Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober - Desember 2007
 

Tamasya di Taman Tuhan (4)

Saat-Saat Hening

          

Mengenal Diri

Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu,
bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan.
Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

(Mazmur 8:4-5)


Mazmur 8 ini diawali dan diakhiri dengan refren: Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi. Sebuah Mazmur madah pujian. Sebuah pujian atas keagungan dan kemuliaan Allah. Pemazmur dalam perenungannya mengungkapkan kekagumannya atas kebesaran Allah. Kekaguman atas karya-karyaNya yang tampak dalam semesta alam. Pemazmur mulai dengan mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang paling jauh yakni langit. Kemudian segera ia mengalihkan pandangannya menuju ke suatu titik yang dekat yakni anak-anak kecil. Peralihan pandangan yang serupa, sekali lagi terjadi dalam ayat berikutnya; yaitu pada ayat 4 dan 5. pemazmur dengan pandangan terarah ke atas, mengagumi karya-karya besar Allah; cakrawala nan luas, bulan dan bintang-bintang. Akan tetapi pandangannya segera diarahkan kepada manusia seraya bertanya: “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?”

Dalam Mazmur ini menunjukkan bahwa pemazmur merenungkan kemahadasyatan alam semesta, hal-hal yang besar. Sekaligus Pemazmur memiliki perhatian pada hal-hal kecil; yang memunculkan satu kesadaran akan dirinya yang juga kecil. Penemuan dirinya yang kecil ini diiringi dengan kesadaran iman yang luar biasa. Melalui pengamatan dan perenungan akan pengalaman hidup manusia, pemazmur menemukan hakikat diri manusia. Katanya: “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah” (ayat 6). Lagi katanya dengan heran: “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; .... “ (ayat 7-9). Hal yang demikian memunculkan rasa heran dan kagum. Rasa heran dan kagum itu menimbulkan madah pujian.

Menarik bagi saya di sini bahwa pemazmur ketika melihat cakrawala, ia tidak menyebutkan penerang di siang hari yakni matahari. Mungkin saja ini sebagai petunjuk bahwa pemazmur menyusun mazmurnya pada waktu malam hari. Setidak-tidaknya waktu itu, malam hari merupakan saat yang baik bagi pemazmur untuk merenung dan menuliskan buah renungannya. Malam hari merupakan saat di mana alam menjadi teduh, sesudah siang yang panas. Malam yang teduh itu menyebarkan keheningan fisik (lahiriah) bagi para penghuni bumi; dan menghantar orang untuk melepaskan lelah sesudah sibuk bekerja seharian. Kesunyian alam yang menciptakan keheningan fisik ini mampu membawa seseorang kepada keheningan batiniah. Kedua hal ini yakni kesunyian fisik dan kesunyian batin, mampu membuahkan sebuah permenungan yang dalam bagi pemazmur. Sesudah pemazmur dalam perenungannya mengamati hal-hal yang ada di sekitarnya serta mencermati pengalaman hidup manusia, ia sampai pada pertanyaan: “Apakah manusia?” Dengan mata yang tajam pemazmur menemukan jawaban (Permenungan yang dalam di keheningan malam menghantar pemazmur kepada penemuan diri).

Inilah buah ke tiga yang dapat kita ambil dari berdiam diri di keheningan; yakni pengenalan diri.
Untuk dapat mengenali diri - siapakah diriku - orang harus berani masuk ke dalam keheningan. Orang harus berani menyisihkan waktu untuk benar-benar berada dalam kesendirian dan kesunyian. Di situlah orang melepaskan segala kesibukan dan segala keributan hidup sehari-hari. Orang mengambil jarak dengan dunia sekitarnya. Dalam keadaan di mana orang telah masuk di dalam keheningan; dapatlah dilukiskan ia telah berada di depan goa (goa diri kita). Di depan goa diri kita itulah seseorang akan mampu mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Di sana pula orang akan menjumpai pribadi “yang lain” yang tersembunyi bagi mata jasmani kita dan sekaligus orang akan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Ketika jiwa mulai merenung dan mengamati dunia (dengan tuntunan Mazmur 8 ini); tidakkah ia akan bermadah memuji Allah bersama raja Daud? Kalau di zaman kita sekarang, orang tak hanya memandang Bulan tetapi mampu sampai ke Bulan. Lalu dengan akal budinya, manusia mampu menciptakan berbagai peralatan canggih seperti pesawat penyelidik ruang angkasa Voyager II yang dapat menjelajah sampai tepian tata surya kita; sehingga apa yang di zaman pemazmur merupakan sesuatu yang tak terjangkau (sebuah misteri yang besar), kini bagi kita (umat manusia) dapat mengenal apa dan bagaimana benda-benda luar angkasa itu. Semua itu menyadarkan kita betapa luas dan tak terbatasnya ruang angkasa itu. Semakin menyadarkan kita pula betapa kecil dan lemahnya manusia itu dan betapa maha dasyatnya Allah Pencipta itu.

Tidakkah pula kita akan terheran-heran dan memuji Allah bersama dengan Daud?; bila kita menyadari meski kita makhluk kecil dan lemah namun diciptakan menurut gambar Sang Pencipta? Pemazmur menyadari hal menjinakkan dan memelihara binatang itu sesuatu yang luhur. Kemampuan itu merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Bagi Pemazmur itu merupakan suatu tanda kuasa manusia atas karya ciptaan Allah yang lain. Kini dengan mencermati dan merenungkan kemajuan umat manusia di berbagai bidang kehidupan, seharusnyalah lebih menyadarkan kita bahwa kemampuan kita (umat manusia) terus-menerus disempurnakan oleh Allah untuk semakin menyerupai diri Allah sendiri. Sepatutnyalah kita lebih bersyukur dan tidak menyalahgunakan kemampuan serta kekuasaan kita yang sesungguhnya tidak tak terbatas.
Setelah kita mengambil jarak dengan dunia, mencermati dan merenungkannya, tidakkah kita akan bertanya-tanya bersama pemazmur: “Apakah anak manusia, sehingga Engkau memahkotai dengan berbagai karunia?” Tidakkah pertanyaan itu menghantar kita melangkah lebih dalam untuk menjumpai diriku sendiri (anak manusia yang satu ini) dengan pertanyaan: who am I?

Memang pada akhirnya di dalam keheningan orang akan dihantar masuk ke dalam goa, tidak hanya berjalan-jalan di sekitar goa. Mungkin saja ada rasa ragu-ragu atau takut, karena memang goa itu gelap dan kita belum mengetahui lorong-lorongnya. Tetapi kita tidak memasukinya sendirian. Penuh iman “Pribadi Lain” yang telah kita jumpai di depan goalah yang akan membimbing kita dengan sinar cintaNya. Di dalam goa itulah kita akan menemukan dan mengenal siapa diriku!
Pertama, aku akan mengenal keagunganku. Bahwa aku diciptakan secara agung, artinya diciptakan hampir sama seperti Allah, luhur mengatasi segala mahkluk ciptaan lainnya, diberi kuasa atas buatan tanganNya, diberi kemampuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Aku dianugerahi benih iman untuk mengenal Sang Pencipta, dilengkapi dengan akal budi untuk menyempurnakan diri, dibekali berbagai talenta untuk mengembangkan diri, ditaruhNya cinta di dalam hati agar mampu mencinta. Aku diberi kehendak baik agar mampu ikut serta dalam kehendak ilahi yang semata-mata baik.

Namun di sisi lain, aku juga akan menyadari kemalanganku. Kemalangan manusia, artinya bahwa aku diciptakan dalam keadaan belum sempurna. Aku memiliki kelemahan dan dosa-dosa. Sering aku menyalahgunakan pikiranku untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Ilahi, mengisinya dengan rencana yang tidak baik; dengan pikiran aku menaruh maksud jahat terhadap suatu perbuatan. Mungkin saja aku telah membelokkan kemampuan pengenalan dan cinta akan Allah menjadi pengenalan dan cinta akan hal-hal duniawi, mengejarnya dan mungkin menjadikan yang utama. Ternyata pula di dalam diriku ada banyak gejolak-gejolak seperti keinginan-keinginan akan kenikmatan dan kesenangan yang membawa aku jauh dari Tuhan. Di dalam hatiku masih terus muncul rasa iri hati, kebencian, amarah, dendam, kesombongan, dll. Di dalam goa diriku pula, aku akan mengenali bagaimana selama ini aku menggunakan waktu yang diberikan Tuhan kepadaku, bagaimana aku menggunakan mata, telinga, mulut, tangan dan kaki. Pengenalan yang sesungguhnya akan semua itu membawa kita kepada sikap rendah hati di hadapan Tuhan dan mohon pengampunanNya.

Pengenalan diri berarti pengenalan akan keagunganku dan sekaligus pengenalan akan kelalaian, kelemahan dan dosa-dosaku. Pengenalan ini menjadi dasar bagi hidup kita agar terus-menerus bermawas diri dan membaharui diri guna mengembalikan keagungan kemiripanku dengan Allah.
Santo Benardus mengatakan dalam traktatnya (dikutip dari majalah intern biara-biara kontemplatif Indonesia “Samadi” 1990): “Sekalipun anda mengetahui semua misteri, mengenal luasnya bumi, tingginya langit dan dalamnya laut, namun anda tidak mengenal diri sendiri, anda dapat disamakan dengan orang yang membangun rumah tanpa pondasi. Orang berhikmat harus berhikmat terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu pertimbangan anda harus dimulai dengan diri anda. Sebab kalau tidak begitu ada bahaya anda mempertimbangkan lain-lainnya dengan sia-sia”. ( to be continued)

 

* * *

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor