|
Tuan Rumah Yang Baik
Oleh : Fr. Ari Fefu
“Sungguhlah indah rumahMu Tuhan, Raja alam raya
Burung pipit serta layang-layang, Dikau beri sarang
Alangkah kurindu, tinggal di rumahMu
Sorak dan sorai bagiMu….”
(Puji Syukur no. 333)
Kalau kita
mendengar sepenggal lirik lagu di atas, tentu lirik lagu
tersebut sudah tidak asing di telinga kita. Lagu tersebut
acapkali kita nyanyikan dalam perayaan ekaristi. Kalau kita
perhatikan, ada satu kata yang menjadi kata kunci, yaitu ‘rumah’.
Kata ‘rumah’ pada penggalan lirik lagu di atas menjadi ‘tokoh
sentral’. Singkatnya, kita bisa mengatakan bahwa lagu tersebut
berbicara mengenai rumah. Akan tetapi, rumah seperti apakah
yang dimaksud? Apakah seperti rumah yang biasa kita tempati/huni?
Ataukah jenis rumah yang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
akan kita telaah bersama-sama dalam secarik refleksi ini.
Rumah
Lirik lagu dengan judul ‘Sungguhlah Indah RumahMu Tuhan’
berangkat dari begitu besarnya kekaguman manusia terhadap alam
semesta. Alam semesta ini begitu luas, kompleks, mengherankan,
luar biasa, dan begitu indah. Sampai-sampai manusia tidak tahu
harus membahasakan keindahannya seperti apa. Berusaha
membahasakannya berarti berusaha menyempitkan hakikat
kekaguman itu sendiri. Kekaguman seolah mengatasi logika
manusia. Kekaguman seolah berada di wilayah lain kesadaran
manusia. Orang sungguh bebas berefleksi dan berinterpretasi
mengenai hakikat keindahan alam ini.
Marilah kita simak kembali kalimat pertama pada bagian awal
lagu di atas. Dikatakan secara jelas, rumah Tuhan disebut
sebagai raja alam raya. Cakupan kata raja dalam konteks ini
tidak lantas lari pada konsep raja yang biasa kita pahami.
Makna raja di sini begitu luas dan mendalam. Lihat saja dari
penggunaan kata ‘raya’. Ia tidak hanya berada pada tataran
jasmani, tetapi juga pada tataran rohani. Dalam Kitab Kejadian
kita dapat melihat bagaimana alam semesta ini diciptakan
begitu teraturnya oleh Allah. Pada saat yang bersamaan, Allah
sendirilah yang berkuasa penuh atas segala ciptaanNya. Allah
menciptakan manusia untuk menjadi mitranya. Bahkan, manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian
1:26). Ada sebuah intensi ilahi yang terkandung di balik alam
semesta ini.
Ketika mendengar kata ‘rumah’, alam berpikir kita pasti
mengarah pada suatu bangunan yang berdiri kokoh di sebuah
tempat. Ini benar dan tidak perlu kita pungkiri. Akan tetapi,
kita menemukan fakta bahwa rumah tidak hanya identik dengan
bangunan yang kokoh. Sangkar, sarang, dan kandang juga menjadi
bentuk lain dari rumah-rumah itu sendiri. Kita memang dapat
melahirkan konsep rumah yang bermacam-macam dan bisa
menamainya sesuai dengan apa yang kita atau orang lain pahami,
terutama mengenai siapa (subjek) yang ada di dalamnya/penghuninya.
Sederhananya, sesuatu yang bisa ditinggali dalam waktu
tertentu dapat disebut sebagai rumah, tidak peduli bagaimana
pun bentuknya.
Lantas bagaimana jika kata ‘rumah’ tersebut kita kaitkan
dengan kata ‘Tuhan’ dan menjadi sebuah frase, yaitu ‘rumah
Tuhan’? Tentu saja ini akan menimbulkan satu citarasa/hakikat
baru. Jika kita telaah, rumah Tuhan menjadi satu konsep yang
sebenarnya tidak begitu asing dan baru. Frase ini sangat
sering kita dengar dan gunakan. Sebagai contoh konkret, kita
sering menyebut gereja dengan sebutan rumah Tuhan, rumah
Allah, Bait Allah, dan lain sebagainya. Sehingga tidak
berlebihan rasanya bila kita pun mengartikan rumah Tuhan
sebagai gereja itu sendiri. Dalam arti, konsep yang selama ini
kita pahami lebih pada bangunan, bukan sebagai sebuah
komunitas orang yang hidup dan beriman kepada Kristus.
Rumah Tuhan
Konsep rumah Tuhan yang menjadi fokus perhatian kita adalah
konsep rumah sebagai satu keseluruhan alam semesta (kosmik).
Alam semesta ini tidak hadir dan muncul begitu saja. Ada satu
‘aktor’ dibalik penciptaan alam semesta ini, yaitu Tuhan. Alam
semesta sebagai sebuah karunia yang Tuhan sendiri berikan
kepada kita ciptaanNya. Alam semesta ini menjadi satu wilayah
agung antara manusia dengan Allah. Melalui alam yang begitu
indah, manusia dapat merasakan bahwa Allah sungguh-sungguh ada
dan hadir melalui apa yang diciptakannya. Melalui alam,
manusia pun dapat mengenal siapa Allah.
Kita pun dapat menempatkan konsep rumah Tuhan ini sebagai
konsep alam semesta, yang telah kita diami selama beribu-ribu
atau bahkan berjuta-juta tahun yang lalu. Alam semesta ini
menjadi satu media penghubung bagaimana manusia bisa mengagumi
melalui apa yang diciptakanNya. Ada satu muatan spiritual di
dalam alam ini, yaitu bagaimana campur tangan Allah sendiri di
dalam segala yang ada. Sehingga alam semesta ini menjadi
begitu indah dan berguna bagi seluruh ciptaan. Manusia menjadi
begitu kagum dengan apa yang Allah lakukan. Di sinilah, orang
dapat mengalami apa yang disebut pengalaman religius.
Pengalaman ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah yang
mahakuasa. Manusia merasa sungguh-sungguh kecil sekaligus
dekat dengan Allah sebagai yang empunya kehidupan. Ada satu
perjumpaan personal, yaitu perjumpaan antara manusia dengan
Tuhan sendiri melalui alam. Seolah-olah manusia bisa merasakan
dan mendengar suara Allah sendiri (Ulangan 4:36). Semilirnya
angin dan bergemuruhnya ombak, serta indahnya pemandangan alam
seolah membisikkan kata-kata indah di telinga kita betapa
Allah sungguh hadir secara nyata di dalam hidup kita.
Rumah Tuhan ini begitu indah dan luar biasa. Rumah yang
beratapkan langit dan beralaskan tanah dengan segala macam
pernak-pernik kehidupan yang ada. Atap ini begitu luas dan
kokoh hingga mampu membungkus keagungan semesta sedemikian
indahnya. Bagi yang berada di bawahnya, mereka bisa berlindung,
hidup, dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya, dan
lain sebagainya. Ternyata Tuhan tidak hanya menyediakan rumah
yang baik, bagus, dan kokoh bagi kita. Akan tetapi, Tuhan pun
telah memberikan dan memenuhi segala ‘kebutuhan’ kita.
Kebutuhan tersebut menjadi sarana penunjang kelangsungan hidup
manusia. Allah memberikan apa yang memang menjadi kebutuhan
hidup kita. Dengan keyakinan itulah, kita sebagai manusia
menjadi semakin beriman kepadaNya. Karena iman kita mengerti,
bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga
apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat
kita lihat (Ibrani 11:3).
Di dalamnya, manusia diberi satu kepercayaan agar dapat
mengolah dan memberdayakan alam dan segala ciptaan yang ada
sebaik-baiknya (Kejadian 1:28). Manusia bertanggungjawab untuk
memelihara, mengolah, dan menjaga alam semesta ini dengan
penuh iman kepada Tuhan. Dengan segala kehendak bebasnya,
manusia dapat mengolah dan mengupayakan apa pun demi
kelangsungan hidupnya. Dengan satu catatan penting, apa yang
diupayakan dan diusahakan ini hendaknya demi kebaikan hidup
(universal). Ini menjadi misi luhur panggilan hidup kita
sebagai orang Kristen. Ada satu kepercayaan besar yang Tuhan
tanamkan di dalam hati terdalam manusia. Sebaliknya, manusia
pun harus mampu menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh iman.
Tuhan sungguh mengenal manusia sehingga memberi manusia sebuah
misi agar manusia dapat semakin mengenalNya.
Konsep ‘rumah Tuhan’ tersebut mempunyai makna yang lebih luas
lagi jika kita gabungkan dengan kalimat selanjutnya, yaitu
raja alam raya. Kata ‘rumah Tuhan sebagai raja alam raya’
menjadi satu konsep pemahaman baru yang hendaknya mampu
memperkaya iman dan kesadaran kita akan hakikat keagunganNya.
Raja yang tidak hanya berkuasa atas satu wilayah tertentu.
Akan tetapi, raja yang sungguh berkuasa atas seluruh wilayah (di
bumi). Di sinilah letak kekuasaan Allah sebagai raja yang
tidak terbatas. Disebutkan dalam lagu tersebut, rumah Tuhan
itu begitu indah dan luar biasa. Siapa pun pasti ingin tinggal
dan berada di dalamnya. Bagi mereka yang pernah tinggal di
dalamnya, ada sebuah kerinduan besar dan mendasar untuk mau (masuk)
kembali lagi. Ada satu ikatan batin yang begitu kuat sehingga
membuat manusia tidak berdaya untuk tinggal lebih lama di
dalamnya. “Lebih baik satu hari tinggal di rumahMu ya Tuhan,
daripada seribu hari di tempat lain” (Mazmur 84:11). Hal ini
menjadi bukti konkret betapa manusia selalu ingin berada di
dekat Allah. Mengapa demikian, ada sesuatu yang begitu menarik
dan mampu memesona manusia sehingga membuat manusia tidak
ingin berpaling kepada yang lain. Allah menjadi satu sumber
kehidupan manusia yang tidak akan pernah habis. Sumber itulah
yang diyakini mampu mengenyangkan manusia secara spiritual.
Allah menjadi sumber kenikmatan rohani bagi manusia. Berada di
dekatNya, manusia akan merasa damai, tenteram, dan tidak akan
pernah dikecewakan. Inilah yang menjadi kerinduan terbesar di
dalam hidup manusia.
Lebih lanjut dikatakan di dalam syair lagu tersebut, rumah
yang Tuhan sediakan tidak diperuntukkan hanya bagi manusia.
Burung pipit serta burung layang-layang pun diberi tempat (sarang)
oleh Tuhan. Tuhan begitu baik sehingga Ia tidak pernah
membiarkan siapa pun berada di luar rumahNya. Ketika berada di
dalam pun, semua pasti memperoleh tempat yang nyaman. Tuhan
selalu menawarkan ‘undangan’ agar kita mau kembali lagi
kepadaNya. Layaknya seorang tuan rumah, Ia dapat menjadi
seorang tuan rumah yang sangat baik.
Allah sebagai Tuan Rumah yang Baik
Jika AlIah kita anggap sebagai seorang tuan rumah, lantas
siapakah tamunya? Tidak lain dan tidak bukan, manusia dan
ciptaan-ciptaan lain lah yang menjadi tamunya. Allah tidak
pernah membiarkan para tamunya berada di luar dalam waktu yang
lama. Allah akan segera mempersilakan kita untuk masuk. Tidak
hanya itu, setelah kita dipersilakan masuk dan berada di
dalamnya, Allah pun memberikan apa yang kita butuhkan. Ketika
lapar, Allah memberi kita makan. Ketika haus, Allah memberi
kita minum. Dalam tataran seperti ini, dapat kita tegaskan
bahwa Allah sungguh tahu apa yang memang menjadi kebutuhan
‘para tamunya’. Ia sungguh mengenal dan memahami para tamunya
dengan baik. Karena rasa pengertian dari Allah itulah yang
membuat manusia dapat betah berada di dalamnya. Allah tidak
akan pernah mengecewakan para tamunya (manusia). Justru
manusialah yang kerap kali mengecewakan Allah. Sang Tuan Rumah
akan menghibur kita tatkala kita merasa sedih dan akan
membantu kita tatkala berada di dalam kesusahan/kesulitan.
Setiap tamu yang mau masuk ke dalam rumah Tuhan akan
senantiasa dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Inilah sumber kehidupan kekal atau sumber kenikmatan rohani
itu sendiri. Allah pasti memanggil orang yang berdosa agar
kembali lagi kepadaNya. Tidaklah mengherankan bahwa mereka
yang berdosa sekalipun ternyata masih tetap diberi rahmat oleh
Allah sendiri.
Jika Allah hendak diperlakukan sebagai tuan rumah yang baik,
bagaimana sikap kita sebagai tamu? Jika tuan rumah sudah
memperlakukan para tamunya dengan baik, hendaknya para tamu
pun bersikap baik kepada sang empunya rumah. Jangan sampai
tuan rumah merasa kecewa atau tidak enak hati. Kita bersikap
selayaknya tamu yang baik dan sopan. Allah memperlakukan
manusia layaknya seperti apa yang seharusnya. Sebagai manusia,
hendaknya kita bersikap sungguh layak untuk diterima oleh
siapa pun termasuk Allah, walaupun kerap kali kita merasa
tidak pantas. Dengan mensyukuri dan menerima apa pun yang
disuguhkan oleh yang empunya rumah, bersikap jujur, dan tahu
diri mengindikasikan bahwa kita sudah berusaha memosisikan
diri sebagai tamu yang baik. Rumah Tuhan ini harus kita jaga
dengan baik. Layaknya sebuah rumah, kita tidak hanya berhak
menempatinya sampai kapan pun, tetapi juga harus mau
merawatnya dengan baik. Jika rumah Tuhan ini rusak atau mulai
tidak layak huni, siapakah yang harus memperbaikinya? Sebagai
contoh, keadaan bumi dan alam yang semakin tidak kondusif :
mengeringnya sumber-sumber air dunia, pencairan es di kutub
utara dalam skala yang cukup besar dan cepat, suhu bumi yang
semakin hari semakin panas, dan lain sebagainya sungguh
membutuhkan kepedulian kita. Itu semua seharusnya mampu
menggugah kesadaran batin kita sebagai manusia untuk berusaha
dan mau peduli. Alam ini tidak bisa dibiarkan terus menerus
larut dalam keadaannya yang demikian. Kepedulian akan menjadi
bukti konkret betapa manusia pun bertanggungjawab atas dirinya
dan pada Dia yang menciptakan kita. Tidak hanya di dalam
kata-kata, tetapi juga di dalam perbuatan. Akan berada
dimanakah kita nanti jika rumah Tuhan yang kita diami sekarang
ini pun sudah tidak layak huni? Apakah kita tidak pernah mau
berusaha untuk memperbaiki ‘rumah’ tersebut?
Allah mengajarkan kepada kita agar manusia hendaknya mampu
merawat dan menjaga rumahNya dengan baik. Allah membutuhkan
tangan-tangan manusia supaya dapat meneruskan karya-karyaNya.
Allah-lah sang pemberi kehidupan dan tuan rumah yang baik.
Dialah raja alam semesta, Dialah yang berkuasa penuh atas
segala yang ada di bumi ini.
|