sejarahgereja awlgereja uskupbogor apostlcbgr homeindex

KEADAAN SOSIO-RELIGIUS

Umat katolik di Keuskupan Bogor hanya merupakan kawanan kecil di tengah-tengah mayoritas penduduk yang beragama Islam, bertempat tinggal menyebar dalam jumlah yang kecil. Dari data statistik terakhir di atas, dapat kita hitung prosentasenya hanya 0,4% dan itupun umumnya berasal dari suku-suku di luar suku Sunda dan Banten. Penduduk asli yang menjadi katolik hanya sedikit sekali. Di masa-masa yang lampau, pada waktu situasi masih sangat kondusif banyak umat katolik yang betah bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman. Perkebunan-perkebunan di Cianjur Selatan, Sukabumi Selatan dan pedalaman Banten menjadi saksi bisu atas semua peristiwa menawan itu. Kini banyak Anak muda dari daerah-daerah tersebut yang terpaksa pindah ke kota-kota untuk mencari kesempatan berkembang dengan lebih maksimal. Maka tidaklah mengherankan kalau banyak tempat-tempat yang dulu menjadi pusat pelayanan umat, kini sudah tidak ada lagi.

Hubungan antar pemeluk agama yang berbeda umumnya dapat berjalan dengan normal. Kesalah-pahaman kecil kadangkala terjadi juga dalam hubungan antar pemeluk agama di sini. Dalam pola hidup masyarakat pluralistik, apalagi yang berlandaskan Pancasila, semua pihak dituntut untuk melakukan dialog yang intensif atas dasar kesamaan martabat sebagai insan Ilahi’. Sebab, tanpa adanya dialog terbuka antar pemeluk agama yang berbeda, maka yang timbul adalah ketidak-mengertian, yang ujung-ujungnya bermuara pada rasa khawatir dan curiga. Tidak mengherankan kalau dalam dekade-dekade terakhir ini, kecenderungan untuk mempersulit pendirian gereja sangat dirasakan oleh umat di Keuskupan Bogor. Apalagi segelintir oknum dalam masyarakat sering memelintir persoalan beribadah ke isu kristenisasi yang sangat peka.

Sangat patut dihargai pula di sini adalah berbagai upaya para pemuka berbagai agama untuk saling mempererat tali silaturahmi. Memang secara jujur kita akui bahwa hal tersebut masih pada taraf permukaan, belum terlalu mempengaruhi lapisan akar rumput dalam masyarakat agamis di kedua propinsi ini. Dalam lingkup intern kalangan kristen hubungan tersebut dijalin melalui semacam forum komunikasi, yang sering disebut sebagai BKSG (Badan Kerja Sama Gereja-gereja).
Dalam kesempatan sangat terbatas, kontak dengan suku asli Badui, terutama Badui Luar, terus berjalan dengan baik sejak dahulu kala, entah mereka dikunjungi ataupun mereka men-datangi pastoran.

DATA UMAT PER 31 DESEMBER 2001 PAROKI-PAROKI DI KEUSKUPAN BOGOR

  . THN JUMLAH  
NO NAMA PAROKI BERDIRI UMAT S/D PASTOR
      AKHIR 2001  
1 Katedral Bogor 1889 13.423 4
2 Sukabumi 1927 4.651 3
3 Cianjur 1931 1.19 2
4 Rangkasbitung 1933 2.09 1
5 Cipanas 1948 1.205 2
6 Serang 1950 4.32 2
7 Cicurug 1951 355 1
8 Depok Paulus 1960 4.517 2
9 Cibadak 1961 342 1
10 Sukasari 1963 5.928 3
11 Cibinong 1975 8.19 3
12 Megamendung 1984 203 1
13 Kelapa Dua 1991 5.89 3
14 Cinere 1994 3.892 2
15 Depok Timur 1994 2.596 1
16 Depok Tengah 2000 1.578 1
17 Parung 2001 1.044 1
18 Depok Jaya *) 2002   1
19 Paroki Mahasiswa *)      
    . 61.414  

* Data umat yang masih tergabung dalam induk paroki