|
PENGORGANISASIAN KARYA PASTORAL
Gereja Keuskupan Bogor yang terus berkembang
membutuhkan pengorganisasian yang lebih baik dalam pelayanan pastoralnya.
Jumlah imam pada waktu itu yang hanya duapuluhan orang tidaklah memadai
untuk melayani wilayah seluas Keuskupan Bogor. Uskup Harsono memandang
bahwa umat perlu diajak menyadari peranannya dalam kehidupan menggereja
di Keuskupan Bogor. Tiap umat harus merasa bahwa dirinya adalah bagian
dari Gereja yang satu dengan tugas perutusan yang sama, di mana setiap
orang tanpa kecuali, dipanggil untuk melibatkan diri secara nyata dalam
kehidupan menggereja dan memasyarakat di Tatar Sunda ini.
Gagasan tadi menelurkan TAHUN
PENYADARAN, yang puncaknya melahirkan
ANGGARAN DASAR DEWAN PAROKI KEUSKUPAN BOGOR pada tahun 1982.
Tiap paroki sedikit demi sedikit berusaha membereskan manajemen keorganisasian
parokinya. Di tiap Paroki dibentuk Dewan Paroki dengan perangkat pelengkapnya
masing-masing, yang akan membantu Pastor Paroki menggembalakan umatnya
yang semakin bertambah. Pada bulan Juni 1987 diadakan TEMU KARYA
PASTORAL KEUSKUPAN BOGOR, yang diikuti oleh wakil-wakil umat
dan organisasi-organisasi.
Sementara itu, Stasi Megamendung yang
selama ini menjadi bagian dari Paroki Santo Fransiskus Sukasari, pada
tahun 1984 ditingkatkan statusnya menjadi Paroki
Santo Yakobus Megamendung. Adapun Pastor BOB LEVEBVRE
MM, satu-satunya imam dari Kongregasi Maryknoll Father yang berkarya
di Keuskupan Bogor, ditunjuk sebagai pastor paroki pertamanya. Buku baptis
Paroki Megamendung pertama kali digunakan pada tanggal 10 November 1985.
Atas prakarsa umat, pada pertengahan dasawarsa sembilan puluhan gedung
gereja yang berupa sebuah rumah kecil ini disulap menjadi gedung yang
memadai untuk disebut gereja.
Paroki Cibinong, yang pelayanan pastoralnya selalu mendapat bantuan tenaga
dari Katedral Bogor, kemudian mengalami kevakuman beberapa saat sejak
tahun 1984 memiliki Pastor Paroki yang menetap di tengah-tengah umatnya
sendiri dengan hadirnya Pater DIAZ VIERA
SVD, mantan Direktur Nasional KKI di Jakarta. Paroki Cibinong
memang unik. Sejak tanggal 5 Juli 1975 sebenarnya sudah ditingkatkan statusnya
dari Stasi Philipus menjadi Paroki Keluarga
Kudus oleh Mgr. Geise OFM. Dari sinilah gerakan pemekaran
paroki-paroki KUB (Kawasan Utara Bogor) dimulai.
Salah satu tantangan baru yang dihadapi oleh pimpinan Keuskupan
Bogor pada waktu itu adalah menangani pastoral mahasiswa. Sebagaimana
kita ketahui bahwa sejak tahun 1987, sedikit demi sedikit UNIVERSITAS
INDONESIA MEMINDAHKAN KAMPUSNYA ke Pondok Cina, Depok, yang berada dalam
wilayah Keuskupan Bogor. Penanganan pembinaan pastoral maha-siswa
katolik UI tetap dipercayakan kepada Pastor
IGNATIUS ISMARTONO SJ, yang sebelumnya adalah Pastor Mahasiswa
di Keuskupan Agung Jakarta. Sedangkan untuk pembinaan pastoral dan pendampingan
mahasiswa katolik di kota Bogor ditangani oleh PATER YUSTINUS SEMIUN OFM,
yang sekaligus merangkap tugas menjadi dosen agama katolik di beberapa
Perguruan Tinggi di Bogor.
Kongregasi Suster-suster ABDI KRISTUS (dahulu ADSK) memulai komunitasnya
pada tanggal 28 Juni 1988 dengan 4 orang suster. Sebelum memiliki rumah
di Jalan Margonda Raya, mereka tinggal di rumah milik paroki di Jalan
Bangau I, dekat gereja Herculanus. Mereka membantu kegiatan pastoral di
paroki, mengelola asrama mahasiswi, dan bekerja di Komisi PSE-KWI. Sejak
medio sembilanpuluhan mereka juga membantu mengelola persekolahan Mardi
Yuana Depok.
|