sejarahgereja awlgereja uskupbogor apostlcbgr homeindex

 

Mengumpulkan Yang Masih Berserakan

Stasi MARIA MEDIATRIX, Nusa Indah, di perbatasan utara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi dengan sekitar 1200 orang umatnya, pada awal tahun 2001 diserahkan reksa pastoralnya dari Paroki Galaxy, Keuskupan Agung Jakarta, kepada Paroki Keluarga Kudus, Cibinong.

Pada bulan September 2001, setelah persiapan yang cukup panjang, Stasi SANTO YOANNES BAPTISTA, PARUNG, yang sebelumnya menjadi stasi dari Paroki Depok Lama/Paulus, menyusul menjadi Paroki. ROMO POLYCARPUS SUYUT PR ditunjuk menjadi Pastor Parokinya yang pertama. Paroki Parung kini tengah giat-giatnya menghimpun dana untuk membangun gedung gereja di atas tanah yang telah dibeli di Tulang Kuning. Selama bertahun-tahun, umat merayakan Ekaristi dengan meminjam tempat di Rumah Makan Lebak Wangi.

Awal Januari 2002, Paroki Depok Paulus dimekarkan lagi menjadi dua paroki, dengan meningkatkan status Stasi Herculanus menjadi PAROKI HERCULANUS DEPOK JAYA. Dua orang pastor di Depok Paulus harus membagi tugas reksa pastoral di paroki-paroki ini. ROMO ALOYSIUS MURWITO OFM (kini Uskup Agats-Asmat) sebagai Pastor Paroki dan dibantu oleh ROMO SAVERIUS ADIR OFM. Kabar gembira awal tahun semakin sempurna ketika pada tanggal 19 Januari 2002, Uskup Bogor menyaksikan penyerahan gedung GEREJA BAPAK ABRAHAM kepada Pastor Paroki Kristus Raja Serang. Gereja ini terletak di dalam kompleks Ksatrian Kopassus Serang. Esok harinya, tanggal 20 Januari 2002 diresmikan pula sebuah stasi baru di sebelah timur Serang, STASI CIKANDE, yang menjadi bagian dari Paroki Kristus Raja.

Setengah tahun Kemudian, pada tanggal 7 Juli 2002 diresmikan STASI PARUNG PANJANG sebagai stasi baru dari Paroki Rangkasbitung, menyusul STASI MAJA yang telah lebih dahulu diresmikan pada tahun 2001 yang lalu. Kedua Stasi ini merupakan pemukiman-pemukiman yang letaknya di persilangan Kabupaten-kabupaten Bogor, Tangerang, dan Lebak. Umat di STASI FRANSISKUS ASSISI, Pelabuan Ratu, setelah perjuangan yang gigih, akhirnya dapat menyelesaikan pembangunan gedung gerejanya, yang pemberkatannya dilakukan oleh Bapak Uskup Bogor pada tanggal 5 Oktober 2002. Reksa pastoral stasi ini dilayani oleh para pastor dari Sukabumi.

Beberapa kongregasi suster nampaknya tertarik juga untuk berkarya di Keuskupan Bogor. Suster-suster KONGREGASI OSF membangun sekolah MARSUDIRINI di Telaga Kahuripan, Parung. Gedung TK sampai dengan SMU beserta Biara OSF diresmikan dan diberkati oleh Uskup Bogor pada tanggal 23 September 2002. Suster-suster KONGREGASI PRR memilih berpastoral di Paroki Kelapa Dua. Sedangkan KONGREGASI CP sejak Maret 2002 merintis karya untuk mengelola Rumah Jompo di Gunung Geulis, bekerja sama dengan Yayasan Grace Hadinata. Peresmian Biara dan Rumah Jompo ini diagendakan pada tanggal 14 Desember 2002.
Lahirnya UU No. 6/2001 tentang Yayasan mendorong Keuskupan Bogor untuk membenahi berbagai Yayasan karya sosialnya. Yayasan Mardi Yuana dan Yatna Yuana ditata-ulang menyesuaikan diri dengan UU tersebut. Mardi Yuana hanya mengelola sekolah-sekolah milik Keuskupan Bogor, sedangkan Yatna Yuana mengelola Rumah Sakit Misi Lebak dan Akper di Rangkasbitung (bekerja sama dengan para suster SFS), serta Panti Asuhan Santo Yusuf di Sindanglaya (bekerja sama dengan OFM). Akper Yatna Yuana merupakan hasil perkembangan SPK, yang memulai tahun kuliah pertamanya pada pertengahan tahun 2001. Suster-suster SFS juga memandirikan Yayasan Mardi Waluya dalam mengelola persekolahannya, yang telah puluhan tahun menginduk pada Mardi Yuana. Sejak tahun ajaran 2002-2003 seluruh persekolahan suster-suster SFS berganti nama menjadi MARDI WALUYA.

Kepengurusan YAYASAN BAKTI dihidupkan kembali untuk membereskan aset-aset berupa tanah di kompleks Sukasari dan Depok Lama. Tanah-tanah tersebut semuanya tetap milik Keuskupan Bogor. Lembaga-lembaga yang memakainya diminta secara proporsional menanggung biaya-biaya pengurusan dari kas masing-masing. Yayasan PP SOSEK KB dan Yayasan DKPKB dibiarkan meredup sendiri karena sudah tidak ada aktivitas mutasi aset-aset. Pada tanggal 21-22 Oktober 2001 semua yayasan yang berkarya di Keuskupan Bogor diundang untuk membahas bersama masalah UU Yayasan, yang dampaknya pasti akan terasa bagi karya bersama.

Komputerisasi pengelolaan keuangan paroki-paroki dicanangkan dalam pertemuan para bendahara paroki di Wisma Lidwina, Sukabumi, tanggal 18-19 Mei 2002. Kantor Ekonomat Keuskupan Bogor menyiapkan program aplikasi siap pakai buatan ABIPRO, yang diharapkan dapat dengan mudah digunakan oleh para pengelola keuangan paroki. Pelatihan penggunaan program ini dilaksanakan dalam dua gelombang, tanggal 23 Juni dan 30 Juni 2002, di Lab Komputer Siswa SMK Grafika Mardi Yuana, Bogor. Dengan komputerisasi ini diharapkan tiap paroki akan lebih mudah melaksanakan pengelolaan keuangannya dan secara rutin diharapkan mau membuat dan mengirimkan laporan keuangan kepada Keuskupan.

Percetakan Grafika di Bogor, yang dirintis sejak tahun 1964 dan resmi berdiri pada tahun 1967 diubah status hukumnya menjadi PT Grafika Mardi Yuana pada tanggal 24 Juni 2002. Seluruh Modal Perseroan dimiliki oleh Keuskupan Bogor, namun untuk tetap menjaga relasi historis keberadaannya dengan STM Grafika Mardi Yuana, dalam Akta Pendirian ditetapkan untuk membagi “kepemilikan” menjadi 99% milik Keuskupan Bogor dan 1% milik Yayasan Mardi Yuana. Direktur pertamanya adalah Rm. Agustinus Surianto Pr yang telah memimpin lembaga ini sejak Agustus 1994. Sejak tahun 2000 tugas beratnya dibantu oleh Rm. F.X. Sutanto pr. Dalam arsip lama terungkap bahwa dana awal pendirian lembaga ini sebesar DM 72.500,- berasal dari sumbangan MISEREOR di Aachen, Jerman, pada tanggal 19 Oktober 1964. Dengan demikian PT Grafika Mardi Yuana telah menjadi Badan Usaha ketiga yang didirikan oleh Keuskupan Bogor. Pada tanggal 6 Agustus 1968, Keuskupan Bogor mendirikan PT Budi Juana Sedjati yang bergerak dalam usaha perdagangan, leveransir, distributor, dan ekspor-impor. Selain itu Keuskupan pernah juga ambil bagian dalam penyertaan modal pada PT Optimal Foto (Akta Notaris Pembelian Saham 4 Maret 1982). Sampai kini kedua perusahaan itu tidak jelas status akhirnya.

Gerakan kerasulan Kaum Awam juga bermunculan untuk turut mewarnai karya bersama. Ada cukup banyak kelompok, namun baik juga kalau disebut beberapa di antaranya yang cukup menyolok, seperti SSV, Bhumiksara, Pasukris, Prolife, PPUKB, dan berbagai kelompok persekutuan doa.