|
Berdirinya Sebuah Prefektura
Baru
Sewaktu perang berkobar di Eropa, tetapi
belum sampai menjalari wilayah Hindia Belanda, timbul perbedaan pendapat
antara Ordo Yesuit dan Fransiskan mengenai kedudukan imam-imam Fransiskan
di Jawa Barat. Para Fransiskan menginginkan suatu daerah pelayanan pastoral
tersendiri. Hal itu disampaikan kepada Yang Mulia Mgr. Panico,
Internuntius Apostolik Sidney, yang mengunjungi pulau Jawa pada
tahun 1939. Mgr. Willekens
selaku Vikarius Apostolik Batavia berpendapat bahwa amatlah berbahaya
untuk berkarya dan mendirikan wilayah gerejawi di wilayah Banten yang
terkenal fanatik. Menurut beliau akan ada reaksi hebat dari pihak
umat Islam, dari pemerintah Hindia Belanda, maupun dari orang-orang Belanda
di pulau Jawa. Sedangkan Pater Nicolaus Geise OFM,
seorang antropolog yang mengadakan penyelidikan Linguistik dan Ethnografis
di wilayah Banten, berpendapat lain.
Perbedaan pendapat itu dapat diselesaikan pada tahun 1941, dengan dibentuknya
PREFEKTUR APOSTOLIK SUKABUMI, de facto, non de iure. Artinya:
dalam hubungan ke luar, Prefektur Apostolik Sukabumi masih tetap di bawah
Iurisdiksi Vikaris Apostolik Batavia. Tetapi ke dalam, di bidang urusan-urusan
gerejawi, kekuasaan diserahkan kepada PATER ARIAENS OFM,
yang ditunjuk dan bertugas sebagai Prefek Apostolik.
Wilayah Prefektur Apostolik Sukabumi itu
meliputi KERESIDENAN BANTEN dan
2 Kabupaten di Keresidenan Bogor, yaitu KABUPATEN SUKABUMI dan KABUPATEN
CIANJUR. Kabupaten Bogor tetap masuk wilayah Vikariat Batavia. Stasi-stasi
tetap Prefektur Apostolik Sukabumi adalah SERANG, RANGKASBITUNG, SUKABUMI,
CICURUG, SINDANGLAYA, CIANJUR dan SUKANEGARA.
Pada tanggal 9 Desember 1948 ditetapkanlah secara definitif oleh Propaganda
Fide: PREFEKTUR APOSTOLIK SUKABUMI, yang sejak tahun 1941 bersifat sementara.
Pada tanggal 17 Desember 1948, Pater NICOLAUS GEISE
OFM diangkat sebagai Prefek Apostoliknya. Untuk menggambarkan betapa
luas ladang penggembalaannya di tatar Sunda, — yang diperkaya oleh
sawah-ladang di antara bukit-bukit, dan kebun teh nan hijau disela-sela
gunung-gemunung, di tengah masyarakat Sunda yang ramah— Pater Geise
sebagai Prefek Apostolik memilih semboyan LAUDATE
MONTES (Pujilah Tuhan, hai Gunung-gemunung).
Sungguh tepat, karena umatnya memang masih sedikit sekali.
Setengah tahun kemudian, tepatnya tanggal 31 Juli 1949,
Yayasan Odorikus dibubarkan. Sekolah-sekolah Yayasan tersebut di wilayah
Prefektur Apostolik Sukabumi diambil alih oleh PERGURUAN
MARDI YUANA. Bangsa Indonesia yang sudah menjadi lebih
sadar, merdeka, dan berdaulat menghendaki kemajuan melalui pendidikan
di mana-mana, bahkan sampai ke pelosok-pelosok di daerah pedalaman. Rakyat
membutuhkan pendidikan untuk mencapai kemajuan. Maka dalam bidang pendidikan
inilah terbuka kesempatan bagus bagi misi untuk MEMPERLIHATKAN
PENGABDIAN DAN CINTA KASIHNYA sebagai orang Kristiani. Berbagai
jenis sekolah dibuka di Sukabumi dan di kota-kota kecil sekeliling Gunung
Gede, Pangrango dan Salak. Tempat-tempat ini dapat dipandang sebagai titik-titik
tumpu, seperti Cicurug, Cianjur, Pacet, Sindanglaya, sampai ke pelosok-pelosok
pegunungan di selatan Sukabumi dan Cianjur. Begitu pula di Serang dan
Rangkasbitung.
Pergolakan di bidang politik menimbulkan
banyak perubahan dan juga kerugian di kalangan umat katolik. Jumlah umat
katolik Prefektur Apostolik Sukabumi merosot dari sekitar 3000 menjadi
hanya 600 jiwa. Tetapi di dalam negara Indonesia yang baru saja merdeka,
kerugian ini justru bermanfaat bagi umat sendiri, karena dengan demikian
umat di dalam Prefektur ini ‘lebih kentara sifat ke-Indonesiaannya’.
Karya misi di kalangan dan untuk kepentingan umat Indonesia, yang dulunya
begitu sulit dilaksanakan, kini berjalan dengan sendirinya. Di samping
Yayasan Mardi Yuana didirikan pula YAYASAN
YATNA YUANA untuk usaha-usaha sosial.
Gagasan untuk mendirikan rumah khalwat dan biara Suster-suster Klaris
di Cicurug dibatalkan. Para suster Klaris pindah ke Pacet, sedangkan di
sindanglaya didirikan sebuah asrama baru untuk anak-anak Indonesia, yaitu
Asrama Putra Santo Yusuf. Rumah sakit Sukabumi,
seperti halnya rumah sakit di tempat-tempat lain, diambilalih oleh pemerintah,
tetapi para Suster Fransiskanes dari Bergen Op Zoom diperbolehkan tetap
bekerja melayani rumah sakit itu.
Bruder-bruder Budi Mulia juga mengubah
sekolah mereka menjadi sekolah Indonesia. Para Suster YMY terpaksa meninggalkan
Sukabumi dan kembali ke Sulawesi untuk menyumbangkan tenaga mereka di
sana bagi pembangunan kembali karya misi, yang banyak menderita kerusakan
dan kehancuran akibat perang dan revolusi. Bertahun-tahun lamanya Cicurug
menjadi pusat pendidikan calon-calon imam, tingkat menengah maupun tinggi.
Di sana pulalah ditahbiskan sejumlah imam Fransiskan Indonesia dan seorang
imam praja pertama untuk Keuskupan Bogor.
Di Serang kompleks persekolahan yang dipimpin
oleh suster-suster FMM berkembang pesat. Dari Serang diadakan kunjungan-kunjungan
tugas ke Cilegon (tempat yang sangat terkenal dan ditakuti orang di tahun
20-an), ke Merak, ke tempat kolonisasi di Teluk Lada (yang dulunya disebut
Peperbaai), dan ke Labuan, suatu tempat mungil di pantai Barat, yang juga
ada sekolah Mardi Yuananya. Tambang emas Cikotok yang terletak di Banten
Selatan dikunjungi secara tetap dari Sukabumi. Di sana terdapat juga beberapa
sekolah. Baik juga dicatat di sini bahwa beberapa orang pater Fransiskan
dari Prefektur Apostolik Sukabumi turut serta mempersiapkan berdirinya
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN di Bandung.
|