|
Fransiskan Mengurangi Peranan
Ordo Fransiskan adalah pioner
pertumbuhan gereja di Keuskupan Bogor. Ditandai dengan pembangunan
rumah retret di Cicurug tahun 1933, pelayanan para fransiskan terus berkembang
ke seluruh wilayah Keuskupan Bogor. Boleh dikatakan Cicurug telah menjadi
pusat perkembangan awal fransiskan di Indonesia selama 30 tahun lamanya,
sampai perpindahan pendidikan fransiskan ke Yogyakarta (1965 untuk studi
teologi) dan Jakarta (1968 untuk mahasiswa filsafat). Setelah 20 tahun
meninggalkan Keuskupan Bogor sebagai tempat pembenihan para fransiskan
muda, dalam Kapitel tahun 1982 para fransiskan memutuskan untuk kembali
ke Keuskupan Bogor, dengan memilih Depok sebagai novisiat. Pada tanggal
27 Desember 1983, Pater Michael Angkur OFM,
MINISTER PROVINSI FRANSISKAN, mengajukan surat permohonan untuk membangun
Wisma Novisiat Fransiskan di Depok. Setahun kemudian
dimulailah pembenihan para fransiskan muda di Novisiat Transitus, Depok.
Dengan demikian, keterikatan historis Fransiskan dengan Keuskupan Bogor
dinyatakan kembali.
Sebagai pioner, tugas para
fransiskan adalah membuka jalan bagi para imam praja
untuk mulai berkarya di Keuskupan Bogor. Setelah jumlah imam praja
cukup banyak untuk pelayanan di wilayah Keuskupan Bogor, para fransiskan
dengan semangat misionernya memutuskan untuk memulai sesuatu yang baru.
Pada tanggal 11 Maret 1988 mereka mengembangkan
sayap pelayanan ke Timor Timur, dengan
mengirim Pater Andre Hama OFM dan Bruder Willy
Wetak OFM sebagai pioner ke Samei/Alas. Sejalan dengan semangat
para fransiskan itu, maka dalam perjanjian kerja sama antara Mgr. Harsono
Pr. dengan Pater Michael Angkur OFM yang kala itu menjabat provinsial
OFM, ditegaskan bahwa pelayanan OFM di Keuskupan Bogor, hanya di 3
paroki, yaitu Cianjur, Cipanas, dan Depok Lama. Ditambah pelayanan
dan pendampingan rohani untuk biara-biara di sekitar Cipanas, Novisiat
Transitus, dan Panti Asuhan Santo Yusuf.
|