sejarahgereja awlgereja uskupbogor apostlcbgr homeindex

 

Pembangunan Sebuah Gereja Lokal

Benih Iman Kristiani bersentuhan pertama kali dengan bumi nusantara pada awal abad ke-16. Banten, sebuah bandar-laut di ujung barat pulau Jawa, sejak tahun 1512 sudah disinggahi kapal-kapal dagang Portugis yang berlayar dari Eropa menuju Timur-Jauh. Pertemuan antara para pedagang Portugis (yang Katolik) dengan penduduk asli Sunda (yang Hindu) sangat sering terjadi di sini. Sedangkan pewartaan dalam arti yang sebenarnya, baru terjadi pada tahun 1534, ketika Gonsalves Veloso, seorang saudagar Portugis tiba di Morotai, Halmahera Utara. Oleh karena itulah tahun 1534 dianggap sebagai SAAT HADIRNYA AGAMA KATOLIK di bumi nusantara. Dari sejarah Paroki Serang ditulis bahwa daerah Banten pertama kali didatangi oleh beberapa pastor Yesuit pada tahun 1642, dalam pelayaran mereka menuju Maluku dan sekitarnya.

Masuknya VOC pada abad ke-17 mematikan karya misi yang telah dilakukan oleh para pedagang Portugis dan para misionaris di Kepulauan Nusantara. VOC mengusir orang-orang Portugis, melarang agama katolik, dan memasukkan agama Protestan sebagai agama resmi. Gerak-gerik orang katolik selalu dicurigai. Keberadaan VOC menandai ‘masa gelap’ karya misioner yang telah dirintis dengan susah payah.

Untuk mengetahui sejarah Keuskupan Bogor kita harus menengok kembali ke belakang, tahun-tahun sejarah awal Prefektura Apostolik (1807-1842) di wilayah yang dulu disebut Hindia Belanda. Dalam periode awal ini tercatat ada 3 orang Prefek Apostolik yang pernah memimpinnya. Prefektura Apostolik Hindia Belanda kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik pada 20 September 1842.