Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober - Desember 2007
 

Selilit Sang Nabi

          

Selilit sang Nabi? Apa itu? Selilit adalah istilah yang digunakan untuk sisa makanan yang menyelip di sela-sela gigi. Selilit ini memang tidak pernah menyebabkan kematian, tetapi menimbulkan rasa terganggu dan
tidak nyaman.

Ada apa dengan selilit sang Nabi?
Ternyata kita bicara mengenai aliran sesat. Aliran sesat atau sering dikenal dengan istilah bida’ah ataupun heresi adalah sejumlah ajaran, aliran dan paham yang dicap oleh lembaga keagamaan sebagai sesat, menyimpang, membahayakan iman dan agama. Hampir semua agama memiliki aliran sesat tak terkecuali Gereja Katolik. Aliran sesat umumnya berbentuk kelompok kecil yang berada di dalam kelompok mayoritas, tetapi memiliki pandangan yang menyimpang dengan pandangan mayoritas. Pada umumnya aliran sesat dilakukan oleh orang sudah dibabtis secara sah di Gereja tetapi kemudian menyangkal ajaran Gereja tersebut. Aliran sesat tidak pernah menyerang kepercayaan lain, hanya mengganggu kepercayaan sendiri. Oleh karena itu, aliran sesat ini diibaratkan dengan selilit.

Demikianlah dijelaskan oleh RP. Dr. Eddy Kristiyanto, OFM dalam seminar yang diselenggarakan oleh Komisi Kateketik Keuskupan Bogor di aula SMP Regina Pacis Bogor, 7 Oktober 2007 yang lalu. Peserta yang hadir 134 orang dari berbagai paroki : Katedral, Sukasari, Serang, Rangkasbitung, Depok, Cibinong dan Parung, juga perwakilan dari beberapa sekolah Katolik di Bogor. Acara seminar ini dibuka dengan misa konselebrasi oleh Romo Eddy dan RD. Yustinus Dwi Karyanto, Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bogor.
Lebih jauh Romo Eddy, yang kini menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, menerangkan bahwa aliran sesat ini muncul karena:

  1. Kelompok mayoritas mengklaim diri sebagai pemegang kebenaran tunggal dan absolut, ajarannya terlalu kaku dan tidak inspiratif serta tidak mau menerima pembaharuan.

  2. Adanya ketulusan dan cinta akan kebaikan dan kebenaran telah memotivasi seorang karismatis untuk muncul atau tampil dengan caranya sendiri, untuk menjelaskan bagaimana seharusnya kebaikan dan kebenaran itu dipahami

  3. Kebebasan anak-anak Allah untuk menafsirkan Injil berdasarkan pengalaman rohani

  4. Plin plan dengan keyakinan iman dari orang-orang yang mengaku beragama (orang yang hidupnya tidak sesuai dengan pilihan imannya, terutama saat ada penganiayaan)

  5. Cara pandang pribadi yang berseberangan dengan mayoritas

  6. Menjawab kebuntuan dan memberi alternatif kepada orang percaya yang tidak bisa menjelaskan kepercayaannya.

Dalam menghadapi aliran sesat Gereja berusaha menjaga kemurnian ajaran dan prakteknya. Ukuran yang dipakai untuk melihat kemurnian ini adalah Kitab Suci, Kanonik, Ajaran Bapa Gereja, Otoritas Magisterium Gereja, refleksi teologis dan tradisi sehat dalam Gereja serta unsur communio (persekutuan/persatuan) dalam Gereja. Ditambahkan lagi oleh Romo Eddy, bahwa dengan kesepahaman Injil, kita tidak perlu terlalu menghiraukan aliran-aliran sesat ini. Biarlah aliran-aliran itu bertumbuh dan berkembang. Jika memang aliran itu berasal dari Roh dan Kebenaran, ia akan tetap bertahan dan tidak ada kuasa manusiawi manapun yang mampu untuk memadamkan dan menumpasnya.

Sebagai penutup, Romo Dwi juga menjelaskan bahwa seminar ini diadakan karena melihat kondisi umat yang mulai menunjukkan gejala-gejala pertumbuhan aliran-aliran, ajaran-ajaran dan munculnya buku-buku yang seringkali menggoyahkan ajaran/iman Katolik sehingga sering kali umat tidak dapat menjawab pertanyaan dari penganut agama lain. Maka diharapkan seminar ini menjadi titik tolak untuk seminar-seminar lain guna memperdalam dan memperluas cakrawala pandangan umat Katolik.


Theresia Ratih Sawitridjati
Paroki St. Fransiskus Assisi - Sukasari

 

* * *

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor