|
Sukabumi Menyongsong Lahirnya
Sebuah Prefektura Baru
Seperti halnya misi di kota Bogor, pekerjaan
misi di daerah Sukabumi juga berkembang, meskipun dengan irama yang lamban.
Gereja sederhana, yang dibangun (lokasinya tak jauh dari Mesjid Agung
sekarang) oleh Pastor M.Y.D. Claessens tahun 1896
itu aslinya adalah sebuah rumah tinggal biasa.
Tigapuluh tahun kemudian pada tahun 1927, SUKABUMI
MENJADI STASI TETAP. Pastor H. LOOYMANS
SJ menempati pastoran baru yang terletak di jalan Selabatu.
Sementara itu para suster Ursulin dari Jalan Pos di Batavia membuka sebuah
sekolah rendah Belanda (EUROPESE LAGERE SCHOOL) dan Taman
Kanak-kanak. Ruang-ruang kelas baru sekolah itu diberkati oleh Mgr. Ant.
van Velsen, Vikaris Apostolik Batavia.
Tak lama kemudian dibuka sebuah sekolah
rendah berbahasa Belanda untuk anak-anak golongan Tionghoa.
Sekolah ini mula-mula berada di bawah pimpinan dan pengawasan misi, tetapi
dalam tahun 1933 diserahkan kepada SUSTER-SUSTER YMY, yang datang dari
Sulawesi untuk memperluas karya mereka di Jawa.
Di antara pater-pater Yesuit yang ditugaskan di Sukabumi,
ada banyak yang menaruh perhatian besar terhadap penduduk Sunda. Sikap
mereka itu didukung oleh para pembesarnya, antara lain Pater
VAN KALKENS SJ, dan Pater
M. KUSTERS SJ, yang di kalangan penduduk Sukabumi dikenal
sebagai orang suci. Pada bulan Januari 1930, suster-suster Ursulin membuka
HOLLANDS INLANDSE SCHOOL (HIS) untuk anak-anak
pribumi, baik perempuan maupun laki-laki. Baru beberapa tahun
kemudian terjadi pemisahan, setelah para bruder Budi Mulia membuka HIS
di Sukabumi pada tahun 1936 untuk anak laki-laki.
Pada tahun 1932 Pastor C. LUCAS SJ menetap
di Sukabumi, sebagai antisipasi atas rencana pemerintah Kotapraja Sukab-umi,
yang akan menyerahkan pengurusan dan kepemimpinan rumah sakit umum kepada
pihak swasta. Kegembiraannya memuncak, ketika pada 19 Desember 1932, Dewan
Kotapraja Sukabumi memutuskan untuk menyerahkan RS Hamenta (Kemudian dinamai
RS St. Lidwina) kepada
para suster FRANSISKANES DARI BERGEN OP ZOOM. Para Suster
BOZ ini mendarat di Jakarta pada tanggal 13 April 1933. Keesokan harinya
mereka melanjutkan perjalanan ke selatan menuju kota berhawa sejuk, Sukabumi.
Suster-suster inilah yang kemudian bersama Pastor Lucas meluaskan kegiatan
dan usaha kemanusiaan mereka ke daerah pegunungan di selatan Sukabumi
dan Cianjur. Mereka membuka sebuah poliklinik di Cibeber, mendirikan sebuah
rumahsakit di Sukanegara. Di puncak bukit dekat rumah sakit itulah Pastor
Lucas mendirikan juga sebuah pastoran.
Pada tahun 1936 didirikanlah YAYASAN CLAVER
oleh para pater Yesuit. Selama 1936-1938, Yayasan ini mendirikan beberapa
sekolah untuk anak-anak pribumi di perkebunan-perkebunan di daerah Sukabumi:
satu buah STANDAARD SCHOOL di Sukabumi dan tujuh VOLKSSCHOOL,
yaitu dua di Sukanegara dan satu di Limbangan, Cilangkap, Lengkong, Takokak,
dan Cisarua. Kemudian pada 20 Februari 1939 didirikanlah YAYASAN
ODORIKUS, yang mengambil alih sekolah-sekolah untuk anak-anak
pribumi dari Yayasan Strada di Batavia dan dari Yayasan Claver
di Sukabumi.
Kwartet pastor Wubbe (1938-1941), Kusters (1928-1941),
Lucas (1932-1941), dan Wiegers (1938-1941) mengakhiri
karya para pater Yesuit di Sukabumi pada tahun 1941.
Sementara itu, MGR. PETRUS WILLEKENS SJ
yang sejak 1934 menjadi Vikaris Apostolik Batavia, menyatakan niatnya
untuk mempekerjakan ordo-ordo dan kongregasi-kongregasi lain juga di dalam
kevikariatannya yang dipercayakan kepada Serikat Yesus. Kelompok rohaniwan
bukan-Yesuit pertama yang masuk Vikariat Batavia adalah pater-pater Fransiskan,
yang telah tiba sejak 21 Desember 1929. Mereka diserahi reksa pastoral
di paroki Kramat dan Meester Cornelis (Jatinegara), ditambah dengan panti
asuhan Vincentius dan Stasi Kampung Sawah. Kemudian berturut-turut diserahkan
pula stasi-stasi di luar kota Batavia, yaitu Serang, Rangkasbitung dan
Cianjur, yang pada waktu itu belum menjadi stasi tetap.
Pater-pater Fransiskan yang tiba pertama itu membagi-bagi
tugas sedemikian rupa. Pater BEEKMAN OFM,
pemimpin regulir, menjadi pastor kepala dibantu oleh Pater
A. DE KOK OFM dan HEITKÖNIG
OFM sebagai pastor pembantu di paroki Kramat.
Pater Heitkönig merangkap
direktur Vincentius. Kedua pater yang lain, B.
SCHNEIDER OFM dan LUNTER
OFM menjadi pastor pembantu di paroki Meester Cornelis.
Perjalanan tugas ke luar kota dilakukan oleh pater de Kok dan pater Lunter
selama beberapa tahun, sampai stasi-stasi yang dikunjungi itu menjadi
tempat tinggal pastor tetap.
Tempat pertama di luar kota yang didiami oleh para
Fransiskan sejak 1934 adalah CICURUG.
Pada 17 Desember 1933 pater CAMINADA OFM, provinsial Propinsi Fransiskan
Belanda meletakkan batu pertama pembangunan sebuah biara
suster-suster Klaris dengan sebuah kapela yang terbuka juga untuk
upacara-upacara umum bagi umat katolik. Diberkati pada 10 Maret 1935 oleh
Mgr. Willekens sendiri.
|