|
Dari Sadayana Ngahiji Menjadi
Mekar
Dalam rangka menjalin komunikasi antar
kelompok dan antar umat di Keuskupan Bogor, pada
tahun 1979 Pater G.W.J. Ruijs OFM bersama PP Sosek Keuskupan Bogor
menerbitkan sebuah Majalah yang diberi nama OMNES
IN UNITATEM. Beberapa waktu kemudian namanya diubah menjadi
SADAYANA NGAHIJI (arti:
Semuanya Bersatu). Majalah ini sempat mengalami mati suri selama
beberapa tahun karena ditinggal oleh pengelolanya yang mendapat tugas
menjadi gembala di Keuskupan Jayapura, Papua.
Majalah ini bangkit kembali pada bulan Mei 1985 dengan nama baru,
MEKAR, Media Komunikasi Antar Paroki, yang diterbitkan
oleh Komisi Komsos Keuskupan Bogor, yang waktu itu diketuai oleh ROMO
DOMINICUS SUTEDJO PR dan dibantu oleh P. KORNELIUS KEYRANS OFM.
Namun lagi-lagi tak bertahan lama karena hambatan kekurangan tenaga profesional
untuk mengelolanya dan utang biaya cetak yang menumpuk.
Baru pada awal tahun sembilan puluhan, beberapa umat Depok,
yang dimotori oleh Bapak R.A.Y. SOESILO
dan ROMO AGUSTINUS SUYATNO PR,
berusaha menghidupkan kembali MEKAR. Bahkan pada masa ini mereka sempat
mendapatkan subsidi dana dari Propaganda Fide, yang kemudian digunakan
untuk membeli peralatan komputer untuk mengolah MEKAR. Krisis moneter
berkepanjangan yang dimulai sejak medio 1997 turut menggoyang keberadaan
MEKAR. Pada awal 1998 dengan berat hati MEKAR kembali menguncup, menunggu
uluran tangan banyak pihak yang punya perhatian besar terhadap dunia penerbitan
non komersial. MEKAR harus dijadikan sarana mengkomunikasikan informasi
antar paroki/lembaga. Oleh karena itu, semua pihak harus mau bersama-sama
mencari jalan ke luar yang paling tepat agar kelangsungan hidup MEKAR
bisa terjaga kesinambungannya. Mungkin kunci utamanya adalah menyiapkan
sumber daya manusia yang handal, yang diharapkan mampu menjamin bobot/mutu
isi majalah dan mengurus pemasarannya dengan cara yang tepat.
Datangnya pergantian millenium, menjadi tanda awal kebangkitan
ketiga majalah MEKAR. Ketua Komsos yang baru, Bapak DOMINICUS
AGUS GUNAWAN, dengan beberapa orang stafnya mencoba untuk menerbitkan
kembali sarana komunikasi kebanggaan Keuskupan Bogor ini. Tidak muluk-muluk,
targetnya setahun bisa terbit 3-4 kali. Semua umat tentu menaruh harapan
kepada tim kerja ini agar mampu menjaga MEKAR tetap terbit selamanya.
Sebaliknya, tim kerja MEKAR pun pasti tak dapat berbuat banyak kalau tidak
didukung oleh semua pihak di Keuskupan ini, mulai dari Kuria Keuskupan,
para Pastor Paroki, para Romo dan Biarawan/biarawati, para Pengurus Paroki/Wilayah/lingkungan/rukun,
dan semua umat beriman lainnya.
Semua pihak harus diajak untuk berperan serta secara aktif menggerakkan
karya di bidang KOMSOS agar Keuskupan Bogor yang letaknya di jantung Republik
Indonesia ini tidak ketinggalan menikmati perubahan dunia yang begitu
cepat dan pesat. Ke depan, bahkan harus mulai dipikirkan untuk mengelola
kerasulan di bidang KOMSOS secara profesional melalui sebuah Badan Penerbitan,
yang mau dan sanggup memanfaatkan bidang TELEMATIKA untuk mewartakan Cinta
Kasih kepada siapapun juga.
|