sejarahgereja awlgereja uskupbogor apostlcbgr homeindex

 

Keuskupan Bogor Menuju Gereja Mandiri

Gagasan Mgr. N. Geise OFM untuk menjadikan gereja di Keuskupan Bogor lebih berwajah lokal bukanlah sekedar cita-cita. Cita-cita yang tidak didukung dengan usaha nyata untuk mewujudkannya adalah idealisme yang kosong. Salah satu kunci untuk mewarnai Keuskupan Bogor agar semakin berwajah lokal terletak pada peranan para gembalanya sendiri. Tanpa adanya para gembala yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari dan di tengah-tengah budaya Indonesia, cita-cita luhur tersebut pasti akan lambat terwujud. Dalam rangka itulah, sejak tahun 1969 didirikanlah Seminari Tinggi Petrus-Paulus di Bandung, yang secara khusus mendidik dan menyiapkan calon-calon imam putra Indonesia untuk Keuskupan Bogor. Putra sulung Seminari Tinggi ini adalah Alm. Romo FELIX TEGUH SUWARNO PR, yang ditahbiskan menjadi imam pada bulan Januari 1975.

Usaha gigih Sang Perintis tersebut rupa-rupanya mendapat dukungan juga dari Vatikan. Hal itu terbukti dengan dikabulkannya permohonan mengundurkan diri Mgr. Geise OFM dari jabatan Uskup Bogor pada awal tahun 1974. Pada tanggal 1 Maret 1975, Sri Paus Paulus VI mengeluarkan BULLA VERBA NOBISCUM SEDULE No.1095, yang menunjuk Romo Ignatius Harsono Pr sebagai Uskup Bogor yang kedua. Dengan ditahbiskannya MGR. IGNATIUS HARSONO PR di Gereja Katedral Bogor sebagai Uskup pada hari raya kenaikan Tuhan, 8 Mei 1975, berarti ada hal baru tercatat dalam lembaran sejarah Keuskupan Bogor: seorang putra Indonesia ditahbiskan untuk menggembalakan sekitar 10.000 umat di Keuskupan ini. OMNES IN UNITATEM (Bersama Menuju Kesatuan) adalah semboyan tepat yang dipilih oleh Uskup kedua ini untuk menggambarkan betapa mulia tugas penggembalaan yang harus diembannya untuk mempersatukan seluruh umat yang terpencar-pencar di antara gunung-gemunung menjadi sebuah paguyuban/komunio.

Satu hal menarik sekitar pergantian Uskup ini yaitu adanya ‘tukar-guling’ dalam hal jabatan. Sebelum Mei 1975 Mgr. Geise OFM adalah Uskup Bogor, sedangkan Mgr. Harsono PR menjabat Rektor Seminari Tinggi Petrus-Paulus Bandung. Setelah Mei 1975 terjadi kebalikannya, di mana Mgr. Geise OFM menjadi Rektor Seminari Tinggi, sedangkan Mgr. Harsono Pr menjadi Uskup Bogor. Bahkan di Bandung, Mgr. Geise OFM masih merangkap pula sebagai Rektor Unpar yang diembannya sejak tahun 1955 sampai akhir tahun 1979.

Dalam masa penggembalaan Mgr. Harsono inilah terjadi perkembangan yang pesat dalam jumlah imam praja di Keuskupan Bogor. Boleh dikatakan hampir tiap tahun, pasti ada imam praja yang ditahbiskan untuk memperkuat jajaran pelayan pastoralnya sebagai Uskup Bogor. Untuk mendukung karya pastoral dan memperkuat persaudaraan di kalangan para imam praja, dibentuklah UNIO UNIT KEUSKUPAN BOGOR, yang anggotanya adalah semua imam praja di Keuskupan ini.