Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober - Desember 2007
 

Potret Keuskupan Bogor

          

Data Perkembangan Umat

Keuskupan Bogor meliputi Provinsi Banten dan sebagian Jawa Barat, terdiri atas wilayah pemerintahan Kabupaten-Kabupaten : Pandeglang, Serang, Lebak, Bogor, Sukabumi, dan Cianjur serta pemerintahan kota Serang, Depok, Bogor dan Sukabumi, luasnya 18.368,93 km2. Jumlah penduduknya ± 18 juta dan di dalamnya terdapat umat Katolik yang merupakan kelompok kecil. Menurut data paroki tahun 1992 jumlah umat di Keuskupan Bogor adalah 39.889. Pada tahun 1994 jumlah umat Katolik telah bertambah menjadi 41 ribu. Statistik umat Katolik tahun 2003 menunjukkan perkembangan yang cukup berarti yaitu 66 ribu dengan perkiraan pertambahan setiap tahun, 1.000 sampai 1.500 orang. Maka pada tahun 2007 ini diperkirakan jumlah umat Katolik Keuskupan Bogor menjadi ± 71 ribu orang.
Pertambahan jumlah umat itu berasal baik dari permandian maupun dari perpindahan penduduk sebagai dampak perkembangan Jabodetabek. Banyak orang Jakarta mempunyai rumah tinggal alternatif di Bogor, termasuk juga umat Katolik. Perkembangan umat Katolik cukup terasa pada bagian utara Keuskupan Bogor. Sedangkan di bagian selatan perkembangannya tidak terlalu mencolok.
Umat Katolik Keuskupan Bogor berasal dari pelbagai suku, bahasa, dan budaya; keanekaragaman itu merupakan suatu kekayaan namun dapat juga menjadi hambatan bila tidak diolah secara baik.

Data Perkembangan Paroki

Pada tahun 1992 terdapat 13 paroki di Keuskupan Bogor yaitu Katedral, Sukasari, Megamendung, Cibinong, Kelapa Dua, Depok Lama, Rangkasbitung, Serang, Cipanas, Cianjur, Sukabumi, Cibadak dan Cicurug. Selama 15 tahun terakhir telah bertambah 5 paroki baru, yaitu paroki-paroki : Kategorial Mahasiswa, Depok Timur, Depok Tengah, Depok Jaya, Cinere, Parung, dan Ciluar. Sedang yang masih dalam persiapan adalah Cileungsi, Kahuripan, Bukit Sentul.
Di masa depan stasi-stasi berikut ini : Sukatani - Cibubur, Citra Indah, Parung Panjang, Pelabuhan Ratu, dan Carita dapat berkembang menjadi pusat pengembangan umat.
Namun di lain pihak sejumlah stasi terpaksa harus ditutup di masa depan karena umatnya sudah pindah ke tempat lain, seperti: Cikotok, Teluk Lada, dan Maja.
Masalah yang dihadapi umat Bogor yang menghambat perkembangan adalah

  • Sukarnya mendirikan rumah ibadat. Di beberapa tempat umat terhambat untuk mengekspresikan imannya, misalnya : kesulitan untuk berkumpul dan mengadakan doa di rumah keluarga.

  • Sekarang dituntut adanya legal standing suatu paroki yang diaktenotariskan pendiriannya dan disahkan di kehakiman.
     

Sumberdaya Manusia / Ketenagaan

Uskup dan Kuria Diosesan
Uskup adalah pengganti para rasul, juga merupakan uskup diosesan, karena kepadanya diserahkan reksa pastoral umat Keuskupan Bogor. Melalui tahbisannya dia menerima kuasa dan tugas sebagai gembala, guru ajaran iman dan moral, imam dalam peribadatan ilahi dan pelayan dalam kepemimpinan. Kuasa dan tugasnya adalah mengajar, menyucikan dan memimpin umat (CD 11). Meskipun ia memiliki kuasa ordinaria (biasa), penuh dan langsung, namun dalam pelaksanaan tugasnya tetap memperhatikan persatuannya dengan Gereja universal dan nasional, demi terwujudnya dan tetap terjaga kesatuan iman Gereja dan misinya.
Selain sebagai uskup Bogor, uskup juga mendapat tugas dari KWI, berturut-turut sebagai berikut :
- Menjadi Ketua Komisi Keluarga KWI 1994-2000
- Menjadi Anggota Presidium KWI 1997-2000
- Menjadi Ketua Komisi Pendidikan KWI 2000-2006
- Menjadi Anggota Presidium KWI 2006-2009
- Menjadi Uskup Advisor untuk BPN PKK 1998-sekarang
- Menjadi Uskup Advisor untuk ISAO (Iccrs Asia Oceano) 1997-sekarang

Demi efektivitas, efisiensi dan agar dapat menjangkau lebih banyak umat, uskup dibantu oleh Kuria Keuskupan, yakni orang-orang dan organisasi yang membantu uskup dalam penggembalaan umat di Keuskupan Bogor. Kuria Keuskupan Bogor terdiri dari Vikaris General, Vikaris Yudisialis, Sekretaris General (Kanselir, Notaris, Arsipis) dan Ekonom. Selain itu uskup dibantu oleh dewan-dewan dan lembaga-lembaga (organisasi-organisasi) seperti : Dewan Imam, Dewan Konsultor, Komisi-Komisi, Kesekretariatan, Dewan Keuangan, Tribunal dan Dewan Pastoral Keuskupan, serta Dewan Pastoral Paroki.

Kuria Diosesan Keuskupan Bogor
Vikaris General bertugas sebagai Moderator Kuria, mengatur hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan, pengurusan, pengaturan agar kuria keuskupan dapat berjalan dengan baik. Dan juga bertugas untuk mengkoordinir kegiatan komisi-komisi dan lembaga-lembaga di dalam keuskupan, serta mendampingi uskup dan menjalankan wewenang yang didelegasikan oleh uskup kepadanya.
Vikaris Yudisialis diberi wewenang dan delegasi untuk menangani masalah-masalah hukum, juga untuk masalah-masalah perkawinan dan juga sebagai hakim dalam kerjasama dengan para iuris di Provinsi Gerejawi Jakarta dan regio Jawa.
Sekretaris General bertugas sebagai kanselir, notaris dan sekaligus arsipis dan mengatur pertemuan-pertemuan tingkat kuria.
Ekonom bertugas untuk mengatur, menyimpan dan menyelamatkan keuangan dan aset-aset keuskupan dan membuat laporan tahunan kepada pimpinan umum di Roma.

Para Imam
Kita patut bersyukur kepada Tuhan dan kepada para pendahulu kita yang telah memelopori pembangunan, baik Seminari Menengah maupun Seminari Tinggi. Kedua lembaga pendidikan itu menjadi sumber dari panggilan imamat dan hidup religius. Pada tahun 1992 jumlah imam di Keuskupan Bogor adalah 34 orang, kini jumlahnya menjadi : 45 Imam Projo, 16 Imam-imam religius, dan beberapa imam projo dari keuskupan lain yang karena tugasnya tinggal di Keuskupan Bogor. Dipandang dari sudut itu, pelayanan pastoral di Keuskupan Bogor dapat terjamin. Dan hal tersebut sejalan pula dengan perkembangan jumlah umat sebagaimana disebutkan di atas.
Imam-imam Diosesan tergabung dalam UNIO yang cukup mendapat perhatian dari para anggotanya. Imam-imam religius tergabung dalam IKRAR. Masing-masing kelompok memiliki program pembinaannya.
Bina Lanjut Imam dilakukan melalui pelbagai cara seperti retret, lokakarya, kursus, dan pertemuan-pertemuan berkala. Di samping itu keuskupan memberi kesempatan kepada imam-imam untuk mengikuti kursus-kursus pengembangan dirinya.
Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia guna menjawab kebutuhan jaman, sejak tahun 1993 sampai sekarang telah dikirim untuk study spesialisasi dalam dan luar negeri sejumlah imam untuk bidang-bidang sebagai berikut : Teologi Spiritualitas, Liturgi, Hukum Gereja, Islamologi, Moral, Kitab Suci, Dogmatik, Komunikasi Sosial, Psikologi Pendidikan, Psikologi, Pastoral Konseling dan kursus-kursus Religius Formation. Tersedianya tenaga-tenaga dalam bidang-bidang seperti disebutkan di atas, amat membantu dalam penanganan kebutuhan pastoral dan pembinaan umat di Keuskupan Bogor. Kendala pokok yang kita hadapi dalam rangka peningkatan sumber daya manusia dan kaderisasi adalah terbatasnya dana.


Lembaga Hidup Bakti
Pada tahun 1992 Lembaga Hidup Bakti di Keuskupan Bogor berjumlah 10, terdiri dari OFM, RGS, FMM, SFS, OSU, OSC, AK, Rosa Mystica, Bruder BM, dan SJ. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini telah masuk pula tarekat-tarekat baru seperti CSE, Puteri Karmel, PRR, KFS, CP, OFM.Cap, SPC, OSF, SVD dan OFS. Sekarang jumlah tarekat di Keuskupan Bogor menjadi 20. Hal mana berarti pula bertambah banyaklah tenaga-tenaga untuk berpartisipasi dalam membangun Gereja lokal Keuskupan Bogor. Di Keuskupan Bogor terdapat sejumlah rumah pusat pendidikan religius seperti : Novisiat OFM di Depok, Postulan dan Novisiat FMM di Bogor, Postulan dan Novisiat SFS di Sukabumi, Postulan dan Novisiat CSE di Cikanyere—Cianjur, Postulan dan Novisiat Claris di Pacet.

Kaum Awam
Hal yang menggembirakan kita semua di Keuskupan Bogor adalah adanya kebangkitan kaum awam yang secara nyata memberikan partisipasinya dalam rangka membangun keuskupan. Mereka berada di garis paling depan sampai ke pelosok-pelosok Keuskupan. Mereka memberikan kesaksian imannya di dalam keluarga mereka masing-masing dan di tempat-tempat mereka berkarya. Kekuatan iman yang mereka miliki membuat mereka berdaya tahan di tengah-tengah situasi yang acapkali kurang kondusif. Selain itu mereka menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana bagi kepentingan Gereja. Patut juga kita berterimakasih kepada para imam, awam, serta kaum religius yang dengan sukarela memberikan bimbingan, pembinaan kepada kaum awam melalui pelbagai kegiatan seperti retret, lokakarya-lokakarya, kursus persiapan AAP & APP dan kursus-kursus Kitab Suci, Kursus Evangelisasi Pribadi, penataran dan retret menjelang memangku jabatan tertentu dalam Gereja. Semua hal tersebut merupakan ajang pengkaderan dan pembinaan lanjut kaum awam yang merupakan 95% atau lebih dari jumlah umat Katolik. Di masa depan hendaknya mereka diberi peluang dan dibantu pengembangan diri dan didayagunakan semaksimal mungkin bagi perkembangan paroki.


Pembenahan Struktur dan Pedoman Kerja

Secara bertahap sejak tahun 1994 keuskupan telah mengadakan pembenahan struktural dan menyusun pedoman-pedoman kerja sebagai landasan bertindak.

- secara Territorial telah dibentuk 4 Dekenat dan mengangkat deken-dekennya.
  · Dekenat Utara (Cinere, Depok Lama, Depok Jaya, Depok Tengah, Kelapa Dua, Depok Timur)
  · Dekenat Tengah (Katedral, Sukasari, Megamendung, Cibinong, Ciluar, Parung, Cileungsi dan wilayah-wilayah
    pengembangan lanjutan)
  · Dekenat Barat (Serang, Rangkasbitung)
  · Dekenat Selatan (Cicurug, Cibadak, Sukabumi, Cianjur, Cipanas)
  Para Deken amat membantu untuk mengkoordinir kegiatan dan menggalakkan kebersamaan para romo di
  dekenat masing-masing, antara lain mendampingi mereka dalam mempersiapkan kotbah dan pengaturan tukar
  mimbar.
- Untuk mengefektifkan dan mengkoordinir komisi-komisi, telah dibentuk 4 bidang koordinasi kategorial yaitu
  Kemasyarakatan, Pelayanan, Pembinaan Iman, dan Pendampingan Hidup. Lembaga ini perlu ditingkatkan
  pelayanannya di masa depan.
- Dewan-dewan struktural. Dewan-Dewan struktural yang dimaksud adalah Dewan Imam (kanonik) dan Kolegium
  Konsultor, Dewan Pastoral Keuskupan, Dewan Keuangan, dan Dewan Pastoral Paroki. Tugas dewan ini adalah
  membantu uskup dalam menjalankan tugas kegembalaannya.
- Komisi-komisi dan organisasi-organisasi.

Di Keuskupan Bogor terdapat 17 komisi dan 9 organisasi.
Telah disusun pula Pedoman Dewan Pastoral Paroki, Pedoman Dewan Pastoral Keuskupan, Pedoman Kuria, Pedoman Kerja Komisi-komisi, Pedoman MPK, Pedoman Keuangan, Anggaran Dasar Yayasan-Yayasan dan upaya penyesuaian dasar hukum Yayasan dengan Undang-Undang Negara.


* Makalah yang disampaikan Mgr. Michael C. Angkur, OFM dalam Temu Pastoral 2007 Keuskupan Bogor

 

* * *

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor