Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober - Desember 2007
 

Upacara Sakramen Krisma Perdana Paroki Ciluar

Uskup Bangga Sekaligus Prihatin Terhadap Paroki Ciluar

          

“Karena kamu, saya tidak dapat menghadiri upacara pemakaman Uskup Benyamin Bria. Rekan-rekan saya sesama Uskup semua ada di Bali. Kami berpisah di Kupang, dan saya langsung ke sini (Paroki St.Andreas) karena acara hari ini…” Demikian kesaksian Mgr.Michael Cosmas Angkur, Uskup Keuskupan Bogor dalam pembukaan homilinya kepada 61 penerima Sakramen Krisma 23 September 2007 di Gereja Paroki St,.Andreas Ciluar , Bogor.
Lebih jauh Mgr. Michael mengisahkan perjalanan dinasnya ke Atambua, NTT di perbatasan wilayah NKRI dan Timor Leste hingga berita wafat serta rencana pemakaman rekan sejawatnya, Uskup Denpasar - Bali, Mgr. Benyamin Bria yang wafat 18 September lalu di Singapura. Dikatakan pula olehnya, betapa ia mengenal dekat dengan almarhum.

Tentu kisah yang dipaparkan Bapa Uskup bukannya tanpa makna. Beliau lebih memilih hadir mempersembahkan Misa Perayaan Sakramen Penguatan (Krisma) di Gereja Paroki St. Andreas yang kecil, sederhana dan terletak di pinggiran Bogor daripada menghadiri Misa Requiem seorang rekan yang tentunya akan berlangsung meriah dan penuh romantika pada saat bertepatan 23 September. Pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana kita dapat mengambil keputusan tepat di saat sulit untuk kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadi.

Pertama Kali
Upacara yang berlangsung sederhana namun penuh khidmat ini adalah pertama kali diadakan di Paroki paling bungsu Keuskupan Bogor. Kelompok pertama penerima Sakramen Krisma ini menurut Uskup menjadi sangat penting karena akan menjadi dasar perutusan gereja. “Kelompok pertama ini adalah orang yang rela membawa cinta kasih kristiani, rela berjuang untuk kepentingan orang lain dan rela berjuang untuk paroki ini. Maka ingat, anda adalah batu dasar dari Paroki ini sebagai kelompok pewarta Injil bagi pengembangan Kerajaan Kristus” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Uskup juga menguatkan para penerima Krisma dengan mengatakan “Roh Kudus akan menguatkan kalian di mana kalian harus mengatakan itu (Kabar Baik). Karena itu tahan bantinglah imanmu agar memiliki iman yang kokoh, iman yang tidak goyah seperti ilalang..”

Benih Panggilan Cukup Subur
Gereja Paroki St. Andreas memiliki posisi sangat unik karena letaknya berada di tengah pemukiman. Untuk masuk harus melewati lorong gang sempit selebar 2 meter saja. Keunikan lain gereja adalah bentuknya yang tak beraturan, tanpa arsitektur yang jelas. Luas bidang tanah sekitar 337 meter persegi ini seluruhnya berbentuk bangunan, yang hanya dapat menampung 300 umat saja, tanpa memiliki pelataran dan tempat parkir. Pada Misa hari Minggu biasa, umat yang tidak mendapat tempat di dalam duduk menggunakan kursi plastik hingga menutup gang jalan milik umum. Akibatnya lalu-lintas pejalan kaki ataupun kendaraan motor beroda dua terhambat. Dapat dibayangkan pada upacara besar seperti perayaan Paska dan Natal dengan umat yang hadir mencapai di atas seribu orang...

Bangunan ini awalnya memang tidak dirancang untuk sebuah gereja namun Balai Pertemuan Kecamatan Sukaraja. Seluruh kegiatan, mulai dari Perayaan Ekaristi, rapat hingga syukuran dipusatkan di tempat ini. Untuk sebuah tempat ibadah, bangunan ini memang tidak layak dan memenuhi syarat.
“Keunikan” lain Paroki St. Andreas karena kondisi yang tidak memungkinkan, adalah tidak memiliki pastoran. Pastor Paroki, RD. Thomas Riyadi saat ini bertempat tinggal di rumah kontrakan yang jaraknya sekitar 500 meter dari gereja. Namun demikian, dengan segala kondisi yang ada, benih panggilan tumbuh cukup subur di Paroki St. Andreas - Ciluar ini. Setidaknya, 7 imam dan 2 biarawati berasal dari paroki kecil, sederhana dan terpencil ini.
Tak heran jika Mgr. Cosmas dalam homili Sakramen Krisma menyinggung soal ini, “Meski gereja sudah dipoles menjadi tidak kumuh seperti dulu, namun masih tetap seperti basement untuk parkir mobil” ujarnya dengan nada humor seraya menambahkan “Namun dari dulu saya bangga dengan stasi ini karena dari sini muncul benih panggilan berlimpah. Karena itu cintailah tempat ini.”

Lebih jauh ia juga mengungkapkan keprihatinannya dengan keberadaan umat Paroki Ciluar yang begitu lama mendambakan tempat ibadah yang layak dengan mengatakan “Karena prihatin dengan nasib kalian, kami membeli sebidang tanah cukup luas. Letaknya tidak jauh dari sini, agar kalian boleh membangun komunitas yang harkatnya lebih baik.” ujarnya menambahkan “Tapi saya serahkan pada penerima Sakramen Krisma hari ini supaya Maria melahirkan Kristus di sana.” katanya sambil menambahkan agar umat menjaga lahan tersebut.
Kekatolikan awal Ciluar dirintis sekitar tahun 1954 oleh beberapa karyawan onderneming (Perkebunan Karet) dan para anggota Brimob serta TNI-AD yang beragama Katolik. Pertama kali diresmikan oleh Mgr. N. J. C. Geise, OFM 30 November 1974 saat masih berstatus stasi. Pada 1 Januari 2006 Gereja Stasi St. Andreas yang sebelumnya berada di bawah Paroki Cibinong statusnya resmi berubah menjadi Paroki yang mandiri. Wilayah administratifnya terletak di Kabupaten Cibinong, Jawa Barat. Saat ini jumlah umat terdata tahun 2007, sekitar 2600 jiwa dari 600 Kepala Keluarga. (Ed)

 

* * *

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor