|
DUC IN ALTUM
Lima tahun yang lalu umat Keuskupan
Bogor mengadakan Sinode (yang berarti berjalan bersama) sebuah
gebrakan untuk lebih memahami hakekat keberadaan Gereja dan hakekat
perutusan yang diterima dari Tuhan. Keuskupan ingin berjalan seirama
dengan gerak Gereja pada umumnya, maka diambil tema persiapan dan
Sinode : Membangun Komunitas Basis (Communio) menuju Gereja
Merasul (Misioner). Sinode menghasilkan sebuah impian bersama
yang disebut Visi dan Misi.
Temu Pastoral Keuskupan Bogor yang terselenggara pada tanggal 24-27
Oktober 2007 dilaksanakan sebagai tindaklanjut Sinode 2002.
Pertemuan ini membicarakan kehidupan menggereja umat Keuskupan Bogor
dan untuk menentukan kebijakan pastoral yang perlu diambil guna
mewujudkan visi Keuskupan Bogor yang telah dicapai dalam Sinode
2002. Dalam Temu Pastoral juga digali ulang mengenai visi dan misi
dengan harapan untuk dipertemukan dengan hasil-hasil survey yang
berujung pada peningkatan mutu hidup umat Keuskupan Bogor, dan
bertekad untuk membangunnya lebih lanjut. Tema pertemuan ini adalah
“DUC IN ALTUM” yang artinya “tebarkan jala ke tempat
yang dalam”. Perumusan kebijakan dalam Temu Pastoral 2007 ini
berdasarkan hasil survey, sidang pleno dan sidang kelompok menurut
bidang-bidang tugas Gereja yaitu Bidang Liturgia/Peribadatan,
Koinonia/Persekutuan, Diakonia/Pelayanan, Kerygma/Pewartaan,
dan Martyria/Kesaksian.
Hasil survey yang dipaparkan dalam Temu Pastoral ini adalah survey
yang telah dilakukan oleh Tim Sebelas (Tim yang dibentuk oleh Dewan
Pastoral Keuskupan pada tahun 2004) yang memang telah ditugaskan
untuk melakukan survey.
Isi survey mencakup 8 bidang yaitu
1. Visi & Misi
2. Kebijakan Pastoral Sinode 2002
3. Keuangan dan Harta Benda Gereja
4. Liturgia/Peribadatan
5. Koinonia/Persekutuan
6. Diakonia/Pelayanan
7. Kerygma/Pewartaan
8. Martyria/Kesaksian
Jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 10% dari total keluarga
di Keuskupan Bogor atau sebanyak 1100 responden yang dikelompokkan
menjadi: aktifis, umat biasa, pria, wanita, <40 tahun, >40 tahun di
masing-masing Paroki, Dekenat dan Keuskupan Bogor.
Temu Pastoral ini diikuti oleh semua lapisan umat keuskupan yaitu
Uskup Bogor, Kuria Diosesan, Dewan Imam Keuskupan Bogor, Dewan
Pastoral Keuskupan, Dewan Pastoral Paroki, Utusan-utusan /
perwakilan-perwakilan : Biara/Tarekat, Komisi, Yayasan, Paroki, dan
Kelompok-kelompok kategorial seperti : Legio Mariae, KKMK, WKRI,
Santa Monika, dll.
Perjalanan Temu Pastoral
Temu Pastoral Keuskupan Bogor diselenggarakan di Cikanyere, Cipanas,
Jawa Barat pada tanggal 24-27 Oktober 2007. Hari pertama Temu
Pastoral mengambil tema “... Hendaknya terangmu bercahaya ...”.
Diawali dengan pendaftaran/registrasi peserta yang kemudian
dirangkai dengan Misa Pembukaan. Misa dipimpin oleh Mgr. Michael
Cosmas Angkur, OFM (Uskup Bogor) dan didampingi oleh RD. Benyamin
Sudarto (Vikaris Jendral Keuskupan Bogor) dan RD. Yohanes Driyanto (Vikaris
Yudisial Keuskupan Bogor). Acara Temu Pastoral dimulai dengan
sambutan-sambutan, pengenalan peserta Temu Pastoral, pengarahan, dan
Pemaparan hasil Survai Kehidupan Menggereja di Keuskupan Bogor (oleh
Panitia dan Tim Sebelas). Setiap selesai dan akan memulai sidang,
peserta Temu Pastoral melakukan penyegaran dengan nyanyian dan juga
gerakan yang dipimpin oleh RD. Thomas Gregorius Slamet Riyadi.
Hari kedua Temu Pastoral bertemakan “Mari ikutlah Aku ... kamu
akan Kujadikan penjala manusia”. Sidang pertama di hari kedua
Temu Pastoral diisi pemaparan Visi dan Misi Keuskupan Bogor yang
disampaikan oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Kebijakan Pastoral
disampaikan oleh RD. Yohanes Driyanto selaku Vikaris Yudisial dan
Kebijakan tentang keuangan dan harta benda Gereja disampaikan oleh
RD. Markus Lukas selaku Ekonom Keuskupan Bogor dan Bapak B.
Sugiharto.
Sidang kedua berisi penyampaian hasil survey oleh Tim Sebelas yang
meliputi lima bidang. Bidang Liturgia disampaikan oleh Bpk. Adrianus
Widjaja, Bidang Koinonia disampaikan oleh RD. F.X. Suyana, Bidang
Diakonia oleh Bpk. Stanislaus Nugroho, Bidang Kerygma oleh RD.
Benyamin Sudarto, dan Bidang Martyria oleh Ibu B. Arisekundiatmi.
Dalam sidang ketiga di hari kedua Temu Pastoral, peserta
dikelompokkan menurut bidang-bidang utusan masing-masing yaitu
Liturgia, Koinonia, Diakonia, Kerygma, Martyria, dan Harta Benda
Gereja. Dalam sidang kelompok ini peserta membahas hasil survey dan
usulan Kebijakan Pastoral yang akan disampaikan sesuai dengan bidang
masing-masing.
“Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya”, inilah
tema Temu Pastoral Keuskupan Bogor di hari ketiga. Setelah setiap
bidang membahas hasil survey dan dengan berbagai pertimbangan serta
pemikiran yang matang telah menentukan usulan kebijakan yang mereka
usung, dalam sidang pertama hari ketiga setiap bidang harus
mempresentasikan usulan-usulan yang diharapkan akan menjadi
Kebijakan Pastoral yang akan diambil sesuai dengan kesepakatan
bersama.
Dan dalam sidang yang kedua, dibahas mengenai Kerangka Dasar
Implementasi Tindak Lanjut Hasil Tepas 2007.
Tema “Bertolaklah ke tempat yang dalam tebarkanlah jalamu”
menjadi pilihan tema hari yang keempat, sesuai dengan Tema
keseluruhan Temu Pastoral Keuskupan Bogor yaitu Duc In Altum.
Setelah melalui perjalanan panjang, 3 hari membahas, mencermati, dan
mendiskusikan hal-hal yang perlu dikedepankan dari setiap bidang
dalam penetapan Kebijakan Pastoral, akhirnya Sidang memutuskan dan
menentukan Kebijakan Pastoral Keuskupan Bogor 2007. Pengumatan hasil
sidang dilaksanakan dalam Misa Penutupan Temu Pastoral 2007
Keuskupan Bogor. Misa penutupan dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas
Angkur, OFM dan didampingi oleh RD. Benyamin Sudarto (Vikjen
Keuskupan Bogor), RD. Yohanes Driyanto (Vikjud Keuskupan Bogor dan
Deken Dekenat Tengah), RD. Y. Dwi Karyanto (Deken Dekenat Barat),
RP. Robertus Agung Suryanto, OFM (Deken Dekenat Utara), RD.
Agustinus Suyatno (Deken Dekenat Selatan), dan Frater Diakon Garbito
Pamboaji.
Kebijakan Pastoral yang merupakan hasil sidang Temu Pastoral
dibacakan oleh RD. F.X. Suyana selaku Sekjen Keuskupan Bogor.
“Duc in Altum” (Bertolaklah ke tempat yang dalam (Luk
5:4)), adalah perintah Sang Guru. Ungkapan itu sebagai sebuah ajakan
agar kita memiliki optimisme dan tidak terjebak dalam kebanggan yang
palsu, juga tidak terjebak dalam kekecewaan dan keputusasaan, tetapi
menghadapi segala masalah pastoral dengan suatu sikap iman bahwa
Firman Tuhan akan selalu memberikan hasil. Dan jawaban kita
seharusnya “In Verbo Tuo - Karena Engkau menyuruhnya,
aku akan menebarkan jala juga.” (Luk 5:5). (Ririn)
* * * |