Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober - Desember 2007
 

Natal Jangan Cepat Berlalu

Oleh : RD. Jimmy J. Rampengan

          

Tak terasa waktu berjalan terus, setelah segala kegiatan beriman di Paroki dan di keuskupan tercinta berlangsung, kini umat beriman Katolik memasuki masa natal. Natal yaitu peringatan kelahiran Tuhan Yesus Kristus, sang Juruselamat kita. Hal ini ditandai dengan kesibukan dan persiapan panitia Natal untuk menyambut perayaan kelahiran Yesus. Kita ingin perayaan natal berkesan dan memberikan harapan yang tertinggal dalam
hidup.
Sebelum memasuki masa natal, kita biasa menyambutnya dengan masa advent. Advent artinya penantian. Jadi masa advent adalah masa penantian. Siapa yang dinantikan ialah Sang Juruselamat. Masa advent selama 4 minggu dilaksanakan Gereja untuk mempersiapkan kelahiran Yesus bagi kita. Karena itu pada masa ini, Gereja Katolik tidak boleh merayakan natal. Aktifitas dalam masa advent berupa renungan pribadi, renungan di lingkungan yang dilaksanakan di masing-masing paroki. Intinya: pertobatan diri agar hati kita pantas menerima Yesus yang lahir. Penyucian diri kita menjadi dasar pertobatan selama masa advent. Adapula yang menjadi kekhasan masa advent yakni membuat lingkaran advent. Lingkaran advent menjadi simbol penantian agar selama masa advent umat bekerja sama sambil berdoa dengan terang Kristus selama 4 minggu. Lingkaran advent biasa berbentuk lingkaran yang terbuat dari besi atau rotan dan dihias dengan daum cemara, pita berwarna ungu dengan 4 lilin di atasnya.
Wah sungguh menyenangkan menantikan kelahiran Tuhan..... Menantikan kedatangan Kristus, bukan hanya rohani saja tetapi juga jasmani yang sudah menjadi tradisi. Kelahiran Kristus adalah kelahiran yang penuh sukacita. Ada kebiasaan di dalam keluarga kristiani dalam merayakan kelahiran Tuhan yakni dengan membuat kue natal, parcel, kartu natal bahkan tidak ketinggalan lagu natal, baju natal, pohon natal, hadiah natal, pohon kastuba yang berwarna merah dan hijau menghiasi rumah. Lampion natal juga menyemarakkan pesta kelahiran Tuhan. Suasana natal adalah suasana ceria penuh sukacita karena Tuhan sudah datang. Pokoknya asik.......
Menyambut natal terasa tidak hanya pada pesta pora yang larut dalam kegemerlapan dan keramaian. Namun di balik sukacita itu Allah menghadirkan kemuliaannya: Gloria in Excelcis Deo. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan padaNya” (Luk 2:14). Allah menjadi manusia, peristiwa ini takkan terlupakan. Dalam sebuah gua/kandang natal, Allah hadir melalui perawan Maria. Para gembala bersukacita diberi kabar oleh malaikat: Ada seorang Raja telah lahir (Luk 2:15). Peristiwa kelahiran disimbolkan kembali dengan gua natal. Gua natal yang menjadi hiasan dalam perayaan natal di rumah dan di gereja-gereja. Peristiwa natal muncul dari Eropa. Orang Eropa merayakannya dengan pohon terang. Pohon yang dihiasi dengan lampu-lampu natal di rumah, di gereja, di jalan, di toko, mall dan di mana-mana di pasang sebagai tanda datangnya natal. Meriah sekali rasanya natal itu. Ditambah dengan adanya Sinterklas: Bapak tua yang berjenggot putih dengan keretanya membawa hadiah dan piet hitam yang menakutkan itu. Anak sekolah minggu sangat menyukainya.
Merayakan natal dengan mengunjungi saudara, kerabat, keluarga, orang yang telah tua, tetangga kristiani dan menjadikan perayaan natal sebagai hari keluarga: natal keluarga. Bersalam-salaman mengucapkan “selamat natal”, “merry christmas” keluar dari bibir yang penuh sukacita karena Kristus penebus lahir, Penasehat ajaib, Allah yang berkuasa, Bapa yang kekal, Raja damai (Yes 9:1-6). Suasana seperti ini dirasakan umat kristiani setiap kali merayakan natal. Tentu juga di setiap dan di segala bangsa diharapkan damai natal ini dirasakan. Maka acara yang tidak kalah pentingnya juga dirayakan di panti-panti asuhan, panti jompo dan LP (Lembaga pemasyarakatan) supaya suasana natal juga dirasakan bersama.
Yang menjadi puncak perayaan natal ialah misa natal. Misa natal pada awalnya dirayakan pukul 24 pada tanggal 24 Desember tetapi karena alasan banyaknya umat yang hadir maka Gereja menyelenggarakan misa lebih awal supaya dapat merayakan misa malam natal dua kali atau lebih. Arak-arakan kanak-kanak Yesus dan doa di depan gua menjadi tanda kelahiran Kristus. Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan berbaring di dalam palungan (Luk 2:12). Lagu Holly Night atau Malam Kudus menebarkan kesucian sehingga malam itu sungguh terasa kudus. Ada begitu banyak juga misa natal dengan berbagai inkulturasi, bahasa daerah menambah warna perayaan ekaristi malam natal lebih meriah dan menyentuh.
Demikianlah suasana natal yang pada awalnya sunyi dan senyap karena kelahiran Juru Selamat namun oleh kabar malaikat kepada gembala membuat suasana sukacita dan penuh kegembiraan: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11). Suasana inilah yang dirasakan umat kristiani ketika merayakan natal: suasana damai. Natal memang mempunyai sejuta pesona. Walau hari suci ini selalu cepat berlalu, aku pasti akan selalu merindukanmu.

* * *

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor