|
Tamasya di Taman Tuhan (4)
Saat-Saat Hening
Mengenal Diri
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu,
bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan.
Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
(Mazmur 8:4-5)
Mazmur 8 ini diawali dan diakhiri dengan refren: Ya Tuhan, Tuhan
kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi. Sebuah Mazmur madah
pujian. Sebuah pujian atas keagungan dan kemuliaan Allah. Pemazmur
dalam perenungannya mengungkapkan kekagumannya atas kebesaran Allah.
Kekaguman atas karya-karyaNya yang tampak dalam semesta alam.
Pemazmur mulai dengan mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang
paling jauh yakni langit. Kemudian segera ia mengalihkan
pandangannya menuju ke suatu titik yang dekat yakni anak-anak kecil.
Peralihan pandangan yang serupa, sekali lagi terjadi dalam ayat
berikutnya; yaitu pada ayat 4 dan 5. pemazmur dengan pandangan
terarah ke atas, mengagumi karya-karya besar Allah; cakrawala nan
luas, bulan dan bintang-bintang. Akan tetapi pandangannya segera
diarahkan kepada manusia seraya bertanya: “Apakah manusia sehingga
Engkau mengingatnya?”
Dalam Mazmur ini menunjukkan bahwa pemazmur merenungkan
kemahadasyatan alam semesta, hal-hal yang besar. Sekaligus Pemazmur
memiliki perhatian pada hal-hal kecil; yang memunculkan satu
kesadaran akan dirinya yang juga kecil. Penemuan dirinya yang kecil
ini diiringi dengan kesadaran iman yang luar biasa. Melalui
pengamatan dan perenungan akan pengalaman hidup manusia, pemazmur
menemukan hakikat diri manusia. Katanya: “Engkau telah membuatnya
hampir sama seperti Allah” (ayat 6). Lagi katanya dengan heran:
“Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; .... “ (ayat
7-9). Hal yang demikian memunculkan rasa heran dan kagum. Rasa heran
dan kagum itu menimbulkan madah pujian.
Menarik bagi saya di sini bahwa pemazmur ketika melihat cakrawala,
ia tidak menyebutkan penerang di siang hari yakni matahari. Mungkin
saja ini sebagai petunjuk bahwa pemazmur menyusun mazmurnya pada
waktu malam hari. Setidak-tidaknya waktu itu, malam hari merupakan
saat yang baik bagi pemazmur untuk merenung dan menuliskan buah
renungannya. Malam hari merupakan saat di mana alam menjadi teduh,
sesudah siang yang panas. Malam yang teduh itu menyebarkan
keheningan fisik (lahiriah) bagi para penghuni bumi; dan menghantar
orang untuk melepaskan lelah sesudah sibuk bekerja seharian.
Kesunyian alam yang menciptakan keheningan fisik ini mampu membawa
seseorang kepada keheningan batiniah. Kedua hal ini yakni kesunyian
fisik dan kesunyian batin, mampu membuahkan sebuah permenungan yang
dalam bagi pemazmur. Sesudah pemazmur dalam perenungannya mengamati
hal-hal yang ada di sekitarnya serta mencermati pengalaman hidup
manusia, ia sampai pada pertanyaan: “Apakah manusia?” Dengan mata
yang tajam pemazmur menemukan jawaban (Permenungan yang dalam di
keheningan malam menghantar pemazmur kepada penemuan diri).
Inilah buah ke tiga yang dapat kita ambil dari berdiam diri di
keheningan; yakni pengenalan diri.
Untuk dapat mengenali diri - siapakah diriku - orang harus berani
masuk ke dalam keheningan. Orang harus berani menyisihkan waktu
untuk benar-benar berada dalam kesendirian dan kesunyian. Di situlah
orang melepaskan segala kesibukan dan segala keributan hidup
sehari-hari. Orang mengambil jarak dengan dunia sekitarnya. Dalam
keadaan di mana orang telah masuk di dalam keheningan; dapatlah
dilukiskan ia telah berada di depan goa (goa diri kita). Di depan
goa diri kita itulah seseorang akan mampu mengamati apa yang terjadi
di sekitarnya. Di sana pula orang akan menjumpai pribadi “yang lain”
yang tersembunyi bagi mata jasmani kita dan sekaligus orang akan
berhadapan dengan dirinya sendiri.
Ketika jiwa mulai merenung dan mengamati dunia (dengan tuntunan
Mazmur 8 ini); tidakkah ia akan bermadah memuji Allah bersama raja
Daud? Kalau di zaman kita sekarang, orang tak hanya memandang Bulan
tetapi mampu sampai ke Bulan. Lalu dengan akal budinya, manusia
mampu menciptakan berbagai peralatan canggih seperti pesawat
penyelidik ruang angkasa Voyager II yang dapat menjelajah sampai
tepian tata surya kita; sehingga apa yang di zaman pemazmur
merupakan sesuatu yang tak terjangkau (sebuah misteri yang besar),
kini bagi kita (umat manusia) dapat mengenal apa dan bagaimana
benda-benda luar angkasa itu. Semua itu menyadarkan kita betapa luas
dan tak terbatasnya ruang angkasa itu. Semakin menyadarkan kita pula
betapa kecil dan lemahnya manusia itu dan betapa maha dasyatnya
Allah Pencipta itu.
Tidakkah pula kita akan terheran-heran dan memuji Allah bersama
dengan Daud?; bila kita menyadari meski kita makhluk kecil dan lemah
namun diciptakan menurut gambar Sang Pencipta? Pemazmur menyadari
hal menjinakkan dan memelihara binatang itu sesuatu yang luhur.
Kemampuan itu merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia.
Bagi Pemazmur itu merupakan suatu tanda kuasa manusia atas karya
ciptaan Allah yang lain. Kini dengan mencermati dan merenungkan
kemajuan umat manusia di berbagai bidang kehidupan, seharusnyalah
lebih menyadarkan kita bahwa kemampuan kita (umat manusia)
terus-menerus disempurnakan oleh Allah untuk semakin menyerupai diri
Allah sendiri. Sepatutnyalah kita lebih bersyukur dan tidak
menyalahgunakan kemampuan serta kekuasaan kita yang sesungguhnya
tidak tak terbatas.
Setelah kita mengambil jarak dengan dunia, mencermati dan
merenungkannya, tidakkah kita akan bertanya-tanya bersama pemazmur:
“Apakah anak manusia, sehingga Engkau memahkotai dengan berbagai
karunia?” Tidakkah pertanyaan itu menghantar kita melangkah lebih
dalam untuk menjumpai diriku sendiri (anak manusia yang satu ini)
dengan pertanyaan: who am I?
Memang pada akhirnya di dalam keheningan orang akan dihantar masuk
ke dalam goa, tidak hanya berjalan-jalan di sekitar goa. Mungkin
saja ada rasa ragu-ragu atau takut, karena memang goa itu gelap dan
kita belum mengetahui lorong-lorongnya. Tetapi kita tidak
memasukinya sendirian. Penuh iman “Pribadi Lain” yang telah kita
jumpai di depan goalah yang akan membimbing kita dengan sinar
cintaNya. Di dalam goa itulah kita akan menemukan dan mengenal siapa
diriku!
Pertama, aku akan mengenal keagunganku. Bahwa aku diciptakan secara
agung, artinya diciptakan hampir sama seperti Allah, luhur mengatasi
segala mahkluk ciptaan lainnya, diberi kuasa atas buatan tanganNya,
diberi kemampuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Aku
dianugerahi benih iman untuk mengenal Sang Pencipta, dilengkapi
dengan akal budi untuk menyempurnakan diri, dibekali berbagai
talenta untuk mengembangkan diri, ditaruhNya cinta di dalam hati
agar mampu mencinta. Aku diberi kehendak baik agar mampu ikut serta
dalam kehendak ilahi yang semata-mata baik.
Namun di sisi lain, aku juga akan menyadari kemalanganku. Kemalangan
manusia, artinya bahwa aku diciptakan dalam keadaan belum sempurna.
Aku memiliki kelemahan dan dosa-dosa. Sering aku menyalahgunakan
pikiranku untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Ilahi,
mengisinya dengan rencana yang tidak baik; dengan pikiran aku
menaruh maksud jahat terhadap suatu perbuatan. Mungkin saja aku
telah membelokkan kemampuan pengenalan dan cinta akan Allah menjadi
pengenalan dan cinta akan hal-hal duniawi, mengejarnya dan mungkin
menjadikan yang utama. Ternyata pula di dalam diriku ada banyak
gejolak-gejolak seperti keinginan-keinginan akan kenikmatan dan
kesenangan yang membawa aku jauh dari Tuhan. Di dalam hatiku masih
terus muncul rasa iri hati, kebencian, amarah, dendam, kesombongan,
dll. Di dalam goa diriku pula, aku akan mengenali bagaimana selama
ini aku menggunakan waktu yang diberikan Tuhan kepadaku, bagaimana
aku menggunakan mata, telinga, mulut, tangan dan kaki. Pengenalan
yang sesungguhnya akan semua itu membawa kita kepada sikap rendah
hati di hadapan Tuhan dan mohon pengampunanNya.
Pengenalan diri berarti pengenalan akan keagunganku dan sekaligus
pengenalan akan kelalaian, kelemahan dan dosa-dosaku. Pengenalan ini
menjadi dasar bagi hidup kita agar terus-menerus bermawas diri dan
membaharui diri guna mengembalikan keagungan kemiripanku dengan
Allah.
Santo Benardus mengatakan dalam traktatnya (dikutip dari majalah
intern biara-biara kontemplatif Indonesia “Samadi” 1990):
“Sekalipun anda mengetahui semua misteri, mengenal luasnya bumi,
tingginya langit dan dalamnya laut, namun anda tidak mengenal diri
sendiri, anda dapat disamakan dengan orang yang membangun rumah
tanpa pondasi. Orang berhikmat harus berhikmat terhadap diri sendiri.
Oleh sebab itu pertimbangan anda harus dimulai dengan diri anda.
Sebab kalau tidak begitu ada bahaya anda mempertimbangkan lain-lainnya
dengan sia-sia”. ( to be continued)
* * * |