|
Perluasan Wilayah Menuju Pembentukan
Keuskupan Bogor
Dalam bulan November 1957, Congregatio
de Propaganda Fide mengeluarkan keputusan untuk memisahkan daerah
kabupaten ketiga di Karesidenan Bogor (yaitu Kabupaten Bogor) dari Vikariat
Apostolik Jakarta dan menggabungkannya dengan Prefektur Apostolik Sukabumi.
Dengan demikian batas-batas wilayah gerejawi ini sekarang DISAMAKAN
dengan batas-batas KARESIDENAN BOGOR dan KARESIDENAN
BANTEN. Pusat Prefekturpun akhirnya dipindahkan ke kota Bogor.
Ketika pembentukan Hirarki Gereja Katolik di Indonesia
pada tahun 1961, Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan menjadi KEUSKUPAN
BOGOR, dengan Mgr. N. Geise OFM
selaku Administrator Apostoliknya. Beliau diangkat menjadi Uskup Bogor
pada 16 Oktober 1961 dan ditahbiskan Uskup pada tanggal 6 Januari 1962.
Untuk lebih mengaktualkan dan mengkristalkan cita-cita penggembalaannya
sesuai dengan situasi Keuskupan Bogor, maka beliau mengganti menjadi IN
OCCURSUM DOMINI (Menyongsong kedatangan Tuhan).
Pater-pater Konventual, yang semenjak
1938 menyumbangkan tenaga mereka di Bogor dan sekitarnya, memutuskan untuk
pergi berkarya di tempat lain (di Sumatera Utara). Seminari Menengah dipindahkan
dari Cicurug ke Bogor, mula-mula di sebuah rumah besar yang baru dibeli
di Jalan Siliwangi 50, kemudian pindah lagi ke gedung Vinsentius warisan
Pastor M.Y.D. Claessens Pr di Jalan Kapten Muslihat 22 sekarang. Adapun
rumah bekas seminari tadi dijadikan gereja kedua di kota Bogor, yaitu
Gereja SANTO FRANSISKUS ASSISI, Sukasari.
Seminari Menengah di Bogor ini menampung siswa-siswa yang berasal dari
semua penjuru Indonesia.
Pater-pater Fransiskan bersama Seminari Tingginya di Cicurug pindah ke
Jakarta untuk studi Filsafat, kemudian melanjutkan ke Yogyakarta untuk
studi Teologi. Dengan demikian Cicurug sekarang sudah berlainan sekali
keadaannya daripada dulu. Meskipun demikian tetaplah ia merupakan suatu
contoh yang baik tentang bagaimana caranya karya misi harus dilaksanakan
di tengah-tengah masyarakat yang beragama Islam: dengan sederhana memperlihatkan
semangat mengabdi sesama dengan hati yang teguh dan tabah. Pastor Cicurug
secara teratur mengunjungi CIBADAK, yang tak seberapa jauh letaknya dari
Cicurug. Di sana terdapat sekelompok kecil umat dengan sebuah SMP yang
cukup maju dan sebuah cabang SPG Mardi Yuana dari Sukabumi.
DEPOK dan MEGAMENDUNG, dua tempat kecil
yang selama bertahun-tahun dikunjungi secara berkala, sekarang sudah mempunyai
gereja sendiri. Tetapi hanya Depok yang sudah menjadi stasi tetap, dan
sejak tahun 1960 dilayani oleh seorang pastor yang menetap di sana. Depok
memiliki persekolahan Mardi Yuana, yang sedikit demi sedikit berkembang
menjadi satu kompleks persekolahan yang lengkap dari jenjang TK sampai
SMU.
Keuskupan Bogor memang terletak di suatu daerah yang terkenal
sebagai daerah pertanian. Oleh karena itu misi tak dapat tidak, harus
hadir juga di kalangan petani, di bidang kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam kerjasama dengan suatu perkebunan teh terbesar di Jawa Barat, yaitu
PERKEBUNAN TEH PASIR NANGKA,
didirikanlah sebuah sekolah kejuruan yang sangat sederhana, yaitu
SEKOLAH USAHA TANI (SUT). Di sekolah ini
murid-murid mendapat pelajaran teori sedikit saja, tetapi lebih banyak
belajar dengan praktek dasar-dasar bertani yang lebih baik, secara mendalam
dan luas. Untuk keperluan ini, perkebunan teh Pasir Nangka menyediakan
areal tanah seluas kira-kira 25 hektar. Segala petunjuk mengenai usaha
pertanian yang pernah ditulis secara sangat emosional oleh PAUS YOHANES
XXIII, pembela para petani itu, diusahakan untuk dilaksanakan secermat-cermatnya
di sekolah ini.
Usaha Gereja dalam bidang sosial ekonomi di Keuskupan Bogor kiranya lebih
menggembirakan. Oleh YAN VAN BEEK OFM
didirikanlah PUSAT PEMBINAAN SOSIAL-EKONOMI
KEUSKUPAN BOGOR (PP Sosek KB). Dengan berbagai
cara, lembaga ini mencoba membantu memberdayakan kemampuan ekonomi umat
dan masyarakat di sekitarnya.
Pada tanggal 11 Januari 1971 para Suster
KONGREGASI RGS secara resmi memulai SKKA di daerah Baranangsing, Bogor.
Sebulan kemudian para Suster RGS meninggalkan biara di Bondongan, -yang
keberadaannya dimulai 7 Juli 1956-, kemudian bergabung di Biara Maria
Fatima, Baranangsiang. Biara dan Persekolah St. Maria Fatima di Bondongan
diserahkan secara resmi kepada Suster-suster SFS pada 30 Nov 1971.
|