sejarahgereja awlgereja uskupbogor apostlcbgr homeindex

 

Menjadi Gereja Yang Misioner

Sinode 2002 yang baru saja selesai membulatkan cita-cita untuk mewujudkan Keuskupan Bogor menjadi ‘communio’ dari aneka komunitas basis yang beriman mendalam, solider dan dialogal, memasyarakat dan misioner. Dalam proses penyusunan visi-misi sempat terjadi perdebatan hebat tentang perlu-tidaknya mencantumkan kata ‘misioner’ dalam rumusan visi. Syukurlah bahwa dalam Sidang Sinode akhirnya disepakati untuk mempertahankan kata ‘misioner’ sebagai salah satu ciri universalitas gereja, yang juga harus nampak dalam kehidupan menggereja di Keuskupan Bogor. Kegiatan misioner membawa Umat Allah ke dalam rencana dan kehendak Allah sendiri, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran (Bdk. AG 7).

Dengan kata ‘misioner’ kita ingin menunjukkan kesiapsediaan untuk diutus mewartakan Kabar Gembira ke mana saja. Keuskupan Bogor ingin turut bertanggungjawab secara nyata terhadap perkembangan Gereja di seluruh dunia. Keberanian mencantumkan kata ‘misioner’ ingin membuktikan bahwa kita bersatu dan bersama dengan Gereja Universal, dipanggil dalam tugas perutusan yang satu dan sama juga: “Pergilah ke seluruh dunia, dan wartakanlah Kabar Gembira kepada semua makhluk” (Mrk 16:15, bdk. AG 5).

Sosialisasi tugas misioner yang diberikan oleh Sinode 2002 ini dilakukan pertama-tama kepada kalangan imam diosesan. Dalam Pertemuan Unio Unit Keuskupan Bogor di Vila Erema, Cisarua, 12-13 November 2002, Bapak Uskup Bogor menyampaikan permohonan bantuan tenaga imam dari beberapa Keuskupan di luar Jawa, seperti Palembang, Samarinda, Sibolga, dan Jayapura.
Permohonan ini mendapat tanggapan positif dari para imam diosesan. Langkah pertama yang akan dilakukan oleh Unio Keuskupan Bogor adalah mengirim utusan ke Keuskupan Palembang. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi calon tempat berkarya: Paroki Muara Bungo (Jambi) dan Tanjung Enim (Prabumulih), yang ditawarkan oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ kepada Uskup Bogor.
Pada pertengahan Maret 2003, diutuslah Romo Christoforus Oferus Lamen Sani Pr untuk menjadi misionaris ke paroki Tanjung Enim, dan Rm. Pramudiyanto Pr ke paroki Muara Bungo di Jambi.

Sidang Sinode Keuskupan Bogor pada bulan Oktober 2002 adalah puncak dari seluruh perjalanan refleksi iman bersama selama hampir dua tahun. Semua telah membulatkan tekad untuk membangun komunitas basis menuju Gereja yang merasul. Seluruh Umat Allah di Keuskupan Bogor bertekad untuk menjadikan Keuskupan Bogor sebagai ‘communio’ dari aneka komunitas basis yang beriman mendalam, solider dan dialogal, memasyarakat dan misioner.

Semoga ... !