|
Upacara Sakramen Krisma Perdana Paroki
Ciluar
Uskup Bangga
Sekaligus Prihatin Terhadap Paroki Ciluar
“Karena kamu, saya tidak dapat
menghadiri upacara pemakaman Uskup Benyamin Bria. Rekan-rekan saya
sesama Uskup semua ada di Bali. Kami berpisah di Kupang, dan saya
langsung ke sini (Paroki St.Andreas) karena acara hari ini…”
Demikian kesaksian Mgr.Michael Cosmas Angkur, Uskup Keuskupan Bogor
dalam pembukaan homilinya kepada 61 penerima Sakramen Krisma 23
September 2007 di Gereja Paroki St,.Andreas Ciluar , Bogor.
Lebih jauh Mgr. Michael mengisahkan perjalanan dinasnya ke Atambua,
NTT di perbatasan wilayah NKRI dan Timor Leste hingga berita wafat
serta rencana pemakaman rekan sejawatnya, Uskup Denpasar - Bali,
Mgr. Benyamin Bria yang wafat 18 September lalu di Singapura.
Dikatakan pula olehnya, betapa ia mengenal dekat dengan almarhum.
Tentu kisah yang dipaparkan Bapa Uskup bukannya tanpa makna. Beliau
lebih memilih hadir mempersembahkan Misa Perayaan Sakramen Penguatan
(Krisma) di Gereja Paroki St. Andreas yang kecil, sederhana dan
terletak di pinggiran Bogor daripada menghadiri Misa Requiem seorang
rekan yang tentunya akan berlangsung meriah dan penuh romantika pada
saat bertepatan 23 September. Pesan yang ingin disampaikan adalah
bagaimana kita dapat mengambil keputusan tepat di saat sulit untuk
kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadi.
Pertama Kali
Upacara yang berlangsung sederhana namun penuh khidmat ini adalah
pertama kali diadakan di Paroki paling bungsu Keuskupan Bogor.
Kelompok pertama penerima Sakramen Krisma ini menurut Uskup menjadi
sangat penting karena akan menjadi dasar perutusan gereja. “Kelompok
pertama ini adalah orang yang rela membawa cinta kasih kristiani,
rela berjuang untuk kepentingan orang lain dan rela berjuang untuk
paroki ini. Maka ingat, anda adalah batu dasar dari Paroki ini
sebagai kelompok pewarta Injil bagi pengembangan Kerajaan Kristus”
ujarnya.
Dalam kesempatan itu Uskup juga menguatkan para penerima Krisma
dengan mengatakan “Roh Kudus akan menguatkan kalian di mana kalian
harus mengatakan itu (Kabar Baik). Karena itu tahan bantinglah
imanmu agar memiliki iman yang kokoh, iman yang tidak goyah seperti
ilalang..”
Benih Panggilan Cukup Subur
Gereja Paroki St. Andreas memiliki posisi sangat unik karena
letaknya berada di tengah pemukiman. Untuk masuk harus melewati
lorong gang sempit selebar 2 meter saja. Keunikan lain gereja adalah
bentuknya yang tak beraturan, tanpa arsitektur yang jelas. Luas
bidang tanah sekitar 337 meter persegi ini seluruhnya berbentuk
bangunan, yang hanya dapat menampung 300 umat saja, tanpa memiliki
pelataran dan tempat parkir. Pada Misa hari Minggu biasa, umat yang
tidak mendapat tempat di dalam duduk menggunakan kursi plastik
hingga menutup gang jalan milik umum. Akibatnya lalu-lintas pejalan
kaki ataupun kendaraan motor beroda dua terhambat. Dapat dibayangkan
pada upacara besar seperti perayaan Paska dan Natal dengan umat yang
hadir mencapai di atas seribu orang...
Bangunan ini awalnya memang tidak dirancang untuk sebuah gereja
namun Balai Pertemuan Kecamatan Sukaraja. Seluruh kegiatan, mulai
dari Perayaan Ekaristi, rapat hingga syukuran dipusatkan di tempat
ini. Untuk sebuah tempat ibadah, bangunan ini memang tidak layak dan
memenuhi syarat.
“Keunikan” lain Paroki St. Andreas karena kondisi yang tidak
memungkinkan, adalah tidak memiliki pastoran. Pastor Paroki, RD.
Thomas Riyadi saat ini bertempat tinggal di rumah kontrakan yang
jaraknya sekitar 500 meter dari gereja. Namun demikian, dengan
segala kondisi yang ada, benih panggilan tumbuh cukup subur di
Paroki St. Andreas - Ciluar ini. Setidaknya, 7 imam dan 2 biarawati
berasal dari paroki kecil, sederhana dan terpencil ini.
Tak heran jika Mgr. Cosmas dalam homili Sakramen Krisma menyinggung
soal ini, “Meski gereja sudah dipoles menjadi tidak kumuh seperti
dulu, namun masih tetap seperti basement untuk parkir mobil” ujarnya
dengan nada humor seraya menambahkan “Namun dari dulu saya bangga
dengan stasi ini karena dari sini muncul benih panggilan berlimpah.
Karena itu cintailah tempat ini.”
Lebih jauh ia juga mengungkapkan keprihatinannya dengan keberadaan
umat Paroki Ciluar yang begitu lama mendambakan tempat ibadah yang
layak dengan mengatakan “Karena prihatin dengan nasib kalian, kami
membeli sebidang tanah cukup luas. Letaknya tidak jauh dari sini,
agar kalian boleh membangun komunitas yang harkatnya lebih baik.”
ujarnya menambahkan “Tapi saya serahkan pada penerima Sakramen
Krisma hari ini supaya Maria melahirkan Kristus di sana.” katanya
sambil menambahkan agar umat menjaga lahan tersebut.
Kekatolikan awal Ciluar dirintis sekitar tahun 1954 oleh beberapa
karyawan onderneming (Perkebunan Karet) dan para anggota Brimob
serta TNI-AD yang beragama Katolik. Pertama kali diresmikan oleh
Mgr. N. J. C. Geise, OFM 30 November 1974 saat masih berstatus stasi.
Pada 1 Januari 2006 Gereja Stasi St. Andreas yang sebelumnya berada
di bawah Paroki Cibinong statusnya resmi berubah menjadi Paroki yang
mandiri. Wilayah administratifnya terletak di Kabupaten Cibinong,
Jawa Barat. Saat ini jumlah umat terdata tahun 2007, sekitar 2600
jiwa dari 600 Kepala Keluarga. (Ed)
* * * |