|
Selilit Sang
Nabi
Selilit sang Nabi? Apa itu? Selilit
adalah istilah yang digunakan untuk sisa makanan yang menyelip di
sela-sela gigi. Selilit ini memang tidak pernah menyebabkan kematian,
tetapi menimbulkan rasa terganggu dan
tidak nyaman.
Ada apa dengan selilit sang Nabi?
Ternyata kita bicara mengenai aliran sesat. Aliran sesat atau sering
dikenal dengan istilah bida’ah ataupun heresi adalah sejumlah ajaran,
aliran dan paham yang dicap oleh lembaga keagamaan sebagai sesat,
menyimpang, membahayakan iman dan agama. Hampir semua agama memiliki
aliran sesat tak terkecuali Gereja Katolik. Aliran sesat umumnya
berbentuk kelompok kecil yang berada di dalam kelompok mayoritas,
tetapi memiliki pandangan yang menyimpang dengan pandangan mayoritas.
Pada umumnya aliran sesat dilakukan oleh orang sudah dibabtis secara
sah di Gereja tetapi kemudian menyangkal ajaran Gereja tersebut.
Aliran sesat tidak pernah menyerang kepercayaan lain, hanya
mengganggu kepercayaan sendiri. Oleh karena itu, aliran sesat ini
diibaratkan dengan selilit.
Demikianlah dijelaskan oleh RP. Dr. Eddy Kristiyanto, OFM dalam
seminar yang diselenggarakan oleh Komisi Kateketik Keuskupan Bogor
di aula SMP Regina Pacis Bogor, 7 Oktober 2007 yang lalu. Peserta
yang hadir 134 orang dari berbagai paroki : Katedral, Sukasari,
Serang, Rangkasbitung, Depok, Cibinong dan Parung, juga perwakilan
dari beberapa sekolah Katolik di Bogor. Acara seminar ini dibuka
dengan misa konselebrasi oleh Romo Eddy dan RD. Yustinus Dwi
Karyanto, Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bogor.
Lebih jauh Romo Eddy, yang kini menjabat sebagai Ketua Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, menerangkan bahwa aliran sesat
ini muncul karena:
-
Kelompok mayoritas mengklaim diri
sebagai pemegang kebenaran tunggal dan absolut, ajarannya terlalu
kaku dan tidak inspiratif serta tidak mau menerima pembaharuan.
-
Adanya ketulusan dan cinta akan
kebaikan dan kebenaran telah memotivasi seorang karismatis untuk
muncul atau tampil dengan caranya sendiri, untuk menjelaskan
bagaimana seharusnya kebaikan dan kebenaran itu dipahami
-
Kebebasan anak-anak Allah untuk
menafsirkan Injil berdasarkan pengalaman rohani
-
Plin plan dengan keyakinan iman dari
orang-orang yang mengaku beragama (orang yang hidupnya tidak
sesuai dengan pilihan imannya, terutama saat ada penganiayaan)
-
Cara pandang pribadi yang
berseberangan dengan mayoritas
-
Menjawab kebuntuan dan memberi
alternatif kepada orang percaya yang tidak bisa menjelaskan
kepercayaannya.
Dalam menghadapi aliran sesat Gereja
berusaha menjaga kemurnian ajaran dan prakteknya. Ukuran yang
dipakai untuk melihat kemurnian ini adalah Kitab Suci, Kanonik,
Ajaran Bapa Gereja, Otoritas Magisterium Gereja, refleksi teologis
dan tradisi sehat dalam Gereja serta unsur communio (persekutuan/persatuan)
dalam Gereja. Ditambahkan lagi oleh Romo Eddy, bahwa dengan
kesepahaman Injil, kita tidak perlu terlalu menghiraukan
aliran-aliran sesat ini. Biarlah aliran-aliran itu bertumbuh dan
berkembang. Jika memang aliran itu berasal dari Roh dan Kebenaran,
ia akan tetap bertahan dan tidak ada kuasa manusiawi manapun yang
mampu untuk memadamkan dan menumpasnya.
Sebagai penutup, Romo Dwi juga menjelaskan bahwa seminar ini
diadakan karena melihat kondisi umat yang mulai menunjukkan
gejala-gejala pertumbuhan aliran-aliran, ajaran-ajaran dan munculnya
buku-buku yang seringkali menggoyahkan ajaran/iman Katolik sehingga
sering kali umat tidak dapat menjawab pertanyaan dari penganut agama
lain. Maka diharapkan seminar ini menjadi titik tolak untuk
seminar-seminar lain guna memperdalam dan memperluas cakrawala
pandangan umat Katolik.
Theresia Ratih Sawitridjati
Paroki St. Fransiskus Assisi - Sukasari
* * * |