|
|
Merentang Waktu Dengan PengabdianLambung Bukit MenorehSebagian dari wilayah Kabupaten Kulon Progo, di sebelah utara merupakan dataran berbukit. Di wilayah itu terletak pegunungan atau perbukitan yang disebut bukit Menoreh. Di satu sisi lambung Menoreh itu terletak desa Kepanjen Klangon, termasuk Kecamatan Kalibawang. Sebagaimana kondisi wilayah lain di Kulon Progo, Desa Klangon adalah desa pertanian. Sebagian orang menanam kelapa, kopi atau vanili. Kehidupan warga desa cukup, sederhana. Dalam kesederhanaan itu justru tertanam atau terpelihara sifat hidup yang luhur, mempertahankan dan memelihara kehormatan dan harga diri. Di desa Klangon itulah tinggal Bapak Agustinus Partohinggeno dan Ibu Monika Partohinggeno. Pada tanggal 16 Desember 1903 Tuhan menganugerahi pasangan Bapak Partohinggeno seorang putra laki-laki, yang merupakan putra ketiga. Putra laki-laki ketiga itu diberi nama SOEKARDJAN.
Suasana PriyayiSoekardjan kecil yang kemudian hari dikenal dengan nama Romo Ambrosius Soekardjan Adikardjono Pr itu masih ingat bagaimana ayahnya mendidik putra putrinya sehari-hari dengan suasana priyayi. Priyayi disini bukan identik dengan feodal. Romo Adi masih ingat bahwa sifat priyayi yang ditanamkan oleh ayah ibunya benar-benar menjadi dasar yang paling luhur dalam pembentukan pribadi putra putrinya. Kehormatan, disiplin, mencari keluhuran hidup dan taat kepada asas kebenaran selalu ditanamkan oleh Bapak Partohinggeno kepada putra putrinya. Sifat priyayi itulah yang mendasari Soekardjan sampai saat ini ketika usianya mencapai 94 tahun, tanpa pernah dilepaskan sekecil apapun.
Menuju MuntilanRemaja Soekardjan ini menamatkan Sekolah "Ongko Loro" (SD) di Kalibawang. Remaja Soekardjan bertekad melanjutkan ke Muntilan yang pada awal abad 20 menjadi tempat pertama salib Jesus ditancapkan oleh misionaris Sarekat Jesus (SJ), seperti Romo Van Lith dan Romo Van Dries. Tahun berikutnya pewartaan Injil merambah sekitar Muntilan dan kemudian sampailah ke wilayah Kulon Progo dengan pusat penyebaran di Boro dan Sendangsono. Remaja Soekardjan meninggalkan Klangon tahun 1911 dengan menamatkan sekolah Ongko Loro kelas 3. Di Muntilan, karena prestasi belajar di Sekolah Ongko Loro bagus, Soekardjan langsung diterima kelas 3 HIS. Sekolah HIS diselesaikan dengan lancar dan tamat tahun 1914. Pada saat belajar di Muntilan, Soekardjan berkenalan dengan seorang pastor SJ bernama Van Dries. Romo Van Dries-lah yang membimbing Soekardjan dan akhirnya Romo Van Dries membaptis Soekardjan dengan nama baptis Ambrosius, pada tanggal 24 Desember 1914.
Tuhan Merencanakan LainSelepas HIS Ambrosius Soekardjan melanjutkan ke sekolah guru yang disebut Kweek School. Sekolah guru ini diselesaikan pada tahun 1922 dan mulailah pemuda Soekardjan berkarya. Saat itu sesuai adat Soekardjan menambahkan nama "tua" Adikardjono di belakang nama kecilnya sehingga nama lengkap pemuda ini adalah Ambrosius Soekardjan Adikardjono. Tetapi cita-cita berkarya menjadi guru ternyata tidak berlanjut, karena Tuhan memanggilnya untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan, sebagai seorang gembala. Jadilah A.S. Adikardjono memasuki Seminari Muntilan pada tahun 1922 dan tahun 1928 A.S. Adikardjono melanjutkan ke Yogyakarta belajar filsafat sampai tahun 1932.
Menuju Negeri Kincir AnginAdalah sebuah pasangan suami isteri Belanda bernama H. Peeters Claessens yang tinggal di kota Limburg. Pasangan keluarga Katolik ini hidup cukup bahagia, tetapi tidak dikaruniai anak. Pasangan tersebut bermaksud mengasuh seorang anak dari Jawa untuk belajar ke negeri Belanda. Melalui surat-surat dan foto akhirnya A.S. Adikardjono disetujui diangkat menjadi anak asuh keluarga Peeters Claessens. Pada tahun 1934 calon pastor Adikardjono berangkat ke negeri Belanda. Pada saat itu di negeri Belanda telah banyak calon pastor yang belajar disana, bahkan diantaranya asli Jawa, antara lain calon pastor Martowardojo, calon pastor Pusposuparto. Para calon pastor Indonesia itu belajar di Maastricht. Jumlah calon pastor dari Indonesia sebanyak 16 orang, dan ketika A.S. Adikardjono ditahbiskan ia merupakan pastor Jawa ke 13. Upacara pentahbisan dilakukan pada tanggal 15 Agustus 1937 di Gereja Maatsricht, dipimpin oleh Mgr. Lemmans, Uskup Limburg.
Berkarya di Ladang TuhanSetelah Romo A.S. Adikardjono ditahbiskan ia masih harus menyelesaikan pelajaran teologi setahun sehingga baru tahun 1938 Romo Adi kembali ke tanah air. Tugas pertama Romo Adikardjono dilakukan di Ungaran, kemudian dipindahkan ke Semarang dan Yogyakarta, mendidik para calon pastor. Ketika pecah perang Dunia II Romo Adi masih di Kalimantan Barat, saat Jepang menguasai Hindia Belanda, semua orang Belanda termasuk para rohaniwan ditawan dimasukkan ke kamp interniran. Romo Adi sebagai satu-satunya pastor asli (Jawa) tidak termasuk yang ditawan, tetapi terpaksa Romo Adi seorang diri mengurusi umat di Kalimantan Barat sampai perang selesai. Tahun 1945 Romo Adi mendapat tugas di Jakarta. Kemudian pada tahun 1947 ditugaskan ke Sukabumi yang waktu itu menjadi pusat Prefektura. Di Sukabumi Romo Adi bersama-sama dengan Romo Ismael OFM mendapat tugas dari Pastor N. Geise OFM membenahi kembali sekolah-sekolah Katolik yang telah dirintis dibawah Yayasan Mardi Yuana. Sekolah tersebut selain SD juga SMP dan SGA. Pada tahun 1953 Romo Adi bertugas di Serang dan di kota itu Romo Adi berhasil mendirikan SMA. Tahun 1953-1966 Romo Adi bisa disebut sebagai pastor "keliling": artinya tugasnya berpindah dari kota ke kota, seperti Serang, Cicurug, Sukabumi dan Depok. Baru pada tanggal 20 Maret 1966 Romo Adikardjono ditugaskan secara menetap di lingkungan Paroki Katedral Bogor.
Hidup Adalah BerkaryaBagi Romo Adikardjono, rupanya hidup berarti berkarya. Karya merupakan salah satu pertanda kemampuan, keunggulan dan kedekatan dengan Illahi-Nya. Oleh karena itu banyak yang dihasilkan dari tangan dan imaji Romo Adi. Banyak lagu gereja yang semula berbahasa Jawa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Demikian pula doa-doa yang diucapkan oleh Romo Adi dalam Misa Kudus ataupun acara lain merupakan rangkuman yang penuh makna. Salah satu karya yang sangat agung dan merupakan "master piece" Romo Adi adalah hasil renungan yang dituangkan dalam bentuk lukisa GUNUNGAN yang diberi makna iman Kristiani yang sangat luhur. Uraian tentang GUNUNGAN karya Romo Adi dapat dibaca pada halaman lain dalam buku ini.
Keluarga SenimanRomo Adikardjono memiliki 10 saudara kandung, yaitu: Ibu Mangkuwiyono, Ibu Partodijoyo, Ibu A. Sujono, Ibu A. Suhardjo, Bapak RAJ Soedjasmin, Ibu A. Hardjono, Ibu D. Adisusanto, Bapak A. Assari, Ibu E. Supardi dan Ibu Y. Sunarto. Dari sesaudara kandung Romo Adi ternyata banyak memilik bakat musik dan kemudian mereka melahirkan pula seniman-seniman musik. Misalnya saja Bapak RAJ Soedjasmin, adalah seorang perwira tinggi kepolisian yang selain seorang dirigen musik yang sering korps musik dalam upacara kenegaraan, juga seorang pencipta lagu. Salah satu lagunya pernah dijadikan lagu wajib pemilihan Bintang Radio. Ibu A. Haryono memiliki seorang putra laki-laki bernama Is Haryanto yang kita kenal seorang pemusik dan pencipta lagu, bersama-sama A. Riyanto dan Tetty Kadi. Is Haryanto juga sudah menurunkan bakat musiknya kepada salah seorang putrinya yang sering muncul di TV. Sedangkan Ibu Y. Susanto memiliki putri penyanyi Christine, yang populer pada tahun 1970-an
Tiada Hari SenjaBagaimana halnya dengan Romo Adikardjono dalam usianya yang kini sudah sangat senja? Ternyata bagi Romo Adi, dalam hidup beliau tiada hari senja. Dalam usianya yang 94 tahun Romo Adi masih menjalankan tugasnya sebagai seorang pastor, yaitu pemimpin Misa Kudus. Romo Adi biasanya memimpin Misa di kapel Keuskupan, atau di Gereja Katedral atau bahkan di kapel SMKK Baranangsiang. Bagi Romo yang 10 tahun lalu masih bersuara keras bila memimpin Misa atau bernyanyi, tugas sebagai gembala tidak pernah berakhir. Tentu saja sesuai dengan kondisi fisik beliau, kini lebih lembut, dan lebih perlahan-lahan bila berdoa.
Pasrah Dengan MutlakBarangkali kita bertanya, bagaimana Romo Adi dapat bertahan dalam kondisi demikian tangguh dalam ysia yang sudah sangat senja. Romo Adi hanya memiliki satu resep saja: pasrah dengan mutlak kepada kekuasaan Tuhan Yang Satu. Menurut Romo Adi semua hal yang ada di dalam kehidupan ini sudah diatur oleh Bapa Sang Maha Pencipta. Manusia haruslah menyadari hal itu. Tanpa pasrah secara mutlak kepada-Nya, manusia akan mendapatkan berbagai kendala. Oleh karena itu satu-satunya cara untuk sampai kepada kepasrahan mutlak itu tiada lain dengan: sadar akan kekuasaan Tuhan, beriman kepada-Nya, disiplin menjalankan tugas, tidak perlu cemas, tidak perlu ragu-ragu, berjalan seperti apa adanya, bagaikan air mengalir di sungai tanpa halangan. Hidup akan tenang dan biarkan Tuhan berkarya dalam hidup kita sesuai dengan rencana-Nya.
Memandang Gereja Masa KiniMemandang perkembangan Gereja masa kini terutama di Bogor, Romo Adi merasa gembira, bahagia dan optimis. Bahwa perkembangan Gereja semakin baik, secara fisik maupun spiritual, umat yang semakin bertambah membuat banyak panenannya, dengan bertambah pula para pemanen yaitu pastor-pastor muda angkatan baru.
Memandang Pastor Muda Masa KiniRomo Adi juga sempat memesankan untuk para pastor muda, bagaimana harus mengabdi secara total sebagai gembala. Faktor utama dan pertama tiada lain adalah kepasrahan secara mutlak kepada kekuasaan Tuhan Yang Esa. Tanpa kepasrahan secara mutlak demikian, akan menjadikan tugas sebagai gembala akan mengalami hambatan. Dengan pasrah total kepada Sang Pencipta, semua akan berjalan dengan tenang dan berhasil.
(dirangkum dari berbagai sumber dan wawancara)
Disadur bebas dan disalin dari |