Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober-Desember 2008
 


TINGGAL DALAM KERAHIMAN ALLAH

Oleh : Sdr. Yoseph Agut, OFM


 


Beberapa tahun terakhir, dunia perfilman Indonesia sarat akan film-film tentang mistik, bukan hanya di bioskop tetapi juga di layar kaca. Hampir setiap malam selalu ada stasiun TV yang menayangkan film-film tersebut. Alur ceritanya sederhana dan selalu sama, seseorang berbuat jahat kemudian didatangi mahluk jadi-jadian yang menjadikannya jahat, sebagai ending ditampilkan tokoh agama yang melawan kejahatan itu dengan doa, maka kalahlah kuasa kejahatan. Hal yang menarik bahwa setiap kejahatan pasti akan berujung pada neraka, tidak ada harapan bagi orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan.

Berhadapan dengan pandangan yang demikian, sebagai orang Kristiani yang menekankan harapan akan keselamatan dari Allah tentunya bertanya-tanya apakah Allah tidak menaruh belaskasihan pada orang-orang yang berdosa? Padahal, dalam ajaran Kristus sendiri ditekankan belaskasih kepada setiap orang yang menaruh harapan padaNya, sekalipun dia berdosa berat. Dalam ajaran Kristiani juga dikenal adanya neraka dan surga, dua keadaan yang berbeda kondisinya. Neraka merupakan tempat atau tepatnya suatu keadaan di mana manusia yang dianugerahi kehendak bebas untuk memilih, tidak memilih atas Kasih Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana seorang yang mati dengan berdosa berat bisa terangkul dalam Kasih Allah kembali?

Api Penyucian: Pemurnian Diri

Iman Kristiani mengajarkan bahwa dengan kebebasan yang diberikan Allah kita mengambil resiko mengatakan “ya” atau “tidak”. Realitas keberdosaan yang manusia alami merupakan sebuah konsekuensi atas jawaban “tidak” pada kuasa Kasih Allah. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih antara ya dan tidak atas Kasih Allah. Namun, apa yang terjadi terhadap mereka merupakan peringatan bagi kita: suatu panggilan terus-menerus untuk menghindari tragedi yang menghantar kepada dosa dan menyesuaikan hidup kita dengan hidup Yesus yang menghayati hidup-Nya dengan suatu jawaban “ya” terhadap Tuhan.

Berhadapan dengan situasi yang demikian, seringkali kita kehilangan pengharapan. Seorang yang mati dengan berdosa berat seakan-akan sudah dipastikan akan langsung berada dalam suasana penuh ratap tangis dan kertak gigi dan lautan api. Namun, selalu ditekankan bahwa pemikiran tentang neraka janganlah sampai menimbulkan kecemasan ataupun keputusasaan, melainkan sebagai suatu pengingat yang penting dan sehat akan kebebasan, dalam mewartakan bahwa Kristus yang bangkit telah mengalahkan setan dan menganugerahkan kepada kita Roh Allah yang memungkinkan kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15; Gal 4:6). Kepada kita selalu diberikan pengharapan dalam kasih Kerahiman Allah untuk bersatu dan tinggal dalam kuasa KasihNya.

Atas dasar pilihan definitif menerima atau menolak Tuhan, manusia mendapati dirinya menghadapi salah satu dari alternatif berikut: hidup bersama Tuhan dalam kebahagiaan kekal, atau tetap jauh dari hadirat-Nya. Bagi mereka yang mendapati diri dalam kondisi terbuka terhadap Tuhan, namun masih belum sempurna, ziarah menuju kebahagiaan penuh menuntut suatu pemurnian, yang dijelaskan iman Gereja dalam doktrin “Purgatorium” (bdk. Katekismus Gereja Katolik no. 1030-1032). Teks Alkitab juga banyak berbicara tentang upaya pemurnian diri manusia sebelum bersatu dengan Allah di Surga. Teks Alkitab yang dimaksud 1 Kor 3:15 dan 1 Ptr 1:7. Di situ tertulis: “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti di dalam api” (1 Kor 3:15). Sedang Petrus, dalam suratnya, menulis tentang penantian zaman akhir: “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1 Ptr 1:7).

Dalam sebuah pengajaran tentang surga dan neraka, Bapa Suci Yohanes Paulus II merefleksikan api penyucian. Beliau menjelaskan bahwa integritas fisik diperlukan untuk masuk dalam persekutuan sempurna dengan Tuhan. Oleh sebab itu, “istilah api penyucian tidak menyatakan suatu tempat, melainkan suatu kondisi keadaan”, di mana Kristus “menghapus… sisa-sisa ketidaksempurnaan.” Perlunya integritas tak pelak lagi menjadi sangat penting sesudah kematian, agar dapat masuk ke dalam persekutuan sempurna dan sepenuhnya dengan Tuhan. Mereka yang tidak memiliki integritas ini harus menjalani pemurnian. Hal ini dijelaskan dalam tulisan St Paulus. Rasul Paulus berbicara mengenai nilai pekerjaan tiap-tiap orang yang akan dinyatakan pada hari pengadilan dan mengatakan, “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1Kor 3:14-15).

Setiap kelekatan terhadap kejahatan harus dihapuskan, setiap ketidaksempurnaan jiwa harus disempurnakan. Pemurnian harus dilaksanakan sepenuhnya, dan sungguh, inilah yang dimaksudkan dengan ajaran Gereja mengenai api penyucian. Istilah api penyucian tidak menyatakan suatu tempat, melainkan suatu kondisi keadaan. Mereka yang, setelah kematian, berada dalam keadaan pemurnian batin, telah berada dalam kasih Kristus yang menghapuskan dari diri mereka segala sisa-sisa ketidaksempurnaan. Penting dijelaskan bahwa keadaan pemurnian bukanlah suatu perpanjangan dari kondisi duniawi, hampir seakan-akan setelah kematian orang diberi kesempatan lain untuk mengubah nasibnya. Ajaran Gereja dalam hal ini tegas, dipertegas lagi oleh Konsili Vatikan II yang mengajarkan, “Tetapi karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja (bdk. Ibr 9:27), kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati, dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam kegelapan di luar, di tempat `ratapan dan kertakan gigi’ (Mat 22:13 dan 25:30)” (Lumen Gentium no. 48).

Mari Kita Berdoa Untuk Mereka

Salah satu hal utama yang ditetapkan oleh para bapa Gereja ialah ‘mendoakan jiwa-jiwa yang ada di api penyucian. Dalam buku ‘Civita Dei’ (Kota Allah), St. Agustinus menegaskan nilai dari doa bagi jiwa di api penyucian. Tidak dipungkiri bahwa jiwa-jiwa diringankan oleh saudara-saudara mereka yang masih hidup, oleh pengorbanan mereka yang telah diberikan kepada mereka dan derma yang diberikan kepada Gereja, dan ini sangat berguna bagi mereka yang masih hidup. Agustinus lalu menyebutkan bahwa perayaan Misa adalah pusatnya sewaktu doa-doa diunjukkan bagi yang telah meninggal. Misa adalah pusat perayaan umat. Karena itu sangat penting jika dalam komunitas atau keluarga mengenang kembali orang-orang yang mereka kasihi. Juga perlu kita pahami bahwa para kudus juga merupakan bagian komunitas ini. Para bapa Gereja menyadari bahwa para arwah di api penyucian tetap merupakan bagian dalam komunitas kristiani dan para jiwa sangat terbantu dengan adanya komunitas doa.

Satu aspek penting terakhir yang senantiasa ditunjukkan oleh tradisi Gereja hendaknya kini digiatkan kembali: dimensi “communio”. Sesungguhnya, mereka yang mendapati diri berada dalam keadaan pemurnian, dipersatukan baik dengan para kudus yang telah menikmati kepenuhan kehidupan kekal, dan dengan kita di bumi yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Bapa. Sama seperti dalam kehidupan mereka di dunia umat beriman dipersatukan dalam satu Tubuh Mistik, demikian pula setelah kematian, mereka yang berada dalam keadaan pemurnian menikmati kesetiakawanan gerejani yang sama, yang bekerja melalui doa, doa-doa silih dan kasih bagi sesama saudara dan saudari dalam iman. Pemurnian berada dalam ikatan pokok yang tercipta antara mereka yang hidup di dunia ini dan mereka yang telah menikmati kebahagiaan kekal.

Doa bagi mereka yang sedang berada dalam api penyucian merupakan usaha kita yang masih berada di dunia dengan harapan agar bisa bersatu dengan para kudus di surga. Doa yang kita sampaikan merupakan pengharapan agar dengan kuasa Allah yang Maharahim, saudara kita yang telah meninggal dapat dilahirkan kembali dalam Kerajaan surga. Doa yang kita sampaikan juga merupakan sarana bagi kita untuk mengingat bahwa kita juga akan mengalami kematian yang sama dengan mereka. Melalui doa tersebut kita juga berharap agar kitapun dapat dibebaskan dari kuasa kegelapan. Dengan ingatan dan harapan tersebut, kita bisa menjalani hidup kita di dunia dengan silih dan melakukan pekerjaan yang berkenan di hadapan Allah yang Maharahim.



 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor