|
TINGGAL DALAM
KERAHIMAN ALLAH
Oleh : Sdr. Yoseph Agut, OFM
Beberapa tahun terakhir, dunia perfilman Indonesia sarat akan
film-film tentang mistik, bukan hanya di bioskop tetapi juga
di layar kaca. Hampir setiap malam selalu ada stasiun TV yang
menayangkan film-film tersebut. Alur ceritanya sederhana dan
selalu sama, seseorang berbuat jahat kemudian didatangi mahluk
jadi-jadian yang menjadikannya jahat, sebagai ending
ditampilkan tokoh agama yang melawan kejahatan itu dengan doa,
maka kalahlah kuasa kejahatan. Hal yang menarik bahwa setiap
kejahatan pasti akan berujung pada neraka, tidak ada harapan
bagi orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan.
Berhadapan dengan pandangan yang demikian, sebagai orang
Kristiani yang menekankan harapan akan keselamatan dari Allah
tentunya bertanya-tanya apakah Allah tidak menaruh
belaskasihan pada orang-orang yang berdosa? Padahal, dalam
ajaran Kristus sendiri ditekankan belaskasih kepada setiap
orang yang menaruh harapan padaNya, sekalipun dia berdosa
berat. Dalam ajaran Kristiani juga dikenal adanya neraka dan
surga, dua keadaan yang berbeda kondisinya. Neraka merupakan
tempat atau tepatnya suatu keadaan di mana manusia yang
dianugerahi kehendak bebas untuk memilih, tidak memilih atas
Kasih Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana seorang yang mati
dengan berdosa berat bisa terangkul dalam Kasih Allah kembali?
Api Penyucian: Pemurnian Diri
Iman Kristiani mengajarkan bahwa dengan kebebasan yang
diberikan Allah kita mengambil resiko mengatakan “ya” atau “tidak”.
Realitas keberdosaan yang manusia alami merupakan sebuah
konsekuensi atas jawaban “tidak” pada kuasa Kasih Allah.
Manusia diberikan kebebasan untuk memilih antara ya dan tidak
atas Kasih Allah. Namun, apa yang terjadi terhadap mereka
merupakan peringatan bagi kita: suatu panggilan terus-menerus
untuk menghindari tragedi yang menghantar kepada dosa dan
menyesuaikan hidup kita dengan hidup Yesus yang menghayati
hidup-Nya dengan suatu jawaban “ya” terhadap Tuhan.
Berhadapan dengan situasi yang demikian, seringkali kita
kehilangan pengharapan. Seorang yang mati dengan berdosa berat
seakan-akan sudah dipastikan akan langsung berada dalam
suasana penuh ratap tangis dan kertak gigi dan lautan api.
Namun, selalu ditekankan bahwa pemikiran tentang neraka
janganlah sampai menimbulkan kecemasan ataupun keputusasaan,
melainkan sebagai suatu pengingat yang penting dan sehat akan
kebebasan, dalam mewartakan bahwa Kristus yang bangkit telah
mengalahkan setan dan menganugerahkan kepada kita Roh Allah
yang memungkinkan kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15;
Gal 4:6). Kepada kita selalu diberikan pengharapan dalam kasih
Kerahiman Allah untuk bersatu dan tinggal dalam kuasa KasihNya.
Atas dasar pilihan definitif menerima atau menolak Tuhan,
manusia mendapati dirinya menghadapi salah satu dari
alternatif berikut: hidup bersama Tuhan dalam kebahagiaan
kekal, atau tetap jauh dari hadirat-Nya. Bagi mereka yang
mendapati diri dalam kondisi terbuka terhadap Tuhan, namun
masih belum sempurna, ziarah menuju kebahagiaan penuh menuntut
suatu pemurnian, yang dijelaskan iman Gereja dalam doktrin
“Purgatorium” (bdk. Katekismus Gereja Katolik no. 1030-1032).
Teks Alkitab juga banyak berbicara tentang upaya pemurnian
diri manusia sebelum bersatu dengan Allah di Surga. Teks
Alkitab yang dimaksud 1 Kor 3:15 dan 1 Ptr 1:7. Di situ
tertulis: “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita
kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti
di dalam api” (1 Kor 3:15). Sedang Petrus, dalam suratnya, menulis
tentang penantian zaman akhir: “Maksud semuanya itu ialah
untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi
nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya
dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan
dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1
Ptr 1:7).
Dalam sebuah pengajaran tentang surga dan neraka, Bapa Suci
Yohanes Paulus II merefleksikan api penyucian. Beliau
menjelaskan bahwa integritas fisik diperlukan untuk masuk
dalam persekutuan sempurna dengan Tuhan. Oleh sebab itu,
“istilah api penyucian tidak menyatakan suatu tempat,
melainkan suatu kondisi keadaan”, di mana Kristus “menghapus…
sisa-sisa ketidaksempurnaan.” Perlunya integritas tak pelak
lagi menjadi sangat penting sesudah kematian, agar dapat masuk
ke dalam persekutuan sempurna dan sepenuhnya dengan Tuhan.
Mereka yang tidak memiliki integritas ini harus menjalani
pemurnian. Hal ini dijelaskan dalam tulisan St Paulus. Rasul
Paulus berbicara mengenai nilai pekerjaan tiap-tiap orang yang
akan dinyatakan pada hari pengadilan dan mengatakan, “Jika
pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat
upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian,
tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam
api” (1Kor 3:14-15).
Setiap kelekatan terhadap kejahatan harus dihapuskan, setiap
ketidaksempurnaan jiwa harus disempurnakan. Pemurnian harus
dilaksanakan sepenuhnya, dan sungguh, inilah yang dimaksudkan
dengan ajaran Gereja mengenai api penyucian. Istilah api
penyucian tidak menyatakan suatu tempat, melainkan suatu
kondisi keadaan. Mereka yang, setelah kematian, berada dalam
keadaan pemurnian batin, telah berada dalam kasih Kristus yang
menghapuskan dari diri mereka segala sisa-sisa
ketidaksempurnaan. Penting dijelaskan bahwa keadaan pemurnian
bukanlah suatu perpanjangan dari kondisi duniawi, hampir
seakan-akan setelah kematian orang diberi kesempatan lain
untuk mengubah nasibnya. Ajaran Gereja dalam hal ini tegas,
dipertegas lagi oleh Konsili Vatikan II yang mengajarkan,
“Tetapi karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas
anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah
mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja
(bdk. Ibr 9:27), kita bersama dengan-Nya memasuki pesta
pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati,
dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas
diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam
kegelapan di luar, di tempat `ratapan dan kertakan gigi’ (Mat
22:13 dan 25:30)” (Lumen Gentium no. 48).
Mari Kita Berdoa Untuk Mereka
Salah satu hal utama yang ditetapkan oleh para bapa Gereja
ialah ‘mendoakan jiwa-jiwa yang ada di api penyucian. Dalam
buku ‘Civita Dei’ (Kota Allah), St. Agustinus menegaskan nilai
dari doa bagi jiwa di api penyucian. Tidak dipungkiri bahwa
jiwa-jiwa diringankan oleh saudara-saudara mereka yang masih
hidup, oleh pengorbanan mereka yang telah diberikan kepada
mereka dan derma yang diberikan kepada Gereja, dan ini sangat
berguna bagi mereka yang masih hidup. Agustinus lalu
menyebutkan bahwa perayaan Misa adalah pusatnya sewaktu
doa-doa diunjukkan bagi yang telah meninggal. Misa adalah
pusat perayaan umat. Karena itu sangat penting jika dalam
komunitas atau keluarga mengenang kembali orang-orang yang mereka
kasihi. Juga perlu kita pahami bahwa para kudus juga merupakan
bagian komunitas ini. Para bapa Gereja menyadari bahwa para
arwah di api penyucian tetap merupakan bagian dalam komunitas
kristiani dan para jiwa sangat terbantu dengan adanya
komunitas doa.
Satu aspek penting terakhir yang senantiasa ditunjukkan oleh
tradisi Gereja hendaknya kini digiatkan kembali: dimensi “communio”.
Sesungguhnya, mereka yang mendapati diri berada dalam keadaan
pemurnian, dipersatukan baik dengan para kudus yang telah
menikmati kepenuhan kehidupan kekal, dan dengan kita di bumi
yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Bapa. Sama seperti
dalam kehidupan mereka di dunia umat beriman dipersatukan
dalam satu Tubuh Mistik, demikian pula setelah kematian,
mereka yang berada dalam keadaan pemurnian menikmati
kesetiakawanan gerejani yang sama, yang bekerja melalui doa,
doa-doa silih dan kasih bagi sesama saudara dan saudari dalam
iman. Pemurnian berada dalam ikatan pokok yang tercipta antara
mereka yang hidup di dunia ini dan mereka yang telah menikmati
kebahagiaan kekal.
Doa bagi mereka yang sedang berada dalam api penyucian
merupakan usaha kita yang masih berada di dunia dengan harapan
agar bisa bersatu dengan para kudus di surga. Doa yang kita
sampaikan merupakan pengharapan agar dengan kuasa Allah yang
Maharahim, saudara kita yang telah meninggal dapat dilahirkan
kembali dalam Kerajaan surga. Doa yang kita sampaikan juga
merupakan sarana bagi kita untuk mengingat bahwa kita juga
akan mengalami kematian yang sama dengan mereka. Melalui doa
tersebut kita juga berharap agar kitapun dapat dibebaskan dari
kuasa kegelapan. Dengan ingatan dan harapan tersebut, kita
bisa menjalani hidup kita di dunia dengan silih dan melakukan
pekerjaan yang berkenan di hadapan Allah yang Maharahim.
|