akan
datang yaitu keadilan Allah pada akhir zaman. Maka akan ada
pertanyaan yang sering membayangi kita dari tahta pengadilan,
“Apa yang telah kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu
yang paling hina ini?”(Mat 25:40). Oleh karena itu sambil
menantikan Sang Adil, marilah kita membuka diri pada kasih
Allah yang mengajak kita untuk saling mengasihi, saling
mengampuni, saling menolong. Hal-hal semacam ini mengajak
manusia untuk keluar dari dirinya. Pembebasan atau kemerdekaan
manakala manusia berani keluar dari dirinya untuk hidup bagi
sesama. Kasih Allah yang membebaskan membuka manusia untuk
melihat dunia dengan kasihnya.
Kasih Allah yang memerdekakan bukanlah slogan semata,
melainkan keselamatan eksistensial manusia yang hidup di dunia
panggung sandiwara. Allah mengutus PutraNya sebagai bentuk
kasih agar manusia dibebaskan dari penderitaan kekal menuju
kesempurnaan dan kekudusan. Yesus telah menjadi Guru, Nabi,
dan Tuhan yang menampakkan kasih Allah Bapa kepada kita umat
manusia. Kasih Allah yang membebaskan terus berjalan dan masih
berlanjut. Di tengah dunia yang krisis, Allah menawarkan
perbaikan lewat kasih-Nya. Karena itu sebagai orang kristiani,
mari kita perdalam iman sebagai senjata kasih untuk melawan
kekejaman dunia. Mari mengikuti jalan Yesus dengan semangat
para kudus untuk mengedepankan kasih sebagai pengamalan hidup
kita. Kasih adalah perjuangan di jalan Allah menuju
kesempurnaan abadi. Allah tidak membiarkan kita berjalan di
tengah-tengah penderitaan dan pencobaan, namun Allah selalu
mengulurkan tangan kasih-Nya. Pertanyaannya, maukah kita
bergandengan tangan dengan kasih Allah untuk menyelamatkan
dunia? Mari kita melihat kembali jalan hidup kita. Apakah
kasih Allah itu mengarahkan dan mengajarkan sesuatu bagi kita?
Jangan bimbang dan jangan ragu. Berpeganglah pada kasih Allah,
maka kamu akan terbebaskan dan terselamatkan. Mari kita
berjuang bersama kasih Allah bagi keselamatan manusia. Selamat
berjuang dalam kasih Allah yang membebaskan.... Sampai kita
berjumpa di surga.
|