Karya
Biografi Karya Tahbisan Kenangan

Berenung bersama Pastor Ambros Adikardjono Pr

 

 

Kuat mempesona. Daya tariknya luar biasa. Itulah Pastor Adikardjono Pr, 81, dari paroki Katedral Bogor. Orang dapat melihat pastor tua itu berjalan kaki dan berkendaraan umum untuk menjumpai umatnya. Ia begitu kuat berkat kegembiraan imannya yang ditemukan laksana sebuah mutiara yang sangat berharga.
Salah satu penemuannya terwujud dalam sebuah karya renungannya dalam bentuk Gunungan. Gunungan itu sendiri dalam bentuknya sudah biasa kita lihat. Namun pemberian arti dan nilai baru pada hal yang biasa kiranya sangat menarik untuk ditelusuri.

 

Tata Lahir Gunungan

Dalam ringgit Purwa atau wayang kulit kita mengenal gambar seperti itu. Menurut bentuknya disebut gunungan, tiruan gunung. Maksudnya ialah kayu, karena menggambarkan kayu, uwit atau pohon. Walaupun Gunungan itu dalam pertunjukan wayang, terkadang muncul dengan makna lain, namun sebenarnya ia melukiskan sebuah pohon yang keramat dan angker, yang merindang di tengah taman para dewa. Dan para dewa hidup dari buah hasil pohon tersebut. Maka pohon itu pun disebut pohon kehidupan dan keselamatan (pohon karahayon). Dan jika manusia dapat makan dari buah itu, maka iapun akan hidup dan menjadi dewa. Namun hal itu mustahil. Sebab kebun itu diberi pintu gerbang, dijaga oleh dua raksasa dan oleh para makhluk yang jahat dan baik. Para penjaga itu bersemboyan:"Jalma mara, jalma mati". Artinya manusia mendekat, manusia mati. Tampak, bahwa betapa jauhnya manusia itu dari para dewa.

Namun demikian apabila kita sungguh mengamati Gunungan model Pastor Adikardjono ini sangat mengesankan. Sebab Gunungan ini berpusat pada Hosti di atas piala dan bersatu dengan Yesus di salib. Keduanya itu masih bersatu lagi dengan pohon anggur yang rindang dan lebat berbuah.

Kita pun dapat melihat gambar gereja St. Petrus di Roma sebagai pengganti pintu gerbang di kebun para dewa tadi. Raksasa yang angker menakutkan tidaklah kita jumpai, melainkan para malaekat yang bersembah sujud, tenang, tenteram dan damai.

Di sini pun terdapat delapan malaikat melingkari Hosti yang bersinar itu. Dan pegangan piala itu terbentuk dari patung kecil mungil ibu Maria.

Ada satu vignet di puncak Gunungan itu, yakni kata Hyang. Memang, sudah sepantasnya Allah kita tempatkan di paling atas sebagai Allah Yang Esa. Dan itu pun dinyatakan dalam ketiga sudut di sekitar kata Hyang tersebut. Jadi Unitas dan Trinitas Allah pun mendapatkan cirinya.

Di pelataran gereja St. Petrus di Roma itu terdapat tujuh jalan raya yang lebar, seakan-akan mengundang seluruh umat manusia, agar jangan takut mendekat. Atau dapat pula diartikan, bahwa gereja pusat itu berfungsi sebagai penyalur rahmat ilahi kepada umat manusia dengan ketujuh sakramen. Dan menurut naluri Katolik dari jaman pertengahan, ketujuh warna pelangi yang melingkari Hosti dan menyusup di antara para malaikat itu pun melambangkan ketujuh sakramen Gereja pula.

 

Tata Bathin Gunungan Ini

Itulah sekedar kesan pribadi bila Gunungan ini diamati. Namun kiranya baiklah disini diberi keterangan lebih lanjut. Sewaktu banyak di antar kita masih mengejar "ngelmu" waka wirid atau wejangan yang paling lengkap dan mendasar ialah bahwa "ngelmu" barulah paripurna, jika kita mencapai Pamoring Kawula Gusti. Kata Pamor (amor) berarti bersatu. Jadi manusia (kawula) hendaknya berusaha mencari-Nya, sehingga tercapailah taraf luhur persatuan dengan Tuhan, Allah dan makhluk-Nya. Dan hasilnya ada yang menjurus pada pantheisme, monisme dan lain-lainnya. Kenyataan ini dibiarkan-Nya dengan segala kebebasan. Sebab ada pendirian: "Sewu Guru, Sewu 'ngelmu". Artinya banyak guru, ragam pula wejangannya. Maka pilihlah yang terbaik.

Dalam kepercayaan Katolik pun, kita mengenal "Pamoring Kawula Gusti" itu selengkap-lengkapnya. Tuhan menciptakan kita menurut citra-Nya. Dan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, kita kembali diangkat menjadi putera-puteri-Nya untuk mengalami kemuliaan abadi dalam surga (bdk.II Ptr 1:2)

 

Cinta Kasih Ilahi Tak Terkalahkan

Namun kita harus ingat, bahwa menurut paham Katolik, "Pamoring Kawulo Gusti" itu bukanlah usaha manusia semata-mata. Sebab Tuhan sendiri menghendaki persatuan itu. Allah karena cinta kasih-Nya melimpah, mengutus Putera-Nya dan menyapa manusia sebagai sahabat (Yoh 15: 14-15) guna mengundang dan menerima manusia ke dalam persekutuan-Nya. Untuk menggambarkan persatuan tersebut, Kristus bersabda: " Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, bersatu dengan Aku dan Aku dengan dia" (Yoh 6:55, bdk 6:57). Dan sabda-Nya lagi: "Aku ini pohon anggur dan kamu sulur-sulurnya...." (Yoh 15:5).

Teks-teks tadi menggambarkan sekali lagi betapa Tuhan sendiri menghendaki persatuan itu, sehingga demi kasih sayang-Nya Ia mengancam: "Barang siapa tidak bersatu dengan Aku akan dibuang ...." (Yoh 15:6). Apakah yang berharga pada kita ini, sehingga Tuhan begitu mencintai kita? Maka jika kita ini ranting anggur yang diharapkan berbuah, kita pun hidup dari pokok anggur, satu kehidupan ilahi itu. Sungguh "Pamoring Kawula Gusti" itu merupakan hadiah bagi kita.

Jelaslah, bahwa Pohon kehidupan (Witinga-urip) dalam pewayangan diganti dengan Pribadi Kristus sendiri sebagai Pokok Anggur dan dalam Ekaristi.

Gunungan, bila dilihat dari atas menurun, memperlihatkan turunnya rahmat Allah melalui Kristus Penebus bagi Gereja-Nya dalam bentuk sakramen. Terutama dalam sakramen Ekaristi. Gereja St. Petrus adalah pusat Gereja semesta. Dan Bunda Maria, sebagai Bunda yang penuh ketaatan dalam menomor-satukan kepentingan Allah juga mendapat tempatnya dalam lukisan ini.

Keempat malaikat di samping-menyamping itu dapat dimaknakan sebagai dasar keutamaan Kristiani, yakni: hati-hati, adil, kuat dan ugahari. Sementara kedelapan malaikat kecil diatasnya itu dapat pula mengingatkan kita pada kedelapan ucapan bahagia Yesus, yakni berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, yang berduka cita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, yang membawa damai, yang sengsara (bdk. Mat 5: 3-12).

Gambar pelangi (yang tak ikut tercetak) terdiri atas warna putih (pendamaian-baptis), kuning (penguatan), hijau (Ekaristi), hitam (pengakuan dosa), ungu (krisma), biru (perkawinan). Dapat pula diamati, bahwa Kristus, Raja segala raja, mengenakan kain parangrusak barong, pakaian seorang raja. Sementara Bunda Maria mengenakan kain parangrusak klithik, pakaian seorang puteri raja.

Demikian sekedar kesan pribadi mendengar dan mengamati lukisan buah renungan Pastor Adikardjono ini. Semoga lukisan ini dapat merangsang hasrat para seniman untuk mengungkapkan serta membangkitkan iman kita yang sekaya, seindah dan seluhur itu.

 

(A.M. Sujianto)
Majalah HIDUP No. 11 th. XXXIX

 

[Home] [Biografi] [Karya] [Tahbisan] [Kenangan]

Disadur bebas dan disalin dari
- "Buku Kenang-kenangan Imamat 60 Tahun Romo A.S. Adikardjono Pr., Pastor Tiga Jaman", Paroki Katedral Bogor, Jl. Kapt. Muslihat 22, Bogor 16122.
- booklet "RIP Romo Ambrosius S. Adikardjono Pr., SMK Grafika Mardi Yuana Bogor"
oleh: admin@katolik.org