Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Juli-September 2009
 


Kesetiaan Kristus & Kesetiaan Imam
 

Oleh : RD. Dionysius Adi Tejo Saputro

 

Sebuah film berjudul "3 Needles" garapan sutradara Thom Fitzgerald mengisahkan tiga suster yang sedang bertugas di sebuah perkampungan wilayah Afrika Selatan. Dalam film itu dikisahkan bagaimana kondisi perkampungan tersebut yang sangat memprihatinkan yang sarat dengan berbagai permasalahan, seperti prostitusi dan narkoba yang disertai dengan pertumbuhan penyakit AIDS yang tinggi, buruh perkebunan dengan upah sangat minim, perekonomian masyarakat yang sangat rendah, moralitas yang rendah, dan sebagainya. Situasi tersebut sungguh mencekam ketiga suster tersebut. Mereka semakin lama semakin tak kuasa untuk berkarya di tempat itu. Mereka tak mungkin selamanya mengandalkan kucuran dari para donatur atau bantuan dari biara pusat. Hingga akhirnya terjadi satu peristiwa, kala itu salah seorang suster muda memberanikan diri menghadap sang penguasa perkebunan untuk menaikkan upah para pekerja, dan menghentikan aktivitas prostitusi maupun perdagangan narkoba. Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya sang penguasa perkebunan itu mengabulkan permintaan suster muda itu, namun dengan satu syarat. Ia bersedia mengabulkan permintaan itu, asalkan saat itu suster muda itu bersedia melayani hasrat seksualnya. Bagi suster itu, syarat tersebut sungguh berat dan dilematis. Memilih mempertahankan kesucian selibat atau berkorban demi masyarakat yang tertindas? Ternyata suster muda itu lebih mengorbankan selibatnya demi kebebasan masyarakat tersebut, meski rintihan kepedihan hati tak terelakkan.

Penggalan film tersebut mengundang satu pertanyaan reflektif, apakah suster muda itu tetap "setia"? Refleksi pendek tentang kesetiaan imam ini tentu bukan sekedar melihat sisi kesetiaan mengenai selibat semata dalam perkara seksualitas semata. Akan tetapi, tulisan pendek ini hendak mengolah kembali arti kesetiaan imam yang didasarkan pada kesetiaan Kristus sendiri, terlebih dalam rangka memaknai Tahun Imam saat ini. Makna kesetiaan haruslah dipandang dan dihayati secara lebih luas. Sebab, kesetiaan merupakan salah kunci dalam memikul tugas dan tanggung jawab sebagai imam. Pertanyaan reflektif lebih lanjut lagi, apakah sampai saat ini nilai kesetiaan tetap bertahan dalam diri para imam? Situasi jaman yang semakin rumit sering menjadi tantangan bagi kesetiaan seorang imam. Semoga melalui tulisan kecil ini menjadi refleksi terhadap nilai kesetiaan sejati dalam diri para imam.

Yesus Kristus Sang Imam Sejati

Poros kehidupan seorang imam tak bisa dilepaskan dari pondasinya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Bahkan lebih dari itu, berkat martabat sakramen tahbisannya, seorang imam adalah "alter christi"; serentak pula Kristus hadir merasuk dalam dirinya (in persona christi). Maka, seluruh kehidupan seorang imam sudah seharusnya mendasarkan pada figur Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Imam Sejati. Lebih dari itu pula, dalam diri Yesus Kristus merupakan puncak kegenapan tugas perutusan-Nya di dunia (bdk Kol 2:9).

Yesus sebagai Sang Imam Sejati tentu tak terlepas dari rangkaian ekonomi keselamatan Allah terhadap manusia. Yesus menerima tugas perutusan keselamatan bagi semua orang dengan kerelaan dan sepenuh hati serta tanggung jawab (bdk. Mrk 10:45). Kerelaan hati dan tanggung jawab melaksanakan tugas berat itu tak mungkin dilaksanakan sampai tuntas bila Yesus tak memiliki kesetiaan pada Bapa-Nya. Hal tersebut terbukti pada saat Ia mengalami penderitaan hebat di kayu salib dan berujung pada kematian-Nya. Salib dan kematiaan-Nya memang menjadi kesimpulan dan bukti nyata bahwa hanya dengan kesetiaanlah, Yesus mampu melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia ini.

Namun demikian, kesetiaan Yesus bukan sekedar dilihat dari "the end of tragic drama". Kesetiaan Yesus harus dilihat dari seluruh proses karya dan tindakan-Nya dalam mewartakan dan mewujudkan karya keselamatan Allah. Kesetiaan dalam diri Yesus pada saat melakukan berbagai karya, sungguh menjadi totalitas kekuatan yang merasuk dalam setiap tindakan-Nya. Karya dan tindakan-Nya sungguh terasa berisi, berbobot, bukan asal-asalan. Orang yang mendengar-Nya menjadi percaya dan sembuh! Nilai yang terkandung dalam diri Yesus juga secara jelas terucap dari sabda-Nya…"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam dalam perkara-perkara besar" (Luk 16:10; bdk. Mat 25:21,23). Sabda tersebut semakin memperjelas nilai kesetiaan dalam diri Yesus. Lebih jelas lagi, bahwa kesetiaan merupakan "identitas" bahkan lebih tepatnya lagi "jati diri" yang mengungkapkan siapa dan bagaimana Yesus terlebih dalam karya-Nya. Pernyataan Yesus yang menyebutkan…"Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (Yoh 8:29; bdk. Yoh 5:19-47). Kesaksian Yesus mengenai siapa diri-Nya tersebut lebih mempertegas kembali bahwa kekuatan kesetiaan-Nya dikarenakan Allah yang sungguh hadir sebagai Bapa-Nya.

Nilai dan kekuatan kesetiaan dalam diri Yesus tersebut kiranya dapat dilihat dalam beberapa sisi. Pertama, kesetiaan hanya dapat dilakukan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab bila seseorang sungguh mengetahui dan memahami tugas yang dipikulnya. Yesus pun sungguh mengenal siapa Bapa-Nya. Ia begitu mengenal Bapa-Nya karena Yesus berasal dari-Nya. Maka segala sesuatu yang nampak dalam karya-Nya sungguh merupakan karya Bapa-Nya, sebab Yesus selalu menaruh diri-Nya untuk tinggal dalam Bapa, dan Bapa berkenan dalam diri Yesus. Situasi yang begitu dekat dan intim itu membuat Yesus sungguh mengerti bagaimana Ia harus melaksanakan tugas-tugas-Nya. Kedua, nilai kesetiaan yang dimiliki Yesus menuntut sikap berpasrah dan berkorban dengan segenap hati. Yesus rela menderita dan wafat karena Ia setia kepada Bapa-Nya dan bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan manusia.

Ketiga, nilai kesetiaan Yesus membuat-Nya tidak ragu-ragu dalam bertindak, bahkan Ia terkadang bersikap kontradiktif terhadap situasi di sekitarnya. Kemantapan sikap Yesus tersebut juga menunjukkan bahwa segala yang dilakukan-Nya adalah berasal dari Bapa. Dengan demikian, Yesus mampu menghadapi situasi dunia yang masih jauh dari harapan Bapa. Dalam hal ini pula, Yesus merupakan sosok yang tanggap jaman; sosok yang mampu membawa manusia pada perubahan yang benar. Yesus berani menyatakan sebuah keselamatan yang sejati sampai titik darah-Nya. Oleh karena itu, Yesus berani dan rela pula menjadi setara dengan manusia supaya mereka menjadi semakin dekat Bapa-Nya. Yesus pun tak segan berhadapan dengan aturan manusia yang seringkali justru membelenggu diri mereka, dan malah menjauh dari Bapa.

Bagi seorang imam, kesetiaan Yesus yang demikian patut menjadi inspirasi terus-menerus dalam dirinya. Karena hanya model kesetiaan Dialah, maka seorang imam mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam menghantarkan umat menuju pada keselamatan.

Hakekat Imam: Tugas Perutusan Kristus

Dalam dokumen KV II dinyatakan sebagai berikut:

Tuhan Yesus, "yang oleh Bapa dikuduskan dan diutus ke dunia"(Yoh 10:36), mengikutsertakan seluruh Tubuh mistik-Nya dalam pengurapan Roh yang telah diterima-Nya sendiri. Sebab dalam Dia semua orang beriman menjadi Imamat kudus dan rajawi, mempersembahkan korban-korban rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus, dan mewartakan kekuatan Dia, yang memanggil mereka dari kegelapan ke dalam cahaya-Nya yang mengagumkan…..

Tetapi supaya umat beriman makin berpadu menjadi satu Tubuh, "di dalamnya tidak semua anggota mempunyai tugas yang sama"(Rm12:4), Tuhan itu juga mengangkat di tengah mereka beberapa anggota menjadi pelayan, yang dalam persekutuan umat beriman mempunyai kuasa Tahbisan suci untuk mempersembahkan Korban dan mengampuni dosa-dosa, dan yang demi nama Kristus secara resmi menunaikan tugas imamat bagi orang-orang…. (PO no.2).

Pada dasarnya, setiap orang yang masuk dalam persekutuan Tubuh Mistik Kristus memiliki jabatan raja, nabi, dan imamat dalam artian umum (KHK § 204,1; PO 2; Rm 1:1). Namun agar tata keselamatan di dunia dalam persekutuan itu semakin terwujud ada kelompok orang yang dikhususkan dalam tugas pengudusan (KHK § 207). Mereka inilah para imam atau kelompok klerikus yang hidupnya dikhususkan bagi tugas pelayanan yang menyangkut kehidupan beriman umat. Kekhususan tersebut merupakan ciri khas bagi para imam yang membedakannya dari bentuk panggilan umum. Kekhususan itu didasarkan pada nasehat Injili dengan menekankan hidup selibat, kemiskinan, dan ketaatan. Ketiga hal tersebut merupakan corak khusus yang harus dijalankan oleh mereka. Meski ketiga nasehat Injili itu menjadi corak khusus bagi para klerus mapun lembaga hidup bakti, bukan berarti umat beriman awam tidak melaksanakan. Ketiga hal tersebut juga menjadi semangat hidup kristiani bagi seluruh umat beriman Allah.

Kehidupan para imam memang tak terlepaskan dari tiga nasehat Injili yang merupakan warisan hidup Yesus sendiri. Seorang pelayan akan sungguh-sungguh total melaksanakan tugasnya bila ia menyadari tanggung jawabnya. Begitupun bagi seorang imam, dia sungguh akan melaksanakan tugasnya bila ia pun menjalankan dengan sepenuh jiwa dan raganya. Maka, selibat, kemiskinan, dan ketaatan bukan mengandalkan kekuatan manusia tetapi merupakan rahmat Allah yang menjadi kekuatan seorang imam dalam menjalankan tugasnya. Ketiga nasihat Injili seharusnya bukan lagi menjadi kewajiban, tetapi semata-mata karena panggilan Allah. Dengan demikian, bila selibat, kemiskinan, dan ketaatan merupakan rahmat Allah, maka harus disyukuri sebagai "cara hidup" imam tersebut.

Bila ketiga nasihat Injili dipahami sebagai rahmat yang menguatkan, maka seorang imam juga harus berusaha agar hidupnya senantiasa dalam rahmat itu. Kuncinya tak lain adalah semakin mengarahkan hidupnya pada keintiman dan masuk dalam persatuan dengan Yesus yang adalah Allah sendiri. Maka sikap setia sungguh menjadi dasar untuk terus-menerus bersedia tinggal dalam Allah sendiri. Bagaimana mungkin seorang imam mampu menjalankan tugasnya bila ia tidak mau dekat dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya? Bagaimana mungkin seorang imam sungguh memahami, menghayati apa yang menjadi tugasnya bila ia tidak setia terhadap Allah? Umat yang digembalakan oleh imam adalah milik Allah. Imam adalah pekerja yang dipilih oleh-Nya untuk melaksanakan tugas pelayanan bagi mereka. Jadi, seorang pekerja harus dapat mempertanggungjawabkan atas apa yang menjadi perintah tuannya.

Jikalau demikian, kesetiaan bukan sekedar kewajiban karena ia menjadi imam. Sekali lagi, kesetiaan merupakan nilai yang seharusnya merasuk dalam pola hidup seorang imam ketika ia menerima rahmat panggilan khusus itu dan direalisasikan dalam hidup dan karyanya. Perkaranya sekarang adalah bagaimana kesetiaan itu sungguh berbunyi dalam hidup dan karya seorang imam, dan terlebih terhadap umat yang digembalakannya.

Cuplikan kisah suster muda dalam film "3 Needles" sedikit menjadi inspirasi dalam menggemakan kesetiaan dalam diri para klerus, atau siapa saja yang menjalankan ketiga nasihat Injili. Misalnya dalam perkara selibat, seorang imam bukan hanya dihadapkan melulu pada sisi seksualitas semata. Akan tetapi, rahmat selibat seharusnya menjadi kekuatan dalam dirinya untuk sepenuhnya memancarkan cinta kasih Allah secara bebas dan utuh kepada umat yang dilayaninya. Maka selibat hendaknya tidak menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Bila dibandingkan dengan peristiwa yang dialami suster muda dalam film "3 Needles" memang menjadi kontras dalam memahami selibat pada tingkatan seksual. Suster muda tersebut rela melepaskan "selibatnya" (keperawanannya) demi mereka yang menderita. Ia melepaskan harga dirinya! Hal penting yang hendak digarisbawahi dari kisah itu adalah selibat sering hanya menjadi tembok pemisah yang kaku dan tak mau mengerti situasi di luarnya. Bila demikian, bukankah selibat akhirnya tak bergema dalam aktivitas pelayanan sorang pelaku hidup selibat?

Hal-hal tersebut di atas juga berlaku dalam dua pola hidup yang lain, yaitu kemiskinan dan ketaatan. Kedua pola hidup itu juga seharusnya semakin menggema dalam karya dan hidup seorang imam. Akan tetapi, situasi jaman semakin menantang. Lagi-lagi, kedua keutamaan tersebut kembali diuji, apakah semakin memperdalam hidup panggilan seorang imam, atau justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, dalam memasuki dan merayakan Tahun Imam, baiklah kita semua berefleksi agar kesetiaan dalam rahmat panggilan senantiasa diolah dari hari ke hari. Tentu saja para imam tak dapat berjalan sendiri tanpa keterlibatan umat yang digembalakannya. Semangat hubungan kerjasama Triniter hendaknya juga dibumikan dalam kerjasama yang mutual di antara para imam dan umat. Hal tersebut dapat diwujudkan dalam usaha membangun nilai-nilai praksis kesetiaan baik dari pihak para imam maupun umat seturut panggilan mereka masing-masing. Santo Yohanes Maria Vianey, doakanlah kami!

 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor