|
Masyarakat Sunda
adalah masyarakat agraris, di mana bertani merupakan mata pencaharian
pokok. Di daerah pantai juga ada nelayan-nelayan. Wilayah Keuskupan Bogor
merupakan kawasan yang subur dan kaya akan sumber alam. Sudah sejak zaman
kolonial dikembangkan perkebunan-perkebunan teh, karet, kelapa, dan kelapa
sawit yang mendatangkan banyak devisa, walaupun sekarang banyak yang telah
dialih-fungsikan.
Sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Republik Indonesia,
wilayah-wilayah di Keuskupan Bogor senantiasa mengikuti
gerak pembangunan nasional sebagaimana nampak dalam pelbagai proyek pembangunan
sosial ekonomi seperti pabrik-pabrik, industri-industri dan pemukiman-pemukiman
baru. Pola hidup masyarakatpun turut berubah dengan cepatnya. Bahkan banyak
tanah yang dijual kepada masyarakat-kota yang berduit demi keuntungan
sesaat. Masyarakat asli yang sebelumnya merupakan petani pemilik tanah,
kini banyak yang menjadi petani penggarap, buruh bangunan, atau tenaga
harian lepas/musiman. Masuknya para pendatang baru yang lebih menguasai
ilmu dan teknologi hampir di semua sektor kehidupan, telah menggeser
kedudukan masyarakat Sunda karena kalah bersaing dengan para pendatang
itu.
Krisis ekonomi nasional yang berkepanjangan
juga turut memperparah kehidupan sosial-ekonomi
sebagian besar masyarakat. Banyak pabrik yang ditutup, perusahaan yang
bangkrut, dan industri yang gulung-tikar karena kekurangan modal kerja.
Akibatnya, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja
dan banyak orang yang terpaksa kehilangan pekerjaannya. Hasil
lulusan pendidikan tidak dapat disalurkan untuk bekerja karena ketiadaan
lapangan kerja. Banyak anak putus sekolah karena orangtua tak sanggup
membiayai sekolahnya. Akibatnya, jumlah pengangguran menjadi bertambah
banyak dan hal ini berpotensi menimbulkan masalah-masalah sosial baru.
|