|
Kesetiaan Kristus &
Kesetiaan Imam
Oleh : RD.
Dionysius Adi Tejo Saputro
S ebuah
film berjudul "3 Needles" garapan sutradara Thom
Fitzgerald mengisahkan tiga suster yang sedang bertugas di
sebuah perkampungan wilayah Afrika Selatan. Dalam film itu
dikisahkan bagaimana kondisi perkampungan tersebut yang sangat
memprihatinkan yang sarat dengan berbagai permasalahan,
seperti prostitusi dan narkoba yang disertai dengan
pertumbuhan penyakit AIDS yang tinggi, buruh perkebunan dengan
upah sangat minim, perekonomian masyarakat yang sangat rendah,
moralitas yang rendah, dan sebagainya. Situasi tersebut
sungguh mencekam ketiga suster tersebut. Mereka semakin lama
semakin tak kuasa untuk berkarya di tempat itu. Mereka tak
mungkin selamanya mengandalkan kucuran dari para donatur atau
bantuan dari biara pusat. Hingga akhirnya terjadi satu
peristiwa, kala itu salah seorang suster muda memberanikan
diri menghadap sang penguasa perkebunan untuk menaikkan upah
para pekerja, dan menghentikan aktivitas prostitusi maupun
perdagangan narkoba. Setelah terjadi perdebatan panjang,
akhirnya sang penguasa perkebunan itu mengabulkan permintaan
suster muda itu, namun dengan satu syarat. Ia bersedia
mengabulkan permintaan itu, asalkan saat itu suster muda itu
bersedia melayani hasrat seksualnya. Bagi suster itu, syarat
tersebut sungguh berat dan dilematis. Memilih mempertahankan
kesucian selibat atau berkorban demi masyarakat yang tertindas?
Ternyata suster muda itu lebih mengorbankan selibatnya demi
kebebasan masyarakat tersebut, meski rintihan kepedihan hati
tak terelakkan.
Penggalan
film tersebut mengundang satu pertanyaan reflektif, apakah
suster muda itu tetap "setia"? Refleksi pendek tentang
kesetiaan imam ini tentu bukan sekedar melihat sisi kesetiaan
mengenai selibat semata dalam perkara seksualitas semata. Akan
tetapi, tulisan pendek ini hendak mengolah kembali arti
kesetiaan imam yang didasarkan pada kesetiaan Kristus sendiri,
terlebih dalam rangka memaknai Tahun Imam saat ini. Makna
kesetiaan haruslah dipandang dan dihayati secara lebih luas.
Sebab, kesetiaan merupakan salah kunci dalam memikul tugas dan
tanggung jawab sebagai imam. Pertanyaan reflektif lebih lanjut
lagi, apakah sampai saat ini nilai kesetiaan tetap bertahan
dalam diri para imam? Situasi jaman yang semakin rumit sering
menjadi tantangan bagi kesetiaan seorang imam. Semoga melalui
tulisan kecil ini menjadi refleksi terhadap nilai kesetiaan
sejati dalam diri para imam.
Yesus Kristus Sang Imam
Sejati
Poros kehidupan seorang imam
tak bisa dilepaskan dari pondasinya, yaitu Yesus Kristus
sendiri. Bahkan lebih dari itu, berkat martabat sakramen
tahbisannya, seorang imam adalah "alter christi";
serentak pula Kristus hadir merasuk dalam dirinya (in
persona christi). Maka, seluruh kehidupan seorang imam
sudah seharusnya mendasarkan pada figur Yesus Kristus sendiri
sebagai Sang Imam Sejati. Lebih dari itu pula, dalam diri
Yesus Kristus merupakan puncak kegenapan tugas perutusan-Nya
di dunia (bdk Kol 2:9).
Yesus sebagai Sang Imam
Sejati tentu tak terlepas dari rangkaian ekonomi keselamatan
Allah terhadap manusia. Yesus menerima tugas perutusan
keselamatan bagi semua orang dengan kerelaan dan sepenuh hati
serta tanggung jawab (bdk. Mrk 10:45). Kerelaan hati dan
tanggung jawab melaksanakan tugas berat itu tak mungkin
dilaksanakan sampai tuntas bila Yesus tak memiliki kesetiaan
pada Bapa-Nya. Hal tersebut terbukti pada saat Ia mengalami
penderitaan hebat di kayu salib dan berujung pada kematian-Nya.
Salib dan kematiaan-Nya memang menjadi kesimpulan dan bukti
nyata bahwa hanya dengan kesetiaanlah, Yesus mampu
melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia ini.
Namun demikian, kesetiaan
Yesus bukan sekedar dilihat dari "the end of tragic drama".
Kesetiaan Yesus harus dilihat dari seluruh proses karya dan
tindakan-Nya dalam mewartakan dan mewujudkan karya keselamatan
Allah. Kesetiaan dalam diri Yesus pada saat melakukan berbagai
karya, sungguh menjadi totalitas kekuatan yang merasuk dalam
setiap tindakan-Nya. Karya dan tindakan-Nya sungguh terasa
berisi, berbobot, bukan asal-asalan. Orang yang mendengar-Nya
menjadi percaya dan sembuh! Nilai yang terkandung dalam diri
Yesus juga secara jelas terucap dari sabda-Nya…"Barangsiapa
setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam
perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam
perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam dalam
perkara-perkara besar" (Luk 16:10; bdk. Mat 25:21,23).
Sabda tersebut semakin memperjelas nilai kesetiaan dalam diri
Yesus. Lebih jelas lagi, bahwa kesetiaan merupakan "identitas"
bahkan lebih tepatnya lagi "jati diri" yang mengungkapkan
siapa dan bagaimana Yesus terlebih dalam karya-Nya. Pernyataan
Yesus yang menyebutkan…"Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia
menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku
senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (Yoh
8:29; bdk. Yoh 5:19-47). Kesaksian Yesus mengenai siapa
diri-Nya tersebut lebih mempertegas kembali bahwa kekuatan
kesetiaan-Nya dikarenakan Allah yang sungguh hadir sebagai
Bapa-Nya.
Nilai dan kekuatan kesetiaan
dalam diri Yesus tersebut kiranya dapat dilihat dalam beberapa
sisi. Pertama, kesetiaan hanya dapat dilakukan dengan
sepenuh hati dan tanggung jawab bila seseorang sungguh
mengetahui dan memahami tugas yang dipikulnya. Yesus pun
sungguh mengenal siapa Bapa-Nya. Ia begitu mengenal Bapa-Nya
karena Yesus berasal dari-Nya. Maka segala sesuatu yang nampak
dalam karya-Nya sungguh merupakan karya Bapa-Nya, sebab Yesus
selalu menaruh diri-Nya untuk tinggal dalam Bapa, dan Bapa
berkenan dalam diri Yesus. Situasi yang begitu dekat dan intim
itu membuat Yesus sungguh mengerti bagaimana Ia harus
melaksanakan tugas-tugas-Nya. Kedua, nilai kesetiaan
yang dimiliki Yesus menuntut sikap berpasrah dan berkorban
dengan segenap hati. Yesus rela menderita dan wafat karena Ia
setia kepada Bapa-Nya dan bertanggung jawab sepenuhnya atas
keselamatan manusia.
Ketiga,
nilai kesetiaan Yesus membuat-Nya tidak ragu-ragu dalam
bertindak, bahkan Ia terkadang bersikap kontradiktif terhadap
situasi di sekitarnya. Kemantapan sikap Yesus tersebut juga
menunjukkan bahwa segala yang dilakukan-Nya adalah berasal
dari Bapa. Dengan demikian, Yesus mampu menghadapi situasi
dunia yang masih jauh dari harapan Bapa. Dalam hal ini pula,
Yesus merupakan sosok yang tanggap jaman; sosok yang mampu
membawa manusia pada perubahan yang benar. Yesus berani
menyatakan sebuah keselamatan yang sejati sampai titik
darah-Nya. Oleh karena itu, Yesus berani dan rela pula menjadi
setara dengan manusia supaya mereka menjadi semakin dekat
Bapa-Nya. Yesus pun tak segan berhadapan dengan aturan manusia
yang seringkali justru membelenggu diri mereka, dan malah
menjauh dari Bapa.
Bagi seorang imam, kesetiaan
Yesus yang demikian patut menjadi inspirasi terus-menerus
dalam dirinya. Karena hanya model kesetiaan Dialah, maka
seorang imam mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
dalam menghantarkan umat menuju pada keselamatan.
Hakekat Imam: Tugas
Perutusan Kristus
Dalam dokumen KV II
dinyatakan sebagai berikut:
Tuhan Yesus, "yang oleh Bapa
dikuduskan dan diutus ke dunia"(Yoh 10:36), mengikutsertakan
seluruh Tubuh mistik-Nya dalam pengurapan Roh yang telah
diterima-Nya sendiri. Sebab dalam Dia semua orang beriman
menjadi Imamat kudus dan rajawi, mempersembahkan korban-korban
rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus, dan mewartakan
kekuatan Dia, yang memanggil mereka dari kegelapan ke dalam
cahaya-Nya yang mengagumkan…..
Tetapi supaya umat beriman
makin berpadu menjadi satu Tubuh, "di dalamnya tidak semua
anggota mempunyai tugas yang sama"(Rm12:4), Tuhan itu juga
mengangkat di tengah mereka beberapa anggota menjadi pelayan,
yang dalam persekutuan umat beriman mempunyai kuasa Tahbisan
suci untuk mempersembahkan Korban dan mengampuni dosa-dosa,
dan yang demi nama Kristus secara resmi menunaikan tugas
imamat bagi orang-orang…. (PO no.2).
Pada dasarnya, setiap orang
yang masuk dalam persekutuan Tubuh Mistik Kristus memiliki
jabatan raja, nabi, dan imamat dalam artian umum (KHK
§ 204,1; PO 2; Rm
1:1). Namun agar tata keselamatan di dunia dalam persekutuan
itu semakin terwujud ada kelompok orang yang dikhususkan dalam
tugas pengudusan (KHK § 207). Mereka inilah para imam atau
kelompok klerikus yang hidupnya dikhususkan bagi tugas
pelayanan yang menyangkut kehidupan beriman umat. Kekhususan
tersebut merupakan ciri khas bagi para imam yang membedakannya
dari bentuk panggilan umum. Kekhususan itu didasarkan pada
nasehat Injili dengan menekankan hidup selibat, kemiskinan,
dan ketaatan. Ketiga hal tersebut merupakan corak khusus yang
harus dijalankan oleh mereka. Meski ketiga nasehat Injili itu
menjadi corak khusus bagi para klerus mapun lembaga hidup
bakti, bukan berarti umat beriman awam tidak melaksanakan.
Ketiga hal tersebut juga menjadi semangat hidup kristiani bagi
seluruh umat beriman Allah.
Kehidupan para imam memang
tak terlepaskan dari tiga nasehat Injili yang merupakan
warisan hidup Yesus sendiri. Seorang pelayan akan
sungguh-sungguh total melaksanakan tugasnya bila ia menyadari
tanggung jawabnya. Begitupun bagi seorang imam, dia sungguh
akan melaksanakan tugasnya bila ia pun menjalankan dengan
sepenuh jiwa dan raganya. Maka, selibat, kemiskinan, dan
ketaatan bukan mengandalkan kekuatan manusia tetapi merupakan
rahmat Allah yang menjadi kekuatan seorang imam dalam
menjalankan tugasnya. Ketiga nasihat Injili seharusnya bukan
lagi menjadi kewajiban, tetapi semata-mata karena panggilan
Allah. Dengan demikian, bila selibat, kemiskinan, dan ketaatan
merupakan rahmat Allah, maka harus disyukuri sebagai "cara
hidup" imam tersebut.
Bila ketiga nasihat Injili
dipahami sebagai rahmat yang menguatkan, maka seorang imam
juga harus berusaha agar hidupnya senantiasa dalam rahmat itu.
Kuncinya tak lain adalah semakin mengarahkan hidupnya pada
keintiman dan masuk dalam persatuan dengan Yesus yang adalah
Allah sendiri. Maka sikap setia sungguh menjadi dasar untuk
terus-menerus bersedia tinggal dalam Allah sendiri. Bagaimana
mungkin seorang imam mampu menjalankan tugasnya bila ia tidak
mau dekat dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya?
Bagaimana mungkin seorang imam sungguh memahami, menghayati
apa yang menjadi tugasnya bila ia tidak setia terhadap Allah?
Umat yang digembalakan oleh imam adalah milik Allah. Imam
adalah pekerja yang dipilih oleh-Nya untuk melaksanakan tugas
pelayanan bagi mereka. Jadi, seorang pekerja harus dapat
mempertanggungjawabkan atas apa yang menjadi perintah tuannya.
Jikalau demikian, kesetiaan
bukan sekedar kewajiban karena ia menjadi imam. Sekali lagi,
kesetiaan merupakan nilai yang seharusnya merasuk dalam pola
hidup seorang imam ketika ia menerima rahmat panggilan khusus
itu dan direalisasikan dalam hidup dan karyanya. Perkaranya
sekarang adalah bagaimana kesetiaan itu sungguh berbunyi dalam
hidup dan karya seorang imam, dan terlebih terhadap umat yang
digembalakannya.
Cuplikan kisah suster muda
dalam film "3 Needles" sedikit menjadi inspirasi dalam
menggemakan kesetiaan dalam diri para klerus, atau siapa saja
yang menjalankan ketiga nasihat Injili. Misalnya dalam perkara
selibat, seorang imam bukan hanya dihadapkan melulu pada sisi
seksualitas semata. Akan tetapi, rahmat selibat seharusnya
menjadi kekuatan dalam dirinya untuk sepenuhnya memancarkan
cinta kasih Allah secara bebas dan utuh kepada umat yang
dilayaninya. Maka selibat hendaknya tidak menjadi batu
sandungan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Bila
dibandingkan dengan peristiwa yang dialami suster muda dalam
film "3 Needles" memang menjadi kontras dalam memahami
selibat pada tingkatan seksual. Suster muda tersebut rela
melepaskan "selibatnya" (keperawanannya) demi mereka yang
menderita. Ia melepaskan harga dirinya! Hal penting yang
hendak digarisbawahi dari kisah itu adalah selibat sering
hanya menjadi tembok pemisah yang kaku dan tak mau mengerti
situasi di luarnya. Bila demikian, bukankah selibat akhirnya
tak bergema dalam aktivitas pelayanan sorang pelaku hidup
selibat?
Hal-hal tersebut di atas
juga berlaku dalam dua pola hidup yang lain, yaitu kemiskinan
dan ketaatan. Kedua pola hidup itu juga seharusnya semakin
menggema dalam karya dan hidup seorang imam. Akan tetapi,
situasi jaman semakin menantang. Lagi-lagi, kedua keutamaan
tersebut kembali diuji, apakah semakin memperdalam hidup
panggilan seorang imam, atau justru menjadi bumerang bagi
dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, dalam
memasuki dan merayakan Tahun Imam, baiklah kita semua
berefleksi agar kesetiaan dalam rahmat panggilan senantiasa
diolah dari hari ke hari. Tentu saja para imam tak dapat
berjalan sendiri tanpa keterlibatan umat yang digembalakannya.
Semangat hubungan kerjasama Triniter hendaknya juga dibumikan
dalam kerjasama yang mutual di antara para imam dan umat. Hal
tersebut dapat diwujudkan dalam usaha membangun nilai-nilai
praksis kesetiaan baik dari pihak para imam maupun umat
seturut panggilan mereka masing-masing. Santo Yohanes Maria
Vianey, doakanlah kami!
|