MGR. N.J.C. GEISE OFM. (Alm.)

Monsinyur Nicolaus Johannes Cornelis Geise OFM dilahirkan di Rotterdam, Negeri Belanda pada tanggal 7 Februari 1907. Kemudian masuk Ordo Saudara-saudara Dina (OFM) pada tanggal 7 September 1925. Tujuh Tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1932, beliau ditahbiskan menjadi imam. Sebagai imam muda yang masih penuh semangat, Pater Geise ditugaskan belajar di Universitas Leiden, Negeri Belanda, sampai tahun 1938. Kemudian beliau berangkat ke Indonesia, tanah air barunya, menetap selama dua setengah tahun di wilayah masyarakat Baduy, Cipeureun, Banten. Pergaulan yang akrab dengan masyarakat Baduy, menghantarnya meraih gelar Doktor dalam Ilmu Antropologi dari Universitas Nijmegen. Jangan heran, kalau ruang tamunya di Bogor sering dikunjungi sahabat-sahabatnya masyarakat Baduy. "Juragan Geise" atau "Juragan Niti Ganda", itulah panggilan akrab mereka saat menyapanya. 

Pada tanggal 9 September 1948, Kongregasi Propaganda Fide secara definitif menetapkan lahirnya Prefektur Apostolik Sukabumi, yang sejak tahun 1941 bersifat sementara. Pater Geise diangkat sebagai Prefek Apostolik pada tanggal 17 Desember 1948. Ketika pembentukan Hirarki Gereja di Indonesia pada tahun 1961, Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan menjadi Keuskupan Bogor. Tanggal 16 Oktober 1961, Pater Geise oleh Tahta Suci diangkat menjadi Uskup Bogor yang pertama. Pada tanggal 6 Januari 1962, beliau ditahbiskan sebagai Uskup Bogor. Tahun 1975, dengan alasan untuk berkonsentrasi dalam dunia pendidikan, beliau pensiun sebagai Uskup Bogor. 

Dalam dunia pendidikan, banyak lembaran sejarah baru yang dirintisnya. Yayasan Mardi Yuana, yang kemudian berkembang mengelola lebih dari 50 unit persekolahan, merupakan salah satu bukti kepeduliannya dalam mem-bantu mencerdaskan Bangsa Indonesia. Untuk membantu anak-anak tak mampu, didirikannya Panti Asuhan Santo Yusup di Sindanglaya pada tahun 1947, yang kemudian dikelola oleh Yayasan Yatna Yuana. Yayasan Yatna Yuana ini pulalah yang turut merintis berdirinya Sekolah Perawat Kesehatan di Rangkasbitung dan Sekolah Menengah Teknologi Grafika di Bogor pada tahun 1969. Bukan hanya itu, bahkan pada tanggal 17 Januari 1955, bersama almarhum Mgr. Petrus Marinus Arntz OSC, Uskup Bandung ketika itu, beliau mendirikan Akademi Perniagaan, cikal bakal universitas Katolik Parahyangan yang kini telah memiliki 7 Fakultas. Jabatan Rektor Unpar dipegangnya sampai tahun 1979. Untuk menyiapkan pendidikan para calon Imam Keuskupan Bogor, beliau mendirikan Seminari Tinggi Petrus Paulus di Bandung.

Sebagai pendidik sejati, dengan setia dan tanpa bosan-bosannya beliau pulang-pergi Bogor-Bandung setiap minggu. Pengabdiannya pada dunia pendidikan, rupa-rupanya hanya bisa diakhiri oleh uzurnya usia. Sampai perte-ngahan tahun 1993 dalam usianya yang telah melampaui garis 86, beliau masih aktif menjabat Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus, Guru Besar di Unpar dan Unpad, dan Guru Besar Tamu di berbagai Universitas di Luar Negeri. Juni 1994 kembali ke Negeri Belanda untuk berobat. Selasa, 1 Agustus 1995, pk. 15.30 (20.30 wib) di rumah jompo di Heerlen beliau dipanggil menghadap Hyang Ilahi untuk menerima Mahkota Abadi atas segala pengabdiannya bagi Gereja di Indonesia. Misa Requiem pemakamannya diadakan di Weert pada hari Sabtu, 5 Agustus 1995, pk. 15.00 (20.00 wib). Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Biara Fransiskan di Weert, Netherland.

(Agustinus Surianto, Pr.)