Home  
 
Media Komunikasi Keuskupan Bogor - M E K A R - Edisi Oktober-Desember 2009
 


Tuan Rumah Yang Baik

Oleh : Fr. Ari Fefu


 


“Sungguhlah indah rumahMu Tuhan, Raja alam raya
Burung pipit serta layang-layang, Dikau beri sarang
Alangkah kurindu, tinggal di rumahMu
Sorak dan sorai bagiMu….”
(Puji Syukur no. 333)

 

Kalau kita mendengar sepenggal lirik lagu di atas, tentu lirik lagu tersebut sudah tidak asing di telinga kita. Lagu tersebut acapkali kita nyanyikan dalam perayaan ekaristi. Kalau kita perhatikan, ada satu kata yang menjadi kata kunci, yaitu ‘rumah’. Kata ‘rumah’ pada penggalan lirik lagu di atas menjadi ‘tokoh sentral’. Singkatnya, kita bisa mengatakan bahwa lagu tersebut berbicara mengenai rumah. Akan tetapi, rumah seperti apakah yang dimaksud? Apakah seperti rumah yang biasa kita tempati/huni? Ataukah jenis rumah yang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita telaah bersama-sama dalam secarik refleksi ini.


Rumah

Lirik lagu dengan judul ‘Sungguhlah Indah RumahMu Tuhan’ berangkat dari begitu besarnya kekaguman manusia terhadap alam semesta. Alam semesta ini begitu luas, kompleks, mengherankan, luar biasa, dan begitu indah. Sampai-sampai manusia tidak tahu harus membahasakan keindahannya seperti apa. Berusaha membahasakannya berarti berusaha menyempitkan hakikat kekaguman itu sendiri. Kekaguman seolah mengatasi logika manusia. Kekaguman seolah berada di wilayah lain kesadaran manusia. Orang sungguh bebas berefleksi dan berinterpretasi mengenai hakikat keindahan alam ini.

Marilah kita simak kembali kalimat pertama pada bagian awal lagu di atas. Dikatakan secara jelas, rumah Tuhan disebut sebagai raja alam raya. Cakupan kata raja dalam konteks ini tidak lantas lari pada konsep raja yang biasa kita pahami. Makna raja di sini begitu luas dan mendalam. Lihat saja dari penggunaan kata ‘raya’. Ia tidak hanya berada pada tataran jasmani, tetapi juga pada tataran rohani. Dalam Kitab Kejadian kita dapat melihat bagaimana alam semesta ini diciptakan begitu teraturnya oleh Allah. Pada saat yang bersamaan, Allah sendirilah yang berkuasa penuh atas segala ciptaanNya. Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitranya. Bahkan, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26). Ada sebuah intensi ilahi yang terkandung di balik alam semesta ini.

Ketika mendengar kata ‘rumah’, alam berpikir kita pasti mengarah pada suatu bangunan yang berdiri kokoh di sebuah tempat. Ini benar dan tidak perlu kita pungkiri. Akan tetapi, kita menemukan fakta bahwa rumah tidak hanya identik dengan bangunan yang kokoh. Sangkar, sarang, dan kandang juga menjadi bentuk lain dari rumah-rumah itu sendiri. Kita memang dapat melahirkan konsep rumah yang bermacam-macam dan bisa menamainya sesuai dengan apa yang kita atau orang lain pahami, terutama mengenai siapa (subjek) yang ada di dalamnya/penghuninya. Sederhananya, sesuatu yang bisa ditinggali dalam waktu tertentu dapat disebut sebagai rumah, tidak peduli bagaimana pun bentuknya.

Lantas bagaimana jika kata ‘rumah’ tersebut kita kaitkan dengan kata ‘Tuhan’ dan menjadi sebuah frase, yaitu ‘rumah Tuhan’? Tentu saja ini akan menimbulkan satu citarasa/hakikat baru. Jika kita telaah, rumah Tuhan menjadi satu konsep yang sebenarnya tidak begitu asing dan baru. Frase ini sangat sering kita dengar dan gunakan. Sebagai contoh konkret, kita sering menyebut gereja dengan sebutan rumah Tuhan, rumah Allah, Bait Allah, dan lain sebagainya. Sehingga tidak berlebihan rasanya bila kita pun mengartikan rumah Tuhan sebagai gereja itu sendiri. Dalam arti, konsep yang selama ini kita pahami lebih pada bangunan, bukan sebagai sebuah komunitas orang yang hidup dan beriman kepada Kristus.


Rumah Tuhan

Konsep rumah Tuhan yang menjadi fokus perhatian kita adalah konsep rumah sebagai satu keseluruhan alam semesta (kosmik). Alam semesta ini tidak hadir dan muncul begitu saja. Ada satu ‘aktor’ dibalik penciptaan alam semesta ini, yaitu Tuhan. Alam semesta sebagai sebuah karunia yang Tuhan sendiri berikan kepada kita ciptaanNya. Alam semesta ini menjadi satu wilayah agung antara manusia dengan Allah. Melalui alam yang begitu indah, manusia dapat merasakan bahwa Allah sungguh-sungguh ada dan hadir melalui apa yang diciptakannya. Melalui alam, manusia pun dapat mengenal siapa Allah.

Kita pun dapat menempatkan konsep rumah Tuhan ini sebagai konsep alam semesta, yang telah kita diami selama beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta tahun yang lalu. Alam semesta ini menjadi satu media penghubung bagaimana manusia bisa mengagumi melalui apa yang diciptakanNya. Ada satu muatan spiritual di dalam alam ini, yaitu bagaimana campur tangan Allah sendiri di dalam segala yang ada. Sehingga alam semesta ini menjadi begitu indah dan berguna bagi seluruh ciptaan. Manusia menjadi begitu kagum dengan apa yang Allah lakukan. Di sinilah, orang dapat mengalami apa yang disebut pengalaman religius. Pengalaman ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah yang mahakuasa. Manusia merasa sungguh-sungguh kecil sekaligus dekat dengan Allah sebagai yang empunya kehidupan. Ada satu perjumpaan personal, yaitu perjumpaan antara manusia dengan Tuhan sendiri melalui alam. Seolah-olah manusia bisa merasakan dan mendengar suara Allah sendiri (Ulangan 4:36). Semilirnya angin dan bergemuruhnya ombak, serta indahnya pemandangan alam seolah membisikkan kata-kata indah di telinga kita betapa Allah sungguh hadir secara nyata di dalam hidup kita.

Rumah Tuhan ini begitu indah dan luar biasa. Rumah yang beratapkan langit dan beralaskan tanah dengan segala macam pernak-pernik kehidupan yang ada. Atap ini begitu luas dan kokoh hingga mampu membungkus keagungan semesta sedemikian indahnya. Bagi yang berada di bawahnya, mereka bisa berlindung, hidup, dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya, dan lain sebagainya. Ternyata Tuhan tidak hanya menyediakan rumah yang baik, bagus, dan kokoh bagi kita. Akan tetapi, Tuhan pun telah memberikan dan memenuhi segala ‘kebutuhan’ kita. Kebutuhan tersebut menjadi sarana penunjang kelangsungan hidup manusia. Allah memberikan apa yang memang menjadi kebutuhan hidup kita. Dengan keyakinan itulah, kita sebagai manusia menjadi semakin beriman kepadaNya. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibrani 11:3).

Di dalamnya, manusia diberi satu kepercayaan agar dapat mengolah dan memberdayakan alam dan segala ciptaan yang ada sebaik-baiknya (Kejadian 1:28). Manusia bertanggungjawab untuk memelihara, mengolah, dan menjaga alam semesta ini dengan penuh iman kepada Tuhan. Dengan segala kehendak bebasnya, manusia dapat mengolah dan mengupayakan apa pun demi kelangsungan hidupnya. Dengan satu catatan penting, apa yang diupayakan dan diusahakan ini hendaknya demi kebaikan hidup (universal). Ini menjadi misi luhur panggilan hidup kita sebagai orang Kristen. Ada satu kepercayaan besar yang Tuhan tanamkan di dalam hati terdalam manusia. Sebaliknya, manusia pun harus mampu menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh iman. Tuhan sungguh mengenal manusia sehingga memberi manusia sebuah misi agar manusia dapat semakin mengenalNya.

Konsep ‘rumah Tuhan’ tersebut mempunyai makna yang lebih luas lagi jika kita gabungkan dengan kalimat selanjutnya, yaitu raja alam raya. Kata ‘rumah Tuhan sebagai raja alam raya’ menjadi satu konsep pemahaman baru yang hendaknya mampu memperkaya iman dan kesadaran kita akan hakikat keagunganNya. Raja yang tidak hanya berkuasa atas satu wilayah tertentu. Akan tetapi, raja yang sungguh berkuasa atas seluruh wilayah (di bumi). Di sinilah letak kekuasaan Allah sebagai raja yang tidak terbatas. Disebutkan dalam lagu tersebut, rumah Tuhan itu begitu indah dan luar biasa. Siapa pun pasti ingin tinggal dan berada di dalamnya. Bagi mereka yang pernah tinggal di dalamnya, ada sebuah kerinduan besar dan mendasar untuk mau (masuk) kembali lagi. Ada satu ikatan batin yang begitu kuat sehingga membuat manusia tidak berdaya untuk tinggal lebih lama di dalamnya. “Lebih baik satu hari tinggal di rumahMu ya Tuhan, daripada seribu hari di tempat lain” (Mazmur 84:11). Hal ini menjadi bukti konkret betapa manusia selalu ingin berada di dekat Allah. Mengapa demikian, ada sesuatu yang begitu menarik dan mampu memesona manusia sehingga membuat manusia tidak ingin berpaling kepada yang lain. Allah menjadi satu sumber kehidupan manusia yang tidak akan pernah habis. Sumber itulah yang diyakini mampu mengenyangkan manusia secara spiritual. Allah menjadi sumber kenikmatan rohani bagi manusia. Berada di dekatNya, manusia akan merasa damai, tenteram, dan tidak akan pernah dikecewakan. Inilah yang menjadi kerinduan terbesar di dalam hidup manusia.

Lebih lanjut dikatakan di dalam syair lagu tersebut, rumah yang Tuhan sediakan tidak diperuntukkan hanya bagi manusia. Burung pipit serta burung layang-layang pun diberi tempat (sarang) oleh Tuhan. Tuhan begitu baik sehingga Ia tidak pernah membiarkan siapa pun berada di luar rumahNya. Ketika berada di dalam pun, semua pasti memperoleh tempat yang nyaman. Tuhan selalu menawarkan ‘undangan’ agar kita mau kembali lagi kepadaNya. Layaknya seorang tuan rumah, Ia dapat menjadi seorang tuan rumah yang sangat baik.


Allah sebagai Tuan Rumah yang Baik

Jika AlIah kita anggap sebagai seorang tuan rumah, lantas siapakah tamunya? Tidak lain dan tidak bukan, manusia dan ciptaan-ciptaan lain lah yang menjadi tamunya. Allah tidak pernah membiarkan para tamunya berada di luar dalam waktu yang lama. Allah akan segera mempersilakan kita untuk masuk. Tidak hanya itu, setelah kita dipersilakan masuk dan berada di dalamnya, Allah pun memberikan apa yang kita butuhkan. Ketika lapar, Allah memberi kita makan. Ketika haus, Allah memberi kita minum. Dalam tataran seperti ini, dapat kita tegaskan bahwa Allah sungguh tahu apa yang memang menjadi kebutuhan ‘para tamunya’. Ia sungguh mengenal dan memahami para tamunya dengan baik. Karena rasa pengertian dari Allah itulah yang membuat manusia dapat betah berada di dalamnya. Allah tidak akan pernah mengecewakan para tamunya (manusia). Justru manusialah yang kerap kali mengecewakan Allah. Sang Tuan Rumah akan menghibur kita tatkala kita merasa sedih dan akan membantu kita tatkala berada di dalam kesusahan/kesulitan. Setiap tamu yang mau masuk ke dalam rumah Tuhan akan senantiasa dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Inilah sumber kehidupan kekal atau sumber kenikmatan rohani itu sendiri. Allah pasti memanggil orang yang berdosa agar kembali lagi kepadaNya. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang berdosa sekalipun ternyata masih tetap diberi rahmat oleh Allah sendiri.

Jika Allah hendak diperlakukan sebagai tuan rumah yang baik, bagaimana sikap kita sebagai tamu? Jika tuan rumah sudah memperlakukan para tamunya dengan baik, hendaknya para tamu pun bersikap baik kepada sang empunya rumah. Jangan sampai tuan rumah merasa kecewa atau tidak enak hati. Kita bersikap selayaknya tamu yang baik dan sopan. Allah memperlakukan manusia layaknya seperti apa yang seharusnya. Sebagai manusia, hendaknya kita bersikap sungguh layak untuk diterima oleh siapa pun termasuk Allah, walaupun kerap kali kita merasa tidak pantas. Dengan mensyukuri dan menerima apa pun yang disuguhkan oleh yang empunya rumah, bersikap jujur, dan tahu diri mengindikasikan bahwa kita sudah berusaha memosisikan diri sebagai tamu yang baik. Rumah Tuhan ini harus kita jaga dengan baik. Layaknya sebuah rumah, kita tidak hanya berhak menempatinya sampai kapan pun, tetapi juga harus mau merawatnya dengan baik. Jika rumah Tuhan ini rusak atau mulai tidak layak huni, siapakah yang harus memperbaikinya? Sebagai contoh, keadaan bumi dan alam yang semakin tidak kondusif : mengeringnya sumber-sumber air dunia, pencairan es di kutub utara dalam skala yang cukup besar dan cepat, suhu bumi yang semakin hari semakin panas, dan lain sebagainya sungguh membutuhkan kepedulian kita. Itu semua seharusnya mampu menggugah kesadaran batin kita sebagai manusia untuk berusaha dan mau peduli. Alam ini tidak bisa dibiarkan terus menerus larut dalam keadaannya yang demikian. Kepedulian akan menjadi bukti konkret betapa manusia pun bertanggungjawab atas dirinya dan pada Dia yang menciptakan kita. Tidak hanya di dalam kata-kata, tetapi juga di dalam perbuatan. Akan berada dimanakah kita nanti jika rumah Tuhan yang kita diami sekarang ini pun sudah tidak layak huni? Apakah kita tidak pernah mau berusaha untuk memperbaiki ‘rumah’ tersebut?

Allah mengajarkan kepada kita agar manusia hendaknya mampu merawat dan menjaga rumahNya dengan baik. Allah membutuhkan tangan-tangan manusia supaya dapat meneruskan karya-karyaNya. Allah-lah sang pemberi kehidupan dan tuan rumah yang baik. Dialah raja alam semesta, Dialah yang berkuasa penuh atas segala yang ada di bumi ini.



 

 

 

Home

   

 

 

Copyright © 2007, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 Bogor